
Hari demi hari telah berlalu. Tanpa terasa, Zhang Fei sudah berdiam di dalam hutan selama tiga hari lamanya. Selama tiga hari itu, ia terus merawat si pendekar wanita setulus hati.
Sekarang, pada di hari ketiga, tepatnya saat pagi hari, si pendekar wanita itu tiba-tiba telah sadar dari pingsannya.
Kondisinya sekarang sudah jauh lebih baik. Kulitnya kembali putih, wajahnya kembali ceria. Bahkan tenaga yang sebelumnya hilang, juga sudah kembali pulih.
Saat dirinya terbangun, betapa kagetnya wanita itu ketika melihat ia berada di tengah hutan. Secara spontan dia langsung bangkit dari tidurnya.
Menyambar sebatang pedang yang tergeletak telah di pinggir.
Begitu menyaksikan ada seorang pemuda yang tidur tidak jauh dari tempatnya, dia langsung menatapnya dengan tajam.
Ia merasa curiga dan marah. Apalagi ketika si wanita menyadari kalau pakaian sebelah atasnya sedikit terbuka.
"Pemuda keparat. Dia pasti sudah bertindak macam-macam kepadaku," gumamnya.
Ia langsung mengalirkan tenaganya. Setelah terkumpul, didinya langsung mencabut pedang dan menyerang Zhang Fei secara tiba-tiba.
Wushh!!!
Serangan yang dilancarkan oleh pendekar wanita itu sangat berbahaya. Apalagi dia langsung mengincar bagian jantung.
Dengan kecepatan seperti itu, niscaya Zhang Fei akan langsung tewas apabila dia tidak menghindarinya dengan segera.
Namun tepat ketika ujung pedang tinggal satu jengkal lagi dari jantungnya, mendadak tangan kanan pemuda itu bergerak. Dia langsung menjepit batang pedang sangat kuat.
Zhang Fei segera membuka matanya. Ia langsung memberikan senyuman hangat kepada si wanita.
"Hanya seorang pengecut yang berani menyerang saat musuh dalam keadaan lengah," katanya sambil bangkit dari posisi.
Bersamaan dengan itu, si pendekar wanita juga sedang berusaha melepaskan pedangnya dari jepitan lawan. Tapi sayang sekali, usaha yang dia lakukan tidak menemukan hasil.
Pedang itu tidak bisa terlepas. Seolah-olah ujung mata pedang telah tertancap dengan dalam di sebuah batu cadas.
"Lepaskan pedangku!" bentaknya keras.
Zhang Fei menuruti permintaannya. Dengan segera dia langsung melepaskan jepitan tangannya.
Pedang si pendekar wanita segera terlepas. Saat itu ia ingin melancarkan serangannya kembali.
Tapi sebelum dia benar-benar melakukannya, Zhang Fei telah lebih dulu menahannya.
"Tunggu dulu, apakah kau sudah sadar, Nona?" tanyanya dengan sopan.
"Sejak tadi pun aku sadar," jawabnya singkat.
"Ah, syukurlah kalau begitu. Berarti efek dari racun Serbu Hijau itu sudah benar-benar hilang,"
Zhang Fei menghela nafas lega. Akhirnya usaha yang dia lakukan selama tiga hari ini membuahkan hasil yang maksimal.
Dia merasa senang karena bisa menyelamatkan nyawa si pendekar wanita.
"Apa maksudmu?" tanya lawan bicaranya itu sambil mengerutkan kening.
"Apakah kau tidak sadar sama sekali terhadap apa yang telah terjadi kepadamu?"
"Aku hanya ingat ada seseorang yang melemparkan serbuk warna hijau dan pertarunganku melawan empat tua bangka biadab itu saja," jawab si pendekar wanita dengan jujur.
Ia memang hanya ingat bagian itu saja. Selebihnya dia merasa tidak tahu apa-apa.
"Hemm, pantas saja," gumam Zhang Fei baru mengerti.
Dia kemudian bangkit berdiri dan segera berjalan ke depan perapian. Ia minum satu cangkir air teh hangat, kemudian menyantap beberapa potong daging ayam hutan sisa semalam.
"Anak muda, siapa kau? Kenapa aku bisa berada di sini? Dan ... apa yang sudah kau lakukan kepadaku?"
Pendekar wanita itu mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus. Dalam benaknya saat ini terdapat banyak sekali pertanyaan yang memerlukan jawaban. Termasuk pertanyaan yang ia ajukan barusan.
