Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Salah Menggoda Orang Il


Suasana di ruangan itu langsung riuh. Lima pria tadi saat ini sudah benar-benar marah. Setelah mereka mendapatkan posisinya kembali, secara serempak orang-orang itu menyerang lagi ke arah Yao Mei.


Mereka melancarkan pukulan dan hantaman telapak tangan dari berbagai penjuru. Namun karena sudah merasa kesal, Yao Mei pun tidak tinggal diam.


Dia seketika mengeluarkan lagi tenaga saktinya sehingga membuat mereka terlempar untuk yang kedua kali.


"Gadis keparat! Dikasih hati minta jantung. Rasakan ini!" seorang pria yang sudah berdiri lebih dulu, segera memberikan ancaman.


Ia kemudian mencabut golok yang berada di pinggangnya. Bacokan golok datang dari sisi sebelah kiri. Disusul kemudian dengan tendangan kaki kanan yang mengarah ke tulang rusuk.


Yao Mei tersenyum dingin menyaksikan apa yang dilakukan pria itu. Dengan gerakan sederhana, tahu-tahu ia telah berhasil menahan golok dan menangkis tendangannya.


Tanpa membuang-buang waktu, Yao Mei kemudian mematahkan golok itu dan menghantam dada si pria.


Bukk!!!


Pria itu terbang ke belakang sejauh enam langkah. Satu buah meja langsung ambruk setelah tertimpa tubuhnya.


Suasana menjadi ricuh. Pemilik rumah makan berteriak-teriak supaya keributan itu berhenti.


Karena merasa kasihan, Yao Mei pun segera mengakhirinya. Dia segera membayar biaya makan sekaligus membayar kerugian akibat keributan barusn. Setelahnya, dia langsung pergi dari warung itu tanpa menghiraukan kelima pria tadi.


"Benar-benar orang yang tidak tahu diri," katanya menggerutu sambil melangkahkan kaki.


Yao Mei terus berjalan. Tapi ia tidak langsung pulang ke Gedung Ketua Dunia Persilatan. Yao Mei lebih dulu mencari tempat yang nyaman dan cukup tersembunyi.


Dia masih ingin menikmati keindahan alam di sekitarnya. Setelah menemukan tempat yang cocok, Yao Mei segera duduk melamun di sana.


Sementara di trmpat lain, lima pria tadi langsung pergi dari warung makan setelah dipermalukan oleh Yao Mei.


Mereka pergi ke arah berlawanan. Namun sekitar lima belas menit kemudian, kelimanya kembali datang lagi.


Kali ini, mereka datang dengan membawa orang-orangnya yang lain. Saat itu, tak kurang dari sepuluh orang terlihat datang bersama mereka.


Di antara lima belas orang tersebut, setidaknya ada dua orang pria berusia tua. Umur mereka sudah mencapai sekitar tujuh puluhan tahun.


Dilihat dari pakaian yang dikenakan, sudah jelas bahwa mereka adalah orang-orang persilatan.


"Di mana gadis itu?" tanya salah satu pria tua tersebut.


"Tadi dia di sini, Tuan. Tapi menurutku, sekarang dia sudah pergi,"


"Hemm ... xari dia sampai dapat!"


"Baik, Tuan,"


Tiga belas orang segera pergi berpencar. Mereka berniat untuk mencari jejak Yao Mei.


Entah suatu kebetulan atau bukan, tapi tidak lama kemudian, salah satu dari mereka telah berhasil menemukan Yao Mei.


"Dia di sini!" katanya berteriak nyaring. Sesaat kemudian, di tempat itu setidaknya sudah berkumpul lima belas orang pria berwajah sangar.


Yao Mei sedikit terkejut. Buru-buru dia bangkit dari posisinya dan langsung memandang ke arah belakang.


Begitu melihat ke sana, ternyata benar. Ia sudah terkepung. Lima pria yang tadi dia berikan pelajaran juga ada.


"Mau apa kalian?" tanya Yao Mei dengan nada tinggi.


"Hehehe ... kau galak sekali, Nona manis," ucap pria tua itu sambil tersenyum dingin. Deretan giginya yang sudah menghitam seketika terlihat dengan jelas.


"Tua bangka tak tahu diri!"


"Hemm ... mulutmu ternyata busuk juga,"


"Jangan banyak bicara. Cepatlah pergi dari sini sebelum aku habis kesabaran," ucap Yao Mei sambil memberikan isyarat dengan telunjuk tangannya.


