
Pendekar Pedang Emas Gan Li mengangguk. Dia mengerti maksud Tuan Penolongnya tersebut. Apalagi dia juga sudah melihat bahwa pihak lawan sudah mulai melancarkan serangannya lagi.
Karena itu, dua tokoh besar dunia persilatan tersebut langsung menyambut serangan lawan.
Sinar emas berkilau di tengah kegelapan malam. Senjata pusaka itu beberapa kali bertemu dengan pedang Pemimpin Pertama.
Setiap terjadi benturan, kedua belah pihak selalu merasa tangannya bergetar. Seperti kesemutan.
Terutama sekali adalah Gan Li. Orang tua itu sadar, dia masih kalah cukup jauh dari lawannya. Karena itulah dia tidak berani bertindak gegabah. Karena itu pula ia merasa sangat bersyukur telah ada seseorang yang datang membantu dirinya.
Pertarungan di antara tiga tokoh sakti itu semakin seru. Sekarang mereka sudah mengeluarkan ilmu pamungkasnya masing-masing. Bahkan si Telapak Tangan Kematian Pek Ma sendiri, saat ini sudah menggelar jurus Sembilan Telapak Sesat.
Dia sudah mengeluarkan jurus kelima. Dengan kekuatan penuh, tentu akibat yang ditimbulkannya pun semakin dahsyat lagi.
Pemimpin Pertama tersentak kaget sebab dia merasakan ada tekanan besar yang selalu mengarah ke dirinya. Di satu sisi, Pendekar Pedang Emas Gan Li sendiri juga terkejut.
Ternyata orang yang membantunya ini benar-benar hebat. Bahkan kalau ditimbang, sepertinya orang itu masih lebih unggul dari dia sendiri.
'Aku seperti mengenal orang ini. Jurus-jurus yang dia keluarkan juga tidak asing lagi. Tapi, siapa dia sebenarnya?'
Batin orang tua itu terus bertanya-tanya. Setelah beberapa saat bertarung bersama, dan kini dia bisa melihat bahwa jurus penolongnya tidak asing, dia merasa kenal dengan orang tersebut.
Namun sayangnya, usaha untuk mengetahui asal-usul Tuan Penolong itu tidak pernah membuahkan hasil.
Dia tetap tidak mampu mengetahui siapa gerangan!
Tapi terlepas dia siapa, yang penting saat ini adalah pihaknya sedikit lebih unggul dari lawan.
Pemimpin Pertama memang sedikit kewalahan menghadapi dua musuhnya itu. Terlebih lagi orang tua yang datang belakangan.
Bagi dirinya, dia adalah bencana. Bencana yang bisa menimbulkan malapetaka besar.
Kalau tidak segera dibereskan, bukan tidak mungkin ia akan mengalami kekalahan.
Maka dari itu, dia berniat untuk segera mengeluarkan segenap kemampuan dan jurus-jurus pamungkas miliknya.
Wushh!!!
Di tengah pertarungan yang berlangsung sangat sengit, tiba-tiba gerakannya berubah total. Pedangnya menyapu dengan sangat cepat. Gerak tubuhnya berbeda dari sebelumnya.
Tentu saja, sebab dia sudah mengeluarkan salah satu jurus pamungkas miliknya.
Setelah jurus itu keluar, yang paling repot adalah Gan Li. Orang tua berjuluk Pendekar Pedang Emas itu semakin berada di bawah angin.
Jurus andalan dari partainya bisa ditangkis atau bahkan dihindari dengan mudah.
Dia sangat berharap Tuan Penolongnya bisa membebaskan dari posisi tersebut. Naas, situasinya juga sama.
Dua orang itu, dihajar secara bersamaan oleh Pemimpin Pertama.
Deru angin yang kencang dan tajam semakin terasa. Bayangan pedang semakin menyelimuti tubuh mereka.
Mencapai jurus keenam puluh tiga, tiba-tiba Pendekar Pedang Emas Gan Li berteriak kencang. Ia melompat mundur ke belakang.
Saat diteliti, ternyata pahanya sudah terluka. Paha itu robek akibat terkena sayatan pedang.
Malah luka yang dia derita bukan cuma itu saja, di bagian pangkal lengan kiri juga terdapat luka sayatan pedang. Luka yang cukup dalam. Sehingga darah yang keluar pun lumayan banyak.
