
Kuil itu tidak terlalu besar. Tapi juga tidak kelewat kecil. Mungkin kuil yang sudah bobrok itu mampu menampung setidaknya tujuh sampai delapan puluh orang.
Zhang Fei dan Kai Luo saat ini sedang ada di depan halaman kuil. Di sana berserakan. Daun-daun kering terdapat di sana sini. Melihat ke bangunan, cat yang menempel pun sudah mengelupas. Banyak pula genting yang bocor.
Menurut perkiraan, setidaknya kuil itu sudah tidak dipakai paling lama sepuluh tahun.
Keadaan di sana sepi hening. Tidak terlihat adanya manusia lain kecuali mereka berdua. Yang terdengar hanya suara-suara binatang yang berasal dari dalam hutan sana.
Kai Luo berjalan menghampiri kuda, dia mengambil dua guci arak yang disimpan di dalam sebuah keranjang anyaman bambu, dan melemparkan yang satunya kepada Zhang Fei.
"Anak Fei, kau tunggu di sini. Aku akan pergi ke hutan untuk mencari makanan," ucapnya sambil melangkah pergi.
"Baiklah, Tuan Kai. Kalau begitu biar aku yang mencari kayu bakarnya,"
Dia pun langsung berdiri, kemudian mulai mengumpulkan ranting kayu yang berserakan.
Beberapa saat kemudian, Zhang Fei sudah selesai melakukan pekerjaannya. Sekarang di sana sudah ada banyak ranting kayu. Ia hanya tinggal menunggu kedatangan Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Semoga saja Tuan Kai membawa rusa yang berukuran besar," gumam anak muda itu.
Dia membuka segel arak, lalu mulai meminumnya sampai beberapa kali.
Tiba-tiba, Zhang Fei celingukan memandang ke sana kemari. Seolah-olah ada sesuatu yang ia dengar, atau setidaknya ada yang membuat anak muda itu curiga.
"Sahabat yang di dalam, kenapa tidak keluar saja? Mari kita bersulang arak," ucap Zhang Fei secara tiba-tiba.
Perkataan anak muda itu sebenarnya tidak terlalu keras. Namun karena dibarengi juga dengan dorongan tenaga sakti, maka suaranya bisa terdengar jelas sampai beberapa jarak.
Tepat setelah gema suaranya menghilang, tiba-tiba segulung angin berhembus dari dalam kuil. Disusul kemudian dengan munculnya sosok pria tua yang berusia lanjut.
Orang tua itu mengenakan pakaian cokelat. Rambutnya yang sudah memutih diikat oleh kain sutera. Ia mempunyai wajah sangar dengan sorot mata tajam seperti golok.
Dia kemudian berjalan dengan langkah ringan ke arah Zhang Fei. Orang tua itu baru berhenti ketika tiba di sisinya.
"Ini ..." Zhang Fei memberikan guci araknya kepada orang tua itu.
Dia pun tidak menolak. Si orang tua menerima dan langsung meneguknya sebanyak tiga kali. Setelah selesai, ia memberikan lagi guci arak itu.
"Arak manis, sungguh arak mahal," katanya memuji.
Ternyata suaranya parau. Tapi juga terdengar sedikit menyeramkan.
"Setidaknya arak ini bisa memberikan kehangatan," timpal Zhang Fei sambil tersenyum. Dia tampak tenang, seolah-olah dirinya sedang berhadapan dengan orang yang sudah lama di kenalnya.
"Kenapa kau tidak mengajak rekan-rekanmu muncul? Siapa tahu mereka juga ingin mencoba arak mahal ini," ucapnya sambil tertawa.
Si orang tua mengerutkan kening, dia seperti terkejut. Tapi kemudian segera menganggukkan kepala.
"Anak muda yang hebat,"
Selesai dia berkata seperti itu, dari dalam kuil juga tiba-tiba muncul dua orang lain yang usianya tidak berbeda jauh. Kedua orang itu mengenakan pakaian hijau tua. Penampilan mereka seragam. Wajahnya juga sama-sama garang.
"Kami tidak suka arak mahal. Kami lebih suka arak yang keras," kata pria tua yang membawa golok di pinggangnya.
"Aih, sayang sekali. Padahal ini arak enak," keluh Zhang Fei.
"Kau habiskan saja arak itu sendiri. Lebih cepat, lebih baik," sahut rekannya yang membawa cambuk.
