Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Penyerangan I


Langkah kaki manusia yang sangat banyak semakin terdengar dengan jelas. Lima Malaikat Putih dan muridnya memandang ke arah jalan masuk hutan dengan tatapan tajam.


"Itu mereka!" seru Pek Ji sambil menunjuk ke satu arah.


Di arah yang dimaksud itu, tampak saat ini ada tiga puluhan orang pendekar aliran putih yang berasal dari berbagai macam perguruan.


Mereka berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya masing-masing. Kelebatan bayangan manusia berbagai macam warna mulai terlihat di balik gelapnya malam.


Setelah pasukan pendekar memasuki hutan, Lima Malaikat Putih dan Zhang Fei segera bergerak pula. Mereka mengikuti dari arah belakangnya.


"Guru, apakah kita akan menampakkan diri?" tanya Zhang Fei di tengah-tengah perjalanan.


"Tidak perlu," jawab Pek Ma lalu berhenti.


Melihat dirinya berhenti, yang lain pun segera ikut menghentikan langkah.


"Pakai cadar ini," katanya sambil memberikan lima buah cadar warna-warni kepada yang lain.


"Sejak kapan Ketua suka membawa cadar?" tanya Pek Ciu sambil tertawa.


"Kalian tidak perlu tahu soal ini," jawabnya sambil tertawa pula.


Yang lain tidak banyak bicara lagi. Mereka langsung mengenakan cadar pemberian Pek Ma tersebut. Setelah kelima orang memakai cadar, Pek Ma segera bergerak kembali.


Wushh!!!


Enam orang itu bagaikan angin berhembus. Baru sesaat saja sudah berada di tempat yang cukup jauh dari sebelumnya.


Sekitar lima belas menit kemudian, rombongan pendekar sudah mulai memasuki wilayah markas Organisasi Bulan Tengkorak. Begitu tiba di sana, mereka langsung menghabisi siapa saja yang ditemui.


Beberapa orang penjaga di dekat markas langsung menjadi korban. Baru bergerak saja, tak kurang dari lima orang sudah tewas mengenaskan.


Keramaian segera terjadi di tengah hutan belantara itu.


Seorang penjaga berlari masuk ke dalam markas. Dia kemudian menuju ke salah satu ruangan, di mana di ruangan tersebut terdapat sepuluh orang berpakaian serba hijau tua.


Dari masing-masing pakaian mereka terdapat lambang tengkorak di bagian belakangnya.


"Ada apa?" tanya orang tua yang duduk di kursi paling mewah.


"Sekelompok orang sudah menyerang markas kita, Ketua. Sekarang anggota kita telah dibantai tanpa sisa," ucap anggota yang memberikan laporan itu.


Ia bicara dengan perasaan takut. Peluh sudah membasahi pelipis. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh.


Wajah pelapor itu pucat pasi. Sepertinya dia benar-benar takut.


"Keparat," orang yang dipanggil Ketua itu mengepalkan tangan dan memukul kursi tempat duduknya.


"Suruh semua anggota bersiap dan hadapi para penyerang itu," tegasnya memberikan perintah.


"Baik, Ketua,"


Pelapor itu segera berlari keluar. Dia langsung menyampaikan perintah dari Ketuanya kepada anggota yang lain.


Sedangkan sepuluh orang itu sendiri, mereka juga langsung keluar dari dalam ruangan.


Perlu diketahui, sepuluh orang itu adalah tokoh utama dalam Organisasi Bulan Tengkorak. Maka dari itu, saat mengetahui markasnya diserang orang, tentu saja mereka tidak terima dan sangat marah.


Sementara itu diluar markas, para penyerang sudah mulai bertempur sengit melawan pihak musuh. Teriakan kesakitan dan kematian menggema ke seluruh isi hutan.


Kelebetan bayangan berbagai macam senjata terus melesat di tengah udara. Pihak pendekar tidak mengenal kata ampun, apalagi kalau mereka mengingat bagaimana sepak terjang organisasi aliran sesat itu.


Untuk saat ini, pihak pendekar berada di atas angin. Anggota Organisasi Bulan Tengkorak yang tewas sudah ada sekita dua puluh orang.


"Habisi semua orang yang ada di markas ini!" teriak seorang tua.


