Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Mati Mendadak


Semua orang yang ada di sana langsung terkejut setengah mati. Para Datuk Dunia Persilatan tidak menyangka bahwa Zhang Fei mampu mengalahkan Nenek Bungkuk Beracun dengan cukup mudah.


Dewi Rambut Putih kaget, sebelumnya dia bisa melihat bahwa Zhang Fei berada di bawah angin dan selalu dalam keadaan terdesak cukup hebat.


Namun siapa sangka, hanya dalam waktu hitungan menit saja, Ketua Dunia Persilatan mampu membalikkan keadaan. Dari yang tadinya di bawah angin, menjadi di atas angin. Sebelumnya tersedak, sesaat kemudian segera mendesak dengan hebat.


Dalam hatinya, ia benar-benar kagum dengan kemampuan Zhang Fei. Dewi Rambut Putih sendiri tahu bahwa Nenek Bungkuk Beracun bukan lawan yang mudah untuk dihadapi.


Namun siapa sangka, ternyata Zhang Fei mampu membalikkan semuanya begitu saja. Dia sendiri tidak yakin mampu melakukan hal seperti itu.


Sementara di satu sisi lain, yang paling terkejut di antara semua ya adalah Fu Wei!


Bagiamana tidak? Ia berada di posisi paling dekat dengan pertarungan daripada yang lainnya. Namun yang membuatnya kaget, dia bahkan tidak bisa melihat bagaimana Zhang Fei bergerak.


Ia tidak tahu dengan cara apa Ketua Dunia Persilatan melakukannya. Yang ia tahu, kepala rekannya benar-benar terlempar dalam waktu yang begitu singkat.


Sekarang, seluruh tubuhnya terasa sedikit bergetar. Hatinya juga ikut tergetar. Kedua lututnya lemas. Wajahnya sendiri pucat pasi.


Fu Wei tahu, dia pun akan mendapat nasib yang tidak berbeda jauh dengan Nenek Bungkuk Beracun. Entah sekarang atau beberapa saat lagi, ia pasti akan menyusulnya.


Lalu, apakah ada cara untuk membebaskan dirinya dari maut? Benarkah dia bisa lari dari tempat itu?


Fu Wei tidak tahu. Ia benar-benar tidak tahu!


Yang dia tahu, adalah bahwa saat ini para tokoh dunia persilatan itu sedang menatap tajam ke arahnya.


Dia sendiri tidak berani membalas tatapan mereka. Fu Wei hanya berani menatap jasad Nenek Bungkuk Beracun yang ambruk di depannya. Jarak di antara mereka paling-paling hanya terpaut sekitar lima langkah.


Dengan jarak sedekat itu, tentu ia bisa melihat dengan apa saja yang terjadi terhadapnya.


Kutungan leher Nenek Bungkuk Beracun masih mengeluarkan darah segar dengan jumlah banyak. Pakaiannya sendiri sudah dipenuhi oleh darah itu.


Namun yang membuatnya tercengang bukan karena hal tersebut. Melainkan karena bekas kutungan lehernya benar-benar rapi. Seolah-olah leher nenek tua itu bukan ditebas menggunakan pedang. Melainkan menggunakan sebuah mesin.


Tanpa disadari olehnya, bulu kuduk langsung bangkit berdiri!


Suasana di sana masih sepi hening. Rembulan semakin menggeser ke sebelah barat.


Ketika semua orang sedang bergelut dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba Dewa Arak Tanpa Bayangan berjalan beberapa langkah ke depan.


Wushh!!!


Tangan kanannya diayunkan ke depan. Seluruh tubuh Fu Wei seketika tidak bisa bergerak sama sekali.


Orang yang dituju benar-benar terkejut. Dia tidak mengerti apa yang telah terjadi dengan tubuhnya.


"Aku sudah menotokmu. Dan aku rasa, tidak mudah untuk membebaskan diri dari Totokan Bayangan itu," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan nada hambar.


Fu Wei memandangnya dengan tatapan terkejut. Hatinya semakin ciut. Mentalnya benar-benar hilang.


"Apa ... apa yang ingin kau lakukan kepadaku, Tuan Kiang?" tanyanya sedikit gugup.


Dewa Arak Tanpa Bayangan tersenyum sinis, sesaat kemudian dia segera menjawab, "Aku tidak akan berbuat apapun kalau kau mau menjawab beberapa pertanyaan yang akan diajukan nanti,"


"Pertanyaan apa?" ia semakin takut. Keringat dingin sudah membasahi keningnya.


