
"Karena ... karena aku ingin pergi bersama kalian. Aku ingin jalan-jalan dan mengetahui bagaimana suasana di Kotaraja saat ini. Rasanya, sudah cukup lama aku tidak tahu dunia diluar sana," jawab Yao Mei.
Ia menundukkan kembali kepalanya. Seolah-olah gadis itu merasa begitu sedih.
Selama kurang lebih dua atau tiga tahun belakangan, ia terus berdiam di dalam goa saja. Yao Mei tidak pernah keluar dari sana.
Jangankan keluar dari goa, bahkan keluar dari hutan di mana goa itu berdiri pun, tidak diperbolehkan sama sekali. Kecuali kalau memang ada urusan tertentu saja.
Selama berada di sana, semua kebutuhan Yao Mei benar-benar ditanggung oleh Ratu Pedang Kembar Kesunyian. Salah seorang pengikut setianya selalu memenuhi dan melayani Yao Mei dengan sangat baik.
Jadi, tidak heran kalau terkadang dia merasa suntuk dan ingin pergi ke dunia luar.
Apalagi kalau diingat kembali, dulunya dia adalah gadis yang sangat liar. Setiap harinya, Yao Mei selalu melakukan pengembaraan ke semua kota atau tempat yang memang ingin dia datangi.
Dulu, ia bisa pergi dengan bebas dan tanpa ada hambatan.
Maka dari itu, kehidupannya di dalam goa benar-benar menyiksa, baik lahir maupun batin Yao Mei.
Sekarang, setelah berhasil keluar dari goa tersebut, bukankah wajar kalau Yao Mei ingin pergi jalan-jalan kembali?
Sementara itu, Zhang Fei tidak langsung menjawab. Dia malah menoleh ke arah Dewa Arak Tanpa Bayangan dan diam-diam meminta pendapat darinya.
Orang tua itu sendiri segera memberikan anggukan kepala. Pertanda bahwa dia memperbolehkan Yao Mei untuk ikut serta dalam perjalanannya menuju ke Istana Kekaisaran.
"Baiklah, Nona Mei. Kau boleh ikut bersama kami," katanya menjawab sambil tersenyum.
"Benarkah? Benarkah aku boleh ikut dengan kalian?" Yao Mei mengangkat wajah dan menatap Zhang Fei.
Dalam pada itu, ia pun tampak tersenyum gembira. Bola matanya seolah-olah bersinar karena kebahagiaan yang dia rasakan pada saat ini.
"Benar, Nona Mei. Tapi dengan catatan, selama perjalanan berlangsung, kau harus menuruti ucapanku ataupun ucapan anak Fei. Kau tidak boleh membantah, apalagi melakukan hal-hal diluar pengetahuan kami berdua," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan berbicara kepadanya.
"Baik. Aku pasti akan menuruti ucapan kalian berdua," jawab Yao Mei penuh semangat.
"Bagus. Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang juga," ajak Datuk Dunia Persilatan itu.
Yang lainnya segera mengangguk. Tiga ekor kuda kemudian terdengar meringkik cukup keras.
Ketiga ekor kuda itu kembali berlari dengan sangat kencang.
Perjalanan menuju ke Istana Kekaisaran itu bisa dibilang lancar tanpa adanya hambatan sedikit pun.
Selama perjalanan tersebut, tanpa terasa hubungan Zhang Fei dan Yao Mei terlihat lebih dekat dan akrab daripada sebelumnya. Setiap hari, mereka selalu bercanda tawa bersama.
Kadang-kadang kedua muda-mudi itu saling kejar satu sama lain. Kadang-kadang pula, Yao Mei naik di atas punggung kuda milik Zhang Fei. Sedangkan kuda yang ia tunggangi sendiri, dibiarkan berlari sekencang mungkin.
Semua yang dilakukan oleh keduanya tidak pernah lepas dari perhatian Dewa Arak Tanpa Bayangan. Karena melakukan perjalanan bersama, tentu saja dia mengetahui semuanya.
Namun sebagai orang yang sudah tua dan banyak pengalaman, Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak pernah memberikan banyak komentar. Ia tetap diam sambil tersenyum-senyum sendiri ketika melihat keduanya bercanda tawa.
