
Dua orang tersebut terus bertarung dengan sengit. Adu pukulan dan tendangan terjadi sepanjang waktu. Masing-masing tidak ada yang mau mengalah.
Zhang Fei meningkatkan konsentrasinya. Diam-diam dia juga menyalurkan hawa murni dan tenaga dalam lebih besar dari sebelumnya.
Dia tahu, pertarungan kali ini tidak akan pernah selesai kalau belum ada orang yang tewas. Maka dari itu, Zhang Fei tidak mau main-main lagi.
Ketika duel tersebut mencapai jurus kelima belas. Pada saat itu dia mendapat kesempatan empuk untuk melancarkan jurusnya.
Zhang Fei tidak menunda waktu lagi. Dengan gerakan ringan, tiba-tiba dia melompat tinggi. Begitu berada di tengah udara, Zhang Fei langsung melepaskan serangan menggunakan telapak tangannya.
"Telapak Buddha Tanpa Ampun!"
Wutt!!! Blarr!!!
Ledakan keras terdengar. Rangkaian kejadian itu berlangsung sangat cepat, sehingga si Golok Pembelah Gunung tidak bisa mengambil tindakan yang tepat.
Ia terlempar ke belakang. Tokoh sesat itu sempoyongan dan hampir tersungkur ke atas tanah.
Ia merasakan dadanya sesak sekaligus sakit. Untuk beberapa saat kedua tangannya juga lemas seperti tidak bertenaga.
Dewa Pedang Dari Selatan tidak berhenti, ia kembali meluncur ke depan sana sambil mengeluarkan jurus Telapak Dewa Maut.
Dorongan tenaga sakti yang sangat kuat langsung keluar dan menerjang target. Tetapi sebelum jurus itu mengenai tubuh si Golok Pembelah Gunung, tiba-tiba sekelebat bayangan melesat dan menangkis jurus Zhang Fei sehingga menciptakan ledakan untuk yang kedua kalinya.
"Bermain-mainnya sudah cukup. Sekarang saatnya untuk mengakhiri permainan ini,"
Pendekar Bambu Kembar berkata dengan keras. Setelah berhasil menangkis serangan Zhang Fei, dia langsung maju ke depan seraya mengeluarkan senjata uniknya.
Wutt!!! Wutt!!!
Sepasang bambu menebas ke kanan dan kiri. Tenaga dalam yang terkandung dalam serangan itu benar-benar dahsyat.
Zhang Fei menghindar untuk beberapa jurus. Karena merasa penasaran, akhirnya ia bertekad untuk membenturkan tangannya dengan bambu tersebut.
Trakk!!!
Ketua Dunia Persilatan meringis menahan sakit. Dia kemudian melompat mundur ke belakang.
Buru-buru dirinya menyalurkan hawa murni untuk menghilangkan rasa sakit itu.
"Jangan anggap enteng senjataku. Walaupun hanya terbuat dari bambu, tapi aku rasa, sepasang bambu ini mampu memecahkan batok kepalamu. Bahkan bambu miliki juga berani dibenturkan dengan pedang itu!" kata Pendekar Bambu Kembar sambil menunjuk ke Pedang Raja Dewa yang masih tersoren di punggung.
Zhang Fei membalas ucapannya dengan senyuman sinis. Dia tidak berkata apapun. Setelah benturan barusan, dia pun mengerti bahwa sepasang bambu itu tidak bisa dipandang sebelah mata.
Wushh!!! Wutt!!! Wutt!!!
Ia menyerang lagi dan melepaskan serangan jarak jauh berkali-kali. Tapi semua usahanya masih belum membuahkan hasil. Pendekar Bambu Kembar tetap mampu menangkisnya dengan mudah.
Ketika jarak di antara mereka sudah dekat, dia langsung membalas serangan tadi. Jurus-jurus bambu ciptaannya langsung digelar.
Setiap jurus itu peris seperti jurus pedang. Tapi ada beberapa perbedaan yang sulit untuk dijelaskan.
Untuk beberapa waktu, Zhang Fei dipaksa berada di posisi bertahan. Kedua tangannya terus dibenturkan dengan bambu lawan.
Pertarungan di antara mereka berlangsung sengit seperti sebelumnya. Si Golok Pembelah Gunung dan Pendekar Jubah Darah belum turun tangan. Keduanya masih ingin melihat sampai di mana pertarungan tersebut.
Plakk!!!
Bambu di tangan kanan lawan menghantam pangkal lengan kiri Zhang Fei. Ketua Dunia Persilatan langsung merasakan tangannya terkulai lemas.
