
Zhang Fei masih berada di sana. Sepasang matanya yang tajam dan jeli itu kerap kali memandangi tulisan yang misterius.
Dari pertama bangun tidur sampai saat ini, ia terus memikirkan siapa yang menulisnya. Tapi sayang sekali, tidak ada satu pun jawaban yang berhasil dia peroleh.
Dalam benaknya, hanya ada beberapa orang saja yang kemungkinan besar menulis kata-kata tersebut. Mereka adalah Empat Datuk Dunia Persilatan, Ketua Dunia Persilatan dan juga kakeknya sendiri, Zhang Liong.
Tapi, benarkah tulisan tersebut ditulis oleh salah satu dari mereka?
Dia tidak bisa memastikannya. Sebab itu semua hanya dugaan belaka.
Beberapa waktu kemudian, ketika mentari sudah mulai meninggi, Zhang Fei tiba-tiba bangkit berdiri dan segera pergi dari sana. Dia tidak menghiraukan belasan mayat manusia yang bergelimpangan.
Zhang Fei memilih untuk terus berjalan menuruni Gunung Lima Jari. Sepanjang perjalanan, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa dia selalu saja memikirkan nasib Yao Mei.
Bagaimana keadaan gadis itu? Apakah dia masih hidup? Ataukah sudah mati?
Seringkali sepasang matanya menatap ke tempat sekitar. Seolah-olah dia sedang berharap bisa bertemu lagi dengan Yao Mei. Entah itu masih hidup atau sudah mati, asalkan bisa bertemu kembali, rasanya hal itu jauh lebih baik daripada tidak bertemu sama sekali.
Sayangnya, harapan cuma harapan belaka. Dari mulai dirinya masih berada di atas, sampai saat ini sudah berada di bawah kaki gunung, dia tidak pernah menemukan tanda-tanda keberadaan Yao Mei.
Pada saat seperti itu, tiba-tiba pikirannya melayang kembali. Bayangan Yu Yuan dan Yin Yin mendadak melintas. Sekarang dia pun jadi teringat dengan kedua gadis tersebut.
Di mana mereka saat ini? Apakah keduanya masih hidup dalam keadaan baik-baik saja? Ataukah mereka turut menjadi korban dalam pembunuhan masal para pendekar beberapa waktu lalu?
Tiba-tiba Zhang Fei menghentikan langkahnya. Ia mulai mengingat kejadian saat dirinya bersama Yao Mei dan Dewa Arak Tanpa Bayangan menguburkan jasad para pendekar tersebut.
Kalau diingat lebih lanjut, rasanya dia tidak berhasil menemukan jasad dua gadis itu.
"Ah, mereka pasti masih hidup dengan baik. Ini hanya pikiranku saja yang terlalu liar," gumamnya mencoba menenangkan diri.
Setelah mulai merasa tenang, dia kembali melanjutkan langkahnya. Ketika matahari sudah berada di atas kepala, saat itu Zhang Fei hampir tiba di tengah-tengah pemukiman warga.
Dia memang sengaja memperlambat langkahnya. Entah kenapa, Zhang Fei merasa malas untuk menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Apakah hal tersebut timbul karena hatinya sedang bersedih?
Entahlah. Sebab dia sendiri tidak bisa menjawabnya.
Perlahan namun pasti, Zhang Fei sudah tiba lagi di jalan setapak yang cukup sepi. Menurut yang dia ketahui, di ujung jalan setapak ini terdapat kampung penduduk.
'Kalau sudah tiba di tempat ramai, aku mau langsung mencari warung makan saja,' batinnya berkata sambil meneruskan langkah.
Namun baru saja sepuluh langkah berjalan, tiba-tiba ada seseorang yang berlari dengan cepat ke arahnya. Orang itu seperti buru-buru. Zhang Fei sendiri awalnya belum mengetahui siapa orang tersebut.
Hanya saja ketika jarak di antara mereka semakin dekat, ia mulai bisa melihat dengan jelas siapakah orang itu.
Yu Yuan!
Ternyata orang itu adalah Yu Yuan adanya!
Gadis yang beberapa saat lalu sempat dia pikirkan.
Karena sekarang sudah tahu siapa yang datang itu, maka Zhang Fei pun menghentikan langkah kakinya.
"Nona Yuan, ada apa? Kenapa kau terlihat seperti terburu-buru sekali?" tanyanya begitu Yu Yuan tiba di depan mata.