Ia adalah Wakil Ketua dari Partai Gunung Pedang. Sembari berkata demikian, dirinya juga terus melancarkan serangan dengan sangat ganas.


Darah semakin banyak berceceran di atas tanah dan rumput. Bau amis sudah tercium dengan sangat jelas.


Di tengah-tengah pertarungan sengit, tiba-tiba lima belas bayangan manusia berkelebat dari dalam markas.


Orang-orang itu mengenakan pakaian abu-abu. Di tangannya masing-masing sudah tergenggam sebatang golok yang tentunya sangat tajam.


"Keluarkan Formasi Bulan Tengkorak Pengurung Dewa!" teriak salah seorang.


"Baik," yang lain mengangguk.


Mereka kemudian membentuk formasi yang disebutkan di atas. Saat semuanya sudah berada di posisi masing-masing, orang-orang itu langsung menyerang para pendekar secara bersamaan.


Setelah turunnya lima belas orang ini, pertarungan di halaman itu semakin berlangsung lebih seru. Sebab sekarang, pihak musuh mampu memberikan perlawanan yang berarti.


Dentingan benda keras terdengar nyaring di telinga. Pertarungan yang berjalan menjadi lebih serius lagi.


Sekitar sepuluh menit kemudian, korban yang berjatuhan di antara kedua belah pihak sudah semakin banyak.


Dari pihak pendekar, lima belas orang sudah tewas bersimbah darah. Mereka yang tewas adalah orang-orang yang memberikan bantuan kepada Partai Gunung Pedang.


Sedangkan di pihak lawan, dari lima belas orang tadi, sekarang hanya tersisa empat orang saja.


Itu artinya, sebelas orang telah tewas di tangan para pendekar!


Melihat jumlah musuh yang sudah tidak seberapa itu, para pendekar jadi semakin girang. Mereka tersenyum percaya diri.


Dengan kekuatan musuh yang hanya tinggal sedikit, tentu saja delapan puluh persen, kemenangan sudah berada di tangan mereka.


"Hehehe ... kalian pilih menyerah atau mampus? Kalau menyerah, tentu kami akan memberikan hukuman yang setimpal. Tapi kalau pilih mampus, maka kami akan membunuh kalian sekarang juga," kata Wakil Ketua Partai Gunung Pedang yang bernama Gan Li.


"Hemm, kami tidak pilih dua-duanya," jawab salah satu dari empat orang itu.


"Kalau begitu, kami akan menganggap kalian memilih nomor dua," katanya melanjutkan.


"Terserah. Kalau memang mampu, mari kita buktikan," ucap orang tadi menantang.


"Hahaha ... keadaan sudah diujung tanduk pun masih berani bersikap keras kepala. Baiklah, lihat serangan!"


Orang tua bernama Gan Li dan berjuluk Pendekar Pedang Emas itu tidak banyak bicara. Bahkan kali ini, dia sudah bertekad untuk melawan empat orang musuh dengan kedua tangannya sendiri.


Ia tidak mau dibantu oleh orang lain. Dirinya ingin tahu sampai di mana kemampuan lawan.


Cahaya keemasan segera merona di kegelapan malam. Baru sedetik saja, dia sudah tiba di hadapan empat lawan.


Tebasan pedang dilancarkan dengan cepat. Dilanjut dengan beberapa serangan susulan lainnya.


Empat orang itu cukup tersentak karena melihat betapa cepatnya serangan Pendekar Pedang Emas.


Tapi sebagai orang persilatan, mereka bisa menguasai diri dengan segera.


Keempatnya bergerak dengan cara melompat ke samping. Mereka menghindari serangan orang tua itu. Setelah mendapat posisi, empat bayangan manusia langsung menerjang ke depan.


Wushh!!!


Bacokan golok datang dari empat penjuru mata angin. Cepatnya bukan main.


Namun sayangnya, semua itu bisa dilihat dengan jelas oleh Gan Li. Dengan sigap, orang tua itu memapak semua goloknya.


Dia memutarkan tubuhnya dengan cepat. Pedang yang mengeluarkan sinar emas di tangannya juga ikut berputar-putar bagaikan kincir angin.


Trangg!!! Trangg!!!


Bunga api memercik. Serangan dari empat penjuru itu gagal mencapai target sasarannya.