Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Asap Hitam


Dalam waktu sekitar dua puluh jurus saja, Dewa Arak Tanpa Bayangan telah berhasil mendominasi arena pertarungan.


Sebenarnya kemampuan Ji Tong sudah terhitung setara dengan pendekar kelas satu. Tapi sayangnya ia masih terlalu ceroboh dan selalu memandang rendah setiap musuhnya.


Karena hal itulah pada akhirnya semua kemampuan yang dia miliki tidak bisa keluar. Bahkan kalau pun ada yang dapat digunakan, tetap tidak sempurna karena para dasarnya ia melakukan hal itu dengan didasari oleh nafsu.


Masalah utama dari Ji Tong adalah ia tidak pernah tenang. Apapun yang dilakukan olehnya pasti tidak pernah diperhitungkan dengan matang.


Padahal sebagai pendekar yang sudah mempunyai kemampuan tinggi, seharusnya dia sudah bisa memperhitungkan segala macam hal. Ia pun sepantasnya bisa bersikap tenang.


Toh kemampuannya tidak rendah lagi. Jadi, apa pula yang dia khawatirkan?


Sayangnya, hal tersebut tidak pernah berhasil dikuasai dengan sempurna oleh Ji Tong. Ia selalu saja bertindak ceroboh.


Maka dari itu, tidak heran apabila pada saat ini dia jadi kebingungan sendiri. Sekarang jurus-jurusnya sudah tidak bisa dikerahkan lagi. Tenaga saktinya juga tidak bisa digunakan, sebab Dewa Arak Tanpa Bayangan terus menyerangnya tanpa berhenti.


Selama dua puluh jurus tersebut, Ji Tong hanya bisa bertahan tanpa sanggup memberikan serangan balasan.


Semakin lama berada di posisi tersebut, ia pun semakin merasa lelah. Akhirnya, tepat ketika pertarungan di antara mereka mencapai dua puluh lima jurus, Guci Emas Murni milik Dewa Arak Tanpa Bayangan telah berhasil mengenai sasaran utamanya


Prakk!!!


"Ahh!!!"


Teriakan menjelang kematian terdengar menggelora. Suaranya terdengar ke tempat yang cukup jauh. Bahkan para prajurit yang sedang bertempur di dekatnya juga sempat menghentikan pertarungan dan mereka langsung melihat ke arah sumber suara.


Kepala Ji Tong seketika remuk ketika Guci Emas Murni menghantam kepalanya dengan telak. Darah segar keluar dan langsung membasahi seluruh tubuhnya.


Kematian Ji Tong benar-benar mengenaskan. Dalam waktu yang singkat saja, seolah-olah ia telah berubah menjadi manusia darah.


Peristiwa itu berlangsung singkat. Kakek Ular pun tidak sempat memberikan bantuan kepada muridnya, karena memang waktu yang tersedia sudah tidak banyak lagi.


Pada saat menyaksikan muridnya terkapar di atas tanah, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia hanya berdiri sambil memandangi kepalanya yang remuk tersebut.


Perasaannya sekarang campur aduk. Amarah dalam jiwanya berkobar laksana api di neraka.


Namun walaupun benar begitu, sebisa mungkin ia tetap berusaha menjaga ketenangan dirinya.


SI Kakek Ular menghirup dan menghembuskan nafasnya beberapa kali. Dia melakukan itu supaya hatinya menjadi sedikit lebih tenang.


"Sungguh jurus yang sangat luar biasa," katanya setelah merasa tenang.


"Tentu saja. Dan saat ini murid tunggalmu telah tewas mengenaskan," sahut Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil tersenyum mengejek.


"Ya, aku tahu. Dan dia mati karena kecerobohannya sendiri," jawab si Kakek Ular.


Ucapannya terdengar sangat dalam. Dari raut wajahnya, siapa pun dapat mengetahui bahwa saat itu dia sedang menahan kesedihannya.


"Sangat disayangkan. Padahal muridmu itu terhitung berbakat. Kalau dia mau membenahi diri, aku yakin dalam waktu satu tahun ke depan, ia akan menjadi pendekar pilih tanding,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan mengatakan hal yang sejujurnya. Sebagai tokoh angkatan tua yang sudah kenyang pengalaman, tentu dia bisa memberikan penilaian seperti itu dengan mudah.


Apalagi terhadap pendekar yang usianya berada di bawah dia sendiri.


"Benar. Tapi sayangnya sekarang dia telah tewas," si Kakek Ular berkata dengan nada sedingin es. Sepasang matanya yang tajam dan ganas itu, menatap ke arah lawan bicaranya tanpa berkedip.


