
"Ketuai Fei, kau ini kenapa? Manusia seperti dia tidak boleh terus dibiarkan hidup lebih lama. Sekarang juga, aku minta supaya Ketua memberikan perintah agar aku membunuhnya. Aku pastikan, dalam satu tarikan nafas, kepalanya sudah menggelinding ke tanah,"
Pendekar Pedang Perpisahan berbicara dengan nada berapi-api. Dia sudah benar-benar marah. Ingin sekali ia mencabut pedang dan memenggal batok kepala Pendekar Kipas Terbang.
Sayang sekali, Zhang Fei selalu menahannya. Ketua Dunia Persilatan tidak pernah mengizinkan dirinya untuk bergerak.
"Aku tahu, Tuan Wu. Tapi situasi sekarang tidaklah tepat. Biarlah aku yang menghadapinya. Aku ingin tahu, sampai sejauh mana dia bisa bertindak?"
Zhang Fei berusaha menyebarkan datuk sesat tersebut. Walaupun ia tidak bisa menahan diri, tapi karena yang melakukan itu adalah Zhang Fei, mau tidak mau dirinya harus tetap menuruti.
Pada akhirnya, Pendekar Pedang Perpisahan hanya bisa menghela nafas berat sambil terus menahan amarahnya. Dia segera mundur sejauh tiga langkah ke belakang.
"Tuan Bi, coba lanjutkan perkataanmu," kata Zhang Fei memberi perintah kepada Pendekar Kipas Terbang untuk melanjutkan ucapannya yang tadi sempat terhenti. "Apa yang sebenarnya kau inginkan?"
Pendekar Kipas Terbang tersenyum sinis untuk sekejap. Dalam hatinya, dia tertawa terbahak-bahak karena Ketua Dunia Persilatan itu ternyata sangat mudah untuk dikelabui.
"Begini, Ketua Fei. Kemampuan Ketua memang tidak perlu diragukan lagi. Aku sendiri tidak yakin bisa menghadapi Ketua kalau hanya mengandalkan kemampuan sendiri. Jadi supaya seimbang, bagaiamana kalau kami bertiga maju secara bersamaan melawan Ketua? Aku yakin, dalam waktu tiga puluh jurus itu, kita bisa memberikan tontonan yang cukup menarik kepada semua orang,"
Setelah berkata, dia langsung menatap Zhang Fei lekat-lekat. Pendekar Kipas Terbang sangat berharap Ketua Dunia Persilatan mau menuruti usulannya tersebut.
Kalau dia setuju, niscaya ceritanya akan lain lagi.
Tokoh angkatan tua itu yakin, Zhang Fei pasti akan kewalahan jika menghadapi mereka bertiga sekaligus.
Kalau hanya menghadapi satu-persatu, mungkin kemenangan pasti akan selalu berpihak kepadanya.
Tapi, bagaiamana kalau melawan tiga orang sekaligus? Benarkah Ketua Dunia Persilatan masih mempunyai kesempatan besar untuk meraih kemenangan?
Tidak! Pendekar Kipas Terbang tidak percaya akan hal tersebut.
Walaupun benar kemampuannya hebat, tapi lawan yang dihadapi juga bukan orang sembarangan. Apalagi mereka bertiga adalah tokoh-tokoh angkatan tua yang sudah mempunyai jam terbang tinggi.
Sementara itu, Zhang Fei juga terlihat sedang berpikir. Ia sedang mengukur sampai di mana kemampuan tiga tokoh angkatan tua tersebut.
'Hemm ... mereka bertiga sudah setara dengan pendekar kelas satu angkatan tua, pengalaman bertarungnya juga pasti sangat banyak. Dan lagi, gabungan kekuatannya juga hampir setara dengan pendekar pilih tanding. Bisakah aku menghadapinya secara bersamaan?'
Batinnya terus bertanya-tanya. Dalam waktu yang bersamaan, dia pun sedang menatap mereka secara bergantian.
Tidak lupa, Zhang Fei juga mengukur kemampuan sendiri.
Setelah dipikir beberapa waktu, akhirnya dia menemukan jalan keluar.
Kalau harus mengalahkan mereka dalam waktu tiga puluh jurus, mungkin hal itu sangatlah susah. Setidaknya, Zhang Fei harus memiliki waktu yang sedikit lebih lama.
"Baiklah. Aku setuju dengan usulmu itu, Tuan Bi," kata Zhang Fei seraya mengangguk. "Tapi, peraturan harus sedikit diubah,"
"Apanya yang harus diubah?"
