Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Tiga Rangkaian Jurus Dewa Mabuk


Dia tahu, ia kalah dalam tenaga dalam. Si Cambuk Pisau memang bukan lawan yang mudah bagi dirinya. Hanya saja, Yao Mei tetap tidak mau menyerah. Berbagai macam jurus pedang yang lebih tinggi terus ia gelar.


Tidak hanya itu saja, bahkan sekarang, setelah mengetahui sampai di mana kehebatan lawan, gadis cantik tersebut mulai meningkatkan kembali tenaganya.


Pertarungan di antara mereka semakin berlangsung seru. Adu jurus tidak terhindarkan lagi. Ledakan cambuk dan decitan angin tajam dari tebasan pedang terus bertemu di tengah jalan.


Sementara itu di sebelah sana, terlihat Dewa Arak Tanpa Bayangan sedang beradu telapak dengan Pendekar Tangan Dewa. Dua tokoh tua tersebut sama-sama kuat.


Masing-masing dari mereka juga sudah kenyang akan pengalaman. Sehingga keduanya bisa menangkis atau membaca gerakan musuh dengan cukup mudah.


Pertarungan keduanya sudah mencapai dua puluh jurus. Sampai sejauh ini, yang paling banyak menyerang agaknya adalah Pendekar Tangan Dewa.


Kedua tangan yang dia miliki sangat luar biasa. Kadang kala tangan itu sangat lincah sehingga mirip ular berbisa yang akan mematuk mangsanya.


Tapi di lain kesempatan, tangannya juga seperti batu yang amat keras. Setiap pukulan dan hantaman telapak tangan yang dia berikan benar-benar dahsyat.


Kalau saja lawannya bukan Dewa Arak Tanpa Bayangan, mungkin sudah sejak tadi dia keluar sebagai pemenang.


Sayangnya, kenyataan berkata lain. Pendekar Tangan Dewa nyatanya dipaksa bertemu dengan lawan yang sama tangguh. Diam-diam ia mengeluh. Sudah banyak jurus dan serangan yang dia berikan kepada lawan. Tapi tidak ada satu pun yang membuahkan hasil.


Dewa Arak Tanpa Bayangan sendiri diam-diam merasa kagum. Gerakan lawannya benar-benar cepat. Kekuatan tangannya juga tidak dipandang sebelah mata.


Menurutnya, kalau situasi terus seperti ini, niscaya pertarungan di antara mereka akan membutuhkan waktu yang cukup lama.


'Dilihat dari bagaimana dia menyerangku, sepertinya di negeri asalnya, orang ini bukan tokoh biasa. Aku yakin, posisinya dalam dunia persilatan tidak jauh seperti diriku,' batinnya berkata sambil terus menangkis serangan lawan.


Wutt!!! Wutt!!!


Pukulan beruntun tiba-tiba dilancarkan oleh Pendekar Tangan Dewa. Setiap pukulannya mengandung tenaga puluhan kilo. Sehingga kalau sampai satu pukulan itu mengenai tubuh, niscaya rasa sakit yang akan dihasilkan tidak main-main.


Dewa Arak Tanpa Bayangan tentu saja tidak mau membiarkan hal itu terjadi. Buru-buru dia menyalurkan hawa murni dan tenaga dalamnya lebih tinggi lagi.


Setelah selesai, ia mulai membalas serangan yang diberikan oleh lawan.


Dua pasang telapak tangan kembali bertemu. Setiap kali terjadi benturan di antara mereka, pasti akan tercipta gelombang kejut yang lumayan besar.


Pendekar Tangan Dewa tiba-tiba berteriak nyaring. Ia lalu menyerang dengan jurus tingkat tinggi miliknya. Tubuhnya melesat ke depan. Kedua tangannya di julurkan.


Satu mengarah ke dada sebelah kanan. Satu lagi mengarah ke iga. Dua sasaran dalam satu serangan!


Plakk!!! Plakk!!!


Dewa Arak Tanpa Bayangan berhasil menangkis serangan yang sederhana namun sangat berbahaya itu. Tanpa sadar ia terdorong setengah langkah ke belakang.


Tidak berhenti sampai di situ saja, Pendekar Tangan Dewa berniat untuk melanjutkan usahanya. Tapi sebelum itu, pihak lawan sudah lebih dulu mengambil tindakan.


Wutt!!!


Tiba-tiba Dewa Arak Tanpa Bayangan memberikan pukulan jarak jauh yang mengeluarkan angin kencang. Karena tidak mau mengambil resiko, terpaksa dia harus menahan sambil mundur ke belakang.


Sementara itu, sadar bahwa ia mempunyai kesempatan baik, maka Kiang Ceng tidak membuangnya begitu saja.


