
Zhang Fei tidak bisa memungkiri hal tersebut. Selama perjalanannya ini, dia sudah cukup banyak terlibat dengan berbagai macam masalah.
Malah masalah yang pernah dia hadapi, ada beberapa yang bisa dibilang cukup rumit. Salah satunya adalah masalah dengan Partai Panji Hitam dan juga Partai Iblis Sesat.
Lebih daripada itu, ia juga sering terlibat dengan pertarungan-pertarungan yang melawan para pendekar perorangan.
Bagaimana kalau apa yang ia katakan barusan benar-benar terjadi? Mungkinkah dia bisa menghadapi mereka semua? Apakah ia bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik?
Berbagai macam pertanyaan tiba-tiba muncul. Bayangan demi bayangan mulai berkelebat dalam benaknya.
"Kemungkinan besar memang seperti itu," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan yang juga tidak memungkiri ucapannya. "Tapi, tenang saja. Kalau kau mendapat situasi yang sangat sulit, pasti akan ada orang yang akan menolongmu,"
"Baiklah, Tuan, aku mengerti. Semoga saja aku bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik," kata Zhang Fei berusaha memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
"Pasti bisa," katanya sambil menepuk pundak.
Dewa Arak Tanpa Bayangan tiba-tiba bangkit berdiri. Zhang Fei pun dengan segera mengikutinya.
"Aku harus pergi dulu, anak Fei. Sebab masih ada tugas yang harus aku selesaikan dengan segera,"
"Baik, Tuan. Semoga tugasmu cepat selesai,"
"Terimakasih," katanya sambil tersenyum. "Ingat anak Fei, walaupun kau menanggung beban, tapi jangan pernah merasa terbebani,"
Selesai berbicara seperti itu, dengan cepat Dewa Arak Tanpa Bayangan melesat. Hanya beberapa kedipan mata saja, dia sudah menghilang dari pandangan mata.
Zhang Fei masih berada di sana. Ia tetap berdiri seperti tadi.
Saat ini, anak muda itu sedang berusaha meresapi makna yang terkandung dalam ucapan terakhir Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Walaupun kau menanggung beban, tapi jangan pernah merasa terbebani.
Lama, lama sekali Zhang Fei mencari jawabannya. Setelah beberapa waktu kemudian, tiba-tiba ia tersenyum girang.
"Aku mengerti. Ya, aku mengerti sekarang," katanya kegirangan.
Ia benar-benar merasa senang. Sebab pada akhirnya, Zhang Fei bisa mendapatkan ilmu yang baru lagi. Walaupun mungkin ilmu itu tidak berguna untuk bela diri, tapi ilmu barusan, jelas sangat berguna untuk kehidupan.
Wushh!!!
Zhang Fei segera pergi dari sana. Dirinya ingin membawa kuda putih yang sempat lupa di simpan di tempat penyimpanan kuda milik rumah makan tadi.
###
Beberapa hari sudah berlalu kembali. Zhang Fei terus melanjutkan perjalanan tanpa kenal lelah. Sampai pada akhirnya, dalam waktu lima hari ke depan, dia sudah tiba di kaki Gunung Lima Jari.
Rupanya, gunung itu berdiri tepat di ujung Kota Yunnan. Gunung Lima Jari berdiri kokoh di antara bukit-bukit yang menjulang tinggi.
Memandang dari jauh, ia bisa menyaksikan bahwa di puncak gunung ada sebuah batu yang menyerupai lima jari manusia.
Mungkin karena batu itulah, maka gunung tersebut dinamakan Lima Jari.
Pada saat itu, waktu sudah menunjukkan sore hari. Zhang Fei berjalan sambil menuntun kuda putih miliknya di sebuah jalanan kecil.
Di setiap tempat kosong, ia bisa melihat ada cukup banyak tenda yang didirikan secara mendadak. Sepertinya orang-orang yang tidur di dalam tenda, adalah para pendekar dunia persilatan yang sengaja ingin ikut andil dalam perebutan benda pusaka nanti.
Sambil terus melangkahkan kaki, diam-diam Zhang Fei juga memandangi setiap orang yang ia temui. Dari hal tersebut, dirinya mendapati bahwa apa yang diduga sebelumnya memang benar.
Semua manusia yang ada di sekitar wilayah Gunung Lima Jari, hampir semuanya adalah orang-orang dunia persilatan.
