
Sore harinya, setelah matahari berada di sebelah barat dan sebentar lagi akan tenggelam, Zhang Fei dan Kiam Hong sudah berada di tengah-tengah halaman.
Kedua orang itu berdiri berhadapan dalam jarak sekitar sepuluh langkah. Seperti yang diceritakan sebelumnya, mereka akan melangsungkan sebuah duel.
"Tuan Hong, mana senjatamu?" tanya Zhang Fei sedikit heran karena melihat orang tua itu tidak menggenggam senjata.
"Senjataku adalah kedua tangan ini," jawabnya sambil mengangkat sedikit kedua lengannya.
"Aih,"
Pemuda itu mengeluh tertahan. Kalau ia harus bertarung dengan tangan kosong, tentu saja dirinya semakin berada di bawah angin. Sebab kemampuan yang utamanya adalah bertarung menggunakan pedang. Bukan dengan tangan kosong.
"Jangan khawatir. Tanganku ini bisa lebih keras dari baja dan lebih tajam dari pedang. Kau gunakan saja senjatamu itu," kata Kiam Hong mengerti apa yang dirasakan oleh Zhang Fei.
"Tapi ..."
"Lakukan saja. Saat bertarung dengan Kakemu, aku juga tidak pernah menggunakan senjata. Dan dia sendiri selalu menggunakan pedangnya. Tapi buktinya, baik aku atau dia, masih bisa hidup sampai sekarang," ujarnya memotong perkataan.
"Baiklah kalau begitu. Terpaksa aku harus menggunakan pedangku,"
"Bagus. Keluarkan seluruh kemampuanmu. Jangan pernah menaruh belas kasihan terhadap lawan. Siapapun lawanmu itu,"
"Aku mengerti,"
Zhang Fei segara mencabut Pedang Raja Dewa dari sarungnya. Cahaya keperakan segera memancar ke empat penjuru mata angin.
Sesaat kemudian, pemuda itu sudah berada dalam keadaan siap. Dia siap memulai pertarungannya!
Si Rajawali Lembah Selaksa Bunga Kiam Hong juga sama. Ia pun sudah siap segalanya.
Sementara itu, di depan mulut goa, terlihat ada Li Bing yang sedang berdiri sambil terus melihat ke tengah halaman.
Dia tidak pernah berpaling dari kedua orang itu.
"Tuan Hong, lihat seranganku!" Zhang Fei berteriak. Ia akan mulai pertarungannya.
Wushh!!!
Tusukan pedang datang dari arah depan. Anak muda itu mengarahkan senjatanya ke ulu hati lawan.
"Pedang yang bagus," kata Kiam Hong sambil menghindari serangan.
Anak muda itu tersenyum simpul. Menyadari serangan pertamanya gagal, dia segera menyusulnya dengan serangan kedua. Tebasan menyamping segera dilepaskan.
Tapi lagi-lagi Kiam Hong mampu menghindarinya dengan mudah. Cukup menggeser kaki, batang pedang lawan telah luput dari tubuhnya.
Dua kali menyerang, dua kali pula Zhang Fei mengalami kegagalan.
Kedua orang tersebut berhenti sebentar. Mereka mengawasi dan mengagumi lawannya masing-masing.
Lewat beberapa saat kemudian, terdengar sebuah seruan lagi. Kali ini, yang menyerang lebih dulu bukan Zhang Fei. Melainkan di Rajawali Lembah Selaksa Bunga!
"Lihat serangan!"
Wushh!!!
Ia meluncur ke depan. Kedua tangannya membentuk cakar seperti burung rajawali. Deru angin tajam segera terasa menyambar tubuh.
Zhang Fei melayang mundur ke belakang. Dia tidak mau menyambut langsung serangan orang tua itu.
Sayangnya, Kiam Hong juga tidak membiarkan ia lepas. Orang tua itu benar-benar mirip seperti burung rajawali. Gerakannya sangat cepat dan tangkas.
Setiap serangannya mampu mendesak lawan.
Sekarang, setelah bertarung cukup lama, Zhang Fei jadi semakin sadar bahwa si Rajawali Lembah Selaksa Bunga Kiam Hong memang bukan orang sembarangan.
Hal itu terbukti dari setiap serangannya. Kedua tangan yang seakan udah berubah menjadi seperti cakar burung rajawali tersebut sungguh berbahaya.
Kalau saja langsung mengenai kulit, niscaya kulit itu akan robek. Karena alasan itulah Zhang Fei bertindak sangat hati-hati.
