
Si Cakar Maut tidak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya meliriknya sekilas, lalu mengumpulkan tenaga dalam dan menyerang Zhang Fei kembali.
Wushh!!!
Hawa sesat langsung terasa. Sepuluh kuku yang tak kasat mata seketika terbentuk. Meskipun tidak terlihat, tapi rasa sakitnya akan tetap terasa kalau sampai terkena ilmu sesat itu.
Serangan yang dilancarkan oleh si Cakar Maut benar-benar berbahaya. Dalam hal ini, sepertinya dia sudah mengerahkan tenaga sekitar lima bagian.
Meskipun baru setengahnya, tapi Zhang Fei sudah merasa tertekan oleh hawa pembunuh yang keluar dari tubuh datuk sesat itu.
Sebagai Datuk Dunia Persilatan aliran sesat yang menempati urutan pertama, rasanya tidak heran kalau kekuatannya juga begitu tinggi.
Dia tidak memberikan kesempatan kepada Zhang Fei. Setiap saat yang terlewati, serangannya semakin terus bertambah cepat dan berbahaya lagi.
Dipaksa dengan keadaan, mau tak mau Zhang Fei juga harus mengambil tindakan. Buru-buru dia melindungi seluruh tubuhnya dengan hawa murni. Setelah usaha itu selesai, dia melanjutkannya dengan menyalurkan tenaga dalam ke telapak tangan.
Benturan antar tulang terdengar cukup keras. Dua orang yang bertarung itu berubah menjadi jejak bayangan. Dia macam sinar yang tercipta membuat mata silau.
Empat Datuk Dunia Persilatan masih ada di sana. Tetapi sampai saat ini, mereka belum juga mengambil tindakan. Bukan karena tidak mau membantu Zhang Fei, bukan pula sengaja melakukan hal tersebut.
Melainka karena keempat tokoh rimba hijau itu bingung. Mereka takut melakukan kesalahan. Apalagi, pertarungan yang berlangsung tampak lebih cepat dan sengit dari sebelumnya.
"Kita tidak bisa turun tangan. Setan tua itu menyerang terlalu serius. Aku khawatir tindakan kita nanti akan membuat kesalahan yang malah merugikan anak Fei," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan kepada yang lain.
"Kau benar, setan arak. Mau tidak mau, untuk sementara waktu ini kita hanya bisa menjadi penonton," sambung Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Biarlah, kita lihat saja di sini. Kalau sampai anak Fei terluka, baru kita hajar setan tua itu tanpa ampun," ucap Pendekar Tombak Angin yang merasa gemas kepada si Cakar Maut.
"Benar, aku setuju," Dewi Rambut Putih mengangguk. Detik itu juga dia langsung mencabut pedang pusaka dari sarungnya.
Sementara itu, saat ini Zhang Fei masih dipaksa untuk berada di posisi bertahan. Bayangan cakar maut yang membawa bau busuk semakin kentara.
Zhang Fei meningkatkan kewaspadaannya. Dia tahu, saat ini situasinya sudah sangat genting. Kalau dirinya tidak bisa mengembalikan posisi dalam waktu beberapa saat ke depan, niscaya nyawanya akan terancam.
'Kalau begini keadaannya, terpaksa aku harus bertindak lebih jauh lagi,' batinnya berkata.
Wutt!!!
Zhang Fei langsung melompat tinggi ketika dia mempunyai kesempatan. Begitu berada di tengah udara, dia segera mengeluarkan jurus telapak tangannya yang baru.
"Tapak Buddha Maha Raja!"
Wushh!!!
Tekanan tenaga dalam yang mengeluarkan kilatan kuning emas terlihat untuk sesaat. Jurus telapak tangan kosong itu langsung menghantam di Cakar Maut dengan telak.
Blamm!!!
Datuk sesat tersebut terdorong mundur sampai lima langkah ke belakang. Dia merasakan dadanya sedikit sesak. Sejalur darah segar terlihat keluar di sudut bibir sebelah kanan.
Ia menatap Zhang Fei dengan tatapan kaget dan tidak percaya. Untuk sesaat, si Cakar Maut Yao Shi seperti lupa akan tujuannya.
"Tuan Yao Shi, tolong jelaskan dulu, mengapa kau tiba-tiba menyerangku? Bukankah di antara kita tidak pernah ada selisih sebelumnya?" tanya Zhang Fei masih sopan.
