Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Ninja Dari Negeri Seberang


Beberapa saat kemudian, hujan senjata rahasia itu akhirnya berhenti juga. Keadaan di sana langsung sepi hening kembali.


Zhang Fei menotok beberapa jalan darah dan menyalurkan hawa murni miliknya. Darah segar yang sempat keluar, sekarang sudah berhenti. Luka itu tertutup rapat lagi.


Ia lalu memutarkan tubuhnya sambil melihat ke sekeliling. Walaupun memang tidak mampu melihat apa-apa, tapi setidaknya, ia masih sanggup mengandalkan instingnya.


Wushh!!! Wushh!!!


Beberapa bayangan manusia berkelebat dengan sangat cepat. Di dalam keadaan yang gelap gulita seperti saat ini, bayangan-bayangan itu sangat mirip dengan setan gentayangan.


Zhang Fei mulai meningkatkan konsentrasinya. Dia tidak berani bertindak gegabah, apalagi dirinya belum tahu siapa orang yang mencari masalah dengannya itu.


"Siapa kalian? Kalau memang ada nyali, secara tunjukkan batang hidungmu," katanya dengan nada tinggi.


"Hahaha ..."


Suara tertawa yang keras segera menggema memenuhi seluruh ruangan. Suara tawa itu terdengar cukup lama.


Hati Zhang Fei cukup tergetar. Sebab dari suara barusan, ia bisa menduga bahwa orang tersebut pasti mempunyai kemampuan tinggi.


Wushh!!!


Sebuah cahaya putih tiba-tiba terlihat sekilas. Cahaya itu ibarat kilat yang menyambar. Kemunculannya sangat singkat, tapi membawa suatu bahaya yang tidak main-main.


Anak muda tersebut segera merasakan ada ancaman yang sedang menuju ke arahnya.


Wutt!!!


Zhang Fei bergerak tepat pada waktunya. Sebatang pedang panjang yang ingin menusuk jantungnya dengan telak, berhasil ia hindarkan.


Tidak berhenti sampai di situ saja, pada saat menyadari serangan pertama gagal, si penyerang segera melanjutkan lagi usahanya.


Pedang itu tiba-tiba menebas tepat ke arah leher.


Trangg!!!


Benturan terjadi. Percikan api membumbung tinggi sehingga membuat keadaan yang gelap itu menjadi terang untuk sesaat.


Pada saat itu, Zhang Fei bisa melihat bahwa orang yang menyerangnya ternyata menggunakan cadar hitam.


Siapa dia? Apakah ia adalah anggota Partai Panji Hitam?


Zhang Fei tidak bisa memastikan hal tersebut. Hanya saja ia menyadari bahwa kalau keadaannya terus seperti ini, niscaya dirinya akan mengalami musibah.


Sadar akan hal tersebut, mendadak dirinya menjejakkan kaki ke tanah, lalu melayang mundur ke belakang.


Untunglah si penyerang juga tidak mau kehilangan jejaknya, dengan gerakan yang sama cepat, dia pun segera mengejar Zhang Fei.


"Bagus. Mari ikut aku," gumamnya perlahan.


Ia terus melayang mundur. Zhang Fei baru berhenti ketika dirinya sudah berada di depan halaman bangunan tua terbengkalai tersebut.


Saat itu, ternyata hari semakin larut malam. Kentongan kedua sudah dipukul di kejauhan sana.


Cuaca semakin cerah. Di atas langit tidak ada awan. Sehingga cahaya rembulan bisa menyorot sempurna ke muka bumi.


Sekarang, peris di depan Zhang Fei, sudah ada satu orang yang berdiri. Orang itu mengenakan pakaian serba hitam. Penampilannya seperti anggota Partai Panji Hitam. Tapi kalau dilihat lebih telisik, jelas bahwa dia bukan bagian dari partai sesat tersebut.


Ia mirip seperti ninja. Ninja yang berasal dari negeri Jepun (Jepang).


"Kau bukan berasal dari negeriku?" tanyanya sambil menatap tajam.


"Ya. Aku berasal dari negeri seberang," jawab orang itu dengan logat kaku.


"Apakah kau berasal dari Jepun?"


"Tidak salah," ucap orang itu mengakui.


"Hemm ... mau apa kau jauh-jauh datang kemari?"


"Itu urusanku. Tidak ada urusannya sama sekali dengan dirimu,"


"Tentu saja ada. Sebab aku adalah pribumi di sini,"


Orang tersebut tidak menjawab. Dia hanya membalas tatapan tajam Zhang Fei.