"Tenang saja. Pertanyaan ini tidak begitu sulit. Hanya saja, diperlukan kejujuran untuk bisa menjawabnya," kata Zhang Fei tiba-tiba angkat bicara.


Ia pun turut melangkah ke depan. Begitu juga dengan para tokoh dunia persilatan yang lainnya.


Sementara itu, Fu Wei segera melirik ke arah Zhang Fei. Mulutnya tidak terbuka. Namun matanya sudah mengatakan semuanya.


"Benar, Ketua Fei. Aku kemari hanya berdua dengannya," jawab Fu Wei sedikit terpaksa.


"Apakah tidak ada orang lain lagi?" Zhang Fei menegaskan. Ia bertanya sambil menatapnya cukup tajam.


"Tidak ada," jawab Fu Wei sambil menggelengkan kepala.


"Baik, aku percaya," ia mengangguk beberapa kali. "Lalu, siapa yang telah menyuruh kalian untuk menguping pembicaraan kami tadi?"


Fu Wei tampak menatap pada tokoh dunia persilatan itu secara bergantian. Melihat sorot mata mereka yang semakin lama makin tajam, keberaniannya telah benar-benar lenyap.


Namun, hatinya tidak demikian. Hatinya justru mencaci maki orang-orang di hadapannya.


Andai saja dia mempunyai kemampuan yang sangat tinggi, mungkin saat ini ia telah mengambil tindakan.


Sayang sekali, dia tidak mempunyai kemampuan yang diinginkannya tersebut.


"Itu ... kami ... kami telah disuruh oleh .."


"Oleh siapa?" Pendekar Pedang Perpisahan membentak. Suaranya yang serak patah itu terdengar seperti raungan iblis dari neraka.


Fu Wei hanya bisa menelan ludahnya ketika merasakan selapis hawa pembunuh yang begitu tebal keluar dari tubuh Datuk Dunia Persilatan tersebut.


"Oleh Bik ..."


Slebb!!!


Fu Wei tidak bisa melanjutkan lagi ucapannya. Tiba-tiba sepasang matanya melotot besar. Lidahnya terjulur keluar. Sesaat kemudian, kedua tangannya segera memegangi leher lalu kemudian ambruk ke tanah.


Dia tewas detik itu juga!


Kejadian ini terlampau mendadak. Semua tokoh dunia persilatan pun tidak menyangka bahwa di sekitar sana ada tokoh lain yang bersembunyi dalam gelap.


Mereka lebih tidak menyangka lagi ketika melihat bahwa serangan senjata rahasia tadi benar-benar tepat di urat nadi leher.


Wushh!!!


Pendekar Pedang Perpisahan melesat dengan sangat cepat ke arah senjata rahasia itu berasal. Ilmu meringankan tubuh datuk sesat itu tidak boleh dipandang rendah.


Rasanya jarang ada orang yang mampu terlepas dari kejarannya.


Naas, saat itu merupakan pengecualian. Tokoh yang tadi membunuh Fu Wei secara diam-diam, ternyata telah berhasil menyelamatkan diri dari kejarannya.


"Keparat!" kayanya mengumpat kesel.


Karena sudah tahu musuh tidak bisa dikejar, maka dengan segera dirinya kembali ke tempat tadi.


"Dia berhasil melarikan diri?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan ketika Pendekar Pedang Perpisahan sudah tiba di sana.


"Ya, dia mempunyai ilmu meringankan tubuh yang luar biasa,"


"Aku rasa, di dunia ini jarang ada yang bisa lepas dari kejaranmu. Kecuali hanya mereka orang-orang yang sekelas denganmu," sahut Pendekar Tombak Angin ikut berbicara.


"Benar. Kemungkinan besar dia juga tokoh kelas atas," Dewi Rambut Putih pun ikut membuka mulutnya.


"Kalau aku tidak salah, dia pasti adalah Biksu Sembilan Nyawa Kong Bai," kata Zhang Fei berbicara secara tiba-tiba.


Lima Datuk Dunia Persilatan menganggukkan kepala. Mereka merasa sedikit setuju dengan dugaan tersebut.


"Seperti yang kita lihat tadi, orang ini mati mendadak ketika hendak membicarakan yang sebenarnya. Aku yakin, orang yang dimaksud olehnya adalah Biksu Sembilan Nyawa Kong Bai. Begitu juga dengan orang yang membunuhnya,"