
Zhang Fei langsung bengong seketika. Cawan arak yang hendak dia minum, mendadak disimpan di atas meja. Ia tidak jadi minum, mungkin saking kagetnya mendengar ucapan Dewa Arak Tanpa Bayangan barusan.
Tidak terkecuali dengan Orang Tua Aneh Tionggoan.
Dua orang itu seakan tidak percaya dengan ucapannya.
"Ada apa? Kenapa kalian mendadak aneh seperti itu?" tanyanya heran.
"Tua bangka, kalau benar ucapanmu, itu artinya, di kota ini sudah ada bahaya besar yang memberikan ancaman,"
"Karena itulah aku mengajak kalian untuk menghadiri pertemuan mereka. Aku yakin, pertemuan itu akan membahas suatu rencana,"
"Hemm ... kalau kau sudah tahu banyak tentang kota ini, lalu kenapa dirimu belum mengambil tindakan?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan sambil menatap tajam.
"Siapa bilang? Aku sudah beberapa kali menghajar anak buah dari tiga kelompok ini. Malah beberapa petinggi mereka sudah tewas di tanganku,"
"Kenapa hanya para petingginya? Kenapa tidak kau bunuh sekalian para Ketua atau bahkan si tua Ouw itu sendiri?"
Dengan kekuatan Dewa Arak Tanpa Bayangan yang termasuk ke dalam bagian Datuk Dunia Persilatan, bukankah membunuh orang-orang itu, sama dengan membalikkan telapak tangan? Lalu, kenapa dia tidak mau melakukannya?
Orang tua tersebut menghela nafas panjang dan berat. Setelah menghabiskan arak dalam cawan, ia segera bicara lagi.
"Kalau hanya membunuh anak buahnya, itu bukan perkara sulit. Tapi untuk membunuh para Ketuanya, aku tidak berani bertindak gegabah. Karena takut nantinya akan menjadi bibit bencana. Bisa-bisa niatku untuk membunuh Hartawan Ouw malah akan terbongkar,"
Datuk Dunia Persilatan itu berhenti sebentar untuk mengambil nafas. Sesaat kemudian, terdengar dia bicara kembali.
"Walaupun kekuatanku cukup lumayan, tapi apabila menghadapi banyak tokoh sekaligus, rasanya aku pun bakal mati konyol. Jangan lupa, aku bukanlah Dewa yang ada di alam Nirwana sana," ujarnya lalu tertawa.
Orang tua itu berkata jujur dan apa adanya. Sekuat apapun seorang pendekar, ia akan tetap kewalahan apabila menghadapi banyak musuh sekaligus.
Kalau musuhnya adalah pendekar rendah, mungkin hal tersebut masih bisa dipaksakan. Tapi apa jadinya apabila musuh-musuh itu adalah tokoh kelas atas?
Bukankah hal itu sama dengan bunuh diri?
Zhang Fei dan Orang Tua Aneh Tionggoan menganggukkan kepalanya beberapa kali. Kedua orang itu paham betul apa yang dimaksud oleh Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Baiklah, baiklah. Aku paham," kata Orang Tua Aneh Tionggoan kemudian. "Lalu sekarang, setelah adanya kita bertiga, apakah sudah cukup untuk menghadapi orang-orangnya si iblis tua Ouw itu?"
"Tentu saja cukup,"
"Bagus. Kalau begitu, kita hanya tinggal menunggu tanggal mainnya tiba,"
Mereka bertiga melanjutkan lagi kegiatan makan dan minumnya sampai larut tengah malam. Setelah kentongan pertama terdengar, orang-orang itu segera keluar dari restoran besar tersebut.
Mereka kembali ke penginapan yang sebelumnya memang sudah dipesan.
###
Waktu yang dinantikan akhirnya tiba juga. Sekarang, tepat hari ketujuh setelah terjadinya peristiwa di markas Kelompok Bunga Merah.
Selama menunggu hari itu, Zhang Fei dan dua Datuk Dunia Persilatan tersebut terus memantau Kota Ouw.
Ternyata beberapa hari belakangan, tidak sedikit orang-orangnya Hartawan Ouw yang mencari mereka. Terutama sekali mencari Zhang Fei. Pasalnya karena anak muda itu sudah berani membuat kekecauan di wilayahnya tersebut.
