
"Bagus," jawab Lu Bai sambil menganggukkan kepala. "Aku ingin melangsungkan duel itu sore nanti,"
Sore hari adalah waktu yang tepat untuk melangsungkan duel. Sebab pada saat itu, akan ada banyak orang yang melewati jalanan setapak tersebut. Apalagi, waktu perebutan benda pusaka sudah hampir tiba.
Jadi sudah bisa dibayangkan berapa banyak orang dari kalangan dunia persilatan yang tertarik dan akan menonton duel nanti.
"Apakah masih ada peraturan lain?" tanya Zhang Fei lebih jauh.
"Tidak ada," kata Lu Bai menggelengkan kepalanya.
"Baiklah. Tapi kalau boleh, lebih baik kita melangsungkan duel tengah malam saja. Waktu itu aku rasa lebih cocok,"
Sebenarnya alasan kenapa Zhang Fei mengajukan hal tersebut, tak lain karena dirinya sudah sangat percaya diri.
Sepanjang obrolan di antara mereka, diam-diam dirinya sempat mengukur sampai di mana kemampuan Ketua Perguruan Harimau Utara tersebut. Dan hasilnya, Lu Bai masih berada di bawah dia sendiri.
Walaupun perbedaan itu tidak terlampau jauh, tapi Zhang Fei yakin bisa keluar sebagai pemenang.
Dia ingin melangsungkan duel tengah malam bukan lain adalah untuk menyelamatkan harga diri Lu Bai. Dia tidak mau nama besar dirinya, sekaligus Perguruan Harimau Utara jatuh hanya karena keegoisannya.
Namun siapa sangka, Lu Bai justru malah menganggap lain.
Tiba-tiba dia tertawa lantang. "Hahaha ... kenapa harus tengah malam? Apakah kau takut kekalahanmu akan dilihat oleh banyak orang?" tanyanya sambil mengejek.
"Justru yang harusnya bicara seperti itu adalah aku, bukan dirimu. Aku tidak mau harga diri perguruanmu jatuh," jawab Zhang Fei dengan tenang.
"Omong kosong. Bocah ingusan sepertimu, mana bisa mengalahkan aku si Harimau Angin?"
Zhang Fei menjadi serba salah. Semakin lama dia bicara dengan orang itu, maka semakin mudah juga terpancing emosinya.
"Baiklah. Terserah apa katamu saja, sekarang aku ingin jalan-jalan dulu. Sebelum matahari tenggelam, aku pasti sudah ada di sini,"
Tanpa menunggu jawaban darinya, Zhang Fei langsung menarik tali kekang kuda dan meninggalkan rombongan itu.
Orang-orang Lu Bai tidak ada yang berani menahannya. Mereka hanya bisa melihat kepergian anak muda itu dengan ekor mata.
Setelah kepergian Zhang Fei, sesaat sebelum rombongan itu pergi, tiba-tiba saja Lu Tan Cu berkata kepada ayahnya.
"Ayah, kenapa kau terlalu percaya diri? Bagaimana kalau dalam duel nanti justru dirimu yang akan kalah?" tanyanya seolah-olah tidak senang dengan keputusan sang ayah.
"Apa katamu?" Lu Bai meliriknya sambil menatap tajam. Tatapan matanya sangat buas. Mirip seperti harimau yang kelaparan. "Anak Cu, apakah kau sudah tidak percaya dengan kemampuan Ayahmu ini? Apakah kau menganggap anak muda itu lebih kuat daripada aku?"
Suaranya lantang dan berwibawa. Tidak hanya itu saja, bahkan dalam perkataan barusan, ia juga sempat memberikan pancaran hawa pembunuh yang tebal.
Lu Tan Cu merasa bergidik. Kalau ayahnya sudah marah, ia paling tidak berani memandang wajahnya. Terutama lagi menatap tatapan mata itu.
"Bukan begitu maksudku, Ayah. Tapi ..."
"Jangan banyak bicara. Sekali lagi kau membuka mulut, aku jamin Golok Raja Harimau ini akan merobeknya," ucap Lu Bai mengancam anak sematawayangnya.
"Ba-baiklah. Maafkan aku, Ayah," kata Lu Tan Cu perlahan sambil menundukkan kepalanya.
"Mari kita pergi,"
Lu Bai melarikan kudanya lebih dulu. Murid perguruan dan Lu Tan Cu yang berada di belakangnya langsung menyusul dengan cepat.
