
Zhang Fei bisa merasakan hawa sesat yang keluar dari tubuh mereka masing-masing. Menurutnya, hawa sesat orang-orang itu bisa dibilang sangat kuat.
Untunglah dia bukan orang sembarangan, sehingga hawa sesat itu tidak memberikan efek berlebih terhadap dirinya.
Awalnya, Zhang Fei bersikap biasa saja. Cuma beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja dia memperlihatkan ekspresi terkejut. Ia benar-benar kaget setengah mati saat menyadari bahwa di antara orang-orang tersebut, ada seseorang yang sudah ia kenal sebelumnya.
'Pendekar Pedang Perpisahan Wen Wu ... hemm ... mengapa dia ada di sini? Apakah ia sedang mencari-cari informasi?' Zhang Fei bertanya-tanya dalam hati.
Dia tidak mungkin salah lihat. Yang ia saksikan tersebut, pasti bukan lain adalah Pendekar Pedang Perpisahan.
"Ah, sudahlah. Biarkan saja, aku akan pura-pura tidak melihatnya," gumam Zhang Fei mengambil keputusan.
Sementara itu, pelayan tadi terlihat sudah datang kembali. Dia berjalan dan mengantarkan pesanan Zhang Fei.
"Silahkan, Tuan Muda,"
"Terimakasih. Ini untukmu," Zhang Fei menjawab sambil memberikan satu keping perak sebagai uang tip.
"Terimakasih, Tuan Muda. Terimakasih. Semoga langit selalu melindungimu," katanya memberi hormat. Setelah itu, pelayan tersebut segera pergi lagi.
Di satu sisi, orang-orang yang hadir di sana sepertinya juga mendengar percakapan singkat barusan. Buktinya saja, sekarang salah satu dari mereka sedang memandangi Zhang Fei secara diam-diam.
Tatapan matanya mengartikan sesuatu. Tidak lama setelah itu, orang tersebut kemudian terlihat berbicara kepada yang lainnya.
Zhang Fei mengetahui bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh orang lain. Hanya saja dia bersikap pura-pura tidak tahu.
Ia mulai membuka segel arak dan segera meminumnya dengan tenang dan santai.
Sesekali, tanpa Zhang Fei sadari, Pendekar Pedang Perpisahan juga tampak memperhatikan ke arahnya. Sepertinya tokoh sesat itu juga sudah menyadari akan kehadirannya.
"Ngomong-ngomong, kapan kalian akan bergerak?" tanyanya kepada orang-orang tersebut.
"Mungkin sekitar satu minggu ke depan," jawab tokoh yang menurut Zhang Fei harus diwaspadai itu.
"Berapa banyak pasukan yang akan kau bawa nantinya?"
"Tidak terlalu banyak. Hanya saja, yang akan aku bawa nanti adalah pendekar-pendekar kelas atas. Menurutku, hal itu saja sudah cukup untuk mengacaukan situasi dunia persilatan di Kekaisaran ini. Apalagi dengan perpecahan para pendekar yang sampai sekarang masih berlangsung,"
Pendekar Pedang Perpisahan menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia bertanya lagi, "Memang benar. Dengan perpecahan yang berlangsung di negeri ini, itu menjadi satu kelemahan yang sangat pasti. Dan hal itu juga memberikan keuntungan bagi pihak lain yang ingin menguasainya,"
"Tepat sekali," seru tokoh sesat tersebut. "Karena itulah, Kekaisaran Jin kami ingin bertindak lebih jauh dari yang sebelumnya,"
"Ternyata, kalian benar-benar memanfaatkan situasi ini,"
"Hahaha ... itu sudah pasti. Mana mungkin kami akan menyia-nyiakan kesempatan yang sangat langka ini?"
Orang itu tertawa. Yang lainnya juga sama. Mereka seolah-olah percaya bahwa niatnya akan tercapai dengan mudah.
Setelah suara tawa itu berhenti, Pendekar Pedang Perpisahan kembali berkata lagi.
"Tapi, kalian harus tetap waspada dengan tokoh-tokoh di Kekaisaran ini. Terutama sekali dengan Ketua Dunia Persilatan yang baru," ujarnya secara tiba-tiba.
Mendengar itu, seketika Zhang Fei langsung melirik ke arahnya. Bersamaan dengan hal tersebut, dia pun juga melirik dan memberikan senyuman penuh arti.
Zhang Fei tahu bahwa tokoh sesat itu sedang merencanakan sesuatu. Maka dari itu, dia hanya memberikan anggukan kepala sebagai jawabannya.