Zhang Fei mulai kewalahan. Tubuhnya telah menjadi bulan-bulanan lawan. Sodokan dan hantaman bambu terus berdatangan tanpa henti. Luka lebam juga sudah tercipta di beberapa bagian tubuhnya.
Setelah berterung sebanyak belasan jurus, tiba-tiba tubuh Zhang Fei terlempar deras ke belakang sampai menubruk sebatang pohon.
"Ayo keluarkan pedangmu. Apakah hanya sampai di sini saja kemampuanmu?" tanya Pendekar Bambu Kembar sambil berjalan mendekat ke arahnya.
Dewa Pedang Dari Selatan masih tidak menjawab. Dia segera bangkit berdiri dan mengusut darah yang keluar dari sudut bibir.
"Karena kau terus memaksa. Maka baiklah, aku akan mengeluarkannya,"
Sringg!!!
Pedang Raja Dewa akhirnya keluar juga!
Hawa pedang yang sangat pekat langsung terasa dengan jelas. Hawa pembunuh dari pedang itu keluar dan segera menyebar ke area sekitar.
Tiga Iblis Bawah Tanah terkejut. Masing-masing dari mereka segera memelototkan mata setelah melihat pedang pusaka tersebut.
"Pedang Raja Dewa!" seru Pendekar Jubah Darah terlihat kaget.
"Benar, ini memang Pedang Raja Dewa. Tidak kusangka, ternyata kau pun mengenalnya," ucap Zhang Fei sambil tersenyum sinis.
"Hahaha ... tentu saja aku kenal dengan pusaka itu. Setiap tokoh-tokoh angkatan tua dunia persilatan, pasti akan kenal dan tahu apa itu Pedang Raja Dewa," ia tertawa lantang seperti sedang merasa gembira. "Anak muda, cepat berikan pedang itu. Aku berjanji akan menggantinya dengan apapun yang kau minta,"
Pendekar Jubah Darah mengulurkan tangan. Dia berharap Zhang Fei akan memberikan Pedang Raja Dewa secara sukarela.
"Boleh saja," kata Ketua Dunia Persilatan berkata dengan ringan. "Tapi ... benarkah kau akan memberikan apa yang aku minta?"
"Ya, tentu. Kau minta apa? Harta yang banyak? Wanita, atau kitab-kitab ilmu silat? Katakan saja. Aku pasti akan memberikannya,"
"Tidak, tidak. Aku tidak menginginkan itu semua," Zhang Fei menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Aku hanya menginginkan batok kepala Tiga Iblis Bawah Tanah. Bagaimana, apakah kau akan memberikannya?"
Mendengar permintaan tersebut, wajah mereka bertiga seketika berubah kembali. Tiga pasang mata langsung memerah. Amarah mereka meluap detik itu juga.
"Keparat! Aku memberimu hati, tapi kau malah minta jantung!" tukas Pendekar Jubah Merah dengan nada dalam. "Bunuh anak muda ini!" lanjutnya memberi perintah kepada dua orang lainnya.
Begitu perintah diturunkan, si Golok Pembelah Gunung yang tadi ada di sampingnya, seketika langsung melompat ke depan.
Ia turun tepat di sisi Pendekar Bambu Kembar.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan manusia langsung bergerak. Mereka menyerang secara bersamaan. Zhang Fei sudah siap dengan hal tersebut. Karenanya ketika mereka menyerang, dia pun segera melakukan hal yang sama.
Jurus Murka Pedang Dewa langsung dikeluarkan. Pedang pusaka itu berkelebat cepat layaknya kilat yang menyambar.
Tetapi ternyata dua orang yang dihadapinya sungguh luar biasa. Walaupun jurus pamungkas sudah digelar, nyatanya mereka masih mampu bertindak.
Keduanya menghindar dengan cepat. Rangkaian jurus Murka Pedang Dewa belum menemukan hasil. Zhang Fei kembali menyerang dengan jurus yang sama.
Benturan antar senjata mulai terjadi. Ketiganya segera terlibat dalam pertarungan sengit yang menentukan hidup dan mati.
Golok besar datang arah arah kanan. Bacokan golok itu mengandung tenaga yang sangat besar. Kalau sampai mengenai tubuh Zhang Fei, niscaya anggota tubuh itu akan langsung terpisah.
Dari sebelah kiri, ada lagi tebasan bambu kembar yang begitu cepat. Serangan itu mengandung banyak tipuan, sehingga Zhang Fei tidak bisa membaca arahnya dengan mudah.