Saat itu hari sudah masuk siang. Matahari tepat berada di atas kepala. Kebetulan, mereka bertiga lewat di jalan hutan yang berdekatan dengan sebuah sungai.
"Baiklah, Tuan Kiang. Mari kita ke sana," jawab Zhang Fei dengan cepat.
"Ah, benar. Kita bisa sekalian berenang untuk menyegarkan badan," ucap Yao Mei sambil menyuruh kudanya untuk menuju ke pinggir sungai.
Setelah tiba di sana, mereka segera turun dari punggung kuda masing-masing. Tiga ekor kuda diikat di batang pohon dan dibiarkan merumput. Sedangkan penunggangnya segera berjalan ke tepi sungai.
Sungai itu cukup lebar. Arusnya tidak terlalu deras, sehingga aman kalau berenang di sana. Airnya juga jernih dengan warna kebiruan.
"Tuan Kiang, biar kami saja yang mencari ikan," tukas Yao Mei.
"Ah, baiklah. Kalau begitu, aku yang akan mencari kayu bakarnya saja,"
Dewa Arak Tanpa Bayangan tersenyum sambil mengangguk. Dia kemudian berjalan ke dalam hutan dan mulai mengumpulkan kayu bakar.
Sedangkan Zhang Fei dan Yao Mei, mereka segera berenang di sungai tersebut. Karena keduanya sudah terbiasa hidup bebas di alam, maka untuk mencari ikan itu bukanlah suatu perkara sulit.
Hanya beberapa waktu saja, mereka sudah berhasil menangkap beberapa ekor ikan dengan ukuran cukup besar.
Ikan-ikan itu dilemparkan ke darat. Dewa Arak Tanpa Bayangan segera mengambil dan membakarnya. Sedangkan kedua muda-mudi itu sendiri memilih untuk kembali berenang.
Dalam kegiatan tersebut, Zhang Fei dan Yao Mei juga menyempatkan diri untuk bercanda. Mereka bermain air layaknya anak-anak kecil.
Dewa Arak Tanpa Bayangan bisa melihat kelakuan mereka berdua. Dan untuk yang kesekian kalinya, ia kembali dibuat tersenyum-senyum sendiri.
"Mereka benar-benar cocok sekali. Yang satu tinggi dan tampan. Satunya lagi tinggi cantik serta mempesona. Kalau sampai keduanya berjodoh, niscaya mereka akan melahirkan anak yang tidak jauh berbeda dari orang tuanya," Dewa Arak Tanpa Bayangan bergumam seorang diri.
Entah kenapa, melihat kegembiraan di wajah Zhang Fei dan Yao Mei, ia pun ikut merasa senang.
Dalam hatinya, orang tua itu sangat berharap kalau mereka berdua akan berjodoh.
Andai saja hal itu benar-benar terjadi, maka niscaya, kelak mereka akan melahirkan anak yang luar biasa. Selain anak itu bakal mempunyai berkemampuan tinggi, pastinya juga akan cantik ataupun tampan.
"Tapi ... benarkah si tua bangka Yao Shi itu akan setuju kalau Nona Mei menikah dengan anak Fei?"
Ia kembali melamun. Lamunannya bahkan terlihat sangat serius sekali. Seolah-olah dia sedang memikirkan suatu masalah yang sangat besar dan rumit.
"Hemm ... lihat saja. Kalau si tua bangka tidak setuju akan hal ini, aku pasti akan memotong lidah dan membuatnya menderita seumur hidup," gumamnya sambil memegang erat ranting pohon sampai dibuat patah menjadi beberapa bagian.
"Tuan Kiang, apa yang terjadi denganmu? Mengapa sejak tadi kau terus melamun?"
Orang tua itu kaget. Dia baru sadar bahwa Zhang Fei dan Yao Mei sudah naik ke darat. Bahkan pada saat ini, mereka berdua telah berada tepat di sisinya.
"Ah, tidak, anak Fei," jawbanya buru-buru sambil menggelengkan kepala. "Aku hanya memikirkan masalah yang sampai saat ini masih terjadi,"
"Benarkah? Tuan Kiang tidak berbohong, bukan?" tanya Yao Mei dengan senyuman menggoda.
"Tentu saja tidak, Nona Mei," jawabnya terlihat serius. "Sudahlah, lihat! Ikannya sudah mulai matang,"