Lima belas jurus sudah berlalu. Walaupun baru sebentar, tapi keringat dingin dan peluh sudah membasahi seluruh tubuh anak muda itu.
Bagaimana tidak, baru sampai di sini saja, dia sudah beberapa kali terluka di tangan Kiam Hong. Untunglah Zhang Fei mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi. Sehingga dirinya bisa selamat dari cakaran maut itu.
Di sisi lain, diam-diam Rajawali Lembah Selaksa Bunga Kiam Hong juga semakin kagum kepada pemuda tersebut. Walaupun dia tidak bertarung melawan Zhang Liong, tapi secara tidak langsung, saat ini dia justru merasakan sedang bertarung dengan dirinya.
Hal itu disebabkan karena kemampuan Zhang Fei, rasanya tidak berbeda jauh dari kemampuan kakeknya sendiri.
Malah menurut anggapannya, anak muda itu justru sedikit lebih baik dalam memainkan ilmu pedang.
Kekurangan dari Zhang Fei, salah satunya adalah ia masih kurang pengalaman bertarung. Maka dari itu, wajar apabila kadang-kadang gerakannya tidak sesuai dengan irama pertarungan.
Selain hal tersebut, rasanya tidak ada lagi kekurangan dalam diri anak muda itu.
Tanpa terasa, tiga puluh enam jurus sudah berlalu kembali. Kini, Zhang Fei sudah mengeluarkan jurus keenam dari Kitab Pedang Dewa.
Yaitu Jurus Pedang Penakluk Jagad!
Setelah jurus keenam keluar, semua gerakan anak muda itu menjadi berubah total. Hawa pedang semakin pekat menyelimuti seluruh arena pertarungan. Gerakannya benar-benar cepat, malah Li Bing yang sejak tadi berdiri di pinggir pun tidak bisa melihatnya dengan cukup jelas.
Di satu sisi, Kiam Hong juga tidak percaya bahwa Zhang Fei bahkan sudah mampu mengeluarkan jurus itu. Untunglah dirinya telah beberapa kali bertarung melawan Zhang Liong.
Sehingga sedikit banyaknya dia sudah tahu dengan cara dan jurus apa dirinya menghadapi lawan.
"Cakar Rajawali Sakti!"
Wutt!!!
Orang tua itu berteriak kencang. Ia kemudian melompat sambil menerjang ke depan. Setalah jurus tersebut keluar, ia jadi tidak gentar lagi menghadapi Zhang Fei. Dia pun tidak ragu untuk menahan atau bahkan menjepit pedang lawan.
Sebab dengan jurus itu, kedua lengannya, terutama sekali jari tangan, seakan-akan telah berubah menjadi baja yang sangat keras.
Pertarungan menjadi seru. Apalagi setelah mencapai jurus empat puluh lima.
Sampai saat ini, posisi masih terlihat seimbang. Walaupun pakaian Zhang Fei sudah banyak yang mengalami robekan akibat dicakar Kiam Hong, tapi nyatanya tubuh anak muda itu sendiri belum juga mengalami luka.
Begitu pula dengan di Rajawali Lembah Selaksa Bunga sendiri. Di sana sini sudah terdapat robekan akibat terkena sambaran atau hawa pedang.
Tetapi hebatnya, tidak terlihat sedikit pun ada darah yang keluar dari dalam tubuh.
Beberapa detik berikutnya, pertarungan sudah berjalan sangat sengit. Apalagi, ini adalah puncak pertempuran di antara mereka.
Bayangan pedang dan jari tangan manusia seolah-olah memenuhi angkasa. Suara mengaum seperti harimau terdengar dengan sangat jelas.
Bayangan tubuh keduanya semakin samar. Hingga beberapa kejap berikutnya, dua bayangan itu kembali terlihat jelas dan pada akhirnya langsung berhenti di tempat awal masing-masing.
Kini, keduanya sudah berhadapan kembali. Baik Zhang Fei ataupun Kiam Hong, tubuh keduanya telah dibasahi oleh keringat.
Zhang Fei tidak menyangka bahwa kemampuan orang tua itu sungguh tinggi. Bahkan hampir setara dengan kakeknya.
Di satu sisi, Kiam Hong pun tidak pernah menduga bahwa anak muda itu benar-benar mampu menahan imbang dirinya.
"Hebat. Benar-benar hebat. Aku senang bisa berduel denganmu, anak muda," ujarnya sambil tertawa.