Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Berusaha Mengingat Kembali


"Benar apa yang dikatakan oleh Tuan Wu, Ketua. Sekarang, ilmu pedang Ketua sudah melampaui kami berdua," sahut Dewi Rambut Putih tidak merasa keberatan.


Dia mengatakan apa adanya. Wanita tua itu setuju dengan apa yang telah diungkap oleh Pendekar Pedang Perpisahan.


Meskipun beberapa waktu yang lalu, ilmu pedang Zhang Fei masih berada di bawahnya. Tapi saat ini, yang terjadi adalah sebaliknya.


Tiga Datuk Dunia Persilatan yang lain juga merasakan hal serupa. Mereka menganggukkan kepala sebagai tanggapannya.


Sedangkan Zhang Fei, ia pribadi justru langsung merasa risih. Meskipun mungkin kenyataan itu benar, tapi dirinya tetap merasa tidak enak.


"Tidak berani, tidak berani. Bagaimanapun juga, Tuan Wu dan Nyonya Ling tetap berada di atasku," kata Zhang Fei seraya memberikan isyarat dengan tangannya.


Sementara itu, Dewa Arak Tanpa Bayangan yang sejak tadi membungkam mulutnya, sekarang tiba-tiba bicara lagi.


"Anak Fei, apakah kau sudah memberikan nama bagi jurus baru itu?" tanya orang tua itu dengan sebutan yang biasanya.


"Belum, Tuan Wu," jawab Zhang Fei sambil menggelengkan kepala.


"Aih, kalau begitu. Cepatlah beri nama jurus baru itu,"


"Nama apa? Aku bahkan tidak pernah memikirkan akan hal ini," Zhang Fei tersenyum kecut.


"Tunggu dulu!" Orang Tua Aneh Tionggoan ikut nimbrung dalam pembicaraan tersebut. "Sebelumnya aku ingin bertanya, apakah anak Fei bisa mengingat bagaimana gerakan dari jurus tadi?"


Ditanya demikian, Ketua Dunia Persilatan seketika termenung. Jujur saja, dia bahkan tidak bisa mengingat dengan jelas bagaimana gerakan-gerakan dari jurus pedang tersebut.


Cukup lama ia menutup mulut, hingga pada akhirnya Zhang Fei menjawab. "Kalau disuruh mengingat dengan jelas bagaimana setiap gerakan-gerakan itu, aku rasa ... aku tidak dapat mengingatnya, Tuan Kai,"


Ia berhenti sebentar. Sekedar untuk melihat bagaimana ekspresi wajah para tokoh dunia persilatan tersebut.


"Tapi ... aku hanya mengingat bahwa ketika tadi melakukan jurus tersebut, aku telah membiarkan semua mengalir apa adanya,"


Zhang Fei membawa sebisanya. Untung saat ini, dia belum mengerti dan belum tahu apa-apa tentang jurus tersebut.


"Aih, sayang ... sayang sekali," kata Orang Tua Aneh Tionggoan sambil menghembuskan nafas panjang. "Padahal ... jurus itu nantinya akan sangat diperlukan. Apalagi di medan pertarungan nanti, pasti akan ada banyak lawan tangguh yang mempunyai kemampuan tinggi,"


"Benar, Ketua Fei. Kita memang belum tahu setinggi apa kemampuan musuh, tapi aku rasa, kemampuan mereka juga tidak berada di bawah kita," sambung Pendekar Tombak Angin.


Jurus pedang yang tanpa sengaja diciptakan itu memang benar-benar dahsyat. Bahkan para Datuk Dunia Persilatan pun mengakui akan hal tersebut.


Maka dari itu, tidak heran kalau Orang Tua Aneh Tionggoan dan yang lainnya sangat menyayangkan jika Zhang Fei tidak mampu mengingatnya.


"Hahh ..." Ketua Dunia Persilatan menghembuskan nafas berat. "Baiklah. Beri aku waktu tiga hari untuk sendiri. Selama itu, aku akan berusaha untuk mengingat kembali jurus pedang tersebut,"


Walaupun dia tidak yakin bisa melakukan hal tersebut. Tetapi demi kepentingan bersama dan demi cita-cita utamanya, maka dia akan tetap berusaha untuk bisa memperagakannya kembali.


"Baiklah, Ketua Fei, kami mengerti," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan mewakili para Datuk Dunia Persilatan.


Obrolan mereka kembali berlangsung membahas hal-hal lainnya. Setelah hari mulai masuk sore, tiba-tiba pintu ruangan diketuk orang dari luar.


