
Pagi telah datang menyapa. Mentari bersinar dengan terik. Suasana di markas Lima Siluman Tanpa Ampun yang berada di tengah-tengah hutan masih sama seperti biasanya.
Bedanya, sekarang di halaman depan sudah ada seorang pemuda yang sedang berlatih.
Pemuda yang dimaksud itu bukan lain adalah Zhang Fei. Anak dari si Pedang Kilat Zhang Xin.
Sekarang dia sudah mengerti tentang apa yang telah terjadi terhadap keluarganya. Sedikit banyak, anak muda itu sudah tahu siapa dalang pembunuhan kedua orang tuanya.
Selama kepergian si Telapak Tangan Kematian semalam, empat anggota dari Lima Siluman Tanpa Ampun telah menceritakan semua kepadanya.
Awal mengetahui cerita itu, Zhang Fei masih merasa tidak terima dengan takdir yang digariskan langit kepadanya.
Tetapi setelah mendapat pencerahan dari empat orang tersebut, secara perlahan ia mulai bisa bersikap lapang dada.
Ia mulai paham bahwa ketika Tuhan berkehendak, maka tidak ada sesuatu apapun juga yang mampu mengubahnya.
Diam-diam Zhang Fei mula mengambil hikmah dari semua kejadian yang telah ia lewati beberapa waktu tersebut.
Sementara itu, di tengah latihan silat yang sedang ia jalani, tiba-tiba ada sekelebat bayangan yang datang dari depan sana. Bayangan itu tiba dengan cepat dan bahkan langsung menyerangnya.
Sebagai seorang pendekar, tentu ia harus siap dengan hal-hal semacam ini.
Tiba-tiba anak muda tersebut memiringkan tubuh. Setelah berhasil menghindari serangan dadakan, dirinya langsung melancarkan pula serangan balasan.
Kedua tangan diayun ke depan. Disusul kemudian dengan tendangan yang mengincar ke titik penting.
Pertarungan pun segera terjadi. Ia bertarung cukup sengit untuk beberapa waktu lamanya.
"Anak bagus. Ilmu silatmu sudah lumayan. Tinggal menambah beberapa hal lagi, kau sudah siap untuk menghadapi kerasnya kehidupan ini,"
Orang yang tadi menyerangnya tiba-tiba bicara. Zhang Fei masih ingat bahwa itu adalah suara dari Pek Ma. Si Telapak Tangan Kematian.
Mendadak dirinya melompat mundur ke belakang.
"Maaf orang tua," katanya seraya membungkukkan badan. "Aku tidak tahu kalau itu adalah dirimu. Maafkan karena aku telah bertindak gegabah," katanya dengan nada menyesal.
"Hahaha," si Telapak Tangan Kematian tertawa lantang. Ia segera berjalan dan mengelus-elus kepalanya. "Anak baik. Kau tidak salah, memang aku sengaja menyerangmu karena ingin melihat sampai di mana kemampuanmu,"
"Tapi ..."
"Sudahlah. Sekarang istirahat dulu. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan,"
"Baik,"
Zhang Fei menurut. Ia segara berjalan mengikuti di belakangnya.
Enam orang itu kemudian duduk melingkar di atas rumput yang hijau. Seperti biasa, ada arak dan daging segar yang menemaninya.
Pek Ma kemudian menceritakan semua kejadian yang telah dia alami ketika berusaha mencari sesuatu dari peta yang diberikan oleh mendiang Zhang Xin.
Semua orang diam dan mendengarkan sepanjang dirinya bicara. Lewat beberapa waktu kemudian, tepatnya setelah ia selesai bercerita, mendadak Zhang Fei mengajukan pertanyaan.
"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang, orang tua?"
"Untuk sekarang, demi keselamatan bersama, aku rasa hanya ada satu jalan saja," jawab si Telapak Tangan Kematian.
"Jalan apa itu, Ketua?" tanya anggotanya.
"Kita harus menyembunyikan diri selama beberapa waktu,"
"Tapi, kenapa kita harus melakukannya? Kita bisa menghadapi semua musuh secara bersama-sama,"
"Tidak bisa, tidak bisa," kata si Telapak Tangan Kematian sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertindak seperti itu. Saat ini, kita punya tanggungjawab baru,"
"Tanggungjawab?" empat orang itu merasa bingung dengan ucapannya.