"Namaku Zhang Fei," pemuda itu mulai menjawab pertanyaan secara perlahan.
Pemuda itu menjelaskan secara perlahan. Dia tidak mempermasalahkan kecurigaan si wanita terhadapnya. Karena Zhang Fei juga tahu, siapa pun orangnya, kalau dia berada di posisi seperti wanita itu, ia pasti akan merasakan hal yang sama.
"Jadi ..."
"Ya, kau sudah terkena racun Serbuk Hijau. Karena itulah saat pertarungan beberapa hari yang lalu, kulitmu sudah berubah menjadi kehijauan,"
"Beberapa hari yang lalu? Memangnya, sudah berapa hari aku ada di sini?" tanyanya sambil mengerutkan kening.
"Tiga hari,"
"Tiga hari?"
"Benar," jawab Zhang Fei menganggukkan kepala. "Selama tiga hari itu, kau tidak sadarkan diri sama sekali,"
Pendekar wanita itu kaget setengah mati. Untuk beberapa waktu lamanya dia berdiri termangu seperti orang linglung.
Dia mencoba mengingat-ingat semuanya. Sayangnya ia tidak berhasil mengingat hal lain, kecuali yang sudah diceritakan kepada Zhang Fei.
Karena merasa kasihan, akhirnya pemuda itu mulai menceritakan semua kepada pendekar wanita itu.
Mulai dari awal kemunculannya, pertarungan, bahkan sampai kepada dirinya yang mengobati racun Serbuk Hijau.
Setelah mendengar cerita tersebut, pendekar wanita itu merasa menyesal karena sempat menyerang Zhang Fei, tuan penolongnya sendiri.
"Maafkan aku, Tuan Penolong. Aku ... aku merasa menyesal,"
"Kau tidak perlu meminta maaf, Nona. Kau tidak salah,"
"Jangan panggil aku Nona lagi. Panggil saja namaku, Yu Yuan,"
Ternyata pendekar wanita yang berusia tidak jauh dari Zhang Feng itu bernama Yu Yuan!
"Ehmm, baiklah Nona Yu," ujarnya mengerti.
"Saudara Fei, kenapa kau mau menyelamatkan aku? Sedangkan di antara kita, bukankah sebelumnya tidak saling kenal?" tanya Yu Yuan.
Sampai sekarang, dia masih penasaran. Ia tidak habis mengerti, kenapa pemuda tampan itu mau menyelamatkannya.
"Memang benar," jawab Zhang Fei tidak menampik. "Aku menyelamatkan Nona Yu tak lain hanya karena rasa kemanusiaan saja,"
Zhang Fei masih ingat pesan ayahnya. Dahulu, Zhang Xin selalu meminta dirinya agar menjadi manusia yang mau mengulurkan tangan kepada mereka yang memerlukan bantuannya.
Karena itulah dia mau menyelamatkan nyawa Yu Yuan.
"Aku benar-benar berterimakasih kepadamu, Saudara Fei. Kalau tidak ada dirimu, mungkin aku ... aku sudah ..."
Yu Yuan segera membungkam. Dia tidak mampu melanjutkan ucapannya lagi. Wanita cantik tersebut hanya sanggup membayangkan hal-hal buruk yang akan menimpa dirinya, apabila tidak ada Zhang Fei.
"Nona Yu tidak perlu berlebihan. Lagi pula aku ikhlas menolongmu,"
Kedua muda-mudi itu berbincang-bincang lebih jauh. Zhang Fei mengajak Yu Yuan sarapan, kebetulan juga ada ayam bakar sisa semalam yang masih banyak.
Tanpa terasa siang hari sudah masuk. Cahaya matahari menyorot lewat celah-celah dedaunan pohon.
Ayam bakar sudah habis. Sekarang perut keduanya sudah terasa kenyang.
"Nona Yu, bolehkah aku mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu?" tanya Zhang Fei setelah ia diam cukup lama.
"Silahkan, Saudaranya Fei,"
Pemuda itu mengambil nafas panjang, setelahnya dia segera bertanya.
"Kenapa kau bisa bertarung dengan empat orang tua itu? Dan lagi, siapa mereka?"
Zhang Fei benar-benar penasaran terhadap mereka. Lebih daripada itu, ia juga merasa yakin bahwa keempat orang tua tersebut ada sangkut pautnya dengan Partai Panji Hitam.
"Aku tidak tahu siapa mereka pastinya. Yang aku tahu, mereka adalah sekutu Partai Panji Hitam,"