
Sungguh, Zhang Fei tidak pernah membayangkan bahwa dia akan mendapat undangan secara khusus dari Kaisar. Jangankan begitu, malah memikirkannya pun, dia belum pernah sama sekali.
Untuk beberapa waktu, dia masih berdiri diam seperti patung. Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak mengganggunya.
Dia malah berjalan ke pinggir lalu duduk di bawah pohon. Orang tua itu kemudian menenggak arak yang tersimpan di dalam Guci Emas Murni.
Sementara Zhang Fei, setelah cukup lama melamun, tiba-tiba ia tersadar. Anak muda itu kaget ketika mendapati Dewa Arak Tanpa Bayangan sudah tidak ada di tempatnya.
"Aku di sini, anak Fei," katanya memberitahu.
"Aih, aku kira Tuan Kiang sudah pergi lagi," jawab Zhang Fei sambil tertawa.
Ia berjalan menghampiri dan langsung duduk di sisinya.
"Sudah melamunnya?"
"Su-sudah," katanya menjawab malu-malu.
"Hahaha ... kau ini memang lucu," Dewa Arak Tanpa Bayangan tertawa cukup lantang. Sambil menepuk-nepuk pundak Zhang Fei. Setelah merasa puas, dia segera mengajukan pertanyaan.
"Anak Fei, ke mana tujuanmu sekarang?"
"Entahlah. Aku sendiri bingung harus pergi ke mana,"
"Kalau begitu itu, kita langsung saja menuju ke Istana Kekaisaran," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan memberikan usul.
"Boleh juga, Tuan Kiang. Aku rasa hal itu malah lebih baik lagi," Zhang Fei merasa setuju. Dia pun sudah tidak sabar ingin segera pergi ke sana.
Kira-kira, seperti apa Istana Kekaisaran Song itu? Apakah bangunannya benar-benar megah?
Zhang Fei menatap awan yang bergerak bebas di atas sana. Bersamaan dengan itu, dia pun membayangkan hal-hal yang menyangkut tentang Istana Kekaisaran.
"Baiklah, mari kita pergi sekarang juga," ajak Datuk Dunia Persilatan tersebut sambil bangkit berdiri.
"Tunggu dulu, Tuan Kiang," kata Zhang Fei secara tiba-tiba.
"Ada apa lagi, anak Fei?" tanyanya sambil menatap lekat.
"Bukankah Kaisar mengundang Empat Datuk Dunia Persilatan? Lalu, bagaiamana dengan Tiga Datuk Dunia Persilatan yang lain? Apakah kita akan meninggalkan mereka begitu saja?"
"Kau tenang saja anak Fei," ucapnya sambil tertawa ringan. "Pada hari ketiga dalam perjalanan nanti, aku jamin mereka akan datang menghampiri kita,"
"Baiklah. Aku percaya,"
Zhang Fei sudah mengetahui bagaimana karakter orang tua yang ada di hadapannya sekarang. Kalau Dewa Arak Tanpa Bayangan sudah mengucapkan sesuatu, niscaya ia memang mampu melakukannya.
Jadi, apa lagi yang harus diragukan?
Meskipun dia tidak tahu bagaimana caranya orang tua itu memanggil Tiga Datuk Dunia Persilatan yang lain, tapi Zhang Fei sangat percaya bahwa Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak sedang berbohong.
"Bagus. Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang juga," katanya mengajak kembali.
Zhang Fei mengangguk. Setelah itu kedua tokoh tersebut langsung meleset menggunakan ilmu meringankan tubuhnya masing-masing.
Menurut perhitungan, jarak ke Kotaraja dari tempat mereka sekarang, setidaknya membutuhkan waktu kurang lebih empat belas hari perjalanan darat.
Karena jarak yang cukup jauh itulah, Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak mau membuang banyak waktu. Ia ingin secepatnya tiba di Istana Kekaisaran.
Mereka berdua terus berlari tanpa berhenti. Setelah tiga hari perjalanan, keduanya telah tiba di sebuah kota besar yang dipadati oleh wisatawan.
Mereka memesan menu makanan sederhana dan juga beberapa guci arak keras. Setelah pesanan tiba di atas meja, Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan langsung melahapnya tanpa berhenti.