Untunglah, mereka bukan orang sembarangan. Sehingga tidak mudah untuk menangkapnya. Lagi pula, secara kebetulan di kota tersebut tidak ada orang yang mengenali ketiganya.
Maka dari itulah mereka selamat dari pencarian tersebut.
Saat ini waktu telah menunjukkan malam. Sebentar lagi, kentongan pertama akan segera dibunyikan.
Zhang Fei dan dua orang tua lainnya sudah berada dalam keadaan siap. Mereka siap meluncur menuju ke rumah Hartawan Ouw!
"Mari kita berangkat," ujar Dewa Arak Tanpa Bayangan kepada dua rekannya.
"Baik,"
"Mari," jawab mereka hampir bersamaan.
Wushh!!! Wushh!!!
Tiga bayangan manusia telah melesat secepat kilat. Setelah mengerahkan ilmu meringankan tubuh, ketiganya seolah-olah berubah menjadi jejak bayangan.
Sekitar sepuluh menit kemudian, akhirnya orang-orang itu tiba juga di tempat tujuan utamanya. Sekarang mereka ada di antara dahan-dahan pohon yang berukuran cukup besar.
Mereka mengawasi bangunan megah yang tidak berada jauh dari tempatnya berada. Bangunan itu berdiri di ujung kota.
Dari kejauhan, sudah terlihat ada cukup banyak orang yang berjalan keluar masuk. Sepertinya mereka adalah orang-orangnya Hartawan Ouw.
"Kapa kita akan bergerak?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Sebentar lagi. Sekarang, aku akan ke sana dulu. Kalau situasinya sudah aman, aku akan segera memberitahu kalian,"
Tanpa membuang waktu lebih lama, dia langsung melesat ke sana.
Sekarang, di antara dahan pohon itu hanya ada Zhang Fei dan Orang Tua Aneh Tionggoan saja. Mereka berdua tetap mengawasi ke sana, sambil menunggu aba-aba dari Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Waktu terus berlanjut. Beberapa saat kemudian, terlihat dari depan sana, Dewa Arak Tanpa Bayangan memberikan isyarat menggunakan tangan kepada dua sahabatnya.
"Mari kita ke sana, anak Fei," ujar Orang Tua Aneh Tionggoan begitu melihat isyarat tersebut.
"Baik, Tuan,"
Wushh!!! Wushh!!!
Keduanya melesat dengan kecepatan kilat. Baru sebentar saja, mereka telah tiba di tempat yang dituju.
Tiga orang itu berada di celah-celah wuwungan. Karena gelapnya malam, maka keberadaan mereka tidak bisa diketahui oleh pihak musuh.
Dewa Arak Tanpa Bayangan tiba-tiba membuka satu genteng atap. Ia kemudian menyuruh Zhang Fei dan Orang Tua Aneh Tionggoan untuk melihat ke bawah sana.
Begitu menengok, ternyata di bawah sana, tepatnya di dalam sebuah ruangan yang cukup besar, sudah terlihat ada beberapa orang manusia yang duduk di kursi mewah.
Kalau dihitung, jumlahnya sekitar tujuh orang. Di antara tujuh orang itu, ada satu orang yang mempunyai tubuh gemuk. Persis seperti bola.
Tidak bisa dipungkiri lagi, mungkin si gemuk itulah yang dimaksud dengan Hartawan Ouw.
"Apakah mereka target utama yang kita cari?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan dengan suara pelan.
"Benar," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan membenarkan. "Si gemuk itulah si iblis tua Ouw. Tiga orang di sisinya adalah pengawal pribadi. Dua orang yang mengenakan pakaian hijau itu, adalah petinggi sekaligus Ketua dari Kelompok Bunga Hijau. Sedangkan dua sisanya, dari Kelompok Bunga Hitam,"
"Apa yang sedang mereka bicarakan, Tuan?" tanya Zhang Fei lebih jauh.
"Aku tidak tahu pasti. Hanya saja, sebelumnya aku sempat mendengar bahwa mereka sedang menyusun sebuah rencana untuk memperluas wilayah kekuasaannya,"
Saat itu, Zhang Fei ingin bicara lebih lanjut. Tapi niatnya harus diurungkan ketika ia melihat isyarat dari Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Kita dengarkan dulu apa yang mereka bicarakan,"
Mereka mengangguk. Dengan cepat orang-orang itu memasang telinganya lebih tajam lagi.