
"Nanti kau akan segera tahu sendiri. Yang jelas, pembicaraan ini sangat penting sekali,"
"Aku jadi sedikit khawatir," ucap Zhang Fei seraya tersenyum getir.
Dia takut ada masalah yang baru lagi. Belakangan ini, dirinya sudah terlalu banyak menghadapi masalah. Baik itu masalah kecil, maupun masalah yang begitu besar dan rumit diselesaikan.
Meskipun di dalam hati dia merasa senang karena bisa memberikan bantuan untuk negerinya, tapi di lain sisi kadangkala Zhang Fei juga mengeluh.
Di usia muda saja, masalah yang dia hadapi sudah sangat banyak. Apalagi nanti di usia tua?
Ketika sedang berpikir sejauh itu, terkadang Zhang Fei merasa ingin berhenti jadi seorang pendekar. Namun sayangnya, ia tetap tidak bisa melakukannya. Apalagi langit sudah menentukan jalan hidupnya.
"Jangan terlalu khawatir. Ini bukan tentang masalah baru," kata Orang Tua Aneh Tionggoan mengetahui isi hati Zhang Fei pada saat itu. "Ini semua tentang masa depanmu, anak Fei,"
"Eh?" Zhang Fei mengerutkan kening sambil menatap penuh kebingungan.
"Sudahlah. Sekarang juga kau bersiap dan mari kita pergi ke rumah makan mewah. Kebetulan perutku sangat lapar," ujar Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Baiklah, baiklah. Tunggu sebentar, Tuan Kiang,"
Zhang Fei masuk lagi ke dalam kamar. Dia segera mempersiapkan diri. Setelah selesai, ia baru keluar lagi dan langsung pergi bersama Empat Datuk Dunia Persilatan.
Sekitar lima belas menit kemudian, lima orang itu sudah berada di sebuah rumah makan besar. Rumah makan yang mereka pilih adalah yang terbaik dan menjadi salah satu rumah makan favorit di Kotaraja.
Meskipun biaya yang akan dikeluarkan nantinya tidak sedikit, namun mereka tidak perlu khawatir soal itu. Apalagi yang pemberian Kaisar beberapa waktu lalu masih tersisa banyak di kantong masing-masing.
Ruangan yang dipilih sebagai tempat pertemuan adalah ruangan di lantai tiga. Di ruangan ini, mereka bisa bebas berbicara tanpa takut didengar oleh orang lain.
Di setiap rumah makan besar sebenarnya selalu ada ruangan seperti ini. Hanya saja karena biayanya sangat mahal, maka cuma segelintir orang saja yang mau menyewanya.
Alasan kenapa lima orang tokoh tersebut memilih ruangan ketiga, bukan lain adalah karena saking seriusnya pembicaraan yang akan mereka bahas nanti.
Bisa dibilang, pembicaraan tersebut sifatnya sangat rahasia. Jadi kecuali mereka sendiri, orang luar belum ada yang boleh mengetahui dan mendengarnya.
Setelah semua menu yang dipesan berada di atas meja, mereka lebih dulu menyantapnya sampai habis. Ketika tiba waktu bersantai sambil minum arak, barulah orang-orang itu mulai berbicara.
"Anak Fei, apakah kau tahu kalau kami berempat baru saja selesai mengadakan pertemuan dengan Kaisar?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan mengawali pembicaraan.
"Ya, aku tahu soal itu, Tuan Kai," jawab Zhang Fei sambil mengangguk.
"Lalu, apakah kau tahu apa yang telah kami bicarakan?"
"Soal ini kamu tidak tahu,"
Orang Tua Aneh Tionggoan tersenyum hangat. Dia kemudian melirik ke arah Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Anak Fei, ketahuilah, pertemuan kami dengan Kaisar itu membahas soal posisi Ketua Dunia Persilatan," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan menyambung dengan cepat.
"Oh, benarkah itu?"
"Benar," ucapnya mengangguk. "Pembahasan itu tidak hanya sampai di situ saja. Kami bahkan sudah menentukan siapakah orang yang akan menggantikan posisi Ketua Dunia Persilatan berikutnya,"
Zhang Fei merasa bersemangat mendengarnya. Dia ingin tahu, siapa orang yang akan menjabat sebagai Ketua Dunia Persilatan berikutnya?
"Kau," jawab Empat Datuk Dunia Persilatan secara bersamaan.
