
Zhang Fei baru turun ke bawah tepat setelah bahaya lenyap. Setelah kejadian barusan, dia semakin yakin bahwa di rumah mewah itu memang terdapat manusianya.
Sepasang mata yang tajam tersebut tampak memandang ke sekeliling. Hawa sesat tiba-tiba terasa lebih pekat. Ketegangan pun semakin menjadi.
Wutt!!!
Sebuah serangan gelap mendadak muncul lagi. Kali ini tidak hanya dari dua arah. Melainkan dari empat arah yang berbeda.
Delapan batang pedang terbang dan tombak datang secara bersamaan dari empat penjuru. Cepatnya senjata itu melesat tidak bisa dipandang sebelah mata.
Zhang Fei masih berdiri di tempatnya. Ia belum melakukan gerakan apapun. Ketua Dunia Persilatan memandangi semua senjata itu dengan ekor matanya.
Ketika jaraknya sudah dekat, tiba-tiba dia menjejakkan kakinya ke lantai. Tubuhnya mencelat ke atas. Bersamaan dengan itu, Zhang Fei juga langsung menangkap semua senjata tersebut.
Sekali tangannya bergerak, semua senjata itu sudah berada dalam genggamannya. Selanjutnya, Zhang Fei melemparkan kembali senjata tadi ke arah asalnya masing-masing.
Crapp!!! Crapp!!!
Pedang terbang dan golok itu bergetar keras ketika menembus dinding ruangan. Semua senjata tersebut menancap cukup dalam.
Zhang Fei sudah kembali ke posisi semula. Dia masih berdiri sambil tetap mengawasi situasi.
Dalam hati, ia bertanya-tanya sendiri.
Kira-kira siapa yang tinggal di rumah mewah ini? Mengapa pula orang itu menyerangnya?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tiba-tiba saja keluar di benaknya. Zhang Fei sangat penasaran. Tetapi untuk sementara waktu ini, tidak banyak hal yang bisa dilakukan olehnya.
"Maaf, siapa Tuan dibalik layar ini? Aku datang kemari bukan untuk mencari keributan. Aku hanya menumpang istirahat selama hujan berlangsung," katanya dengan suara cukup lantang.
Setelah gema suara Zhang Fei lenyap, keadaan di sana kembali sepi hening. Tidak ada jawaban apapun yang terdengar.
Sesaat berikutnya, segulung angin kencang berhawa panas mendadak muncul dari arah belakang.
Serangan jarak jauh itu juga datang dengan kecepatan tinggi. Kali ini, dia bahkan hampir tidak bisa menghindar.
Untunglah dia mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sudah sempurna. Sehingga Zhang Fei masih bisa menyelamatkan diri.
Blarr!!!
Seisi ruangan langsung bergetar. Ledakan besar tiba-tiba terdengar memekakkan telinga ketika segulung angin tadi membentur sesuatu di balik kegelapan.
"Tuan, tolong tunjukkan dirimu. Aku rasa, lebih baik kita berhadapan secara langsung daripada bermain dalam gelap seperti ini," ucapnya sambil tersenyum sinis.
Karena rangkaian kejadian barusan, amarah dalam tubuhnya tiba-tiba meluap. Namun untuk saat ini, sebisa mungkin dia harus bisa menahan diri.
"Hahaha ..."
Sebuah tawa yang lantang mendadak memenuhi ruangan itu tepat setelah Zhang Fei selesai bicara. Bersamaan dengan kejadian tersebut, ada hawa sesat dan tenaga sakti yang menyerang batinnya.
Serangan tersebut dilancarkan bersama getaran suara. Sehingga walaupun tidak terlihat, namun bisa terasa dengan sangat jelas.
Tubuh Zhang Fei tergetar sedikit. Ia hampir saja terkena serangan tersebut. Untung dia selalu bersikap waspada sehingga keselamatannya masih terjaga.
"Tuan dibalik kegelapan, kalau kau tidak segera menampakkan diri, maka jangan salahkan jika aku bersikap sedikit kurang ajar," kata Zhang Fei semakin terpancing emosinya.
"Hahaha ... bocah ingusan yang sangat angkuh," seseorang tiba-tiba menjawab. Getaran tenaga sakti dari balik suara itu semakin terasa dengan jelas.
Zhang Fei merasa semakin direndahkan. Ia tidak terima dengan perlakuan orang misterius tersebut.
Atas dasar hal itu, tiba-tiba kaki kanannya dihentakkan ke tanah. Lantai ruangan langsung bergetar cukup keras.
