Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Partai Tujuh Warna II


Sekarang, yang tersisa hanyalah bangunan rusak dan darah yang menggenang. Zhang Fei dan Kai Luo masih ada di halaman itu. Keduanya memandang ke sana sini.


Perasaan mereka sangat terpukul. Apalagi setelah melihat ada banyak warga yang turut menjadi korban penyerangan.


Terhadap pemandangan yang tersedia di depan matanya sekarang, mereka tidak mampu berkata apa-apa. Keduanya hanya bisa menghela nafas berat dan menyesali semua peristiwa ini.


Ketika sedang melamun, tiba-tiba dari depan sana, ada seorang tua yang sedang berjalan ke arahnya.


Usia orang itu paling banyak baru enam puluh delapan tahun. Walaupun mirip pengemis, tapi wajahnya sangat berwibawa.


Dia memberikan hormat kepada Zhang Fei dan Kai Luo sebelum berbicara. Setelah selesai, barulah ia mengucapkan terimakasihnya.


"Tuan penolong berdua, terimakasih. Terimakasih. Andai saja tidak ada kalian, mungkin markas cabang ini sudah hancur lebur menyatu bersama tanah," ucap orang tua itu penuh kesedihan.


"Tuan tidak perlu berlebihan. Semua ini sudah menjadi kewajiban kita," jawab Orang Tua Aneh Tionggoan sambil tersenyum.


"Kalau Tuan berdua tidak keberatan, bagaimana jika kita bicara barang sebentar?"


"Kalau tidak merepotkan, boleh saja,"


"Aih, tentu tidak. Mari, mari ..."


Dia kemudian mempersilahkan kedua penolongnya untuk berjalan lebih dulu. Ia sendiri lebih dulu memerintahkan anggotanya untuk mengurus mayat-mayat itu dengan layak.


Setelah selesai menurunkan perintah, ia langsung masuk ke dalam.


Beberapa kejap kemudian, Zhang Fei dan Kai Luo sudah duduk di sebuah ruangan yang cukup besar. Di dalam ruangan itu terdapat benda-benda cukup mewah.


Di depan mereka ada meja. Di atasnya terdapat satu guci arak berukuran besar dengan tiga cawan yang sudah terisi penuh.


Tidak lupa pula, di ruangan itu ada orang tua yang tadi menghampirinya.


"Perkenalkan Tuan, aku yang tidak berguna ini bernama Eng Jiu. Aku Ketua Cabang Partai Pengemis di kota ini," kata si orang tua memperkenalkan dirinya.


"Oh, selamat bertemu, Tuan Eng. Aku Kai Luo, ini rekanku, namanya Zhang Fei," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan dengan cepat.


"Kai Luo? Bukankah Tuan adalah ... Orang Tua Aneh Tionggoan?" tanya Eng Jiu dengan ekspresi terkejut.


"Tidak kusangka, kau juga mengenalku," ia kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Aih, mana ada orang yang tidak kenal denganmu, Tuan? Bukankah kau adalah ..."


"Sudahlah, lupakan soal itu," katanya memotong pembicaraan. "Ngomong-ngomong, bukankah mereka yang menyerang markasmu, adalah anggota Partai Tujuh Warna?"


"Benar, Tuan. Mereka adalah anggota Partai Tujuh Warna,"


"Hemm, kenapa orang-orang itu menyerang?"


"Aku sendiri tidak tahu pasti. Hanya saja tiga hari yang lalu, markas pusat mengirimkan surat peringatan agar setiap cabang Partai Pengemis selalu waspada,"


Orang Tua Aneh Tionggoan mengerutkan keningnya. Dia sedikit bingung dengan keterangan yang diberikan oleh Eng Jiu.


Tidak terkecuali dengan Zhang Fei sendiri, ia pun turut memeras otak dan memikirkan peristiwa itu. Hanya saja karena keterangan yang didapat tidak banyak, maka dirinya juga menemukan jalan buntu.


"Anak Fei, bagaimana tanggapanmu terkait hal ini?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan sambil melirik ke arahnya.


"Ya, sepertinya memang begitu, Tuan Muda. Sebab setahuku, anggota yang ada di kota ini tidak pernah mencari perkara dengan siapa pun. Apalagi dengan Partai Tujuh Warna,"


Tentu saja Eng Jiu tidak berani mencari perkara dengan partai itu. Lagi pula, siapa yang tidak mengetahui Partai Tujuh Warna?


