Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Pertempuran Berdarah III


Ucapan itu baru selesai dikatakan. Padahal tindakan nyatanya sudah lebih dulu dia lakukan.


Petinggi Partai Tujuh Warna tersebut langsung kaget setengah mati. Wajahnya semakin pucat. Keringat dingin yang keluar juga makin banyak.


Hal yang ditakutkan oleh semua orang persilatan, akhirnya menimpa dirinya sendiri.


Perlu diketahui, dalam rimba hijau, ada yang lebih menakutkan daripada kematian.


Yaitu kehilangan ilmu silat!


Bagi seorang pendekar, hancur atau hilangnya ilmu silat yang ia miliki, itu sama artinya dengan mati. Malah lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri.


Sebab kalau sudah demikian, maka selamanya ia akan menjadi orang cacat. Kembali menjadi orang biasa yang bahkan jauh lebih lemah daripada manusia pada umumnya.


Kehilangan ilmu silat itu sama dengan kehilangan segalanya.


Selain akan menjadi orang cacat, si penderita juga mendapatkan sebuah aib yang tidak bisa dihapus oleh air suci sekali pun.


Sekilas memang terdengar aneh. Tapi beginilah dunia persilatan. Dunia yang lebih keras daripada batu hitam sekalipun.


"Tuan, tolong bunuh saja aku, Tuan. Aku ... aku lebih baik mati daripada harus hidup lebih lama di dunia ini. Tolong, Tuan ... bunuh aku," petinggi Partai Tujuh Warna itu terus merengek meminta Orang Tua Aneh Tionggoan agar mau membunuhnya.


Ucapannya terdengar menyayat hati. Nada bicaranya penuh dengan kesedihan, sehingga dua titik air mata tampak keluar.


"Apakah telingamu tuli? Bukankah sebelumnya aku sudah berkata, bahwa aku tidak akan membunuhmu?"


Tanpa berdiam lebih lama lagi, dia langsung melesat dari sana dan segera mencari lawan berikutnya.


Sedangkan petinggi yang bernasib malang itu, berusaha sebisa mungkin untuk mengumpulkan tenaganya. Dia ingin bunuh diri!


Sayangnya usaha itu sia-sia. Karena pada dasarnya, orang yang sudah kehilangan ilmu silat, tidak memiliki lagi tenaga apapun. Termasuk itu tenaga luar.


Nantinya dia hanya bisa berbaring tanpa bisa melakukan apapun juga.


Sementara itu, waktu terus berjalan. Tanpa terasa kentongan kedua telah terdengar lagi.


Pertempuran yang terjadi di markas Partai Pengemis mulai mencapai puncaknya. Korban yang berjatuhan di kedua belah pihak semakin banyak. Mayat-mayat mereka saling menumpuk dan terdapat di sana-sini.


Bau amis darah yang keluar dari luka setiap korban, terus tercium terbawa hembusan angin malam.


Ketika teriakan mereka sedang menggema di tengah udara, tiba-tiba langit menurunkan hujan. Seolah-olah air hujan itu memang sengaja diturunkan untuk mencuci darah yang menggenang.


Suara guntur ikut bermunculan. Seakan-akan semua itu adalah pelengkap pada saat ini.


Tidak berapa jauh di bagian utara sana, Wakil Ketua Partai Pengemis dan beberapa petinggi lainnya juga sedang bertempur melawan Partai Tujuh Warna.


Dentingan nyaring antara tongkat bambu hijau yang beradu dengan senjata tajam lainnya, terdengar saling sahut.


Seakan-akan itu semua adalah irama. Irama yang dapat menggetarkan hati dan perasaan manusia!


Hawa kematian semakin menyesakkan dada. Apabila di tempat itu ada orang awam, mungkin sudah sejak tadi dirinya jatuh pingsan karena kesulitan bernafas.


Sementara di sisi lain, terlihat di sana ada Pengemis Tongkat Sakti yang saat ini sedang melawan Dewa Tiga Senjata, Ketua Partai Tujuh Warna.


Pertarungan mereka adalah pertarungan yang paling seru dan menegangkan. Meskipun tidak melibatkan orang lain lagi, namun apa yang mereka suguhkan benar-benar luar biasa.


Dewa Tiga Senjata menampilkan keahliannya yang jarang dimiliki oleh orang lain. Sekarang di kedua tangannya ada senjata yang berbeda.


Di tangan kanan merupakan pedang, di tangan kiri berupa golok panjang.


