
Mereka semakin merasa kewalahan setelah Zhang Fei meningkatkan tenaga dalam setiap gerakannya. Benturan antar pedang sudah tidak bisa terhindarkan lagi.
Enam orang pendekar itu terus bertempur dengan sengit. Lima orang pendekar kelas satu menggertak giginya masing-masing. Mereka berusaha menguatkan dirinya demi bisa membunuh Zhang Fei.
Jurus gabungan yang lain sudah dikeluarkan lagi sesaat sebelumnya. Jurus gabungan yang kedua itu tampak jauh lebih hebat dari yang pertama tadi.
Sayangnya meskipun jurus itu lebih hebat, tapi tetap saja masih belum cukup kalau ingin membunuh Zhang Fei.
"Jangan berpikir kalian bisa membunuhku dengan jurus anak-anak seperti ini," katanya berteriak.
Bersamaan dengan itu, dia pun melompat ke depan. Lima batang pedang yang datang dari setiap penjuru, dibenturkan dengan Pedang Raja Dewa miliknya.
Trangg!!!
Benturan yang teramat keras terdengar. Percikan api yang membumbung tinggi jauh lebih banyak dari sebelumnya.
Lima orang pendekar kelas satu itu terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Pertarungan segera berhenti seketika.
Para pendekar sesat tersebut terlihat terengah-engah. Keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya. Mereka langsung kaget setengah mati setelah menyaksikan bahwa pedangnya ternyata sudah gompal!
Walaupun itu hanya sedikit, tapi hal tersebut sudah cukup untuk membuat mereka benar-benar terkejut.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah kita harus lari dari sini?" tanya salah satu dari mereka.
"Bodoh!" kata rekannya memaki. "Kau pikir kita bisa lari dari sini?"
"Kalau belum mencobanya, bagaimana mungkin kita bisa tahu?"
"Aku tetap tidak yakin usaha itu akan berhasil,"
"Cih!" orang tersebut mencibir sambil memalingkan muka. "Kalau kalian tidak mau, biar aku sendiri saja yang melakukannya,"
Selesai berkata seperti itu, dia langsung melepaskan senjata rahasia ke arah Zhang Fei. Belasan jarum letak melesat bagaikan kilat. Dalam waktu singkat saja sudah tiba di hadapan target sasarannya.
Trangg!!! Trangg!!!
Zhang Fei menangkis semua jarum perak itu dengan mudah. Baginya, serangan barusan tidak ada artinya sama sekali.
Pada waktu yang bersamaan, pendekar kelas satu tadi rupanya juga langsung melompat ke arah lain. Dia berusaha untuk melarikan diri dari arena pertarungan.
Wutt!!!
"Sudah aku katakan sebelumnya, aku tidak akan pernah melepaskan manusia-manusia seperti kalian," kata Zhang Fei yang tahu-tahu sudah ada di sisi telinganya.
Crashh!!!
Pedang Raja Dewa digerakkan dengan cepat. Sebuah kepala langsung jatuh menggelinding ke atas tanah. Tubuhnya sendiri segera menyusul ambruk dengan darah segar yang mengucur deras.
Peristiwa barusan berlangsung dengan singkat. Empat orang pendekar kelas satu yang berdiri di sana, tidak mampu menyaksikannya dengan jelas.
Mereka hanya melihat ada kepala menggelinding dan tubuh yang jatuh berdebum.
Sementara itu, setelah berhasil membunuhnya, Zhang Fei langsung turun dengan anggun. Batang Pedang Raja Dewa masih mengucurkan darah korbannya.
Ia menoleh dan langsung menatap tajam ke arah empat pendekar kelas satu yang tersisa.
"Apakah di antara kalian masih ada yang ingin melakukan kebodohan itu?" tanyanya dengan suara sedingin es.
Di antara mereka tidak ada yang berani menjawab. Keempatnya hanya bisa saling pandang satu sama lain.
"Mengapa kalian diam saja? Apakah sekarang, kalian sudah takut mati?"
"Tidak!" jawabnya si petani tua yang banyak bicara. "Sudah kami katakan, kami lebih baik mati di medan pertarungan daripada mati sebagai pengecut,"
"Bagus. Aku percaya ucapanmu,"
Petani tua itu mengangguk. Dia langsung mengajak tiga rekannya untuk melanjutkan pertarungan.
