
"Karena itulah, sejak awal aku menanyakan di mana dia berada. Jujur saja, aku ingin membunuh tua bangka itu dengan kedua tanganku sendiri. Bagaimanapun juga, aku harus membunuhnya. Sebab kalau tidak, arwah kelima guruku tidak akan pernah tenang,"
Zhang Fei berkata dengan penuh emosi. Bola matanya merah menyala. Seolah-olah di sana ada kobaran api yang membara dan siap membakar apa saja.
Pada saat demikian, tiba-tiba si Pedang Angin Puyuh Gouw Ming bangkit berdiri dari posisi duduknya. Ia berjalan lalu membuka jendela ruangan.
Ia menatap langit yang mulai gelap. Mengawasi keadaan di sekitar tempat itu.
"Hahh ..."
Helaan nafas berat terdengar untuk yang kesekian kali. Dari suara barusan, Zhang Fei bisa tahu bahwa orang tua itu sedang menanggung masalah yang tidak ringan.
"Anak Fei, kau tahu tentang Partai Gunung Pedang?" tanyanya tanpa menoleh.
"Aku hanya tahu sedikit, Tuan," jawba anak muda itu dengan jujur.
"Coba sebutkan hal-hal yang kau ketahui tentang partai ini,"
"Menurut yang aku tahu, Partai Gunung Pedang adalah termasuk ke dalam salah satu dari empat partai terbesar aliran putih yang terdapat di dunia persilatan Tionggoan. Partai Gunung Pedang menduduki posisi keempat dengan jumlah murid yang hampir mencapai angka empat ratus orang. Selain itu, partai tersebut juga berpusat di Kota Luoyang ini," kata Zhang Fei menjelaskan hal yang dia ketahui.
Si Pedang Angin Puyuh membalikkan tubuh. Ia berjalan ke dekat meja, menuangkan arak ke dalam cawan, lalu menghabiskannya dalam sekali teguk.
"Semua yang kau katakan itu memang benar. Tapi, itu semua hanya berlaku dahulu kala, tepatnya sebelum aku mengasingkan diri untuk memperdalam ajaran Buddha,"
Suara orang tua itu dipenuhi dengan kepedihan. Seperti juga wajahnya yang sekarang diliputi oleh kesedihan mendalam.
"Aku sungguh tidak menyangka, ternyata partai besar yang disegani dalam dunia persilatan, bisa dihancurkan oleh satu orang saja. Kau tahu, siapa satu orang yang aku maksud itu?"
Zhang Fei tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Orang itu bukan lain adalah si Pendekar Pedang Emas. Tua bangka Gan itulah yang membuat Partai Gunung Pedang menjadi seperti sekarang!"
Ia benar-benar marah. Bahkan bicaranya juga berapi-api. Pada saat yang sama, tanpa sengaja dia memegang salah satu bangku yang terdapat di dalam ruangan itu.
Tidak lama setelahnya, bangku itu pun langsung hancur berkeping-keping.
Zhang Fei tersentak. Sebab dari kejadian barusan, dia sudah bisa menilai betapa tingginya ilmu orang tua itu.
"Kau pasti tidak percaya bukan?"
"Percaya atau tidak percaya, aku tetap harus mempercayai ucapan Tuan,"
"Bagus. Memang sudah seharusnya begitu,"
"Dia yang membangun, ternyata dia juga yang menghancurkan," kata Zhang Fei dengan nada kecewa.
Mendengar ucapan itu, tiba-tiba Gouw Ming tersenyum dingin. Ia segara menimpali ucapannya.
"Yang membangun partai ini adalah aku dan Kakaknya, bukan manusia bejad itu,"
"Oh, jadi, dia bukan Wakil Ketua sejak dulu?"
"Sama sekali bukan,"
"Lalu, kenapa dia bisa menduduki jabatan Wakil Ketua?"
"Itu karena aku yang mengangkatnya sendiri. Sebenarnya, apa yang aku lakukan ini tak lebih hanya karena menghargai mendiang Kakaknya, Gan Siong. Siapa sangka, ternyata sifat Adiknya itu sangat bertolakbelakang,"
Berbagai macam kenangan masa lalu tiba-tiba melintas dalam benak orang tua itu. Ia jadi semakin sedih. Semakin perih. Juga semakin kecewa apabila teringat akan Pendekar Pedang Emas Gan Li.
Lebih daripada itu, sampai sekarang dia pun seakan tidak percaya bahwa partainya bisa dihancurkan dengan mudah. Malah parahnya lagi, yang menghancurkannya justru orang sendiri.
Ternyata benar apa kata pepatah dulu, yang namanya sifat manusia itu selalu berbeda-beda.