"Eh? Aku?" Zhang Fei kebingungan. Dia memandangi empat orang tua di depannya dengan tatapan tidak mengerti.
"Kenapa? Kau tidak percaya?"
"Tentu saja, Tuan Kiang. Aku yakin, kalian pasti sedang becanda,"
"Siapa bilang? Kami justru benar-benar serius, anak Fei. Alasan kenapa kami ingin berbicara denganmu, adalah untuk memberitahu sekaligus membahas hal ini,"
Zhang Fei langsung melongo. Untuk beberapa kejap dia tidak berbicara karena masih merasa ragu dengan ucapan Empat Datuk Dunia Persilatan.
"Taun Kiang, kau serius?" tanyanya untuk yang kesekian kali.
"Aish! Anak Fei, kau pikir kami adalah pembohong?" Dewa Arak Tanpa Bayangan menatapnya tajam.
Sebenarnya Zhang Fei sudah tahu kalau mereka tidak sedang bercanda. Hanya saja, ia masih ragu dengan telinganya. Apa yang dia dengan barusan seperti mimpi di siang bolong.
"Kami sudah menunjukmu sebagai pengganti Ketua Beng Liong. Dan Kaisar sudah setuju akan hal tersebut," ucapnua menegaskan kembali.
"Tapi, Tuan Kiang ... aku merasa belum pantas untuk menduduki posisi itu. Modal yang aku miliki sekarang masih belum cukup. Sepertinya aku tidak bisa menerima keputusan ini," kata Zhang Fei penuh keraguan.
Brakk!!!
Pendekar Tombak Angin tiba-tiba menggebrak meja yang dipenuhi oleh makanan. Dia langsung marah, dengan tajam dirinya menatap lekat-lekat wajah Zhang Fei.
"Apa kau bilang, anak Fei? Kau tidak siap?" ia menarik muka sambil tersenyum dingin. "Ketahuilah, keputusan kami ini sudah bulat. Kami yakin kau mampu menjadi Ketua Dunia Persilatan, tapi, mengapa kau sendiri tidak yakin? Apakah kau akan membuat kami merasa kecewa terhadapmu?"
Ditegur demikian, Zhang Fei menjadi gentar. Tatapan Pendekar Tombak Angin benar-benar tajam. Selama melakukan pengembaraan dengan mereka, rasanya baru kali ini saja Zhang Fei diperlukan seperti itu.
"Bukan, maksudku bukan begitu, Tuan Cao,"
"Lalu apa maksudmu?"
"Aku ... aku hanya merasa belum yakin dengan kemampuan sendiri,"
Dewa Arak Tanpa Bayangan tiba-tiba tersenyum sinis ketika mendengar ucapan Zhang Fei. Dia kemudian berkata, "Orang lain sudah yakin akan dirimu, tapi kau belum yakin akan diri sendiri? Lelucon macam apa ini?"
Ia juga segera menatap Zhang Fei dengan tajam.
"Anak Fei, keputusan ini didasari karena beberapa alasan. Tidak mungkin kami mengambil keputusan begitu saja, kami bukan orang bodoh," katanya tegas.
"Anak Fei, apakah kau tidak ingin membalaskan dendam kematian orang tuamu? Apakah kau tidak mau menjalankan semua tugas dari guru-gurumu?" Orang Tua Aneh Tionggoan tidak bisa diam saja. Dia pun ikut bicara kepada Zhang Fei.
Tetapi, anak muda itu sendiri tidak berbicara apapun. Apalagi dia bingung harus menjawab yang mana.
"Kalau kau benar ingin mewujudkan semua hal itu, jalan pintas satu-satunya adalah menjadi Ketua Dunia Persilatan. Dengan begitu kau akan mempunyai segalanya, dan kau bisa memanfaatkan itu untuk berbagai hal. Baik itu yang bersifat pribadi, maupun publik. Selama langkah yang diambil tidak merugikan orang, kau bisa melakukan segalanya,"
Orang Tua Aneh Tionggoan mencoba menjelaskan dengan nada lemah lembut. Berbeda dengan rekan-rekannya yang terbilang sangat tegas.
"Anak Fei, percayalah kau akan mampu mengemban tugas ini. Kau jangan mengkhawatirkan persoalan, karena kami juga akan selalu mendampingimu. Selama kau belum benar-benar mampu berdiri sendiri, selama itu pula kami akan ada di sisimu," ujar Dewi Rambut Putih sambil tersenyum lembut.