Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Jenderal Qi Guan I


Setelah Zhang Fei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan menghabiskan arak pemberian Orang Tua Aneh Tionggoan, mereka berdua kemudian di bawa ke dalam hutan yang berdekatan dengan tenda.


Di dalam sana ternyata ada halaman kosong yang lebarnya kurang lebih dua kali tiga meter. Di tengah-tengah halaman tersebut ada bekas api unggun. Bahkan sisa-sisa kayu bakar juga masih menyala.


Empat Datuk Dunia Persilatan dan Zhang Fei sudah duduk melingkar. Sebelum membahas persoalan yang lebih serius, tiba-tiba Pendekar Tombak Angin melesat ke dalam hutan sana.


Sekitar dua puluh menit kemudian, dia sudah kembali lagi. Di tangan kanan dan kirinya terdapat dua ekor ayam hutan yang sudah dikuliti dan siap untuk dibakar.


Setelah api kembali menyala, ayam hutan hasil buruannya tersebut langsung dibakar. Sembari menunggu ayam itu matang, maka mereka pun segera memulai obrolannya.


"Setan arak, lama kita tidak bertemu," kata Orang Tua Aneh Tionggoan menyapa lebih dulu.


Di antara para Datuk Dunia Persilatan, hubungan yang paling dekat memang antara dua orang itu saja. Karenanya tidak heran apabila mereka bertemu muka, maka tidak ada lagi tatakrama dan sopan santun.


"Bagaimana kabarmu selama ini? Jangan bilang kau masih suka sakit pinggang dan pegal," lanjutnya sambil tertawa ringan.


Mendengar pertanyaan itu, para tokoh yang lain pun segera ikut tertawa. Suasana di sana langsung ramai seketika.


"Sialan kau tua bangka," maki Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil tertawa pula. "Tentu saja kabarku baik. Walaupun sakit pinggang dan pegal-pegal masih suka menyerangku, tapi belakangan ini, mereka jarang datang. Mungkin karena penyakit keparat itu tahu bahwa sekarang aku sedang sibuk mengurusi negeriku,"


Mereka yang hadir kembali tertawa. Malah kali ini suara tawanya lebih kencang.


Tidak berhenti sampai di situ saja, bahkan para tokoh dunia persilatan tersebut juga saling menanyakan kabar satu sama lainnya. Termasuk juga menanyakan kabar Zhang Fei.


Berbagai pengalaman selama melakukan tugas masing-masing langsung diceritakan secara bergantian.


Selama kurang lebih tiga puluh menit, mereka terus bercerita sambil diselingi dengan canda tawa.


Setelah ayam hutan bakar matang, tiba-tiba Dewa Arak Tanpa Bayangan mengajukan pertanyaan yang jauh lebih serius lagi.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau menyuruhku untuk datang kemari, orang aneh?" tanyanya kepada Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Sebenarnya aku sendiri belum tahu. Karena aku saja hanya menerima perintah. Malah kalau diperjelas, kedatangan kami kemari juga karena disuruh oleh Ketua Dunia Persilatan," ucapnya menjelaskan.


"Maksudmu, Ketua Beng Liong yang menyuruh kalian datang kemari?"


"Kalau bukan beliau, siapa lagi? Memangnya sekarang Ketua Dunia Persilatan ada dua orang?" Dewi Rambut Putih Giok Ling tiba-tiba menyela pembicaraan sambil tertawa lantang. Deretan giginya yang putih bersih segera terlihat oleh semua orang.


"Wajar kalau dia bilang begitu, Adik Ling, kan setan arak ini umurnya tinggal menunggu hari saja," sahut Orang Tua Aneh Tionggoan.


"Keparat kau!" katanya memaki kembali.


Di tengah-tengah candaan tersebut, tiba-tiba saja Pendekar Tombak Angin Cao Ping yang sejak tadi diam, sekarang juga mulai ikut nimbrung dalam pembicaraan.


"Kurang lebih satu minggu yang lalu, Ketua Beng Liong juga mengirimkan surat yang sama kepada kami. Ia hanya menyuruh kami datang ke tempat ini saja. Masalah ada tugas apa dan bagaimana, sampai sekarang kami sendiri belum tahu. Tapi dalam surat tersebut, beliau juga mengatakan bahwa nanti akan ada seseorang yang menjelaskan semuanya," ucapnya menjelaskan.