"Ya, bukankah mendiang Tuan Zhang sudah memberikan tanggungjawab kepada kita, terhadap anak semata wayangnya ini?"
"Ah, benar juga. Kami baru ingat," ujar salah satu anggota.
"Karena itulah untuk beberapa waktu, kita harus menyembunyikan diri dulu dari dunia ramai. Tujuannya supaya kita bisa fokus melatih anak Fei sampai ia benar-benar tumbuh menjadi seorang pendekar,"
"Hemm, kalau begitu kami setuju,"
"Bagus. Aku tahu kalian pasti setuju,"
Lima Siluman Tanpa Ampun telah mengambil keputusan yang sama. Mereka akan mendidik Zhang Fei sesuai permintaan terakhir dari si Pedang Kilat Zhang Xin.
"Maafkan kalau kehadiranku hanya merepotkan kalian saja," kata Zhang Fei merasa tidak enak.
"Kau tidak perlu meminta maaf, anak Fei. Lagi lupa kami sudah merasa lelah dengan semua ini," kata salah satu anggota berusaha menenangkannya.
"Apa yang dia katakan memang benar. Aku sendiri sudah ingin mengubah jalan hidupku," lanjut si Telapak Tangan Kematian.
Begitulah, setelah mereka menemukan persetujuan bersama, pada hari itu juga Lima Siluman Tanpa Ampun bersama Zhang Fei segera pindah dari tempat tersebut.
Setelah mengumpulkan semua barang-barang yang harus dibawa, keenam orang itu langsung pergi menggunakan ilmu meringankan tubuhnya sendiri.
Perjalanan pun dimulai. Mereka menempuh berbagai macam hutan dan kota ramai selama kurang lebih satu bulan penuh.
Selama perjalanan, orang-orang itu terpaksa harus mengubah penampilan. Mereka harus menyembunyikan identitasnya.
Bagaimanapun juga, si Telapak Tangan Kematian sudah tahu bahwa sekarang pihak Partai Panji Hitam sedang mencarinya. Mereka pasti tidak akan melepaskan dia begitu saja.
Apalagi setelah kejadian di bekas kediaman Zhang Xin.
Ia mengerti, Tiga Setan Kanglam pasti sudah melaporkan semuanya.
Karena hal itulah dia menjadi incaran Partai Panji Hitam. Karena alasan itu pula dia harus segera pindah dan mencari tempat yang baru untuk dijadikan markas utamanya.
Setelah melakukan perjalanan selama satu bulan lebih, akhirnya keenam orang itu berhasil juga menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan markas baru.
Tempat yang dipilih masih sama seperti sebelumnya. Yaitu di sebuah goa yang terletak di tengah-tengah hutan belantara.
Jauh dari kehidupan ramai. Jauh dari kota besar.
Tempat baru itu terletak di bagian paling Selatan Tionggoan.
Di sini, Lima Siluman Tanpa Ampun bisa mendidik Zhang Fei secara penuh. Mereka sudah memutuskan untuk memulai langkah dan jalan hidup yang baru.
Sejak saat itu, dalam dunia persilatan tidak terdengar lagi nama Lima Siluman Tanpa Ampun. Mereka seolah-olah telah hilang ditelan bumi.
Tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi. Entah hidup ataupun mati.
Malah sebagian pihak Partai Panji Hitam mengira bahwa Lima Siluman Tanpa Ampun sudah tewas bunuh diri karena tidak mau berurusan dengannya.
Terlepas apapun perkataan orang diluar sana, mereka sendiri tidak pernah mengambil pusing. Lagi pula, mereka tidak mendengar ucapan-ucapan itu secara langsung.
Yang terpenting dari semua ini hanyalah satu.
Lima Siluman Tanpa Ampun belum mati. Keturunan si Pedang Kilat Zhang Xin pun masih hidup.
Suatu saat nanti, dalam jangka waktu yang tidak lama, mereka akan memunculkan dirinya kembali di dunia ramai. Mereka akan memulai perjalanan baru dalam dunia persilatan.
Saat waktu itu tiba, keenam orang tersebut sudah bertekad untuk menggemparkan rimba hijau dengan caranya sendiri.
###
Jangan lupa bantu promosi bagi yang mau ya, apabila memang novel ini pantas untuk dibaca. hehehe ...
Tidak lupa juga supaya kalian sudi meramaikan kolom komentar agar menjadi catatan.
Jangan kelewat☕nya