Matahari berada di ufuk sebelah barat. Sore hari telah datang. Waktu yang ditentukan untuk melangsungkan duel ternyata sudah tiba.
Saat ini cuaca benar-benar cerah. Cahaya kemerahan menyapu jagat raya. Di halaman kosong yang sudah ditentukan sebelumnya, saat ini sudah berkumpul ada banyak orang. Jumlahnya mencapai puluhan.
Kebanyakan dari mereka tentu saja adalah para pendekar dunia persilatan. Baik itu yang berasal dari sebuah partai, perguruan, maupun pendekar perorangan.
Rupanya berita tentang duel tersebut telah menyebar luas. Sehingga hampir semua orang yang datang ke Gunung Lima Jari, pasti sudah mendengarnya.
Zhang Fei cukup terkejut ketika mengetahui hal ini. Tetapi karena semuanya sudah terlanjur, maka dia tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
Untunglah, dirinya telah mendengar kabar tersebut sebelum sore hari benar-benar tiba. Sehingga dia bisa melakukan persiapan.
Saat ini, Zhang Fei sudah berada di tempat perkara. Dia berdiri di tengah-tengah halaman bersama kuda putih miliknya.
Pendekar muda itu mengenakan sebuah cadar untuk menutupi mulutnya. Tidak hanya itu saja, bahkan Zhang Fei juga memakai caping yang terbuat dari anyaman bambu. Caping itu ia beli dari seorang pedagang tua yang terdapat di sana.
Semua orang yang hadir, saat ini sedang berbisik-bisik bersama rekannya masing-masing. Mereka bertanya-tanya tentang siapakah pendekar yang terlihat misterius tersebut.
Sudah ada banyak pertanyaan yang diajukan dari setiap mulut. Hanya saja dari semua jawaban, tidak ada satu pun yang memuaskan. Semua orang hanya bisa menerka-nerka terkait siapa dirinya.
Sampai saat ini, rasanya belum ada seorang pun yang mengetahui secara pasti siapa dia sebenarnya.
Sementara itu, setelah menunggu cukup lama, terlihat dari bawah kaki gunung ada sekelompok orang yang sedang menunggang kuda. Mereka melarikan kudanya dengan cepat seolah-olah sedang dikejar waktu.
Tidak perlu ditanyakan lagi, sekelompok orang tersebut bukan lain adalah Ketua Perguruan Harimau Utara Lu Bai bersama orang-orangnya.
Mengetahui siapa yang datang, para penonton segera memberikan jalan untuknya. Suara bisik-bisik kembali terdengar.
Berbarengan dengan kejadian tersebut, rombongan Lu Bai saat ini sudah mendapatkan tempat yang menurutnya cocok.
Mereka lalu turun dari punggung kuda, kemudian berjalan ke tengah halaman.
"Rupanya kau sudah datang," ucap Lu Bai sambil tersenyum dingin.
"Sejak tadi aku sudah ada di sini," jawab Zhang Fei dengan nada hambar.
"Oh, kalau begitu aku sudah membuatmu menunggu lama. Maaf ... maaf," katanya seraya tertawa.
Zhang Fei tidak menjawab ucapannya. Dia hanya memandangi orang tua itu mulai dari atas sampai bawah.
"Ngomong-ngomong, kenapa penampilanmu jadi berbeda?" ia bertanya lagi. Lu Bai terlihat sedikit kebingungan saat melihat penampilan Zhang Fei yang jauh berbeda daripada sebelumnya. "Oh, apakah kau sengaja mengenakan penampilan seperti ini, supaya tidak terlalu malu apabila kalah dalam duel nanti?"
Dia kemudian tertawa diikuti oleh orang-orang di belakangnya. Suara tawa mereka cukup lantang, semua yang ada di sana bisa mendengarnya dengan jelas.
Zhang Fei tersenyum dingin dibalik cadarnya. Setelah mereka selesai tertawa, ia baru berkata.
"Aku hanya tidak mau orang-orang itu mengetahui siapa aku sebenarnya,"
"Hahaha ... omong kosong. Kau memang pintar mencari alasan,"
"Sudahlah, tidak perlu panjang lebar lagi. Lebih baik kita langsungkan duel itu sekarang. Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk bicara denganmu,"
Zhang Fei ingin segera cepat-cepat melakukan duelnya sebelum lebih banyak orang yang berdatangan. Menurutnya, jika yang hadir semakin banyak, maka masalah baru pun akan semakin bermunculan.