Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pertarungan Dua Datuk Dunia Persilatan Aliran Sesat


Ia bergerak dengan cepat sambil menghindari luncuran biji tasbih yang mengincar seluruh tubuhnya. Pedang pusaka itu berkelebat cepat menangkis dan membelah biji tasbih tersebut.


Pertarungan puncak yang melibatkan dua tokoh kelas atas itu benar-benar menegangkan. Semua orang yang ada di sana bisa merasakan ketegangan tersebut.


Kurang lebih sekitar lima belas jurus kemudian, akhirnya serangan biji tasbih itu selesai juga. Pendekar Pedang Perpisahan berhasil menyelamatkan nyawanya.


Walaupun ada beberapa biji tasbih yang mengenai tubuh hingga menimbulkan luka memar dan rasa sakit tiada tara, tetapi hal itu terhitung mending daripada harus kehilangan selembar nyawa.


Pendekar Pedang Perpisahan berdiri dengan keringat yang sudah membasahi seluruh tubuh. Dia sangat bersyukur bisa selamat dari maut.


Harus diakui, serangan barusan benar-benar dahsyat sekali. Mungkin baru kali ini saja dia mengalami hal tersebut.


Sedangkan di sisi lain, Biksu Sembilan Nyawa tampak kaget sekali. Kekagetannya tidak bisa dilukiskan lagi.


Jurus pamungkas terakhir yang dia pelajari selama bertahun-tahun sudah dikeluarkan. Namun jurus itu pun masih tidak membuahkan hasil.


Itu artinya, dia tidak mempunyai jurus apapun lagi.


Harapannya telah sirna. Saat ini, bisa dibilang hidupnya ada di tangan Pendekar Pedang Perpisahan.


"Kau gagal membunuhku!" katanya dengan nada dingin.


"Ya, aku memang gagal," jawab Biksu Sembilan Nyawa dengan cepat. "Sudah aku katakan, untuk membunuhku merupakan suatu hal yang tidak mungkin,"


Pendekar Pedang Perpisahan tersenyum dingin ketika mendengar perkataan itu.


"Apakah ada pesan-pesan terakhir yang ingin kau sampaikan?"


"Tidak ada," ucapnya sambil menggelengkan kepala. "Aku hanya berharap, di kehidupan yang akan datang nanti, aku tidak ingin bertemu lagi dengan orang-orang seperti kalian,"


"Baik. Semoga haraoanmu didengar oleh para Dewa,"


Wutt!!! Srett!!!


Pendekar Pedang Perpisahan langsung melesat ke depan. Pedangnya menebas dada Biksu Sembilan Nyawa mulai dari kiri hingga ke kanan.


Tubuhnya seketika ambruk ke tanah dengan darah segar yang menyembur keluar.


Semua pertarungan yang tadi berlangsung di halaman Gedung Ketua Dunia Persilatan, kini telah selesai secara menyeluruh.


Untuk yang kesekian kalinya, kemenangan kembali berpihak kepada Zhang Fei.


"Urus semua mayat ini. Kuburkan mereka dalam satu lubang yang besar," ujar Zhang Fei memberi perintah kepada semua petugas di Gedung Ketua Dunia Persilatan yang berdiri di belakangnya.


"Baik, Ketua. Kami akan segera melaksanakan perintah," jawab salah satu petugas mewakili yang lainnya.


Belasan orang langsung membagi tugasnya masing-masing. Sedangkan Zhang Fei dan para tokoh yang lain, mereka segera masuk ke dalam ruangan.


Ketika sudah tiba di sana, tiga orang tabib ternama langsung masuk. Dia segera menangani para pendekar yang telah terluka akibat pertempuran tadi.


Sementara para tokoh dunia persilatan, mereka segera mengobati secara bergantian. Dengan menyalurkan hawa murni dan tenaga sakti, luka-luka yang mereka derita sebelumnya menjadi jauh berkurang.


Di antara para tokoh tersebut, yang paling parah lukanya adalah Pendekar Pedang Perpisahan. Seperti yang telah diceritakan sebelumnya, datuk sesat itu mengalami luka akibat serangan dari biji tasbih milik Biksu Sembilan Nyawa.


Meskipun biji tasbih tersebut tidak sampai menembus tubuhnya, tetapi rasa sakit yang dihasilkan benar-benar luar biasa.


Sejak menerima luka itu, Pendekar Pedang Perpisahan terus merasakan seluruh tubuhnya sangat panas. Panas seperti dibakar. Terutama sekali di bagian mulut luka itu sendiri.


