
Karena terus dicecar oleh berbagai macam jurus pedang tanpa berhenti, akhirnya dua orang tokoh sesat tersebut mau tidak mau harus melayani Dewi Rambut Putih Giok Ling.
Kaitan yang mengeluarkan cahaya putih dimainkan dengan sangat cepat. Jurus-jurus yang aneh dan gerakan yang penuh dengan tipuan mulai diberikan olehnya kepada Dewi Rambut Putih.
Tongkat bermata golok yang besar dan berat itu menebas dari kanan ke kiri, atau juga sebaliknya. Jurus dari kedua orang itu sangat berbeda dengan jurus pada umumnya.
Terlebih karena senjata yang mereka gunakan juga berbeda dengan senjata kebanyakan pendekar pada umumnya.
Namun meskipun begitu, hal tersebut bukan suatu halangan bagi Dewi Rambut Putih untuk mencecarnya habis-habisan. Walaupun gerakan dan jurus mereka terkadang tidak bisa ia tebak, tapi Datuk Dunia Persilatan itu juga selalu mempunyai cara tersendiri untuk menghadapinya.
Pertarungan di antara mereka sudah berlangsung selama dua puluh lima jurus. Selama ini keadaan dua tokoh sesat tersebut terus berada di posisi bertahan. Mereka tidak bisa membalas serangan lawan kecuali hanya sedikit.
Semua jurus simpanan sudah digelar, berbagai macam ilmu yang diandalkan juga telah dilancarkan. Tapi siapa sangka, semua usaha itu masih tetap memberikan hasil yang serupa.
Semuanya sia-sia! Perjuangan mereka benar-benar tidak ada hasil!
Dewi Rambut Putih tersenyum dingin. Ketika dua senjata itu menyerangnya dari dua sisi yang berbeda, tiba-tiba tubuhnya melayang ke atas dan dia berputar-putar sampai beberapa kali.
Bersamaan dengan gerakan tersebut, pedang lemas di tangannya juga terus menangkis sehingga terjadi benturan nyaring yang tidak pernah berhenti.
"Ilmu Pedang Bidadari Sungai Es!
Wutt!!!
Dewi Rambut Putih berteriak nyaring. Begitu kedua kakinya kembali menginjak tanah, tiba-tiba selapis hawa dingin yang menusuk tulang langsung menyebar luas ke arena pertarungan.
Para prajurit pasukan musuh seketika menggigil karena merasa kedinginan. Mereka tidak bisa bergerak. Sebab tulang-tulangnya terasa ngilu sekali.
Dua orang tokoh sesat yang sedang dihadapi oleh Dewi Rambut Putih juga merasakan hal yang sama. Meskipun telah mengerahkan hawa murni dan tenaga dalam, tapi hawa dingin itu tetap tidak bisa mereka tolak.
Padahal keduanya adalah tokoh pilih tanding. Di negeri asalnya, mereka jarang menemukan tandingan. Setiap orang yang berhadapan dengannya pasti akan tewas dengan kondisi mengenaskan.
Siapa sangka, keduanya dibuat terkejut oleh seorang tokoh angkatan tua dari dunia persilatan Tionggoan di Kekaisaran Song.
Mereka tidak tahu pasti jurus apa yang digunakan oleh Dewi Rambut Putih. Hanya saja kehebatan tenaga dalam, terutama lagi tenaga sakti berhawa dingin dalam jurus tersebut benar-benar dahsyat.
Seumur hidup, rasanya mereka baru mengalami kejadian seperti ini.
Saat ini, Dewi Rambut Putih Giok Ling telah mulai mengeluarkan rangkaian jurus Ilmu Pedang Bidadari Sungai Es. Setiap gerakan yang dilakukan oleh pedangnya pasti menyebarkan hawa dingin yang hebat.
Dua orang lawannya semakin terdesak. Mereka kewalahan menghadapi jurus dahsyat tersebut.
Perlu diketahui, Ilmu Pedang Bidadari Sungai Es itu adalah satu-satunya jurus andalan Dewi Rambut Putih Giok Ling. Bahkan alasan kenapa rambutnya sampai memutih, bukan lain adalah karena dia telah melatih jurus tersebut sampai ke tingkatan terakhir.
"Sang Dewi Menurunkan Hujan Salju!"
Wutt!!!
