
Walaupun peristiwa itu sudah lewat puluhan tahun silam, tetapi apa yang pernah dilakukan oleh Keluarga Tong tersebut masih diingat sampai saat ini.
Terlebih karena kebanyakan dari mereka merupakan pendekar aliran sesat yang sukar untuk dihadapi.
Di samping keahliannya dalam membuat racun dan senjata aneh, Keluarga Tong juga dikenal karena ilmu silatnya yang sangat khas. Ilmu silat dari Keluarga Tong dikenal karena kecepatan dan setiap jurus-jurusnya yang telengas.
Meskipun Zhang Fei tidak pernah mengalami peristiwa tersebut, tetapi apa yang pernah diceritakan oleh Kakeknya, Zhang Liong, masih melekat dengan jelas di ingatannya.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan tersebut. Entah berapa lama waktu yang telah terlewatkan.
"Aku yakin, sedikit banyaknya, dalam catatan tersebut juga ada informasi tentang Keluarga Tong yang lainnya," kata Zhang Fei setelah terdiam cukup lama.
"Benar, Ketua Fei. Justru itulah yang sedang aku takutkan sekarang," Yan Zi menghembuskan nafas panjang dan berat.
Dia tidak tahu lagi harus berbuat bagaimana. Para murid Perguruan Kera Sakti sudah ditugaskan untuk mencari jejak keberadaan murid murtad itu. Sayangnya sampai saat ini, belum ada titik terang sekali pun.
"Tuan Zi, siapa nama murid murtad itu?"
"Dia bernama Ouw Yang Pek,"
"Bagaimana ciri-cirinya?"
Yan Zi tidak menjawab. Dia malah bangkit berdiri dan berjalan ke lemari kecil yang terdapat di belakangnya. Beberapa saat kemudian, dia segera kembali duduk di kursi semula.
"Ketua Fei bisa melihatnya sendiri," kata Yan Zi sambil menyodorkan catatan tentang murid-murid dari Perguruan Kera Sakti.
Zhang Fei kemudian melihat bagaimana ciri-cirinya. Mulai dari wajah, sampai ke bentuk tubuh. Semuanya dia perhatikan secara seksama.
Sesaat kemudian, Zhang Fei sudah berhasil mengingatnya dengan baik. Ia kembali bertanya, "Beberapa hari sebelum peristiwa pembunuhan itu, apakah ada tindak-tanduk mencurigakan dari Ouw Yang Pek?"
"Hemm ... aku rasa tidak, Ketua Fei," jawab Yan Zi sambil menggelengkan kepala. "Tetapi, yang aku tahu, sekitar lima hari sebelum kejadian, Ouw Yang Pek lebih sering menghabiskan waktunya di kamar pribadi,"
"Bisakah kau tunjukan di mana kamar pribadinya?"
"Memangnya kenapa, Ketua Fei?"
"Tunjukan saja padaku. Nanti Tuan Zi akan tahu sendiri,"
"Baiklah, Ketua Fei. Mari ikut aku,"
Yan Zi bangkit berdiri. Di kemudian berjalan menuju ke sebuah kamar yang tidak berada jauh dari ruangan tersebut. Zhang Fei terus membuntuti di belakangnya sembari mengawasi keadaan sekitar.
"Ini kamarnya, Ketua Fei," ucap orang tua itu sambil membuka pintu kamar.
Zhang Fei langsung masuk ke dalam. Yan Zi juga mengikutinya.
Keadaan kamar itu sedikit berantakan. Di atas meja kecil ada guci arak dan cawan arak bekas. Di sisinya ada pula beberapa lembar kertas yang masih baru. Di atasnya ada sebuah tulisan.
Zhang Fei mencoba membaca semua tulisan tersebut. Namun dia belum menemukan sesuatu yang berharga.
Tiba-tiba, tangannya meraba ke bawah. Kebetulan, pada saat itu tangannya langsung menggenggam laci. Buru-buru ia membuka laci tersebut. Di dalam laci pun terdapat selembar kertas.
Di atas kertas itu ada tulisan. Zhang Fei langsung membacanya.
"Lakukan tugasmu dengan segera. Aku akan menunggumu di hutan sebelah timur,"
Isi tulisan tersebut hanya itu saja. Tidak ada pengirimnya, tidak ada disebutkan pula siapa yang dituju.
Hanya saja meskipun begitu, baik Zhang Fei maupun Yan Zi juga sudah paham bahwa orang yang dimaksud tulisan tersebut pastinya adalah Ouw Yang Pek.