Saat ini, dia sedang duduk merenung di pojok ruangan sambil diam-diam menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh.


Namun sayang sekali usaha yang dia lakukan itu tidak mampu memberikan hasil maksimal. Rasa sakit dan panasnya masih terasa cukup hebat.


Karena kebetulan pada saat itu Zhang Fei tidak sedang melakukan kegiatan, maka dengan cepat dirinya menghampiri tokoh sesat tersebut.


Pendekar Pedang Perpisahan cukup kaget dengan kehadiran Zhang Fei. Buru-buru dia memandang ke arahnya dan berkata. "Ah, tidak perlu, Ketua Fei. Luka-luka ini tidak akan bisa membunuhku," katanya menjawab sambil tersenyum kaku.


"Sekarang mungkin tidak, tapi beberapa waktu ke depan, aku yakin bisa,"


Zhang Fei bukan sedang menakut-nakuti ataupun berkata kosong kepadanya. Dia bicara jujur dan sesuai dengan kenyataannya.


Dan sepertinya, Pendekar Pedang Perpisahan sendiri tahu akan hal tersebut. Namun dia masih bersikap tenang karena tidak ingin merepotkan orang lain.


"Hahaha ... kalau beberapa ke depan, sebelum luka ini membunuhku, mungkin aku sudah lebih dulu menyembuhkannya,"


Zhang Fei melemparkan senyuman kepadanya. Ia sudah tahu bagaimana sifat orang tua di depannya tersebut.


"Tuan Wu, bisakah kita bicara empat mata?"


"Apa yang ingin kau sampaikan, Ketua?"


"Nanti pun kau akan tahu sendiri. Bisa atau tidak?"


"Hemm ... tentu saja bisa,"


"Baiklah. Kalau begitu, mari ikut aku,"


Zhang Fei langsung pergi. Pendekar Pedang Perpisahan mengikuti dari belakangnya.


Para tokoh yang lain memandangi kepergian mereka. Hanya saja, tidak ada satu pun yang berani ikut.


Ketua Dunia Persilatan membawa Pendekar Pedang Perpisahan ke ruang pribadinya. Begitu tiba di sana, ia langsung menyuruhnya duduk.


"Apa yang akan kau bicarakan, Ketua Fei?" tanyanya kembali.


"Diamlah, Tuan Wu,"


Zhang Fei kemudian menotok beberapa titik urat syaraf di tubuhnya. Gerakan itu sangat cepat sekali. Sampai-sampai Pendekar Pedang Perpisahan sendiri tidak mampu menghindarinya.


Sekarang, seluruh tubuh datuk sesat itu sudah kaku dan tidak bisa digerakkan.


"Ketua Fei, apa yang akan kau lakukan kepadaku?" tanyanya kembali.


"Diamlah, Tuan Wu,"


Selesai berkata, Zhang Fei langsung menyalurkan hawa murni ke mulut luka yang terdapat di tubuh Pendekar Pedang Perpisahan.


Meskipun tokoh tua itu tetap menolak, namun sekarang dia sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi.


Karena tidak ada yang dapat dia lakukan, akhirnya Pendekar Pedang Perpisahan memilih untuk diam dan segera memejamkan matanya.


Hawa murni yang hangat terus memasuki tubuhnya. Perlahan namun pasti, luka-luka yang tadi menciptakan rasa sakit dan panas itu mulai mereda.


Sekitar lima belas menit kemudian, proses penyaluran hawa murni itu sudah selesai. Zhang Fei segera menarik kembali telapak tangannya.


"Hahh ..." datuk sesat itu menghembuskan nafas panjang tepat setelah Zhang Fei menarik tangannya.


"Bagaimana perasaanmu sekarang, Tuan Wu? Apakah sudah lebih baik?"


"Ya, Ketua Fei. Aku sudah merasa baikan," jawabnya sambil mengangguk. "Maaf kalau aku sudah merepotkanmu lagi,"


"Siapa yang merepotkan? Tentu saja tidak, Tuan Wu. Aku justru berterimakasih karena kau telah menyelamatkan nyawaku. Kalau tadi kau tidak mengambil tindakan cepat, mungkin saat ini aku sudah tewas di tangan Biksu Sembilan Nyawa,"


Zhang Fei berkata dengan jujur. Memang benar, serangan Biksu Sembilan Nyawa tadi itu benar-benar hebat. Apalagi saat itu, Zhang Fei sedang fokus menghadapi Dewa Sesat Tiada Tanding.


Kalau tidak ada bantuan dari Pendekar Pedang Perpisahan, niscaya ia akan celaka.