Yu Yuan berkata dengan nada terputus-putus. Jari telunjuk mengarah ke belakang sana. Sepertinya dia sedang menunjukkan suatu tempat.
Pada saat berbicara seperti itu, wajah Yu Yuan terlihat sangat pucat pasi. Keringat dingin telah bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.
"Nona Yu, apa maksudmu? Aku ... aku tidak mengerti sama sekali," jawab Zhang Fei sambil mengerutkan kening.
Brukk!!!
Bukannya jawaban yang didapat, Yu Yuan justru malah ambruk. Untunglah pada saat itu Zhang Fei telah bergerak dengan sangat cepat menyambar tubuhnya. Sehingga gadis itu tidak sampai tersungkur ke atas tanah.
Anak muda itu semakin bingung. Tetapi setelah merasa yakin bahwa semuanya tidak seperti yang dia lihat, maka Zhang Fei memutuskan untuk memangkunya. Dia membawa Yu Yuan ke pinggir jalan.
Yu Yuan kemudian dibaringkan tepat di bawah pohon rindang.
Pada saat itu cuaca terasa sangat panas. Matahari bersinar dengan terik. Di atas langit tidak terlihat adanya awan. Untunglah hawa panas tersebut bisa sedikit berkurang karena adanya hembusan angin yang menyegarkan.
Sementara itu, karena merasa ada yang tidak beres, Zhang Fei pun kemudian memeriksa urat nadi di tangan Yu Yuan. Betapa kagetnya ia ketika mendapati bahwa urat nadi tersebut sudah tidak berdenyut.
Zhang Fei mulai panik. Pikirannya mulai ngawur. Ia melanjutkan pemeriksaannya. Sekarang jarinya didekatkan ke hidung. Namun hasilnya masih sama. Dari hidung itu tidak terasa adanya hembusan nafas.
"Nona Yuan ... Nona Yuan, apakah kau sedang bercanda? Tolong bersikaplah serius. Ayo bangun,"
Dia mulai menggoyang-goyangkan tubuh Yu Yuan. Zhang Fei mengira bahwa gadis itu sedang bercanda. Apalagi para pendekar dalam dunia persilatan, biasanya memang mampu menahan nafas dan semua urat syaraf di dalam tubuh sehingga mirip seperti orang mati.
Akan tetapi, semua anggapan tersebut tiba-tiba hilang begitu saja ketika Zhang Fei juga merasakan bahwa tubuh Yu Yuan mulai dingin. Dingin seperti es.
"Nona Yuan ..."
Untuk yang kesekian kalinya dia melakukan hal yang serupa. Tapi Yu Yuan tetap tidak memberikan reaksi apapun.
Tepat, Yu Yuan telah tewas!
Tapi, mengapa dia bisa tewas? Apa penyebabnya?
Menyadari kenyataan tersebut, Zhang Fei mulai bergerak dengan cepat. Meskipun sedang dalam keadaan sedih, namun insting pendekarnya tidak hilang.
Ia kembali melakukan pemeriksaan untuk yang kedua kali. Sekarang yang dia periksa bukan hanya urat nadi saja. Zhang Fei bahkan membalikkan tubuh Yu Yuan.
Kalau dilihat sekilas, memang seperti tidak ada yang aneh. Tubuhnya masih terlihat baik-baik saja. Tapi ketika diteliti lebih jauh, barulah Zhang Fei menemukan penyebabnya.
Tepat di tengkuk Yu Yuan, dia bisa menemukan adanya luka goresan. Luka itu tidak terlalu panjang, tapi jelas cukup dalam sehingga mengenai pembuluh darahnya.
"Ini sayatan pedang!" gumamnya perlahan.
Ia memandang lekat-lekat ke mulut luka tersebut. Beberapa kali dilihat pun, hasilnya tetap sama. Luka goresan itu memang diakibatkan karena sayatan pedang.
Siapa yang telah membunuh Yu Yuan? Kenapa lukanya begitu rapi?
Perasaan Zhang Fei kembali tidak karuan. Namun ia berusaha untuk tetap tenang.
Sebagai seorang pendekar yang menggunakan pedang, tentu saja dia bisa memberikan penilaian lebih terkait peristiwa yang menimpa Yu Yuan.
Dan menurut anggapannya, gadis itu tentu telah dibunuh oleh seorang pendekar pedang kenamaan yang mempunyai kemampuan sangat tinggi.