Sementara itu, Pemimpin Pertama masih tampak bertarung sengit. Jurus pedang yang sangat ampuh itu ternyata tidak bisa merobohkan lawan barunya dengan cepat.
Di belakang, tiba-tiba Pendekar Pedang Emas Gan Li tersenyum. Senyuman yang tidak enak untuk dilihat.
Begitu ucapan selesai, dirinya langsung melompat dengan cepat dan menghilang dibalik gelapnya malam.
Si Telapak Tangan Kematian Pek Ma yang mengetahui hal itu, segera berubah raut mukanya.
Wajah yang sudah tua itu menampilkan mimik marah sekaligus kecewa.
Alasannya adalah karena dia tahu bahwa Wakil Ketua Partai Gunung Pedang tersebut telah melarikan diri!
"Keparat. Ternyata dia adalah pecundang!" gumamnya sambil tetap melanjutkan pertarungan.
Sementara di satu sisi lain, para pendekar yang sebelumnya ikut dalam pertarungan tadi, sekarang sebagian sudah terkapar di atas tanah. Dan sebagian lagi melakukan hal yang sama dengan Gan Li.
Mereka telah melarikan diri!
Itu artinya, orang-orang yang sekarang bertarung di depan markas Organisasi Bulan Tengkorak hanyalah Zhang Fei dan Lima Malaikat Putih.
Keenam orang itu murka. Mereka sangat marah karena para pendekar yang mengaku dari aliran lurus, ternyata mempunyai mental pengecut.
Bagaimana tidak, mereka lari dari pertarungannya sendiri. Secara tidak langsung, mereka juga sudah lepas dari tanggungjawab.
Di dunia ini, bukankah hanya manusia-manusia pengecut saja yang lepas atau lari dari tanggungjawabnya? Bukankah hanya para pecundang yang mempunyai mental seperti itu?
Masih mending kalau mereka lari untuk kembali.
Tapi ini, mungkinkah mereka akan kembali lagi ke tempat itu dengan membawa bantuan yang lain?
Tidak! Hal itu rasanya sangat tidak mungkin.
"Jangan hiraukan mereka. Kita hadapi saja orang-orang ini dengan segenap tenaga dan kemampuan. Jangan menyerah sebelum titik darah penghabisan!"
Di tengah pertarungan, si Telapak Tangan Kematian Pek Ma mengirimkan suara lewat pikiran kepada murid dan anak buahnya.
Ucapan itu hanya didengar oleh orang-orang yang dituju saja. Karenanya, para petinggi Organisasi Bulan Tengkorak tidak mampu mendengar apa yang dia katakan.
Di sisi sebelah sana, Pek Ciu maupun yang lainnya terlihat sudah mengalami luka di seluruh tubuhnya.
Walaupun kemampuan mereka tidak rendah, tapi lawannya juga bukan orang sembarangan.
Para petinggi organisasi itu nyatanya mempunyai kemampuan di atas mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang sakti.
Tentu saja, sebab kalau tidak begitu, bagaiamana mungkin dalam waktu yang sangat singkat, Organisasi Bulan Tengkorak mampu mempunyai nama yang besar?
Malam semakin larut. Kentongan ketiga sudah terdengar di telinga.
Namun pertarungan masih belum juga selesai. Semakin lama mereka bertarung, semakin kewalahan juga Zhang Fei dan lima orang gurunya.
Karena sudah tidak ada lagi harapan, maka empat orang anggota dari Lima Malaikat Putih segera mengeluarkan jurus pamungkas.
Empat jurus dahsyat melesat secara bersamaan. Dentuman keras terdengar. Petinggi yang menjadi lawan mereka terlempar jauh.
Bahkan para petinggi itu langsung ambruk di atas tanah dan tidak bisa bangun lagi. Entah hidup atau sudah mati. Sebab tidak ada yang mengetahui kondisinya secara jelas.
Jurus pamungkas yang baru saja digelar memang dahsyat. Sayangnya, empat orang itu harus membayar dengan harga yang sangat mahal.
Mereka harus membayar dengan taruhan nyawanya sendiri!
Tepat setelah selesai menggelar jurus pamungkas, mereka pun ikut ambruk di atas tanah. Seluruh tubuhnya seketika mengeluarkan asap putih. Seolah-olah mereka sedang dipanggang di atas bara.
Semua peristiwa barusan disaksikan langsung oleh Zhang Fei yang memang berada di posisi paling dekat.