Suara seruan tertahan terdengar. Sepertinya orang dibalik kegelapan merasa kaget dan tidak menyangka karena Zhang Fei mempunyai tenaga sakti yang begitu tinggi.
Wushh!!!
Plakk!!!
Zhang Fei membalikkan tubuh. Bersamaan dengan itu, dia pun mengangkat telapak tangan kanannya ke depan. Sehingga benturan keras pun tidak bisa dihindarkan lagi.
Orang misterius tadi melompat mundur ke belakang. Dia melemparkan senyuman dingin kepadanya.
"Menarik. Rupanya kemampuanmu cukup lumayan,"
"Siapa Tuan ini?" tanya Zhang Fei masih berusaha sopan.
"Mengapa kau bertanya seperti itu?" orang tersebut malah balik bertanya.
"Apakah aku salah?"
"Tidak! Hanya saja, kau belum pantas untuk mengetahui siapa aku,"
"Hemm ..." Zhang Fei mendengus dingin. Dia paling tidak suka kalau ada orang yang menjawab seperti itu.
"Cepat berlutut sebelum semuanya terlambat, anak muda," sebuah suara lain tiba-tiba terdengar. Bersamaan dengan itu, sekelebat bayangan lain tahu-tahu sudah berdiri di sisi orang tadi.
"Sudahlah, jangan membuang-buang waktu. Bunuh saja pemuda angkuh ini,"
Suara serak parau terdengar. Suara itu mengandung getaran tenaga sakti yang lebih kuat. Zhang Fei terkejut. Namun bukan karena mendengar suaranya.
Melainkan karena si pemilik suara tahu-tahu sudah ada di depannya.
'Hemm ... ternyata bukan satu. Melainkan tiga orang,' batin Zhang Fei berkata.
Melihat kenyataan tersebut, dia semakin meningkatkan kewaspadaannya. Dari beberapa kejadian singkat ini, Zhang Fei sudah bisa menilai bahwa ketiga orang misterius itu pasti adalah tokoh-tokoh yang mempunyai kemampuan sulit diukur.
Saat ini, mereka bertiga sedang menatap Zhang Fei dengan serius. Tatapan orang-orang itu sangat tajam. Bahkan dibalik kegelapan saja, bola mata mereka sekilas seperti menyala.
"Tuan-tuan, aku tidak pernah berurusan dengan kalian, bahkan bertemu pun baru kali ini. Tapi ... mengapa kalian seperti memusuhiku?" tanya Zhang Fei penasaran.
"Sebelum berlanjut, aku ingin bertanya dulu kepadamu," kata orang yang muncul paling terakhir. "Siapa namamu?"
"Zhang Fei," jawabnya singkat.
"Apakah kau yang telah membunuh Dewa Sesat Tiada Tanding?"
"Maksudmu, Ketua Partai Panji Hitam?"
"Selain dia, memangnya masih ada orang lain yang mempunyai julukan serupa?"
Zhang Fei tersenyum dingin. Ia kemudian menjawab dengan ringan. "Ya, memang aku yang membunuhnya. Manusia seperti dia memang pantas untuk mati di tanganku,"
"Oh, jadi kau orangnya. Kalau begitu, kami tidak perlu susah-susah mencari,"
"Apakah Tuan-tuan ini sedang mencariku?" tanya Zhang Fei sambil mengerutkan kening.
Dari awal pembicaraan, Zhang Fei belum sepenuhnya mengerti tentang apa yang dibicarakan oleh orang itu. Ia lebih tidak mengerti ketika orang tersebut menyenggol nama Dewa Sesat Tiada Tanding.
"Ya, kami berasal dari Negeri Lhasa. Jauh-jauh datang kemari karena sengaja sedang mencarimu,"
Zhang Fei semakin kebingungan setelah mendengar jawaban tersebut. Tapi dia masih mencoba bersikap sabar supaya bisa mengetahui semuanya dengan jelas.
"Mengapa Tuan-tuan ini mencariku? Bukankah di antara kita tidak pernah ada perselisihan?"
"Karena kau telah membunuh sahabat lama kami. Awalnya memang tidak. Tapi setelah mengakui bahwa kau lah yang membunuh Dewa Sesat Tiada Tanding, maka sejak saat itulah kita mempunyai perselisihan. Apakah sudah jelas?" orang itu lalu menatap Zhang Fei lebih tajam.
Diam-diam dia pun mengeluarkan hawa pembunuh yang sangat pekat.
"Oh, ternyata begitu. Ya ... sekarang semuanya sudah jelas," kata Zhang Fei menjawab ringan.