Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Mulai Membongkar Rahasia I


"Akhirnya Pama Shen menyadari juga," kata Zhang Fei seraya tertawa.


Ou Yang Shen ikut tertawa. Tapi dengan cepat dia menghentikan suara tawanya.


"Tapi kalau ingin membongkar rahasia ini, bukankah kita harus bisa bergerak bebas terlebih dahulu? Sedangkan kondisi kita sekarang ..."


Ia menatap ke arah dua tangannya yang masih diikat dengan kencang oleh tali. Walaupun Ou Yang Shen tidak menyelesaikan ucapannya, tapi Zhang Fei sudah tahu apa yang dia maksudkan.


"Tali ini hanya tali biasa. Dengan kemampuan yang dimiliki, aku yakin kita bisa membebaskan diri dengan mudah,"


Karena merasa penasaran, akhirnya Ou Yang Shen langsung mencobanya sendiri. Baru saja dia menyalurkan tenaga dalam sebanyak empat bagian, tiba-tiba tali yang mengikat kedua tangannya langsung mengendur dan hampir putus.


Untunglah dia segera menarik kembali tenaga dalam tersebut. Kalau tidak, mungkin sekarang tali itu sudah benar-benar putus olehnya.


"Bagaimana? Apakah sekarang, Paman Shen percaya?"


"Ya, aku percaya," jawbanya dengan tegas. "Tapi, apakah kita juga bisa menghadapi mereka semua?"


Ou Yang Shen melirik ke beberapa penjuru. Setiap tempat yang ia tuju, di sana pasti terdapat pasukan bersenjata lengkap yang sedang menjalankan tugasnya masing-masing.


Lalu, hanya mengandalkan kekuatan dua orang saja, benarkah mereka bisa menghadapi semua pasukan tersebut?


"Kau tenang saja, Paman. Mereka adalah orang-orang yang biasa menggunakan tenaga luar saja. Terkait tenaga dalam, para prajurit tersebut malah tidak mengerti sama sekali. Aku rasa yang perlu kita hadapi nanti, jumlahnya tidak sebanyak itu,"


"Baiklah. Aku percaya," kata Ou Yang Shen mengakhiri percakapannya dengan Zhang Fei.


Sementara itu, tanpa terasa waktu terus berlalu. Malam hari sudah menghilang. Pagi hari pun telah lewat begitu saja.


Saat ini sudah masuk siang hari. Cuaca hari ini benar-benar terik. Matahari yang bersinar terasa membakar kulit. Udara sangat panas dan angin yang biasa berhembus, kini entah hilang ke mana.


Di halaman depan Gedung Pemerintahan, saat ini sudah berkumpul ratusan orang. Kebanyakan dari mereka adalah warga asli Kota Hubei.


Mulai dari pedagang, petani, dan warga masyarakat dari berbagai macam kalangan lain, semuanya hadir di tempat tersebut.


Para warga itu berdiri berkerumun. Ratusan pasang mata saat ini sedang menatap ke arah dua orang yang diikat di tiang mimbar.


Di atas mimbar itu sendiri, sekarang sudah terlihat ada belasan orang prajurit berseragam lengkap. Di sana ada pula Wali Kota Lu Hong yang didampingi oleh tiga orang tinggi besar dengan pakaian serba hitam.


"Semua orang yang hadir di sini, lihatlah! Dua manusia ini adalah contoh bagi kalian. Siapa pun yang berani melanggar peraturan Kota Hubei, maka mereka akan dijatuhi hukuman mati," pria tua yang semalam diberi tugas untuk membuat surat, tiba-tiba berkata dengan suara lantang.


Para warga langsung berbisik dengan rekannya masing-masing. Sedangkan pria tua itu sendiri sudah melanjutkan lagi ucapannya.


"Jangan salah sangka dulu, asal kalian ketahui, apa yang dilakukan oleh Wali Kota Lu Hong selama ini, itu semua demi kebaikan Kota Hubei yang menjadi kebanggaan kita,"


"Hidup Wali Kota Lu Hong!"


Belasan prajurit langsung berteriak secara bersamaan. Sebagian warga lainnya terdengar mengikuti apa yang dikatakan oleh prajurit tersebut.


"Waktu sudah masuk tengah hari. Kita langsungkan saja hukuman ini sekarang," ujar Wali Kota Lu Hong kepada orang tua itu.