Ternyata, yang mengetuk pintu itu adalah petugas yang sebelumnya ditugaskan oleh Zhang Fei untuk mendata semua pendekar.


"Ketua Fei, jumlah semua pendekar yang ikut tergabung dalam aliansi ada seratus dua puluh orang," katanya memberikan laporan.


"Apakah tidak ada yang terlewat?"


"Tidak ada, Ketua Fei. Aku dan yang lain sudah menghitungnya dengan pasti,"


"Sudah juga, Ketua. Hanya saja, kami membutuhkan waktu setidaknya satu minggu untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait semua data ini,"


"Baiklah. Aku percayakan tugas ini kepadamu,"


Petugas tersebut segera mengangguk. Ia kemudian pamit undur diri dari ruangan tersebut.


Tidak lama setelah kepergiannya, lima Datuk Dunia Persilatan juga segera pamit. Mereka ingin melakukan istirahat di kamarnya masing-masing.


Zhang Fei memberikan anggukan sebagai jawabannya. Setelah kepergian mereka, ia segera duduk termenung di tempat sambil terus mengingat dan memikirkan jurus pedang yang dahsyat tersebut.


Lama ... lama sekali dia melamun. Entah sudah berapa lama waktu yang terlewatkan. Hanya saja ketika Zhang Fei mengembalikan kesadarannya, pada saat itu hari sudah masuk malam.


Ketika melihat keluar jendela, ternyata malam ini terang bulan. Rembulan bersinar dengan cerah. Di langit tidak ada awan mendung. Bintang-bintang pun bertaburan dan berkelip dengan indah.


Zhang Fei melihat ke atas meja. Ternyata di sana dan arak sisa tadi. Dengan segera dia menghabiskannya dalam satu kali teguk.


Setelah arak dalam guci itu benar-benar habis, tiba-tiba Zhang Fei bangkit berdiri. Ia kemudian berjalan keluar ruangan menuju ke halaman belakang Gedung Ketua Dunia Persilatan.


Halaman belakang itu mempunyai luas yang cukup lumayan. Tidak jauh di depannya adalah hutan. Suasana di sana benar-benar sepi sunyi.


Tidak ada suara lain yang terdengar kecuali hanya suara binatang malam dan penunggu hutan.


Zhang Fei berdiri di tengah-tengah halaman. Walaupun keadaan gelap, tapi kegelapan itu bisa sedikit berkurang akibat pancaran cahaya Sang Dewi Malam.


Ketua Dunia Persilatan menatap gelapnya hutan itu. Tatapan matanya terlihat kosong. Seperti juga perasaannya saat ini.


Zhang Fei memejamkan matanya untuk beberapa saat. Seolah-olah dia sedang mengingat kembali tentang jurus pedang yang dahsyat tersebut.


Sringg!!!


Tiba-tiba dirinya mencabut Pedang Raja Dewa!


Pedang pusaka itu dihunuskan ke bawah. Batangnya berkilat memancarkan cahaya putih keperakan ketika terkena tempaan sinar rembulan.


Hawa pedang yang pekat segera keluar dari seluruh bagiannya. Suara binatang malam yang tadi terdengar cukup keras, tiba-tiba langsung lenyap ketika Pedang Raja Dewa dicabut keluar.


Seolah-olah para binatang itu juga merasakan hawa pedang dan hawa pembunuhan yang telah melebur menjadi satu.


Pedang sudah dihunus. Zhang Fei juga sudah berada dalam keadaan siap.


Tapi, mengapa dia masih belum juga bergerak? Mengapa ia masih berdiri seperti patung?


Sebenarnya, yang dilakukan oleh Zhang Fei saat ini adalah kembali mengingat semua pesan dari Zhang Liong dan berusaha untuk mencari makna-makna tersirat di dalamnya.


Wushh!!!


Sekitar lima belas menit kemudian, tiba-tiba Zhang Fei melakukan sebuah gerakan. Gerakan yang sangat cepat sekali. Saking cepatnya, sampai-sampai tidak ada seorang pun yang mampu melihatnya dengan jelas.


Brugg!!!


Suara berat terdengar. Begitu dilihat, ternyata sebatang pohon sebesar paha sudah ambruk. Bekas tebasan itu sangat rapi. Seolah-olah pohon tersebut bukan ditebas oleh sebatang pedang!


Zhang Fei yang menyaksikan sendiri pun merasa kaget. Tapi dalam waktu yang bersamaan, dia malah tersenyum girang.