Meskipun ada cukup banyak pedagang yang membuka lapak di sekitar area, tapi tetap saja, jumlah para pendekar jauh lebih banyak daripada para pedagang itu.
Zhang Fei memandang ke depan. Di sana dia bisa melihat ada kedai arak. Karena ingin minum, maka anak muda itu memutuskan untuk berkunjung ke sana.
Begitu tiba, ia lebih dulu menyimpan kudanya dan dibiarkan merumput. Setelah selesai dirinya langsung masuk ke dalam.
"Paman, aku pesan arak keras satu guci, daging segarnya satu krat," katanya memesan.
"Baik, Tuan Muda. Silahkan tunggu sebentar," jawab pemilik kedai.
Zhang Fei mengangguk. Dia kemudian duduk di sebuah kursi kosong.
Sesaat kemudian, tiba-tiba dari luar ada seseorang yang masuk dan langsung berjalan ke arahnya.
"Saudara, bolehkah aku numpang duduk di sini?" tanya seorang pria yang usianya sudah lanjut tersebut.
"Tentu saja boleh, Paman. Silahkan, silahkan duduk," kata Zhang Fei dengan ramah.
Pria tua itu mengenakan pakaian hijau tua. Rambutnya yang memutih diikat dan ditusuk oleh konde yang terbuat dari batu Kemala. Di punggungnya ada sebatang golok melengkung. Bentuk golok itu sangat berbeda dari golok pada umumnya.
"Margaku Ma, namaku Liang. Dan siapa nama saudara muda?" kata orang tersebut memperkenalkan diri dengan ramah sambil mengajukan pertanyaan.
"Oh, salam kenal Paman Ma. Aku sendiri bermarga Zhang, namaku Fei," jawabnya dengan jujur.
Ma Liang menganggukkan kepala beberapa kali. Ia memandangi Zhang Fei dengan teliti. Beberapa saat kemudian, dirinya terlihat kaget. Sepertinya dia berhasil mengingat sesuatu.
"Jadi, inikah pendekar muda yang ramai dibicarakan itu?" tanyanya kemudian.
"Apa maksud Paman Ma? Aku tidak mengerti,"
Zhang Fei bersikap seolah-olah tidak mengerti perkataan Ma Liang. Padahal sebenarnya, dia sudah tahu apa yang sedang dibicarakan oleh orang tua itu.
"Ah, Tuan Muda jangan begitu. Aku sangat yakin, kau pasti pendekar muda yang dimaksud itu. Bukankah beberapa waktu lalu, kau pernah menghancurkan markas cabang Partai ..."
"Ah, itu hanya kebetulan saja, Paman. Lagi pula, aku tidak melakukannya sendiri," kata Zhang Fei memotong pembicaraan dengan cepat.
Dia takut di dalam kedai arak itu ada orang-orangnya Partai Panji Hitam. Kalau hal itu benar, niscaya dia akan mendapatkan masalah baru.
"Aih, ternyata benar kau orangnya. Aku sungguh beruntung bisa bertemu denganmu. Kabarnya, ilmu pedangmu sangat-sangat hebat,"
"Paman Ma jangan terlalu percaya dengan hal itu. Kadang-kadang, orang kan sering bicara melebih-lebihkan," ucap Zhang Fei berusaha merendahkan diri.
"Tapi ..."
"Paman, aku mohon, kau jangan terus membicarakan hal itu. Aku hanya khawatir nantinya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,"
Zhang Fei bicara perlahan. Dia takut ada orang yang mendengar ucapan barusan. Tapi dalam pada itu, wajahnya juga terlihat seperti memohon.
Ma Liang yang menyaksikan hal tersebut cukup mengerti. "Baiklah, aku tidak akan membicarakan hal itu lagi," ujarnya setuju.
Bersamaan dengan selesainya ucapan barusan, dari dalam sana terlihat si pemilik kedai sudah muncul dan berjalan ke arahnya. Dia membawa nampan yang berisi pesanan Zhang Fei.
"Silahkan, Tuan Muda," ucapnya sambil menghidangkan pesanan.
"Terimakasih, Paman,"
Zhang Fei segera membuka segel arak. Dia kemudian menuangkannya ke dalam dua cawan.
"Mari kita minum bersama, Paman Ma"