Dia langsung mengangguk. Dirinya langsung memberikan perintah kepada dua orang algojo untuk segera memenggal kepala Zhang Fei dan Ou Yang Shen.


Sringg!!!


Dua batang pedang berbentuk bulan sabit sudah dicabut dari sarungnya. Di bawah tempaan sinar matahari, pedang tersebut terlihat sangat tajam sekali.


"Sekarang!" orang tua tadi langsung berteriak dengan keras. Begitu perintah diturunkan, dua orang algojo langsung menebaskan masing-masing pedangnya dari atas ke bawah.


Wutt!!!


Sebelum kedua senjata tersebut mengenai leher, tahu-tahu Zhang Fei sudah berhasil membebaskan dirinya. Tidak mau kalah, Ou Yang Shen pun sudah melakukan hal yang sama.


Bukk!!!


Dua pukulan keras dilancarkan secara serempak. Dua orang itu langsung terjatuh dari mimbar dan tergeletak di atas tanah.


Mereka langsung tewas pada saat itu juga!


Kejadian tersebut berlangsung sangat cepat. Semua orang yang hadir di sana tidak ada yang menyangkanya.


Prajurit yang berada di atas mimbar, secara serempak mereka langsung mencabut senjata dan menyerang dengan senjata masing-masing.


Wushh!!! Sringg!!!


Zhang Fei melesat cepat bagaikan kilat. Di tengah jalan, dia pun mencabut Pedang Raja Dewa yang berada di punggungnya.


Begitu pedang sudah digenggam di tangan kanan, beberapa tebasan beruntun langsung dia lancarkan detik itu juga.


Benturan nyaring terjadi. Semua senjata lawannya langsung patah ketika bertemu dengan Pedang Raja Dewa. Prajurit yang menyerang itu terkejut. Sebelum mereka berhasil menyelamatkan diri, nyawanya sudah lebih dulu melayang.


Kini di atas mimbar sudah tercipta korban jiwa. Darah segar mengalir membasahi lantai.


Sementara di satu sisi lain, ketika menjadikan Zhang Fei mengambil tindakan,Ou Yang Shen pun terlihat tidak mau kalah darinya.


Dia juga langsung menyerang orang tua yang berseru tadi dengan mengandalkan pukulan jarak jauh.


Wutt!!! Blamm!!!


Pukulan tersebut dengan telak mengenai ulu hatinya. Orang tua itu sempat kejang-kejang beberapa saat, lalu kemudian tubuhnya berhenti bergerak.


Wali Kota Lu Hong memelototkan bola matanya. Dia sendiri tidak percaya bahwa kejadian seperti ini akan terjadi.


Kini semua prajurit yang ada di atas mimbar sudah tewas. Yang tersisa hanya dia dan tiga orang pengawal pribadinya.


Tiba-tiba ia bangkit berdiri. Tiga orang pengawal itu pun langsung melakukan persiapan.


Sedangkan Zhang Fei dan Ou Yang Shen, saat ini mereka sudah menghentikan gerakannya.


Dua belah pihak kini saling berhadapan satu sama lain.


"Aku tidak percaya bahwa kalian berani melakukan hal ini," kata Wali Kota Lu Hong tiba-tiba bicara.


"Tentu saja kami berani. Memangnya, kau pikir kami akan takut kepada manusia seperti dirimu?" Zhang Fei memberikan senyuman sinis kepadanya.


"Sebenarnya apa yang kalian inginkan?" tanyanya tanpa menghiraukan ucapan Zhang Fei.


"Kami hanya tahu, mengapa kau menyembunyikan para warga itu di dalam penjara bawah tanah?"


"Ini semua salah paham. Yang sebenarnya tidak seperti itu," ujarnya mencoba mengelak.


"Dusta!" kata Yang Shen tiba-tiba membentak. "Kau pikir rencana busukmu untuk mengambil hak rakyat secara perlahan, tidak diketahui oleh orang lain?"


"Hemm ..." Wali Kota Lu Hong mendengus dingin. Dia menatap ke arahnya dengan tatapan penuh amarah.


Wushh!!!


Pada saat seperti itu, tiba-tiba Zhang Fei bergerak dengan sangat cepat. Wali Kota Lu Hong dan tiga pengawalnya belum menyadari apa yang telah terjadi.


Beberapa saat kemudian, Zhang Fei sudah kembali ke tempatnya semula. Kini di tangan kanannya terlihat sebuah lencana warna hitam!


"Partai Iblis Sesat!"