
Saat menyaksikan empat orang gurunya terkapar dengan tubuh mengeluarkan asap, bukan main sakit hati Zhang Fei.
Dia tidak tega untuk melihat keadaan mereka. Tapi, bagaiamana mungkin dia tidak melihatnya? Sedangkan mereka saja berada di sisinya.
Hatinya terasa sakit. Seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Kalau saja tidak malu, andai dia bukan sedang berada di medan pertarungan, mungkin sudah sejak tadi anak muda itu meneteskan air matanya.
Sayang sekali, sekarang situasinya berbeda. Sehingga walaupun dia merasa sangat sedih, namun dirinya tidak boleh terlihat lemah.
Apalagi di depan musuh sendiri!
Di lain sisi, Zhang Fei juga masih merasa marah kepada para pendekar tadi. Dalam hatinya, ia telah bersumpah untuk membunuh mereka di kemudian hari.
Sementara itu, akibat pikirannya yang mulai kacau, tanpa sadar ia sudah berada di bawah angin. Serangan Pemimpin Keempat terus menggempurnya tanpa kata ampun.
Trisula perak yang ada di tangan orang tua itu menusuk tiada henti.
Untuk beberapa saat, Zhang Fei merasa kesulitan. Apalagi dia sudah kalah bergerak dari musuh.
Brett!!!
Pakaiannya robek. Hampir saja ujung trisula yang sangat tajam itu masuk ke dalam dagingnya. Untunglah walau dalam keadaan genting, dia masih bisa bergerak cepat. Sehingga nyawanya masih bisa diselamatkan.
"Bocah, menyerahlah. Lihat! Orang-orang yang datang bersamamu sudah mampus. Tinggal tua bangka itu saja yang tersisa, itu pun sudah tidak bisa memberikan perlawanan berarti,"
Pemimpin Keempat tiba-tiba bicara dan menghentikan jalannya pertarungan. Suaranya saat bicara sangat berwibawa. Seolah-olah dibalik suara itu ada satu kekuatan yang memaksa Zhang Fei untuk menurutinya.
Sedangkan anak muda itu sendiri, begitu mendengar ucapan lawan, ia segera melirik kembali kepada lima orang gurunya.
Sekarang, empat gurunya sudah benar-benar tewas. Tubuh mereka sudah tidak mengeluarkan asap putih lagi. Hanya saja, tubuh itu kini sudah mengalami perubahan total.
Seolah-olah empat tubuh tersebut hanya tersisa kulit berbalut tulang saja.
Semakin perih perasaannya saat menyaksikan kenyataan itu. Tanpa sadar, dua titik air mata keluar membasahi pipinya.
Dia menengok lagi ke arah si Telapak Tangan Kematian Pek Ma. Ternyata apa yang dikatakan oleh Pemimpin Keempat memang benar. Gurunya yang utama itu juga sudah terdesak cukup hebat.
Melihat kenyataan sekarang, Zhang Fei semakin sadar bahwa para petinggi itu adalah tokoh-tokoh sakti yang jarang menemukan tandingan.
Buktinya saja, Lima Malaikat Putih yang dulu sangat ditakuti lawan disegani kawan pun, bisa dihajar sampai mampus.
"Bagaimana, kau mau menyerah? Kalau mau, sekarang bersujud lah di depanku. Mungkin aku masih bisa memberikan maaf," setelah selesai berkata, Pemimpin Keempat kemudian tertawa.
Suara tawanya sangat kencang. Daun-daun pohon yang ada di sekitar tempat itu pun langsung jatuh berguguran.
Sungguh, demonstrasi tenaga sakti yang sangat luar biasa!
Sementara Zhang Fei, setelah dia mendengar ucapan musuh, anak muda itu pun tampak memberikan senyum. Senyuman sinis!
"Aku lebih baik mampus daripada harus bersujud di depan iblis sepertimu,"
Sorot matanya sangat tajam. Setajam pedang yang dia genggam saat ini.
"Mari, tua bangka. Aku ingin lihat apakah kau mampu membunuhku?"
Pemimpin Keempat langsung naik pitam. Seumur hidupnya, belum pernah ada orang yang berani menyebut tua bangka.
Sekarang, seorang anak muda yang masih ingusan, berani bicara seperti itu kepadanya? Bagaimana mungkin dia bisa terima begitu saja?
"Bocah tidak tahu diuntung. Baik, kalau memang itu maumu, aku akan mengabulkannya sekarang juga!"
Dia langsung bersiap. Hawa murni segera disalurkan ke seluruh tubuh. Tenaga dalam dan tenaga sakti segera ditingkatkan. Ia langsung mengeluarkan tenaga sampai sepuluh bagian!