Di dunia ini, rasanya terlampau sulit untuk memainkan dua senjata berbeda secara bersamaan. Apalagi kalau sedang berada di medan pertarungan seperti sekarang.


Tetapi nyatanya, hal itu tidak berlaku bagi orang yang berjuluk Dewa Tiga Senjata tersebut.


Ia justru bisa memainkan kedua senjata berbeda itu dengan sangat sempurna. Permainan pedangnya sangat cepat dan sulit dibaca. Sedangkan permainan goloknya sangat lambat, sehingga lawan pun bisa membaca ke mana arah serangannya dengan jelas.


Tetapi lambat di sini bukanlah lambat kosong yang bisa mudah ditangkis. Justru karena kelambatan itulah, tenaga yang terkandung di dalam setiap gerakannya sangat besar.


Pengemis Tongkat Sakti telah mencoba menangkis bacokan golok Dewa Tiga Senjata. Dan hasilnya sungguh mengejutkan.


Dia merasa tangannya tergetar keras dan ngilu.


Setelah kejadian tersebut, sampai sekarang ia tidak berani lagi membenturkan tongkatnya dengan senjata lawan. Terutama sekali dengan golok itu.


Akibatnya pertarungan di antara mereka berjalan semakin lama. Sejak awal, Dewa Tiga Senjata sudah sering berada di atas angin. Permainan dua senjata itu sungguh menguntungkan dirinya.


Namun bukan berarti dia bisa mengalahkan lawan dengan gampang. Walaupun ia sudah sering mendesak, tapi nyatanya Pengemis Tongkat Sakti bukan lawan yang mudah untuk dihadapi.


Maka dari itu, ia sendiri merasa sangat kesal terhadapnya.


"Tidak malu kau menjadi Ketua Partai Pengemis. Ternyata kemampuanmu cukup lumayan juga," kata Dewa Tiga Senjata sambil melompat mundur tiga langkah.


Dia sengaja menghentikan pertarungannya untuk sementara waktu. Ketua Partai Tujuh Warna itu ingin mengambil nafas lega dan mengumpulkan kembali tenaganya yang sudah banyak terbuang.


Bagaimanapun juga, pertarungannya melawan Pengemis Tongkat Sakti ini, termasuk ke dalam pertarungan sengit yang sudah lama tidak dia rasakan.


"Terimakasih. Kemampuanku masih belum seberapa jika dibandingkan denganmu, Dewa Tiga Senjata," orang tua itu sengaja merendah. Dia tidak mau memandang tinggi dirinya sendiri.


Ketika berbicara pun, Pengemis Tongkat Sakti tetap memberikan senyuman. Walaupun ia sedang berhadapan dengan musuh besar, tapi ekspresi wajahnya masih terlihat tenang.


Hal tersebut menandakan betapa yakin orang tua itu atas kemampuan sendiri.


"Hahaha ... kau terlalu sungkan. Baiklah, sekarang mari kita selesaikan pertarungan ini,"


Setelah tenaganya kembali pulih, Dewa Tiga Senjata segera memulai pertarungannya lagi. Namun sebelum ia menyerang, terlebih dahulu dirinya mengeluarkan tabung kecil dari saku baju.


Tabung kecil itu kemudian ia tuangkan ke dalam mulut. Entah apa isinya, entah itu arak, atau mungkin obat.


Tidak ada yang mengetahui akan hal tersebut.


Setelah selesai, Dewa Tiga Senjata segera melemparkan tabung tersebut.


Detik selanjutnya, ia langsung menyerang tanpa mengeluarkan aba-aba lebih dulu.


Untunglah Pengemis Tongkat Sakti sudah siap dengan segala macam perubahan. Sehingga ia tidak sampai terkejut ketika mendapatkan serangan tiba-tiba itu.


Wushh!!! Wushh!!!


Dua bayangan manusia langsung meluncur ke depan secara bersamaan. Begitu bertemu di tengah jalan, mereka kembali melancarkan serangan ganas dengan menggunakan senjatanya masing-masing.


Karena sadar lawan sudah berlaku serius, maka si Pengemis Tongkat Sakti pun memutuskan untuk mengeluarkan jurus andalannya.


"Tongkat Hijau Mengusir Puluhan Anjing!"


Wutt!!!


Jurus itu adalah jurus kembangan dari Tongkat Pemukul Anjing khas dari Partai Pengemis. Lebih tepatnya, jurus Tongkat Hijau Mengusir Puluhan Anjing, merupakan ilmu hasil ciptaannya sendiri.