Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Bayangan Pukulan Inti Bumi


Setiap tebasan dan tusukan pedangnya sangatlah cepat. Bahkan tidak menimbulkan suara sedikit pun.


Dengan kenyataan seperti itu, kalau yang diserang adalah orang lain, mungkin sudah sejak tadi dia tewas secara mengenaskan.


Sayangnya, Orang Tua Aneh Tionggoan bukan orang lain!


Sehebat dan secepat apapun serangan kedua orang musuhnya, dia tetap bisa menghindar atau menangkisnya dengan cara tersendiri.


Wutt!!! Wutt!!!


Dua batang pedang lemas mengeluarkan suara mendengung ketika digerakkan. Bayangan pedang dan cahaya putih keperakan sudah menyelimuti tubuh Orang Tua Aneh Tionggoan.


Serangan mereka berdua sangat rapat dan tidak menciptakan celah kosong. Saking rapatnya serangan tersebut, sampai-sampai terlihat seperti sempurna dan tidak memiliki kekurangan apapun.


Orang Tua Aneh Tionggoan sendiri tidak bisa memungkiri bahwa serangan keduanya sangat berbahaya. Kalau saja dirinya tidak banyak pengalaman, mungkin dia tidak bisa bertahan sampai sejauh ini.


Sekarang, kedua orang itu telah melompat secara bersamaan dari samping kanan dan kiri. Mereka memberikan serangan yang berbeda.


Satu orang menusuk ke bagian iga, satunya lagi menebas ke arah kepala.


Melihat hal itu, Orang Tua Aneh Tionggoan langsung menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh lebih besar lagi. Tujuannya supaya dia bisa melindungi diri sendiri.


Wutt!!!


"Uttss!!!"


Orang Tua Aneh Tionggoan mengeluarkan suara seperti mendesis. Dengan gerakan kilat tubuhnya dicondongkan ke belakang, dalam waktu yang bersamaan dia pun telah menundukkan kepalanya supaya terhindar dari tebasan pedang lawan.


Kedua gerakan itu sebenarnya sangat sulit dilakukan secara bersamaan. Apalagi dalam waktu yang benar-benar singkat.


Namun ternyata, walaupun begitu toh Orang Tua Aneh Tionggoan mampu melakukannya dengan sangat baik.


Setelah berhasil menghindari dua serangan mematikan, kaki kanannya segera bergerak. Ia menendang dua batang pedang sampai senjata itu hampir terlepas dari genggaman tangan pemiliknya masing-masing.


"Ahh ..." mereka berseru dan langsung melompat mundur ke belakang.


Keduanya saling pandang sekejap, lalu kemudian pandangan matanya beralih ke pedang mereka.


Ternyata masing-masing pedang itu terlihat mengalami retakan. Walaupun hanya sedikit, tapi hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Orang Tua Aneh Tionggoan memang mempunyai kemampuan yang sangat tinggi.


Keduanya kaget setengah mati. Walaupun mulut tidak bicara, akan tetapi hati mereka menjerit karena tidak terima dengan kenyataan ini.


"Aku akui, jurus gabungan kalian sangat hebat," kata Orang Tua Aneh Tionggoan berkata dengan jujur. "Tapi untuk membunuhku, rasanya hanya mengandalkan jurus itu saja tidak akan cukup,"


Nada bicaranya berubah menjadi hambar. Tapi ekspresi wajahnya telah menggambarkan bahwa dia tidak sedang bercanda.


Dua orang pendekar kelas satu tidak ada yang berbicara. Mereka saling diam satu sama lain.


"Jurus apa yang baru saja kalian gunakan?" tanyanya lebih jauh.


"Dua Pedang Pembawa Bencana," jawab pendekar kelas satu yang berdiri di sebelah kanan.


"Nama yang bagus. Sesuai dengan jurusnya," puji Dewa Arak Tanpa Bayangan.


Menurutnya nama jurus tersebut tidak terlalu berlebihan. Apalagi dia sudah merasakan sendiri bagaimana hebatnya jurus Dua Pedang Pembawa Bencana tersebut.


"Masih ada satu jurus lain lagi. Aku harap, jurus ini bisa memuaskanmu, orang tua,"


"Oh, benarkah?" Orang Tua Aneh Tionggoan mengangkat kedua alisnya. Sesaat kemudian dia bertanya lagi, "Jurus apa itu?"


"Pedang Kembar Meminta Tumbal,"


"Apakah jurus itu lebih hebat?"