"Minum arak itu harus tenang. Tidak boleh terburu-buru," kata Zhang Fei tetap berada di tempatnya.
Sampai pada saat ini, dia tetap duduk seperti semula. Terhadap tiga orang tua yang sudah berdiri di sisinya, ia bahkan seolah-olah tidak meliriknya sama sekali.
Wushh!!! Wushh!!!
Sesaat kemudian, benar juga, dari balik semak belukar, tiba-tiba muncul belasan orang. Gerakan mereka cukup cepat, sehingga hanya sekejap saja, di halaman kuil bobrok itu sudah penuh oleh orang-orang yang mengenakan seragam warna-warni.
"Anak muda, kenapa kau tidak mau berdiri?" tanya si orang tua yang pertama kali muncul.
"Aku lelah. Jadi lebih baik duduk daripada harus berdiri,"
"Hemm ... kau tahu? Aku si Pengelana Tua paling tidak suka kepada orang yang berbicara sambil duduk, padahal orang lainnya bicara sambil berdiri," kata orang tua itu sambil memperkenalkan dirinya.
"Aih, padahal bicara sambil duduk lebih enak,"
"Sudah, sudah ..." orang tua berpakaian hijau yang membawa golok menengahi. Ia kemudian menyambung lagi. "Anak muda, kau tahu bukan bahwa kedatangan kami kemari bukan untuk minum arak bersama, apalagi bicara panjang lebar denganmu,"
"Ya, ya, ya. Sejak awal aku sudah tahu, kedatangan kalian memang bukan untuk hal-hal tersebut,"
"Bagus kalau kau sudah tahu," timpal rekannya sambil tersenyum dingin. "Kedatangan kami yang sebenarnya adalah ingin mengingatkan supaya kau tidak ikut campur,"
"Ikut campur terhadap apa?" tanya Zhang Fei sambil memandangi orang itu.
"Pokoknya terhadap segala macam persoalan yang terjadi. Apabila persoalan itu tidak ada sangkut pautnya denganmu, lebih baik kau diam saja,"
"Kalau aku tetap ingin ikut campur?"
"Maka aku pastikan, hidupmu tidak bisa lebih lama lagi," si Pengelana Tua menjawab dengan cepat. Suaranya yang parau berubah menjadi dingin. Dingin dan penuh dengan ancaman.
Tapi Zhang Fei tidak gentar. Ia justru tersenyum lebar.
"Pengelana Tua, hidup mati itu sudah ada yang menentukan. Selaku manusia, kau tidak bisa bicara seperti itu,"
"Bocah! Jangan banyak bicara lagi. Sekarang, kembalilah ke tempat asalmu sebelum terlambat," ia bicara dengan nada tinggi sambil memberikan isyarat dengan tangannya, supaya Zhang Fei mau kembali.
"Aku tidak akan kembali. Aku pun tidak mau menuruti ucapan kalian,"
Ia menatap tiga orang di depannya itu secara bergantian. Tatapan yang tajam dan menusuk. Tanpa sadar, tiga orang itu merasakan telapak kakinya menjadi dingin.
Entah itu karena takut, atau karena apa. Sebab tiada yang mengetahuinya secara pasti.
"Rupanya kau benar-benar keras kepala!"
Orang berpakaian hijau yang membawa cambuk sudah tidak bisa menahan amarahnya. Sembari berkata demikian, dia melayangkan tangan kanan ke depan. Niatnya untuk mencengkeram leher Zhang Fei dan membantingnya dengan keras.
Siapa sangka, usahanya itu justru gagal. Ia tidak berhasil menyentuh leher anak muda itu.
Dalam hati, dia sangat heran. Sebab gerakan barusan walaupun terlihat sederhana, namun sebenarnya teramat cepat. Dengan jarak sedekat itu, rasanya mustahil target bisa lepas.
Tapi kenyataan bahwa anak muda itu tidak terkena cengkeramannya.
Bagaimana mungkin dia bisa menghindar?
Orang itu menjadi penasaran. Dia mencoba usaha yang sama untuk kedua kalinya. Tapi tetap saja, hasilnya juga sama.
Ia tidak berhasil menyentuh leher Zhang Fei.
"Kurang ajar! Kau memang sudah bosan hidup!"
Wushh!!!
Dia mendorong tangannya ke depan. Ia ingin menghantam Zhang Fei dengan tenaganya yang besar. Andai saja anak muda itu terkena hantamannya, niscaya dia akan mengalami luka patah.