Beberapa helaan nafas kemudian, empat bayangan manusia sudah kembali bergerak cepat. Jurus gabungannya digelar seperti sebelumnya.
Zhang Fei juga melakukan hal yang sama. Dia melayani mereka dengan jurus Pedang Penakluk Jagad.
Pertarungan sengit lagi-lagi berlangsung. Tapi hal itu hanya berlaku beberapa kejap saja.
Sekitar sepuluh jurus kemudian, satu orang dari mereka berteriak keras. Dia langsung jatuh tersungkur dengan luka lebar di bagian dadanya.
Tiga orang yang tersisa semakin jeri. Tetapi di satu sisi mereka pun bertambah marah. Setiap serangannya bertambah hebat dan cepat.
Zhang Fei melayaninya dengan senang hati. Pedang Raja Dewa bergerak bebas menghalau setiap pedang yang ingin melukai tubuhnya.
Wutt!!! Slebb!!!
Dia melakukan lompatan ke depan secara tiba-tiba. Ujung pedang pusaka itu langsung menembus dada seorang lawannya.
Tanpa membuang waktu, Zhang Fei segera mencabutnya dan langsung melanjutkan kembali serangan ke arah musuh yang tersisa.
Kini, lawan yang ada hanya tinggal dua orang saja. Itu artinya, kesempatan untuk segera menyelesaikan pertarungan pun menjadi lebih besar.
Zhang Fei berteriak keras, ia memainkan pedangnya jauh lebih cepat. Suara benturan terjadi berkali-kali. Detik selanjutnya, pedang yang digenggam oleh lawan tahu-tahu sudah patah menjadi dua bagian.
Tidak sampai di situ saja, Zhang Fei kembali melanjutkan gerakannya. Ia menebaskan Pedang Raja Dewa tepat ke dada mereka.
Suara menahan sakit menjelang kematian segera terdengar bersamaan dengan memerciknya darah segar!
Pertarungan itu langsung selesai. Untuk menghabisi mereka semua, setidaknya Zhang Fei memerlukan waktu sekitar lima belas menit.
Berbeda dengan menuliskan rangkaian kejadiannya yang memakan waktu lebih lama.
"Kau hebat, Ketua," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan begitu Zhang Fei menyelesaikan pertarungannya.
Empat Datuk Dunia Persilatan langsung melompat turun dari kuda masing-masing. Mereka segera menghampiri Zhang Fei secara serempak.
"Sekarang, mari kita periksa siapa mereka sebenarnya," kata Zhang Fei kepada mereka.
"Baik,"
Empat Datuk Dunia Persilatan mengangguk. Mereka langsung mendekat ke arah mayat-mayat yang sudah bergelimpangan di depan mata itu.
Setelah tiba di sisinya, para tokoh tersebut langsung melakukan pemeriksaan.
Pekerjaan itu memakan waktu tidak terlalu lama. Beberapa menit kemudian, mereka sudah kembali berkumpul di tempat semula.
"Aku menemukan Lencana Kekaisaran Jin," kata Pendekar Tombak Angin sambil menunjukkan barang temuannya.
"Aku juga menemukan sulaman bendera yang berasal dari sana," sambung Dewi Rambut Putih.
Benda-benda temuan sudah diperlihatkan. Zhang Fei dan yang lain memandangi benda tersebut lekat-lekat.
"Aku rasa orang-orang ini sedang berusaha mengelabui kita. Mereka sedang mengkambinghitamkan Kekaisaran Jin," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan secara tiba-tiba.
"Apa maksudmu, setan arak?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan sambil menoleh ke arahnya.
"Apakah kau belum menyadari sesuatu?"
"Belum. Coba katakan dengan jelas,"
"Baik,"
Dewa Arak Tanpa Bayangan mengangguk. Dia meminum arak yang terdapat di dalam Guci Arak Murni sebanyak lima kali. Setelah itu barulah dia melanjutkan bicaranya.
"Asal kalian tahu saja, ketiga belas petani tadi, bukan berasal dari Kekaisaran Jin. Menurutku mereka berasal dari Kekaisaran Zhou,"
"Mengapa kau bisa beranggapan seperti itu?"
Orang Tua Aneh Tionggoan masih belum memahami ucapan Dewa Arak Tanpa Bayangan. Dia belum mengerti kenapa rekannya berkata demikian, padahal buktinya saja sudah disaksikan bersama.