"Bagaimana kalau waktunya ditambah menjadi lima puluh jurus dan arena bertarungnya diganti menjadi di tengah halaman?"
"Setuju. Aku sangat setuju sekali, Ketua Fei," jawab Pendekar Kipas Terbang dengan cepat.
Ketiga tokoh angkatan tua itu sangat senang dengan keputusan Zhang Fei. Karena secara tidak langsung, kesempatan bagi mereka untuk meraih kemenangan pun akan semakin besar lagi.
Sementara itu, setelah peraturan baru disetujui, beberapa orang petugas langsung meminta supaya para pendekar mundur ke jarak yang lebih aman lagi.
Begitu tempat sudah tersedia, Zhang Fei segara melompat ke tengah-tengah arena. Tiga orang calon lawannya segera datang menyusul. Sedangkan para Datuk Dunia Persilatan, mereka tetap berdiri di atas mimbar dalam jarak yang cukup dekat.
Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak menjadi wasit lagi. Dia lebih memilih untuk mengawasi jalannya pertarungan nanti.
"Silahkan dimulai!" kata Zhang Fei setelah dia selesai mempersiapkan diri.
Ketua Dunia Persilatan memasang sikap yang tenang. Ia berdiri tegak seperti sebatang tombak. Kedua tangannya disimpan di belakang. Sekilas, dirinya terlihat tidak siap. Namun yang sebenarnya, itu adalah sikap sempurna!
Bukan hanya fisiknya saja yang merasa siap. Bahkan hati dan pikirannya juga tidak terkecuali!
Melihat itu, tiga tokoh angkatan tua sempat tersenyum mengejek. Dia menganggap bahwa Zhang Fei sedang berlaku sombong.
"Lihat serangan!"
Pendekar Kipas Terbang berteriak. Dia adalah orang yang menyerang pertama. Deru angin kencang langsung datang memburu ketika dirinya melancarkan pukulan beruntun dari jarak beberapa langkah.
Sebelum serangan asli tiba, gulungan angin kencang lebih dulu datang menerjang Zhang Fei.
Ia menghindari setiap serangan itu dengan cara menggeserkan kaki atau memiringkan tubuh. Semua pukulan milik Pendekar Kipas Terbang kandas begitu saja.
Tidak lama setelah kejadian itu, tiba-tiba Niu Niu melompat dan menerjang ke depan. Begitu jaraknya sudah hampir dekat, dengan gerakan yang sangat cepat dia langsung mencabut sepasang pedang kembar miliknya.
Sringg!!! Sringg!!!
Dua batang pedang yang sangat tajam sudah berada dalam genggaman tangan. Wanita tua itu segera menyerang dengan cara mengirimkan tebasan dari kanan dan kiri.
Pedangnya terus bergerak memberikan gerakan menggunting. Suara mendengung terdengar cukup jelas di telinga.
Gerakan Niu Niu sangat cepat. Pendekar kelas satu pun pasti akan sulit menangkis atau membaca gerakannya.
Namun Zhang Fei bukanlah pendekar kelas satu. Saat ini kemampuannya sudah mencapai pendekar pilih tanding. Meskipun belum mencapai kelas pendekar tanpa tanding, tapi apa rasanya sangat sedikit orang yang mampu mengalahkannya begitu saja.
Semua serangan pedang Niu Niu yang terkenal cepat dan telengas itu berhasil ia hindari cukup mudah. Zhang Fei hanya perlu mengikuti irama permainan lawan. Maka semua ancaman tersebut bisa lewat begitu saja.
Tetapi rupanya ancaman yang datang bukan hanya itu saja. Sesaat sebelum Niu Niu berhenti, di Ratu Jarum tahu-tahu sudah mengambil tindakan.
Dia mengayunkan kedua tangannya secara bergantian. Setelah itu puluhan batang jarum tipis segera melesat dengan cepat ke arah Zhang Fei.
Dalam posisi yang kurang menguntungkan itu, rasanya serangan tersebut akan membuahkan hasil.
Namun siapa nyana, ternyata Ketua Dunia Persilatan sudah bisa menebak akan hal tersebut.
Pada waktu yang sangat tepat, tiba-tiba ia memutarkan tubuhnya. Zhang Fei lalu mendorong kedua telapak tangan ke depan.
Gulungan tenaga sakti muncul. Puluhan batang jarum tadi terhempas ke segala arah. Sebagiannya lagi bahkan sampai kembali ke pemiliknya sendiri.