"Hutan sebelah timur. Apakah letaknya jauh dari sini, Tuan Zi?" tanya Zhang Fei sambil menoleh ke arahnya.
"Tidak terlalu, Ketua Fei," jawabnya dengan cepat.
"Baiklah. Kalau begitu, mari kita pergi ke sana sekarang juga,"
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan manusia melesat dengan cepat. Mereka pergi tanpa pamit kepada siapa pun. Sehingga semua murid Perguruan Kera Sakti pun tidak ada yang mengetahuinya.
Saat ini, Yan Zi berada di posisi paling depan. Dia bertugas sebagai petunjuk jalan.
Diam-diam, Zhang Fei merasa tidak sabar karena ternyata ilmu meringankan tubuh orang tua itu bisa dibilang hanya pas-pasan saja.
Tadinya Zhang Fei berniat untuk menggendongnya. Tetapi demi menjaga perasaan orang, dia membatalkan niat tersebut dan memilih untuk tetap sabar menanti.
Sekitar lima belas menit kemudian, mereka berdua telah tiba di tempat yang dituju.
Di depan sana ada halaman hutan yang cukup luas. Di sebelah depannya lagi, ada banyak rumput ilalang dengan tinggi sekitar satu meter lebih. Suasana di tempat tersebut sangat sunyi. Tidak ada suara langkah ataupun kehadiran manusia.
Yang ada hanya suara burung-burung yang bertengger di atas dahan pohon.
"Ketua Fei, kita kehilangan jejak," kata Yan Zi sedikit kecewa.
Zhang Fei mencoba berpikir sebentar. Dia lebih dulu mengawasi keadaan di sekitar sana.
'Tempat ini sepertinya sangat jarang dikunjungi oleh manusia. Tetapi jelas bahwa di depan itu adalah langkah kaki manusia,' batin Zhang Fei sambil memperhatikan jejak kaki manusia yang mengarah ke semak belukar.
Lewat beberapa saat kemudian, ia segera berkata. "Tuan Zi, sekarang giliran kau yang ikuti aku,"
"Baik, Ketua Fei,"
Wushh!!!
Mereka bergerak lagi. Kali ini yang menjadi petunjuk jalannya adalah Zhang Fei. Dia melesat mengikuti jejak kaki yang dilihatnya tadi.
Awalnya mereka sedikit kesulitan karena harus menembus rumput-rumput dan tanaman liar yang tumbuh cukup rapat. Tetapi setelah berjuang, toh keduanya berhasil juga menembusnya.
Setelah itulah, Zhang Fei dan Yan Zi baru bisa melihat bahwa dibalik rumput dan tanaman liar tadi, rupanya terdapat jalan setapak yang cukup sering dilalui oleh manusia.
Hal itu bisa dilihat dari banyaknya bekas-bekas langkah kaki yang masih terlihat cukup jelas.
"Sepertinya ini adalah jalan rahasia yang sengaja dibuat oleh seseorang," kata Zhang Fei di tengah perjalanan.
"Ya, sepertinya begitu, Ketua Fei," sahut Yang Zi menyetujuinya.
Zhang Fei sangat yakin akan dugaannya. Apalagi dugaan tersebut diperkuat oleh kenyataan yang terpampang jelas.
"Kita terus ikuti saja jalan setapak ini, Tuan Zi. Aku percaya, ujungnya adalah tempat di mana semua jawaban dari masalah ini tersedia,"
Wushh!!!
Zhang Fei mempercepat langkahnya. Begitu juga dengan Yan Zi. Sepanjang perjalanan, mereka berdua tidak pernah banyak bicara lagi.
Jalanan setapak itu tidak seterusnya rata. Sesekali ada pula rintangan seperti pohon besar yang melintang di tengah jalan, kadang-kadang ada pula kubangan lumpur yang cukup lebar.
Semua itu sepertinya sengaja dibuat untuk menutupi kecurigaan.
Memang, kalau tidak teliti dan kurang pengalaman, siapa pun pasti tidak akan pernah bisa menemukan jalan setapak rahasia itu.
Untunglah Zhang Fei sudah cukup pengalaman. Dia pun terhitung beruntung karena bisa menemukannya cukup mudah.
Tanpa terasa matahari sore sudah hampir tenggelam. Cahaya merah yang begitu indah menyinari keadaan sekitar sehingga membuat semaunya tampak mempesona.
###
Maaf yaa beberapa hari kemarin ngga up, soalnya ada kesibukan di dunia nyata.
Sekarang akan diusahakan untuk update rutin lagi. Terimakasih yang masih setia mengikuti perjalanan Zhang Fei ...