"Maka kau akan merasakan sendiri akibatnya,"


"Hahaha ..." pria tua tertawa lantang. Setelah puas, dia kembali berkata, "Apakah kau sedang mengancam kami? Hemm ... kami baru akan pergi dari sini setelah kau juga merasakan sakit seperti lima pria tadi,"


"Oh, jadi kau pemimpinnya?" tanya gadis itu sambil mengangkat alis.


"Bisa dibilang demikian," jawabnya sambil mengangguk.


"Pantas saja kelakuan kalian tidak jauh berbeda. Baik pemimpin maupun anak buahnya, sama-sama tidak punya sopan santun,"


"Tutup mulutmu, gadis setan!" pria tua itu marah besar. Dia menunjuk Yao Mei dengan jari telunjuknya.


Ia lalu melirik ke arah orang-orangnya. Tanpa diberikan perintah apapun, empat belas orang itu langsung berlompatan. Mereka segera mengurung Yao Mei dari segala sisi.


Kali ini, belasan batang senjata sudah diangkat ke atas. Sekali lihat pun Yao Mei sudah tahu bahwa mereka telah bersiap untuk membunuhnya.


"Apa maksudmu, tua bangka?" tanya Yao Mei.


"Mengapa kau bertanya seperti itu? Apakah sekarang, kau mulai merasa takut?"


"Takut? Hahaha ... tidak ada sejarahnya aku takut terhadap sekelompok tikus seperti kalian ini," jawab Yao Mei sambil melemparkan senyuman dingin.


"Bedebah! Cepat bunuh gadis keparat itu!" katanya memberikan perintah.


Empat belas orang itu mengangguk. Seketika mereka langsung menerjang ke arah Yao Mei. Belasan batang senjata tajam berkilat di tengah udara. Bentakan nyaring juga terdengar menggema ke seluruh bagian hutan.


Yao Mei masih berdiri dengan tenang di tempatnya. Gadis itu belum mengambil tindakan apapun.


Dia sedang menunggu. Menunggu orang-orang itu tiba di dekatnya.


Begitu waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Yao Mei segera melakukan sebuah gerakan yang sangat cepat. Dia kemudian mencabut sepasang pedang kembar di punggungnya.


Sringg!!!


Dua batang pedang memancarkan cahaya putih keperakan. Setelah itu, Yao Mei segera bergerak lebih lanjut lagi.


Wushh!!!


Dua macam tebasan pedang datang secara serempak. Beberapa senjata yang berbenturan dengan pedang Yao Mei, seketika dibuat patah menjadi dua bagian.


Setelah berhasil mematahkan senjata lawan, dia melanjutkannya lagi dengan memberika tendangan ke arah mereka masing-masing.


Tendangan beruntun itu ada yang mengenakan bagian tulang rusuk, perut, bahkan wajah. Tak kurang dari tujuh orang pria seketika terjengkang ke belakang.


Kalau tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya, niscaya masing-masing dari mereka sudah mencium tanah.


Kejadian tersebut berlangsung cukup singkat. Sehingga tidak setiap orang mampu menyaksikannya secara jelas.


Sementara itu, setelah berhasil melumpuhkan tujuh orang tadi, Yao Mei segera melanjutkan lagi dengan menyerang lawannya yang lain.


Jurus pedang tingkat tinggi yang telah dia kuasai segera digelar. Sepasang pedang itu berkelebat dengan cepat. Suara pekikan terdengar nyaring. Darah segar juga langsung menyembur deras ke tengah udara.


Dalam waktu beberapa jurus saja, lima orang dari mereka sudah tewas karena jurus pedang yang sangat ampuh tersebut.


Dari lima belas orang, kini lawan yang tersisa hanya tinggal tiga orang saja. Dan semuanya merupakan pria tua berusia tujuh puluhan tahun.


Pertarungan itu berakhir dalam waktu yang terhitung singkat. Ketiga pria tua sampai saat ini masih tidak menyangka dengan apa yang mereka saksikan.


Orang-orang itu masih tetap berdiri di tempatnya sambil menatap keheranan ke arah Yao Mei.


"Mengapa menatapku seperti itu? Apakah kalian tidak menyangka kalau aku sekuat ini?" Yao Mei bertanya sambil melemparkan senyuman dingin kepada mereka.