Jangankan dibandingkan dengan orang lain, bahkan jika dibandingkan dengan saudara sendiri pun, pasti akan terdapat perbedaannya.
Buktinya saja antara kakak beradik Gan Siong dan Gan Li.
Kakaknya gagah perkasa, adiknya pecundang. Kakaknya yang membangun, adiknya justru yang menghancurkan.
Terhadap persoalan pelik ini, apa yang bisa dilakukan oleh Zhang Fei? Bagaimana pula dia harus menyikapinya?
"Semua ini karena seorang murid kepercayaanku. Dia telah menceritakan semua yang terjadi dan apa yang telah diperbuat oleh tua bangka itu,"
"Oh, pantas saja. Kalau begitu, artinya kau juga tahu tentang dunia persilatan kita saat ini?"
"Ya, semuanya aku tahu,"
"Menurutmu mungkin atau tidak, jika tua bangka itu telah bekerja sama dengan partai aliran sesat?"
"Sangat-sangat mungkin. Karena sejak mengetahui hal ini pun, aku sudah berpikir sampai ke sana,"
Ternyata antara dia dan Gouw Ming mempunyai pikiran yang sama.
Tetapi yang jadi pertanyaannya, ke partai sesat mana Pendekar Pedang Emas Gan Li menggabungkan dirinya?
"Ada orang datang," tiba-tiba Zhang Fei bersuara.
Sedetik kemudian, Gouw Ming pun bisa merasakan kehadiran dan mendengar gerakan halus dari luar sana. Dengan cepat dia mengajak yang lain bersembunyi.
"Ikut aku," ucapnya.
Ia lalu menekan tombol rahasia yang terdapat di pojok lantai. Suara gemuruh terdengar, tiba-tiba tembok sebelah kanan terbuka.
Gouw Ming segera masuk ke dalam dan diikuti pula oleh yang lainnya.
Tepat setelah suasana kembali normal, beberapa bayangan manusia tampak berkelebat dengan cepat.
Mereka berjumlah lima orang. Semuanya mengenakan pakaian hitam pekat. Tidak lupa juga, masing-masing dari mereka menggunakan cadar yang menutupi wajahnya.
"Tuan, sepertinya di sini ada orang. Lihat saja, cawan dan guci arak ini masih baru," salah seorang dari mereka tiba-tiba berkata sambil menunjuk ke arah meja tempat duduk Zhang Fei sebelumnya.
Orang yang dipanggil Tuan itu tiba-tiba menoleh ke meja yang dimaksud.
"Hemm, benar. Tua bangka itu pasti masih diam di sini,"
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Apa lagi? Tentu saja cari di mana tua bangka Gouw itu berada," katanya dengan tegas.
Empat orang yang ikut bersamanya langsung mengangguk. Mereka berpencar, satu orang mencari di ruangan dalam, yang lainnya mencari di tempat sekitar.
Siapa mereka? Kenapa orang-orang tersebut mencari Gouw Ming?
Dalam pada itu, di dalam ruangan rahasia, Gouw Ming dan Zhang Fei juga bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas.
Mendadak anak muda itu bertanya lewat pikiran kepada orang tua di sisinya.
"Tuan, apakah orang-orang ini sedang mencari dirimu?" tanyanya penasaran.
"Sepertinya begitu,"
"Apakah kau mempunyai musuh lama?"
"Aku rasa tidak ada. Aku sendiri penasaran, siapa sebenarnya orang-orang ini?"
Zhang Fei termenung. Dia pun ikut memikirkan terkait siapakah orang-orang itu. "Hemm, mungkinkah salah satu dari mereka, adalah si tua Gan Li?"
"Ah, benar. Itu pasti dia!" katanya sedikit kaget.
Seketika seluruh tubuh Gouw Ming bergetar keras. Ia merasakan darah di dalam tubuhnya bergolak hebat.
Karena sudah tidak bisa menahan kemarahan lagi, tanpa diduga oleh siapa pun, tiba-tiba dia keluar dari dalam ruangan dan berniat untuk membunuh si Pendekar Pedang Emas Gan Li!
###
Kalau alurnya terdapat cukup banyak teka-teki, maaf ya. Karena seperti yang dijelaskan di awal, novel ini terinspirasi dari karya Gu Long. Di mana beliau juga terinspirasi dari penulis barat, yaitu Agatha Christie.
Makanya novel-novel beliau lebih banyak teka-tekinya daripada pertarungannya. Tapi kalau di novel ini, author akan berusaha untuk membuat kedua hal itu seimbang.
Terimakasih untuk kalian yang sudah mendukung sampai saat ini ..