"Dan sekarang, apakah kau akan membalaskan dendam kematiannya?"


Tiba-tiba Kakek Ular melakukan persiapan lagi. Tongkat pusaka itu ia tancapkan ke tanah. Setelah menyalurkan tenaga sakti ke seluruh batang tongkat, dia pun langsung melesat ke depan sambil menurunkan serangan pamungkasnya.


"Racun Ular Hitam!"


"Tongkat Sesat Pembawa Maut!"


Wushh!!! Wutt!!!


Ukuran kepala ular yang terbuka itu tiba-tiba menyemburkan asap berwarna hitam pekat. Asap tersebut langsung memenuhi seluruh area pertarungan mereka.


Rupanya dugaan Dewa Arak Tanpa Bayangan sebelumnya terbukti benar. Ukuran kepala ular itu memang bisa mengeluarkan racun yang berbahaya!


Ia sendiri sedikit terlambat mengatasinya. Alhasil, orang tua itu merasakan nafasnya sesak dan dadanya sangat sakit. Seolah-olah ada sesuatu yang menghimpit.


'Sialan. Aku terlambat melindungi tubuhku,' gerutunya dalam hati.


Bersamaan dengan itu, buru-buru dirinya melompat mundur lebih dulu dan menyalurkan hawa murni. Dewa Arak Tanpa Bayangan juga berusaha menekan racun tersebut agar tidak sampai menyebar ke seluruh tubuh.


Setelahnya, dia langsung menerjang dan menyambut serangan tongkat lawan yang sangat gencar tersebut.


Pertarungan sengit terjadi di tengah-tengah kepulan asap hitam pekat yang mengeluarkan bau busuk. Karena tidak mau mengambil resiko terlalu tinggi, terpaksa Dewa Arak Tanpa Bayangan harus bertarung sambil menahan nafas.


Namun hal itu bukan suatu halangan berarti. Sebab serangannya masih sangat ganas dan juga berbahaya.


Guci arak dan tongkat terus bertemu. Suara nyaring dan percikan api ikut mewarnai pertarungan keduanya.


Selama beberapa saat, mereka terus melakukan adu jurus. Keduanya saling serang dan bertahan secara bergantian.


Sekitar lima belas jurus kemudian, pasokan nafas Dewa Arak Tanpa Bayangan hampir habis. Ia mulai terasa sesak. Siksaan dari asap beracun kembali dia hidup.


Walaupun hanya sedikit, tapi bahaya yang ditimbulkan juga tidak main-main.


"Amarah Dewa Arak!"


Orang tua itu berteriak sangat kencang. Setelahnya, dia segera mengeluarkan segenap tenaga dan kemampuan yang tersisa.


Gerakan Dewa Arak Tanpa Bayangan menjadi berubah. Sekarang jauh lebih cepat, lebih tepat, dan bahkan lebih berbahaya lagi.


Gulungan sinar emas datang dari segala penjuru mata angin. Suara mendengung seperti ribuan lebah juga terdengar menusuk telinga.


Kakek Ular mulai terganggu konsentrasinya. Terutama setelah ia mendengar suara dengungan tersebut.


Dewa Arak Tanpa Bayangan mengetahui akan hal itu. Dan dia tidak menyia-nyiakan kesempatan begitu saja. Sambil membentak nyaring, dirinya langsung melompat ke depan lalu mengayunkan Guci Emas Murni kepada musuhnya.


Prakk!!! Bukk!!


Kakek Ular berseru nyaring. Sebelum suaranya lenyap, tubuhnya telah ambruk lebih dulu. Begitu menimpa tanah, nyawanya seketika melayang.


Karena sudah tahu bahwa musuhnya telah tewas, tanpa banyak menunda waktu lagi, Dewa Arak Tanpa Bayangan langsung melompat mundur sejauh mungkin.


"Hahh ... hahh ... hahh ..." Ia menghembuskan nafas dan menghirupnya beberapa kali dengan gerakan cepat.


Datuk Dunia Persilatan tersebut benar-benar merasa sesak nafas. Untunglah sekarang dia telah terbebas dari gumpalan racun yang saat ini mulai memudar.


"Setan tua itu benar-benar licik. Untung saja aku masih bisa bertahan. Yah ... meskipun aku membutuhkan waktu yang tidak sebentar kalau ingin benar-benar menghilangkan efek racun ini," ia mengeluh perlahan. Setelah itu langsung pergi ke sisi lain.