Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kediaman Hartawan Cong Lai


Malam baru saja tiba. Keadaan di desa yang bertepatan di bawah Gunung Awan Putih masih ramai. Masih banyak orang-orang yang berlalu-lalang. Masih banyak pula para pedagang yang menjajakan barang dagangannya.


Seorang pemuda tampan dengan pakaian serba biru, rambut hitam panjang diikat pita, tampak sedang berjalan menyusuri jalanan besar yang berdebu.


Anak muda itu bukan lain adalah Zhang Fei. Ia baru saja tiba di desa tersebut.


Sekarang karena hari sudah masuk malam, ia ingin berniat untuk mencari rumah makan. Walaupun hanya rumah makan sederhana, tidak menjadi soal. Asal ada makanan yang bisa masuk ke perut, maka ia akan mengunjunginya.


Kebetulan, tidak jauh dari tempatnya sekarang, sudah mulai tercium aroma masakan yang cukup menusuk hidung.


Zhang Fei celingukan. Menoleh ke kanan dan kiri. Ternyata setelah dicari, aroma masakan itu datangnya dari arah depan sana.


Ia bisa segera melihat sumber dari aroma wangi yang telah membuat perutnya semakin lapar.


Setelah itu, dirinya langsung berjalan menuju ke sana.


Rumah makan yang ia kunjungi adalah rumah makan sederhana. Di dalamnya saja hanya terdapat beberapa meja. Itupun sudah bobrok karena dimakan usia.


Pemilik rumah makan adalah suami isteri yang sudah tua. Usianya saja mungkin sudah mencapai enam puluh tahun.


Zhang Fei duduk di sudut. Ia segera memesan makanan. Tentunya, tidak lupa juga dia memesan satu guci arak.


"Tapi, Tuan Muda. Di sini hanya ada arak keras," kata kakek tua yang menghampirinya.


"Arak keras pun tidak mengapa. Selama itu benar-benar arak, aku akan meminumnya," jawab anak muda itu sambil memberikan senyuman hangat.


Selama dua tahun tinggal bersama kakeknya, Zhang Fei memang telah berubah menjadi setan arak. Setiap hari, ia pasti akan minum arak.


Sehari saja tidak minum arak, ia akan merasakan ada sesuatu yang kurang.


Baginya, arak adalah sumber tenaga. Arak pun merupakan rekannya dalam setiap suasana.


Tidak lama kemudian, si kakek tua tadi sudah datang kembali. Ia membawa satu guci arak keras yang terdapat di rumah makan miliknya.


"Silahkan, Tuan Muda," katanya sambil menyimpan guci arak tersebut.


"Terimakasih, Paman," jawab Zhang Fei dengan sopan.


Kini, di depannya telah ada arak. Tanpa membuang waktu lagi, dia langsung membuka segel arak dan menenggaknya beberapa kali.


Pada saat tadi dirinya masuk rumah makan, suasana di sana masih terbilang sepi. Pengunjung yang ada cuma beberapa orang saja.


Tapi kini, beberapa waktu kemudian, satu-persatu meja yang terdapat di dalamnya mulai ditempati oleh pelanggan yang sudah terbiasa datang.


Suasana di dalam rumah makan pun menjadi riuh. Ada yang memesan makanan, ada pula yang berniat membayar.


Zhang Fei tidak memperhatikan itu semua. Ia bersikap acuh tak acuh. Begitu pesanannya telah datang, pemuda itu malah langsung menyantapnya.


Ia makan dengan santai. Sangat santai sekali, seolah-olah dirinya takut tersedak masakan yang ia lahap.


Sekitar lima belas menit kemudian, anak muda itu baru menghabiskan semua makanannya.


Makanan sudah habis, arak pun telah ludes.


Zhang Fei bangkit berdiri, ia berjalan untuk melakukan pembayaran. Setelah itu, dirinya langsung pergi keluar dari sana.


Dia kembali melangkah di tengah jalan raya yang berdebu. Suasana malam ini sangat cerah. Rembulan muncul dengan sempurna. Bintang-bintang bertaburan di atas langit.


Keindahan malam terasa lebih sempurna lagi.