"Lalu, apakah seseorang yang dimaksud itu sudah membicarakan semuanya kepada kalian?"


"Lalu selama ini, apa yang kalian lakukan di sini?"


"Apa lagi? Kami hanya berbincang-bincang sambil minum arak saja. Sesekali, kami juga berkeliling ke area sekitar untuk mengecek keamanan,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan menganggukkan kepalanya bergerak kali. Tiba-tiba dia meraih Guci Emas Murni, lalu dengan segera menenggak arak yang ada di dalamnya.


"Tuan Kiang, tapi kalau menurutku, alasan kenapa Ketua Beng Liong mengundang kita kemari, sepertinya karena di tempat ini akan ada peperangan yang tidak kecil," kata Zhang Fei tiba-tiba saja bicara.


"Kenapa kau bisa bicara begitu, anak Fei?" tanyanya sambil menoleh.


"Coba kita ingat, tempat ini sangat lapang dan luas. Apa yang ada di depan sana tidak bisa dijangkau oleh mata telanjang. Lagi pula, setahuku jauh di depan adalah perbatasan Kekaisaran kita dengan Kekaisaran lain. Selain itu, tenda ini juga merupakan tenda darurat. Yang tinggal di dalamnya pasti adalah prajurit Kekaisaran. Dan menurutku juga, tenda semacam ini bukan hanya ada di sini saja,"


Orang tua itu melirik ke arah tiga Datuk Dunia Persilatan lainnya. Walaupun mulutnya tidak bertanya, tapi tatapan matanya sudah cukup untuk wewakili perasaannya.


"Apa yang dikatakan oleh anak Fei memang benar. Sedikit pun tidak salah," tukas Orang Tua Aneh Tionggoan membenarkan.


"Aih, kalau benar demikian, sudah tentu peperangan sebentar lagi akan terjadi. Tapi, kapan waktunya?"


"Kurang lebih tiga hari lagi, Tuan Kiang," suara seseorang tiba-tiba terdengar dari bagian hutan luar.


Tidak lama setelah itu, segera muncul seorang pria berusia sekitar lima puluhan tahun. Dia mengenakan pakaian prajurit lengkap dan mewah. Wajahnya penuh wibawa. Di pinggangnya terdapat sebatang pedang mestika yang dipenuhi oleh hiasan batu kemala.


Begitu melihat kemunculan orang tersebut, Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan secara serempak langsung berdiri.


Meskipun sebenarnya mereka belum mengenal, bahkan belum mengetahui siapakah pria tersebut, tapi mereka sangat yakin bahwa dia adalah seorang Jenderal besar.


Karena itulah, sebelum ada yang berbicara, lima orang tersebut langsung membungkukkan badannya.


"Selamat bertemu, Jenderal," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan mewakili yang lainnya.


Dia memang tidak mengenalnya. Tapi cukup melihat seragam yang dipakai saja, ia sudah bisa mengetahui jabatannya.


"Terimakasih, Tuan Kiang," kata Jenderal besar tersebut sambil membalas hormatnya. "Mari kita duduk,"


Mereka kembali duduk bersila di atas tanah. Setelah beberapa saat kemudian, jenderal tersebut memulai pembicaraannya.


"Sebelumya perkenalkan, namaku Qi Guan, aku ditugaskan langsung oleh Kaisar untuk berjaga-jaga di sekitar perbatasan daerah Timur ini," ujarnya memperkenalkan diri dengan singkat.


Jenderal Qi Guan berhenti sebentar. Setalah orang-orang gagah di depannya mengangguk, ia kembali melanjutkan.


"Menurut informasi dari prajurit yang ada di bawah pemerintahanku, pihak musuh dari Kekaisaran lain akan melakukan penyerangan ke daerah perbatasan Timur ini. Maka dari itu, terpaksa aku meminta bantuan kepada Ketua Dunia Persilatan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,"


"Jenderal Guan, apakah kau sudah mendapatkan informasi lengkap terkait penyerangan tersebut?" tanya Dewi Rambut Putih Giok Ling dengan cepat.


"Sudah, Nyonya Ling. Kebetulan prajurit itu langsung memberikan data lengkapnya kepadaku,"