"Ya, kau benar. Kami juga sudah mendengar tentangnya," jawab tokoh sesat yang diduga berasal dari Kekaisaran Jin tersebut. "Meskipun usianya masih begitu muda, tapi kabarnya kemampuan yang dia miliki sangat hebat. Apakah kabar itu benar adanya?" orang itu bertanya lagi kepada Pendekar Pedang Perpisahan. Seolah-olah dirinya sedang memastikan kembali hal tersebut.
"Hemm ... biarlah. Meskipun kemampuannya tinggi, tapi aku juga percaya dengan kemampuan sendiri. Apalagi dengan adanya kau di pihakku. Aku rasa, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi,"
"Kau tenang saja. Semuanya bisa diatur,"
Zhang Fei terus mendengar obrolan di antara mereka dengan seksama. Dari sini, ia tahu bahwa orang-orang yang duduk bersama Pendekar Pedang Perpisahan tersebut sudah tentu berasal dari Kekaisaran Jin.
Dari sini pula, dia semakin sadar bahwa situasi Kekaisarannya sangat berbahaya. Kalau tidak bertindak cepat, niscaya tanah airnya akan dikuasai oleh pihak luar.
Zhang Fei tidak mau hal itu sampai benar-benar terjadi. Karenanya, diam-diam dia pun sudah menyusun rencana untuk dikemukakan nanti di pertemuan bersama para Datuk Dunia Persilatan.
Sekitar lima belas menit kemudian, Zhang Fei bangkit dari posisinya. Dia langsung membayar biaya minumnya di depan kasir.
"Aku ingin satu guci arak lagi untuk di perjalanan, kembaliannya ambil saja. Aku terlalu banyak membawa kepingan uang," katanya sambil membayar, ia bicara nada suara cukup keras.
Setalah pelayan memberikan satu guci arak, dengan segera Zhang Fei berlalu dari sana. Dia hanya berjalan dengan tenang dan santai.
Zhang Fei sengaja tidak menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Sebab dia sudah mempunyai firasat yang sebentar lagi akan terjadi.
Ketika menemukan perempatan, Zhang Fei mengambil arah sebelah kanan. Kebetulan, yang dia tuju adalah jalan setapak pinggir hutan.
Keadaan di sana pastinya sangat sepi. Yang terdengar cuma suara burung-burung yang baru saja pulang mencari makan untuk keluarganya.
Ketika sedang menenggak guci arak, tiba-tiba ia melihat ada beberapa bayangan orang yang berkelebat. Hanya sesaat saja, orang-orang itu sudah berada tepat di hadapan Zhang Fei.
Jumlah mereka ada tujuh. Tentu saja, mereka adalah orang-orang yang ia temui tadi ketika berada di warung arak. Pendekar Pedang Perpisahan pun ada di dalamnya.
Zhang Fei bersikap acuh. Dia tidak menghiraukan kehadirannya. Kedua Dunia Persilatan itu terus berjalan seolah-olah di sana tidak ada orang lain kecuali dirinya.
Siapa sangka, ketika jarak yang tersisa tinggal tiga langkah, tiba-tiba salah satu dari mereka membentak kepadanya.
"Berhenti! Apakah kau tidak melihat ada kami di sini?"
Zhang Fei lalu memandang wajahnya. Dengan hambar dia menjawab, "Aku bukan orang buta. Sudah tentu aku pun melihat kalian,"
"Lalu, mengapa kau tetap berjalan?"
"Memangnya kenapa? Pada dasarnya, aku sedang melakukan perjalanan,"
"Bodoh!" orang itu membentak lagi. "Kau tidak boleh melanjutkan perjalanan sebelum menyerahkan semuanya,"
"Menyerahkan apa?"
"Tentu saja barang-barang yang kau bawa itu,"
"Aku tidak membawa apapun juga. Sudahlah, Tuan. Berikan aku jalan,"
Dia kembali melangkahkan kaki. Tapi lagi-lagi, orang tersebut membentak. Kali ini, dia bahkan menurunkan tangan kejam kepadanya.
Wushh!!!
Satu buah pukulan datang dari depan. Serangan itu mengarah ke bagian wajah. Tapi dengan cepat, Zhang Fei menghindarinya.
Dia memiringkan tubuh seperti tidak disengaja. Dan serangan orang itu lewat begitu saja.
"Mengapa Tuan menyerangku?" tanyanya pura-pura tidak mengerti.