
"Apakah kau tidak berbohong?" Yin Yin menatap lebih tajam lagi.
"Buat apa aku harus berbohong? Tentu saja aku serius," ucap Zhang Fei sambil tersenyum. "Ngomong-ngomong ... mengapa kau menanyakan hal ini? Apakah kau takut, kalau dia adalah istriku?"
Zhang Fei menggoda gadis itu. Dia mendekatkan wajahnya. Bau harum nafas Yin Yin tercium cukup jelas. Kecantikan wajahnya juga semakin terlihat nyata. Begitu pun sebaliknya.
Jantung Yin Yin berdetak lebih kencang dari biasanya. Peluh telah keluar dari kening. Namun sebisa mungkin ia tetap menjaga sikapnya.
Keduanya cukup lama terdiam dalam posisi itu. Sekitar beberapa saat kemudian, Yin Yin baru berkata lagi.
"Jangan sok tahu. Aku hanya bertanya saja," sembari berkata demikian, gadis itu pun langsung berlalu pergi dari sana.
Zhang Fei memandangi kepergiannya. Seulas senyuman tiba-tiba muncul di bibirnya.
"Dasar wanita," gumamnya sambil menggelengkan kepala.
Ia kemudian masuk ke kamar. Kebetulan, suasana di dalam kamar itu bisa dibilang gelap. Untuk membuat keadaan lebih terang, Zhang Fei lalu menyulut lentera yang sudah tersedia.
Namun siapa sangka, ketika lentera sudah menyala, tiba-tiba saja dirinya terkejut. Sebab dia melihat pada saat itu sudah ada seseorang yang menunggunya di atas pembaringan.
"Kenapa? Kau terkejut?"
Orang di atas pembaringan bertanya dengan nada tidak senang. Bersamaan dengan itu, dia pun langsung bangkit berdiri dan menghampiri Zhang Fei.
"Nona Mei ... sejak kapan kau ada di kamarku?" tanyanya.
Zhang Fei kaget setelah mengetahui bahwa orang itu adalah Yao Mei. Tidak tidak menyangka sama sekali. Bahkan dirinya juga tidak tahu bagaimana gadis itu bisa ada di kamarnya.
"Sejak kapan pula kau genit kepada perempuan? Ada hubungan apa kau dengan gadis tidak tahu malu itu, hah? Ayo jawab! Mengapa kau diam saja?"
Yao Mei langsung marah-marah. Entah kenapa, ketika melihat dari celah kamar terhadap apa yang dilakukan oleh Zhang Fei, hatinya langsung terasa panas. Panas seperti dibakar.
Maka dari itulah, saat ini dia ingin meluapkan kemarahannya.
"Dua orang Ketua melakukan hal seperti itu di tempat umum, benar-benar tidak tahu malu," lanjut Yao Mei sambil tersenyum sinis. "Ternyata benar kata orang, semua pria sama saja,"
Yao Mei berjalan ke pojok kamar. Dia membuka segel arak dan langsung meminumnya tanpa henti.
Sementara Zhang Fei, saat ini dia justru merasa bingung. Ia bingung harus bicara apa dan bersikap bagaimana.
Ia melamun cukup lama. Kejadian ini hampir mirip dengan kejadian yang pernah dialaminya saat dahulu kala.
Hanya saja, gadis yang terlibatnya sedikit berbeda. Kalau dulu antara Yin Yin dan Yu Yuan, maka sekarang antara Yin Yin dan Yao Mei.
"Hahh ..." ia menghembuskan nafas panjang.
Dari kejadian ini, Zhang Fei semakin sadar bahwa semua wanita, hampir memiliki sifat dasar yang sama.
Setelah tersadar dari lamunannya, buru-buru Zhang Fei menghampiri Yao Mei. Kemudian dia berkata, "Nona Yin, jangan salah paham dulu. Aku dan dia pun tidak ada hubungan apa-apa. Dia hanya kenalan lamaku saja. Sungguh, aku tidak berbohong,"
"Kenalan lama? Apakah terhadap kenalan lama, harus seperti itu?" Yao Mei menarik muka. Setelah berhenti, dia bicara lagi, "Dia kenalan lamamu, tapi sudah bisa bertatap muka sedekat itu. Lalu aku, orang yang hampir sehidup semati denganmu ketika di Gunung Lima Jari, apa yang telah kau berikan kepadaku? Pernahkah kau memperlakukan aku seperti itu?"