Saking hebatnya ilmu Pemimpin Keempat, tanah yang dia injak saja sedikit amblas ke dalam.
Zhang Fei yang melihat hal tersebut, tanpa sadar merasa tubuhnya sedikit tergetar. Keringat dingin membasahi seluruh pakaian.
Bagaimanapun juga, ia merasa tidak punya keyakinan untuk meraih kemenangan.
Tapi, bukan berarti dia takut. Tidak, anak muda itu tidak takut!
"Tiga Trisula Pemisah Kehidupan!"
Pemimpin Keempat bergerak. Dia langsung mengeluarkan jurus pamungkas. Trisula perak yang ada di tangannya tiba-tiba mengeluarkan sinar kehitaman.
Saat digerakkan, trisula itu seolah-olah bertambah jumlahnya menjadi tiga.
Di sisi lain, Zhang Fei pun langsung menyambut jurus pamungkas lawan dengan jurus miliknya sendiri.
"Memadamkan Rembulan Melenyapkan Bayangan!"
Wutt!!!
Jurus keempat, jurus terakhir yang sudah dia kuasai dari Kitab Pedang Dewa telah digelar dengan sempurna.
Sinar putih keperakan yang menyilaukan mata tampak memenuhi arena pertarungannya. Detik itu juga, setelah jurusnya berhasil keluar, dia langsung melesat ke depan.
Dua jurus pamungkas sudah bertemu!
Mereka langsung terlibat dalam pertarungan hidup dan mati. Benturan nyaring, hawa dari kedua senjata, dan suara berat akibat bertemunya pukulan atau tendangan langsung terdengar secara bersamaan.
Kedua orang itu sudah tidak bisa dipisahkan. Malah tidak ada yang bisa memisahkan keduanya!
Di sisinya, bersamaan dengan kejadian barusan, si Telapak Tangan Kematian Pek Ma juga sudah mengadu jurus pamungkas dengan Pemimpin Pertama.
Efek dari dua tokoh besar dunia persilatan yang bertemu ini, tentu saja lebih besar dari Zhang Fei dan Pemimpin Keempat.
Pek Ma sudah menggelar jurus Sembilan Telapak Sesat tahap delapan. Sedangkan Pemimpin Pertama, sudah menggelar jurus Pedang yang maha dahsyat.
Dua orang itu terus berada dalam gulungan sinar yang diciptakan oleh jurus masing-masing. Walaupun tidak menggunakan senjata, tapi Pek Ma tidak merasa takut.
Malah sebaliknya, Pemimpin Pertama yang justru sedikit gentar.
Bagaimana tidak, setelah seratus jurus lebih bertarung, sekarang dia telah menyadari bahwa kedua tangan orang tua itu, justru jauh berbahaya dari apapun juga.
Bahkan mungkin jauh berbahaya daripada pedang dia sendiri!
Buktinya saja, ia sudah terkena serangannya cukup telak. Untunglah dia mempunyai jurus yang berguna untuk pertahanan. Baik luar maupun dalam.
Sehingga dia tidak mengalami luka yang sangat parah. Walaupun memang luka itu cukup mendatangkan bahaya yang sedikit besar bagi dirinya.
Wushh!!! Wungg!!! Wungg!!!
Pedang di tangannya mengeluarkan suara mendengung. Seolah-olah di sana ada ribuan lebah yang terbang secara bersamaan.
Wutt!!! Srett!!!
Deru angin berhembus. Sebatang pedang itu berhasil memotong tangan kanan Pek Ma sebatas sikut.
Bukk!!!
Setelah berhasil memotong tangan musuh, bersamaan dengan itu, Pemimpin Pertama juga kembali melancarkan pukulan dengan tangan kirinya.
Pukulan yang sangat berbahaya. Sebab dibalik pukulan itu, terdapat racun yang bisa membunuh manusia dalam waktu singkat.
Pemimpin dari Lima Malaikat Putih itu langsung melayang mundur dengan cepat. Tubuhnya menabrak sebatang pohon. Seluruh bagian pohon bergetar keras. Daun yang berguguran segera menimpa tubuh yang ambruk di atas tanah itu.
"Pemimpin Keempat, cepat pergi dari sini. Tempat ini sudah tidak aman bagi kita!" teriak Pemimpin Pertama setelah dia berhasil mengalahkan Pek Ma.
###
Ini baru perjalanan awal, ya. Jadi wajar kalau MC masih suka kalah. Sebab dia harus melakukan petualangan sekaligus mencari ilmu lagi. Juga diharuskan mencari bentuk dan jati diri.
Semua perlu proses. Seperti juga kehidupan.
Semoga para pembaca sudi mengikuti Zhang Fei sampai akhir.