Dia penasaran dengan tindakan yang dilakukan olehnya. Zhang Fei yakin, dibalik ini pasti ada alasan kuat. Rasanya terlalu mustahil kalau orang tua itu menyerangnya tanpa ada alasan.
"Tentu saja aku ingat, bagaimana mungkin aku melupakanmu?"
Meskipun hubungan keduanya tidak bisa dibilang akrab, tapi Zhang Fei tentu tidak akan melupakannya. Apalagi kalau mengingat status yang disandang oleh orang tua itu.
"Bagus, kalau begitu, tentu kau juga masih ingat dengan janji kita?" tanyanya sambil menatap tajam.
"Janji? Janji yang mana, Tuan Shi?"
"Janji sebelum kau pergi mengembara bersama anakku, Yao Mei,"
Zhang Fei langsung termenung. Otaknya berjalan cepat. Dia berusaha mengingat kejadian-kejadian yang telah terjadi di masa lalu.
Setelah beberapa saat kemudian, terdengar dia menjawab. "Oh, soal itu. Ya, aku masih ingat, Tuan Shi,"
Yao Shi menganggukkan kepalanya beberapa kali, dia kembali menatap Zhang Fei sambil mengajukan pertanyaan. "Sejak saat itu sampai kini, berapa lama waktu yang sudah terlewatkan?"
"Mungkin sekitar tiga atau empat tahun,"
"Hemm ... selama ini, apakah kau melakukan pengembaraan seorang diri?"
"Benar,"
"Lalu, di mana anakku, Yao Mei? Mengapa selama beberapa tahun belakangan, dia tidak pernah kembali atau terdengar kabarnya lagi?"
Tatapan mata Yao Shi semakin tajam menusuk. Seolah-olah sepasang mata itu adalah dua mata pisau yang siap menembus merobek-robek isi tubuh Zhang Fei.
Ditatap sedemikian tajam seperti itu, tidak bisa dipungkiri lagi, Zhang Fei juga merasa bergidik ngeri.
Dalam waktu yang bersamaan, dia pun kebingungan. Zhang Fei bingung harus bicara dan menjawab bagaimana.
Apakah dia harus jujur terkait peristiwa yang dulu menimpa dirinya dan Yao Mei? Ataukah ia harus berbohong supaya semuanya terlihat baik-baik saja?
Cukup lama dia berpikir. Tadinya Zhang Fei berniat memilih pilihan nomor dua. Tetapi setelah dipikir-pikir kembali, ia mengurungkan niat tersebut.
Tiba-tiba Zhang Fei teringat dengan pepatah yang mengatakan bahwa, serahasia-rahasianya menyembunyikan bangkai, suatu saat pasti akan tercium juga baunya.
Dia tidak mau hal tersebut sampai terjadi. Karena akibat yang ditimbulkannya, pasti akan jauh lebih hebat dari sekarang.
"Tuan Shi, sebenarnya Nona Mei itu ... dia ..." Zhang Fei bicara gugup. Dia tidak mampu bicara lebih jauh.
"Apa? Bicara yang jelas!" bentak Yao Shi kepadanya.
Zhang Fei menarik nafas dalam-dalam. Dia mencoba menenangkan dirinya. Setelah merasa tenang, barulah dia bicara kembali.
"Tuan Shi, sebenarnya memang sudah cukup lama aku tidak mengembara bersama Nona Mei. Terakhir kami bersama adalah ketika melawan Pendekar Tangan Dewa dan kawan-kawannya di puncak Gunung Lima Jari,"
Zhang Fei melanjutkan ceritanya sampai tunas. Lima orang Datuk Dunia Persilatan yang ada di sana menjadi pendengar yang baik. Mereka seperti anak kecil yang sedang mendengarkan orang tuanya bercerita.
"Tapi walaupun begitu, aku yakin Nona Mei masih hidup sampai saat ini. Aku percaya terhadap surat misterius yang ditemukan di atas tubuhku," kata Zhang Fei mengakhiri ceritanya.
Tepat setelah itu, tiba-tiba segulung hawa sesat seolah-olah telah menyelimuti seluruh tempat sekitar. Si Cakar Maut Yao Mei mengepalkan kedua tangannya dengan kencang. Urat-urat di punggung tangan langsung terlihat jelas.
"Apa? Kau bilang ... puteriku telah terjun ke dasar jurang? Kau ..."