Cara makan keduanya persis seperti orang yang sangat kelaparan. Jadi tidak heran kalau dalam beberapa menit saja, semua makanan yang dipesan itu sudah habis tanpa sisa.
"Nikmat sekali," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil tertawa.
"Aku juga merasa kenyang, Tuan Kiang," sahut Zhang Fei sambil mengelus-elus perutnya.
Pada saat itu keadaan di dalam rumah makan sangat ramai. Hampir setiap meja yang ada sudah dipenuhi oleh para pengunjung yang berasal dari berbagai macam kalangan. Maklum saja, sekarang adalah jamnya makan siang.
"Mereka telah datang," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan tiba-tiba berkata.
"Mereka siapa, Tuan Kiang?" tanya Zhang Fei sambil mengerutkan kening.
"Siapa lagi? Tentu saja Tiga Datuk Dunia Persilatan,"
Zhang Fei tidak bicara lagi. Dia malah celingukan ke sana kemari.
'Apaka Tuan Kiang sedang bercanda?' batinnya bertanya-tanya setelah mengetahui bahwa di sekitar rumah makan itu tidak terdapat tanda-tanda adanya kehadiran para Datuk Dunia Persilatan.
Akan tetapi, baru saja berucap demikian, mendadak dari luar sana ada segulung angin yang berhembus dengan sangat kencang.
Semua orang yang ada di dalam rumah makan bisa merasakannya. Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui berasal dari manakah hembusan angin tersebut.
Tidak lama setelah itu, kini di hadapan Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan Kiang Ceng tahu-tahu sudah berdiri tiga orang tua yang mengenakan pakaian khasnya masing-masing.
"Akhirnya kalian datang juga," katanya menyambut kedatangan mereka dengan senyuman lebar.
Tiga orang yang dimaksud tersebut, memang bukan lain adalah Tiga Datuk Dunia Persilatan yang sedang ditunggu-tunggu.
"Sepertinya kami telah datang terlambat," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan sambil memandang ke piring bekas makanan yang tersedia di atas meja.
"Ya, sepertinya begitu," sambung Dewi Rambut Putih dengan cepat. "Padahal di perjalanan tadi, kami sudah membayangkan bisa makan makanan yang enak,"
Mendengar ucapan-ucapan tersebut, Dewa Arak Tanpa Bayangan yang pada saat itu sedang menenggak guci arak, tiba-tiba langsung menurunkannya dan segera berkata.
"Kalian ini berisik sekali," katanya seperti merasa kesal. "Pelayan, berikan tiga setan tua ini makanan yang lezat,"
"Baik, Tuan. Silahkan menunggu sebentar," pelayan yang tadi mengantarkan makanan ke mejanya langsung menjawab dengan cepat. Setelah itu dia segera pergi ke belakang untuk menyiapkan pesanan.
Sementara itu, kini terdengar Tiga Datuk Dunia Persilatan tertawa terbahak-bahak.
"Mimpi apa aku semalam? Sehingga hari ini bisa makan di traktir oleh Tuan Kiang Cen yang sangat terhormat ini," ujar Orang Tua Aneh Tionggoan sambil tersenyum simpul.
"Aku merasa, hari ini adalah hari yang paling indah dalam sejarah hidupku," kata Dewi Rambut Putih sambil melirik penuh arti ke arah Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Semoga Tuan Kiang Cen ini dipanjangkan umurnya oleh para Dewa dan diberi kesehatan selalu," sambung Pendekar Tombak Angin lagi.
"Anak Fei, kau dengar mulut-mulut busuk yang berbicara itu?" Dewa Arak Tanpa Bayangan mencibir sambil menatap ke arah Zhang Fei. Sedangkan anak muda itu sendiri, hanya bisa tersenyum saja.
Walaupun hubungan Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan bisa dibilang sudah sangat akrab, tapi dia terlalu banyak bercanda dengan mereka. Apalagi ia menyadari posisinya.
Berbarengan dengan hal tersebut, para Datuk Dunia Persilatan itu seketika kembali tertawa terbahak-bahak.
"Jangan terus berdiri, duduklah. Atau kalian sudah tidak bisa duduk dengan baik?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan.