Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Mengobati Luka Para Anggota


"Apakah semuanya sudah selesai?" tanya Zhang Fei kepada mereka saat tiba di hadapannya.


"Ya, semuanya sudah selesai, Ketua," jawab Tio Goan mewakili.


"Apakah kalian berhasil menemukan sesuatu?"


"Tidak," orang tua itu menggelengkan kepalanya. "Kami tidak menemukan sesuatu apapun, padahal kami sudah berusaha mencarinya,"


Tio Goan menghela nafas berat. Walau dia sudah merogoh saku baju si Racun Hijau, yang lain juga sudah merogoh saku baju musuhnya masing-masing, namun tetap saja mereka tidak menemukan apapun.


"Baiklah. Tidak masalah," ucap Zhang Fei sambil tersenyum. "Aku sendiri juga tidak menemukan apa-apa. Sepertinya, orang-orang ini tidak bekerja dengan Kekaisaran lain. Apa yang mereka lakukan, tak lebih hanya perintah dari partainya saja,"


Tio Goan dan yang lain segera menganggukkan kepala. Mereka pun mempunyai pemikiran yang sama dengan Zhang Fei.


Ketua Dunia Persilatan kemudian melirik ke arah para anggota yang mengalami luka cukup serius.


"Apakah kalian masih bisa berjalan?"


"Ketua jangan khawatir, kami baik-baik saja. Luka ini tidak sebanding dengan kemenangan yang kita peroleh sekarang," kata salah satu anggota yang terluka.


"Baiklah. Kalau begitu, mari kita kembali ke markas," ajak Zhang Fei.


Wushh!!! Wushh!!!


Empat belas bayangan manusia melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh masing-masing. Dengan kemampuan mereka yang sudah tinggi, hanya sebentar saja orang-orang itu sudah menghilang ditelan kegelapan malam.


Begitu tiba di markas, para pelayan di rumah makan sederhana ternyata sudah mempersiapkan segalanya. Di atas meja masing-masing ada makanan dan arak.


Lentera di dalam ruangan itu pun telah ditambah, sehingga suasana menjadi lebih terang lagi.


Saat ini Zhang Fei sudah duduk di kursi pribadinya. Ia baru saja selesai menenggak guci arak.


Ketika dirinya ingin mengajak semua anggota Organisasi Pedang Cahaya makan dan pesta arak, tiba-tiba dari depan sana ada seorang pelayan yang berjalan menghampiri.


"Maaf mengganggu waktunya, Ketua," kata pelayan tersebut di ambang pintu.


"Tidak masalah. Kemarilah," ujar Zhang Fei dengan ramah.


Pelayan itu mengangguk. Dia langsung berjalan setelah mendapatkan izin darinya. Begitu tiba di depan Zhang Fei, pelayan tersebut segera memberikan hormat.


"Aku datang kemari karena ingin menyampaikan sesuatu, Ketua," ucapnya penuh hormat.


"Sesuatu apa yang ingin kau sampaikan?"


Dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik saku bajunya. "Ini, Ketua," kata pelayan tersebut sambil memberikan sepucuk surat kepada Zhang Fei.


"Siapa yang mengirimkan surat ini?" Zhang Fei mengerutkan keningnya.


"Seorang anggota Partai Pengemis datang beberapa saat yang lalu. Katanya, dia membawa surat untuk Ketua Fei. Terkait siapa pengirimnya, aku sendiri masih belum tahu," tukas pelayan itu menjelaskan singkat.


"Oh, baiklah. Terimakasih," jawab Zhang Fei tersenyum lembut. "Sekarang kau boleh kembali,"


Si pelayan mengangguk. Setelah memberikan hormat, dia segera pergi dari ruangan tersebut.


Sementara itu, ruangan tersebut tiba-tiba menjadi hening. Semua anggota tidak ada yang berani bicara. Mereka memandang Zhang Fei dengan tatapan heran.


Dari sini, Ketua Dunia Persilatan sudah tahu bahwa orang-orang itu merasa penasaran dengan surat yang tergenggam di tangannya.


"Baiklah, supaya tidak penasaran, aku akan segera membaca surat ini,"


Zhang Fei kemudian membuka lipatan surat dan segera membacanya.


"Anak Fei, kembalilah ke Gedung Ketua Dunia Persilatan dalam waktu satu minggu ke depan. Di sana, kita akan membicarakan beberapa hal,"


Setelah selesai membaca surat tersebut, Zhang Fei segera melipatnya kembali.


"Ternyata surat ini dari Dewa Arak Tanpa Bayangan. Orang tua itu ingin aku kembali supaya bisa berkumpul bersama yang lain untuk membicarakan beberapa hal," ujarnya menjelaskan kepada semua anggota. "Menurut pendapatku, pembicaraan nanti menyangkut tentang situasi dan hasil penyelidikan kami beberapa waktu belakangan,"


Tiga belas ahli pedang itu menganggukkan kepala beberapa kali. Mereka tidak berani bicara lagi.


"Sudahlah, sekarang, mari kita merayakan kemenangan ini dulu,"


"Baik, Ketua,"


Cawan arak langsung diangkat setinggi mungkin. Suara arak yang masuk ke tenggorokan segera terdengar. Mereka bersulang sampai beberapa kali banyaknya.


Setelah puas, Zhang Fei kemudian mengajak yang lainnya untuk menyantap makanan.


Kegiatan itu tidak berlangsung lama. Sebab sepanjang menyantap menu makanan, di antara mereka tidak ada yang berbicara.


Orang-orang tersebut sangat menghargai makanannya. Hal itu bisa dilihat dari bagaimana mereka menyuapkan nasi sedikit demi sedikit ke dalam mulut.


Mereka tahu, di luar sana masih ada banyak orang yang tidak makan enak sepertinya. Maka dari itu, orang-orang tersebut sangat bersyukur atas apa yang dimilikinya saat ini.


Sepuluh menit kemudian, semuanya sudah selesai makan. Sekarang, mereka kembali pesta arak.


"Apakah di antara kalian ada yang mengerti tentang ilmu pengobatan?" tanya Zhang Fei mulai berbicara kembali.


"Sepertinya tidak, Ketua. Kami hanya tahu caranya menyalurkan tenaga dalam dan hawa murni. Itu saja," jawab Zhu Yun.


Ketiga belas orang tersebut memang tidak belajar tentang ilmu pengobatan. Setiap harinya, waktu mereka hanya dihabiskan untuk berlatih ilmu pedang.


Orang-orang seperti mereka, pada umumnya sudah menyerahkan seluruh waktunya untuk sebatang pedang. Bahkan mereka hidup pun, mungkin tujuannya adalah supaya bisa menjadi ahli pedang tanpa tanding.


Sebenarnya, Zhang Fei sendiri hampir serupa dengan orang-orang tersebut. Hanya saja, kebetulan dia memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Sehingga waktunya tidak hanya dihabiskan untuk berlatih ilmu pedang. Melainkan juga berlatih ilmu-ilmu yang lainnya.


"Baiklah. Setelah pesta ini selesai, salurkanlah tenaga dalam serta hawa murni kalian kepada rekan-rekan yang menderita luka. Besok pagi, aku akan membuatkan ramuan untuk membantu mempercepat proses penyembuhannya," kata Zhang Fei dengan tegas.


"Baik, Ketua. Kami mengerti,"


Mereka melanjutkan minum lagi. Dan tepat setelah pesta itu selesai, mereka yang tidak mengalami luka parah, segera bergerak untuk mengobati rekan-rekannya.


Zhang Fei juga tidak tinggal diam. Dia pun ikut membantu mereka. Selama beberapa jam ke depan, orang-orang tersebut terus melakukan hal serupa.


###


Pagi hari sudah tiba. Semua anggota Organisasi Pedang Cahaya sudah terbangun dari tidurnya. Zhang Fei sendiri baru saja selesai membuat ramuan yang dijanjikan semalam.


"Zhu Yun, Tuan Goan, kemarilah," katanya memanggil mereka berdua.


Dua orang yang dipanggil langsung menghadap. Zhang Fei berkata lagi. "Berikan ramuan ini kepada mereka. Tutupi juga kuka-luka itu dengan ramuan yang sama. Aku rasa, dalam tiga hari ke depan lukanya akan mengering," kayanya sembari memberikan dari wadah ramuan buatannya.


"Baik, Ketua," kata Zhu Yun.


"Aku mengerti, Ketua," Tio Goan menjawab hampir bersamaan dengannya.


"Bagus. Sekarang lakukanlah tugas ini,"


Mereka berdua segera kembali ke tempat semula. Anggota yang menderita luka, langsung diobati dengan cepat.


Zhang Fei tersenyum melihat keakrabannya. Dia merasa bangga dengan tiga belas ahli pedang yang ada di hadapannya saat ini.


Lima belas menit kemudian, Tio Goan dan Zhu Yun sudah menyelesaikan tugasnya. Sekarang mereka sedang duduk di bangku masing-masing.