Ia berteriak lantang. Sesaat kemudian Dewi Rambut Putih langsung menerjang ke depan. Puluhan tusukan dia lancarkan dalam waktu yang bersamaan. Ribuan titik bunga salju tercipta.
Srett!!!
Dewi Rambut Putih tiba-tiba melakukan gerakan memutar. Bersamaan dengan itu pedangnya juga ditebaskan. Seketika dua orang tokoh sesat tadi menjerit ngeri. Satu tarikan nafas kemudian mereka telah ambruk di atas tanah dengan kondisi leher hampir putus.
Darah segar mengalir deras. Kematian mereka menimbulkan rasa takut di benak para prajurit sekitarnya.
Para prajurit musuh yang tidak kuat menahan hawa dingin, sejak tadi juga sudah terkapar di atas tanah dalam kondisi tidak sadarkan diri. Meskipun tidak sampai tewas, tapi wajah mereka sangat pucat pasi. Bibirnya saja bahkan sampai berubah warna menjadi kebiruan.
Setelah berhasil membunuh dua orang pendekar pilih tanding tersebut, Dewi Rambut Putih segera pergi dari sana sambil membawa mayat Jenderal yang tewas di medan pertempuran.
Padang rumput yang sangat luas itu, saat ini seolah-olah telah berubah. Rumput hijau berubah menjadi merah darah. Yang berserakan di sana bukan lagi rerumputan atau dedaunan kering, melainkan para prajurit. Prajurit yang telah menjadi mayat!
Jeritan ngeri masih menggema. Teriakan menahan sakit dan teriakan yang mengobarkan semangat, terdengar saling bersahutan.
Para tokoh aliran sesat yang ada di pihak lawan semakin menggila. Sepak terjang mereka mengerikan. Siapa pun yang berani menghalau langkahnya, maka dia pasti akan mati.
Sementara itu di sisi lain, Pendekar Tombak Angin Cao Ping juga sedang membantu para prajurit Kekaisaran Song yang saat ini sedang dipojokkan oleh musuh.
Di depan mereka ada cukup banyak prajurit dengan senjata lengkap. Dentingan nyaring akibat beradunya senjata tampak mewarnai pertempuran mereka.
"Tombak Angin Menyapu Gurun Pasir!"
Wutt!!!
Dia melompat ke muka sambil menebaskan tombak pusaka miliknya. Segulung angin besar berhembus mengikuti gerakan tombak dan langsung melemparkan prajurit musuh.
Satu kali gerakan saja, tak kurang dari dua puluh orang telah menjadi korbannya. Bisa dibayangkan, betapa hebat dan tingginya tenaga dalam yang dimiliki oleh setiap Datuk Dunia Persilatan.
Tidak berhenti sampai di situ saja, Pendekar Tombak Angin juga kembali melancarkan lagi tebasan susulan. Tombak pusaka itu terus bergerak tiada henti.
Hembusan angin yang kencang juga terus keluar menghempaskan setiap orang musuhnya. Yang paling hebat dari rangkaian kejadian itu adalah bahwa Pendekar Tombak Angin ternyata sudah mampu mengontrol tenaga dalamnya dengan sangat baik.
Sehingga tenaga dalam yang kemudian menciptakan angin itu, hanya mengenai mereka yang diinginkannya saja. Sedangkan para prajurit pasukan Kekaisaran Song, walaupun mereka ada di belakangnya, tapi toh tidak satu pun yang terkena imbas dari amukan Datuk Dunia Persilatan tersebut.
"Haa!!!"
Pendekar Tombak Angin membentak. Tombaknya dikibaskan sekali lagi. Kali ini dia berniat untuk langsung membunuh prajurit yang tersisa.
Sayangnya usaha itu tidak berhasil. Karena ketika tombaknya sampai di tengah jalan, tiba-tiba ada sebatang tongkat emas yang menahan gerakannya.
Trangg!!!
Dentingan nyaring terdengar ketika kedua benda keras itu berbenturan. Suara mendengung terasa menusuk gendang telinga.
Kedua orang tokoh yang terlibat merasakan tangan mereka sedikit kesemutan. Lewat tiga tarikan nafas kemudian, masing-masing dari mereka memutuskan untuk menarik senjatanya.
"Sungguh jurus tombak yang sangat lihai. Aku benar-benar kagum," kata seorang tua yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan Pendekar Tombak Angin.