Kedua orang itu saling diam. Mereka tidak berbicara dalam waktu yang cukup lama.


"Apakah kau tinggal di bangunan ini?" tanya Zhang Fei lebih jauh.


"Kau tidak perlu tahu," jawab ninja itu sambil tersenyum dingin dibalik cadarnya.


"Hemm ..." anak muda tersebut mendehem.


Dengan segera dia mengambil sikap kuda-kuda. Pedang Raja Dewa masih berada di genggaman tangannya.


Wutt!!!


Baru saja bersiap, tiba-tiba ninja itu menyerang. Gerakannya ternyata sangat cepat sekali. Pedang panjang yang berada di tangan kanannya, menusuk lurus menuju ke ulu hati.


Zhang Fei tidak mau kalah. Ia langsung menyambut serangan lawan. Pertarungan seketika terjadi. Tapi baru mencapai sepuluh jurus, anak muda itu mulai kebingungan.


Dia bingung karena gerakan lawan ternyata sangat sulit ditebak ke mana arahnya. Ilmu pedang yang digunakan oleh ninja tersebut sangat berbeda dengan ilmu pedang yang terdapat di Tionggoan.


Setiap gerakannya mempunyai kecepatan tinggi. Jurus yang ia gunakan juga sangat sederhana. Tidak ada kembangan sama sekali.


Sangat berbeda dengan jurus-jurus pedang yang sudah umum di Tionggoan.


"Memadamkan Rembulan Melenyapkan Bayangan!"


Wutt!!!


Karena merasa bingung dengan cara bagaimana mengimbangi gerakan lawan, pada akhirnya Zhang Fei memutuskan untuk mengeluarkan salah satu jurus andalannya.


Gerakan pedang anak muda itu berubah hebat. Cahaya putih bagaikan kilat yang menyambar. Setiap sambaran pedangnya menciptakan ribuan kuntum bunga pedang.


Lima jurus berikutnya, tiba-tiba Pedang Raja Dewa sudah bersarang dengan telak di tenggorokan lawan.


"Jangan pernah mencari gara-gara di negeriku," bisik anak muda itu sambil mencabut pedangnya.


Setelah berhasil membunuh satu orang lawan, dia berniat untuk masuk kembali ke dalam bangunan tua. Tapi siapa sangka, sebelum dirinya bergerak, tiba-tiba hujan senjata rahasia yang berbentuk Bintang Segi Lima sudah terjadi lagi.


Puluhan senjata rahasia itu datang sekaligus dari dalam sana. Namun karena sekarang keadaannya tidak segelap tadi, maka dengan mudah saja Zhang Fei merontokkan serangan lawan.


Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!


Puluhan Bintang Segi Lima segera berjatuhan di bawah kakinya. Begitu selesai, tiba-tiba ia mendengar ada orang yang bertepuk tangan.


"Bagus sekali. Ternyata kemampuanmu bukan kabar angin saja," sebuah suara mendadak terdengar. Asalnya dari dalam bangunan tua.


"Siapa kau?" Tanyanya dengan cepat.


"Kau akan segera mengetahuinya," jawab si pemilik suara.


Tidak lama setelah itu, dari dalam bangunan yang gelap tersebut, tiba-tiba muncul beberapa orang.


Kalau dihitung, jumlahnya ada sekitar sepuluh. Sembilan orang ninja dari Jepun, sedangkan satu orang sisanya adalah tokoh tua dari Tionggoan.


Dalam waktu yang terbilang singkat, sepuluh orang itu sudah tiba di hadapan Zhang Fei. Mereka hanya terpaut jarak sekitar tujuh langkah.


"Ternyata di sini ada pengkhianat," kata anak muda itu sambil tersenyum dingin.


Yang dimaksud pengkhianat olehnya tentu saja adalah tokoh tua tua yang mengenakan pakaian warna cokelat itu.


"Hehehe ... apakah yang kau maksudkan adalah diriku?" tanyanya sambil tersenyum menyeringai.


"Kalau sudah tahu, kenapa masih bertanya?"


"Hemm ... sabar dulu, anak muda,"


"Aku tidak bisa sabar apabila berhadapan dengan manusia sepertimu,"


"Oh, benarkah?"


Zhang Fei tidak menjawab. Dia hanya diam sambil terus menatapnya.


"Anak muda, asal kau tahu saja, aku si Tubuh Besi Tong Gok sudah lama mengagumi ilmu pedangmu," katanya sambil memperkenalkan diri.