Yin Yin berkata dengan nada cukup keras. Ia benar-benar marah. Gadis itu benar-benar benci.
Mengapa dia belum mendapat perlakuan istimewa dari pria yang dikaguminya selama ini? Apakah dia kurang cantik? Kurang menarik? Atau ... kurang apa?
Seumur hidup, dia hanya menangis satu kali saja. Yaitu ketika kehilangan ibunya.
Tapi siapa sangka ... malam ini, air mata itu kembali keluar. Keluar karena kekecewaannya terhadap pria yang dianggap paling istimewa.
Gadis itu berniat untuk pergi dari sana dengan membobol jendela kamar. Tapi siapa nyana, baru saja kakinya akan melangkah, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menggenggamnya dengan erat.
Tangan tersebut lalu menarik tubuhnya. Pada saat itu, Yao Mei sudah tidak mempunyai tenaga lagi. Dia benar-benar lemas tak berdaya.
"Maafkan aku, Nona Mei. Jangan menangis lagi. Aku memang belum mendekatkan wajahku dengan wajahmu seperti halnya tadi kepada Yin Yin. Tapi ketahuilah, aku belum pernah memeluk wanita mana pun seperti ini. Kecuali hanya dirimu," ucap Zhang Fei dengan lirih.
Ia berkata di sisi telinga Yao Mei. Dan gadis itu langsung merasakan kehangatan yang sulit untuk dijelaskan.
Yao Mei bisa mendengar ucapan tersebut. Namun dia tidak mau menjawabnya. Ia tidak ingin melakukan apapun. Kecuali hanya ingin merasakan pelukan Zhang Fei lebih dalam dan lebih lama lagi.
Sementara itu, selama kejadian itu berlangsung, sebenarnya Zhang Fei merasa jantungnya berdebar kencang. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh. Telapak kakinya pun terasa dingin. Lututnya lemas.
Perlu diingat, seumur hidup, rasanya Zhang Fei baru pertama kali melakukan hal seperti ini. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya.
Yang pasti, Zhang Fei merasa bahwa semua itu berjalan begitu saja. Mengalir sendiri seperti air di sungai-sungai.
Lama ... lama sekali mereka berpelukan. Meskipun tidak ada yang berbicara, tetapi semua itu sudah lebih daripada segalanya.
Namun tanpa diketahui oleh Yao Mei, sebenarnya Zhang Fei juga merasa tidak enak terhadap Yin Yin.
Tidak dapat dipungkiri, ia pun seperti memiliki perasaan lain kepada gadis itu.
Perasaan yang sulit dijelaskan. Perasaan tersebut hampir sama seperti perasaannya kepada Yao Mei.
Apakah itu artinya ... Zhang Fei juga mencintai Yin Yin?
Entahlah. Biarkan waktu yang menjawab hal tersebut.
Sementara itu, tanpa terasa tengah malam telah lewat. Yao Mei juga sudah berhenti menangis. Perlahan-lahan Zhang Fei melepaskan pelukannya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, apakah sudah lebih tenang?" tanyanya sambil tersenyum hangat.
Yao Mei masih tidak bicara. Dia hanya tersenyum sebagai jawabannya.
"Baiklah, kalau begitu, segeralah kembali ke kamarmu, Nona Mei. Tidurlah. Besok kita harus bangun pagi,"
Gadis itu masih belum bicara. Tapi senyuman dibibir yang merah merekah itu sudah menjawab semuanya.
Ia kemudian berlalu pergi dari kamar. Perlahan namun pasti, suara langkah kakinya semakin jauh dan akhirnya tidak terdengar lagi.
"Malam yang sangat bersejarah," gumam Zhang Fei sambil tersenyum.
Dia langsung naik ke atas pembaringan. Tubuhnya sudah terasa lelah. Matanya juga mulai mengantuk. Tetapi sampai beberapa waktu, Zhang Fei masih tidak dapat tidur.
Bayangan wajah dua orang gadis cantik itu terus berputar-putar di benaknya. Zhang Fei tidak tahu mengapa ia bisa memikirkan wajah-wajah tersebut.
Yang jelas, dia baru bisa tidur setelah beberapa lama kemudian.