"Tentu saja. Karena jurus Pedang Kembar Meminta Tumbal ini adalah jurus pamungkas kami berdua,"


"Tunggu dulu, apakah ke mana-mana, kalian selalu bersama?" Orang Tua Aneh Tionggoan sedikit tertarik setelah mendengar ucapan terakhir itu. Karenanya dia menjadi bertanya lebih jauh lagi.


"Pantas saja,"


"Pantas apa?"


"Pantas kalian sama-sama rendahannya," kata Orang Tua Aneh Tionggoan dengan nada sedingin es.


Seketika merah padam wajah kedua orang itu. Amarah di dalam dirinya semakin menggebu. Mereka sudah tidak mampu menahannya lagi.


"Tua bangka, rupanya kau benar-benar ingin mencoba jurus andalan kami,"


"Ya, tentu. Aku ingin lihat sehebat apakah jurus yang kau banggakan itu," jawabnya sambil tersenyum sinis.


"Baik, sekarang juga kami akan memperlihatkannya kepadamu,"


Mereka langsung bersiap. Tenaga dalam dan hawa murni disalurkan sampai ke titik tertinggi. Hawa di sekitar sana berubah. Orang Tua Aneh Tionggoan bisa merasakan perubahan itu dengan jelas.


Karena tidak mau kalah, maka dia pun tidak hanya tinggal diam. Bersamaan dengan itu, dirinya juga telah mengambil langkah yang sama.


Bahkan di dalam hatinya, Orang Tua Aneh Tionggoan sudah bertekad akan membunuh mereka berdua.


"Pedang Kembar Meminta Tumbal!"


Wutt!!!


Keduanya berteriak nyaring. Setelah itu mereka pun langsung melompat dan menerjang ke depan secara bersamaan.


Berselang satu detik kemudian, dua batang pedang lemas sudah memenuhi udara. Mereka langsung menyerang Orang Tua Aneh Tionggoan dari setiap sisi yang ada.


Saking cepatnya gerakan tersebut, tanpa terasa lima belas jurus sudah terlewati kembali. Rupanya ucapan mereka memang benar, jurus Pedang Kembar Meminta Tumbal itu benar-benar dahsyat.


Untunglah Orang Tua Aneh Tionggoan sudah melakukan persiapan matang sebelumnya. Sehingga dia tahu apa yang harus dilakukan.


"Bayangan Pukulan Inti Bumi!"


Jurus yang jarang dikeluarkan oleh Orang Tua Aneh Tionggoan, akhirnya digelar juga. Salah satu kelebihan jurus tersebut adalah bisa membuat kedua tangan pemiliknya menjadi kebal terhadap senjata tajam.


Maka dari itu, sekarang dia tidak takut lagi menghadapi dua batang pedang lemas tersebut.


Wutt!!! Trangg!!! Trangg!!!


Ketiganya langsung bertempur sengit. Dua orang pendekar satu terus berusaha membunuh Orang Tua Aneh Tionggoan dengan jurus andalannya.


Sayang sekali, hal tersebut tidak bisa berlangsung secara lama. Karena beberapa jurus kemudian, Orang Tua Aneh Tionggoan telah berhasil mematahkan pedang mereka menggunakan jari tangannya.


Alasan kenapa dia bisa melakukan itu adalah pertama karena kemampuannya lebih tinggi, kedua karena gerakannya lebih cepat. Dan ketiga tentu jurus yang dia miliki jauh lebih hebat.


Setelah berhasil mematahkan senjata lawan, gerakan Orang Tua Aneh Tionggoan berubah menjadi lebih cepat lagi. Ia terlihat seperti banteng yang terluka.


Sepak terjangnya membuat siapa pun gentar. Tidak terkecuali kedua orang itu sendiri!


Bukk!!!!


Pukulan dahsyatnya berhasil bersarang di ulu hati lawan. Satu-persatu dari mereka terlempar jauh sampai menubruk dinding bangunan.


Begitu menyentuh tanah, keduanya sudah berada dalam kondisi tidak bernyawa.


Sedangkan di sisi lain, bersamaan dengan itu, Dua Datuk Dunia Persilatan ternyata juga baru saja menyelesaikan pertarungannya masing-masing.


Meskipun mereka menderita luka di tubuhnya, akan tetapi semua luka itu sudah terbayar lunas oleh tewasnya musuh yang dihadapi.


Pertarungan yang tersisa sekarang hanya milik Zhang Fei. Tetapi menurut perhitungan, sepertinya pertarungan itu pun akan segera selesai dalam waktu yang tidak lama kemudian.


Apalagi sekarang, semua orang bisa menyaksikan bahwa Zhang Fei telah berhasil menguasai arena. Jurus Murka Pedang Dewa yang dia keluarkan membuat lawannya tidak bisa berbuat apa-apa lagi.