Partai Tujuh Warna adalah salah satu dari tiga partai sesat terbesar yang terdapat di Tionggoan. Walaupun partai itu menempati urutan terakhir, tapi kemampuannya tentu tidak bisa dipandang ringan.


Orang Tua Aneh Tionggoan mengetahui hal itu. Karenanya dia merasa yakin terhadap ucapan Eng Jiu.


"Ternyata begitu, baiklah. Aku mengerti," ia menganggukkan kepala. Kai Luo meneguk arak dalam cawan, setelah selesai dia berbicara lagi. "Tuan Eng, apakah Kota Changsha ini terbilang aman?" tanyanya lebih jauh.


"Sampai pada saat ini, aku rasa aman, Tuan. Hanya sering terjadi masalah-masalah kecil. Dan untuk hal itu, Tuan Kai tidak perlu khawatir. Partai Pengemis pasti tidak akan tinggal diam melihat ketidakadilan ini. Lagi pula, ada cukup banyak tentara Kekaisaran yang bertugas di kota ini,"


"Syukurlah,"


Orang Tua Aneh Tionggoan kemudian melirik kepada Zhang Fei. Sesaat kemudian ia berkata lagi. "Tuan Eng, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama lagi tinggal di sini. Aku masih punya urusan yang harus segera diselesaikan,"


Dua orang itu segera bangkit berdiri. Mereka berniat untuk pergi dari sana.


"Aih, kenapa harus terburu-buru, Tuan Kai? Tapi ... baiklah, aku mengerti. Sekali lagi, aku ucapkan terimakasih atas bantuannya dan juga bantuan Tuan Muda,"


Eng Jiu sekali lagi memberikan hormat kepada mereka.


Setelah itu, Zhang Fei dan Kai Luo pun langsung keluar dari sana. Begitu tiba di jalanan, orang tua itu menghentikan langkah dan melirik ke arah Zhang Fei.


"Sepertinya kita tidak bisa berkelana lebih jauh, anak Fei," ucapnya dengan ekspresi wajah serius.


"Lalu, ke mana tujuan kita selanjutnya?"


"Ke Kota Lijiang. Di sana adalah markas pusat Partai Pengemis. Aku rasa, dalam waktu dekat ini, partai itu akan mengalami suatu musibah,"


"Oh, baiklah. Aku akan ikut denganmu, Tuan Kai,"


"Baik. Mari kita pergi sekarang,"


Mereka berdua melanjutkan langkahnya kembali. Orang Tua Aneh Tionggoan lebih dulu membeli dua ekor kuda jempolan. Hal itu ia lakukan supaya perjalanan menuju ke Kota Lijiang bisa lebih cepat dari seharusnya.


Setelah mendapatkan apa yang dibeli, keduanya langsung berangkat.


Kai Luo berada di bagian depan. Dia menjadi pemimpin perjalanan.


Dua ekor kuda mulai berlari dengan sangat kencang. Kepulan debu mengepul tinggi ke tengah udara. Kau Luo tidak mau membuang waktu lebih lama. Apapun yang terjadi, dia harus bisa membantu Partai Pengemis.


Jarak antara Kota Changsha dengan Kota Lijiang sebenarnya cukup jauh. Setidaknya mereka harus memerlukan sepuluh hari perjalanan apabila menggunakan jalur darat.


Namun karena sekarang keduanya sedang diburu waktu, maka mereka memutuskan untuk menempuh jalan pintas.


Sebagai orang yang sudah terbiasa berkelana dalam dunia persilatan, tentu saja Orang Tua Aneh Tionggoan mengetahui jalan mana yang harus ia tempuh.


Dia membawa Zhang Fei menelusuri hutan-hutan belantara yang tidak berujung pangkal. Mereka tidak pernah menghentikan perjalanannya kecuali untuk melakukan hal-hal pokok, atau menemukan persoalan yang cukup mengganggu.


Hingga pada akhirnya, tepat di hari kedelapan, keduanya telah berada di sebuah desa mati yang berbatasan langsung dengan Kota Lijiang.


Saat itu sudah sore hari. Karena kuda yang mereka tunggangi kelelahan, akhirnya Kai Luo pun mengajak Zhang Fei berhenti. Keduanya beristirahat di sebuah kuil bobrok yang sudah lama tidak terpakai.