Tiba-tiba ia menenggak guci arak yang selalu dibawanya tersebut. Setelah cukup banyak arak yang masuk ke tenggorokan, orang tua itu langsung berteriak dengan lantang.


"Tiga Rangkaian Jurus Dewa Mabuk,"


Wushh!!!


Tubuhnya meluncur ke depan. Begitu tiba di hadapan lawan, dia mulai memainkan jurus hebat itu.


Kedua tangannya berubah seperti paruh burung. Ia menyerang titik syaraf yang berbahaya. Serangan itu dilakukan dengan sangat cepat.


Pendekar Tangan Dewa tercekat. Dengan cepat ia mengambil posisi aman. Dirinya kembali melayang ke belakang. Namun rupanya Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak mau melepaskan dia begitu saja.


Ia terus mengejar sambil mengeluarkan jurus yang selanjutnya.


"Dewa Mabuk Mengangkat Gunung!"


Wushh!!!


Gerakannya kembali berubah. Kali ini menjadi lebih cepat dan membingungkan.


Setelah dia mengeluarkan jurus tersebut, posisi musuhnya terlihat semakin kewalahan. Mungkin hal itu terjadi karena pihak lawan tidak bisa membaca bagaimana gerakannya.


Suara pukulan dan hantaman telapak tangan yang mengenai sasaran dengan telak terus terdengar. Meski sudah berusaha mempertahankan diri, tapi tetap saja, pertahanan itu selalu bisa dijebol oleh lawan.


'Sialan. Tua bangka ini tidak memberikan waktu bagiku untuk membalas serangannya,' batin Pendekar Tangan Dewa merasa kesal.


Bersamaan dengan itu, kedua tangannya telah berhasil menangkis satu serangan yang datang. Suara tulang bertemu tulang kembali terdengar.


Niatnya dia ingin mengeluarkan jurus yang lain. Siapa nyana, dia justru telah kecolongan.


Tepat ketika dirinya lengah, Dewa Arak Tanpa Bayangan telah mengeluarkan rangkaian terakhir dari jurusnya.


"Dewa Mabuk Memukul Naga!"


Wutt!!


Suara angin ribut seketika terdengar dalam setiap gerakannya. Kedua tangan itu seolah-olah telah berubah menjadi sepasang ular naga yang ganas dan berbahaya.


Pendekar Tangan Dewa terkejut. Dia tidak menyangka dengan hal ini. Dia ingin membebaskan posisinya dari keterpurukan, sayangnya hal itu percuma.


Sebab sebelum dia melakukan apa-apa, Dewa Arak Tanpa Bayangan sudah lebih dulu mencecar dirinya tanpa berhenti!


Digempur oleh serangan secepat dan sedahsyat itu, walaupun dirinya hebat, tapi tetap saja ia merasa kerepotan.


Sampai pada akhirnya, sekitar lima jurus kemudian, Dewa Arak Tanpa Bayangan berhasil menghantam ulu hatinya dengan telak.


Tokoh sesat dari negeri seberang itu terdorong mundur ke belakang. Dia langsung merasakan sakit yang tidak main-main. Begitu tubuhnya berhenti meluncur, dirinya langsung memuntahkan darah segar cukup banyak.


"Keparat. Dia benar-benar merepotkan," gumamnya sambil mencoba menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh untuk mengurangi rasa sakit yang diderita.


Bersamaan dengan pertarungan tersebut, di sana terlihat masih ada Zhang Fei yang masih bertempur sengit melawan Raja Pedang Rembulan.


Dua pendekar pedang itu saat ini sudah mengeluarkan jurus pamungkasnya masing-masing.


Awalnya Raja Pedang Rembulan sedikit menyepelekan kemampuan Zhang Fei. Apalagi setelah puluhan jurus bertarung dia masih bisa mengatasi cukup mudah.


Tetapi setelah pertarungan mencapai empat puluh jurus, tiba-tiba kedua mata tokoh sesat itu baru terbuka. Ia baru sadar siapa yang sedang dihadapinya saat ini.


Hal itu terjadi persis setelah Zhang Fei menggelar jurus Murka Pedang Dewa dengan pengerahan tenaga sembilan bagian.


Jurus pedang yang semula bisa mengatasi semua serangan Zhang Fei, tiba-tiba tidak ada artinya sama sekali setelah ia mengeluarkan jurus terakhir tersebut.


Kini posisi Raja Pedang Rembulan semakin terdesak. Beberapa sayatan di tubuhnya sudah tercipta dengan jelas. Darah segar mulai keluar dari dalam tubuhnya.


Dia ingin mengeluarkan jurus lain, tapi Zhang Fei tidak memberikan kesempatan untuk melakukannya!