Di kanan kiri jalan, terdapat banyak bangunan sederhana. Baik itu pertokoan, atau usaha-usaha lainnya.


Ada pula sekelompok anak muda yang sedang menikmati indahnya malam ini dengan kekasih masing-masing.


Tanpa terasa, dia sudah cukup jauh melangkahkan kakinya. Sekarang dia telah tiba di penghujung desa. Tidak berapa jauh di sana, ada sebuah kota kecil.


Walau merupakan kota kecil, tapi dari jauh pun sudah terlihat ada banyak lentera berwarna-warni yang menghiasi malam.


Ia kembali berjalan. Menghampiri seorang pedagang bakpao yang berada di pinggir jalan.


"Paman, aku ingin membeli bakpao," kata Zhang Fei.


"Oh, silahkan, Tuan Muda," jawab si pedagang tua merasa senang.


"Aku ingin beli tiga bakpao isi daging,"


Dengan cepat pedagang tua itu mengambilkan bakpao sesuai dengan pesanan.


"Paman, aku ingin bertanya. Kau tahu di mana kediaman Hartawan Cong Lai?" tanya Zhang Fei mulai mencari informasi.


"Oh, rumah Hartawan Cong? Itu di sana," jawab si pedagang sambil menunjuk ke depan. "Tuan Muda tinggal ikuti saja jalan ini. Rumah Hartawan Cong terletak di penghujung jalan raya. Nanti ada bangunan yang besar, itulah rumah beliau,"


"Oh, baiklah, Paman. Terimakasih," ujarnya sambil membayar.


Setelah mendapatkan informasi, Zhang Fei segera melangkah mengikuti jalan raya itu. Ia sengaja tidak menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, sebab suasana di sana sedang ramai. Pemuda itu tidak mau menjadi perhatian orang. Karenanya ia tetap berjalan seperti orang-orang pada umumnya.


Lewat beberapa waktu kemudian, dia sudah mencapai penghujung jalan. Ternyata benar kata pedagang tua tadi, tidak jauh dari sana, memang terdapat sebuah bangunan besar yang megah.


Di antara bangunan di sekitar, rasanya bangunan itu adalah yang termegah.


Suasana di sekitar sana sangat terang. Apalagi di setiap penjuru terdapat lentera. Tetapi di depan gerbang bangunan megah tersebut tidak terdapat penjaga.


"Aneh," gumam anak muda itu sambil mengerutkan kening.


Kenapa di depan gerbang tidak ada penjaganya? Apakah sengaja? Ataukah para penjaga itu sedang beristirahat?


Zhang Fei tidak tahu secara pasti. Yang jelas, ia mulai merasa ada yang aneh.


Karena ada sesuatu yang tidak beres, maka ia segera berjalan dengan cepat menuju ke sana. Begitu tiba, ternyata bukan saja tidak ada penjaga, bahkan gerbang itu sendiri, juga tidak terkunci sama sekali.


Ia mulai penasaran. Pemuda itu kembali berjalan semakin dalam.


Suasana di halaman depan, ternyata juga sepi!


Selain suara gemericik air terjun buatan di kolam ikan, rasanya tiada suara apapun lagi yang bisa didengar.


Ke mana orang-orangnya? Kenapa di sana tidak terlihat ada kehidupan?


Benarkah di gedung yang besar tersebut, sudah tidak ada kehidupannya? Kalau tidak ada, kenapa pula semua lentera menyala?


Saat itu, tanpa terasa hari sudah masuk tengah malam. Suasana di sekitar kota kecil itu juga mulai sepi. Kentongan pertama baru saja dibunyikan. Beberapa orang warga sedang berkeliling mengontrol keadaan.


Rasa penasaran di benak Zhang Fei semakin bertambah. Apalagi setelah ia menyaksikan semua hal ini.


Ia berjalan lebih dalam sampai ke pintu utama. Tanpa sengaja, tangan kirinya mendorong pintu tersebut.


Blamm!!!


Pintu pun langsung terbuka lebar!


Ternyata pintunya tidak dikunci. Lagi-lagi, tidak ada orang.


Tapi, ia segera mencium sesuatu. Sesuatu yang amis. Seperti darah!


Apa yang telah terjadi di sini?