
Setelah berhasil membereskan sepuluh orang serba hitam tersebut, Zhang Fei seketika langsung melesat ke dalam sana. Dia ingin menyusul Ou Yang Shen.
Wushh!!!
Dalam waktu beberapa tarikan nafas saja, Zhang Fei telah berhasil menemukan Ou Yang Shen. Tanpa banyak membuang waktu, dia langsung memperdekat jaraknya.
Rupanya daerah terlarang yang dimaksud oleh papan tulisan di depan sana, bukan lain adalah sebuah perkampungan yang sudah sepi sunyi. Perkampungan tersebut ukurannya tidak terlalu besar. Tapi juga tidak bisa dibilang kecil.
Di sana terdapat cukup banyak rumah-rumah sederhana milik para warga yang berderet dengan rapi. Halaman depan setiap rumah itu tidak terawat. Selain mulai ditumbuhi oleh rumput liar, terlihat pula ada barang-barang perabotan yang berserakan.
Zhang Fei dan Ou Yang Shen terus berjalan menyusuri perkampungan tersebut. Keduanya tidak ada yang berbicara. Mereka tetap diam. Hanya sepasang matanya saja yang terus memandang ke setiap penjuru.
Lima belas menit sudah berlalu kembali. Kedua pendekar itu sudah berjalan lebih dalam lagi. Tapi sejak awal sampai saat ini, belum ada satu pun orang lain yang berhasil mereka temukan.
Perkampungan itu benar-benar sepi. Sangat pantas kalau disebut sebagai kampung mati.
Semakin berjalan jauh, semakin berantakan pula keadaan di sana.
"Zhang Fei, aku rasa di sini tidak ada apa-apa, kecuali hanya perkampungan dan rumah yang sudah ditinggalkan oleh para penghuninya," kata Yang Shen tiba-tiba bicara.
Dia mulai merasa lelah dan bosan. Pencariannya selama ini belum juga membuahkan hasil. Ia menganggap bahwa di tempat tersebut memang tidak ada sesuatu apapun juga.
"Tunggu dulu, Paman Shen. Aku merasa ada sesuatu yang tersembunyi dari perkampungan ini," kata Zhang Fei dengan ekspresi wajah serius.
"Hemm ... baiklah. Aku ikut apa katamu saja," jawabnya mengiyakan.
Zhang Fei tidak berbicara lagi. Ia langsung mempertajam pandangan matanya. Setelah berjalan lebih jauh dan melihat dengan teliti, tiba-tiba ia menyadari ada sesuatu yang ganjil.
"Paman Shen, kau lihat bangunan megah di depan sana?" tanya Zhang Fei sambil menunjuk ke tempat yang dimaksud.
"Yang itu?" tanya Yang Shen menegaskan kembali.
"Benar, Paman Shen," Zhang Fei menganggukkan kepalanya.
Wushh!!!
Tanpa banyak berkata lagi, dia langsung melesat pergi ke bangunan megah dan mewah itu. Zhang Fei berhenti setelah berada tepat di halamannya. Tidak lama kemudian, Ou Yang Shen juga telah menyusul tiba.
"Apakah Paman merasakan ada keanehan di tempat ini?" tanya Zhang Fei sambil melirik ke arahnya.
"Benar," Yang Shen menganggukkan kepala. "Tapi, aku belum bisa memastikan keanehan yang kau maksud itu,"
Zhang Fei tersenyum penuh arti. Sebelum bicara lebih lanjut, dia lebih dulu memandang ke beberapa penjuru.
"Coba kau pikir saja, di tengah perkampungan yang sepi dan sangat sederhana ini, mengapa bisa ada sebuah bangunan megah seperti itu? Bukankah ini cukup aneh? Apalagi, aku merasa bahwa bangunan tersebut menyimpan sesuatu," ujarnya dengan nada serius.
Belajar dari pengalaman yang sudah sering dia lewati, Zhang Fei merasakan bahwa bangunan itu tidak sesederhana yang terlihat. Dia yakin, dibalik yang nampak, pasti terdapat sesuatu lain.
"Hemm ... benar juga. Sekarang aku baru menyadarinya," ucap Yang Shen mulai mengerti maksud dari perkataan Zhang Fei sebelumnya.
"Mari kita masuk ke dalam, Paman Shen," ajaknya.
"Mari,"
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan manusia melesat cepat menuju ke dalam bangunan itu. Setelah tiba di depan pintu, Zhang Fei langsung mendobraknya menggunakan kaki kanan.
Brakk!!!
Pintu kayu yang kokoh tersebut langsung hancur berantakan.
Keadaan di dalam rumah megah ternyata sangat berserakan. Malah di beberapa penjuru sudah ada cukup banyak sarang laba-laba.
"Di sini ada orang," katanya berbisik kepada Ou Yang Shen.
"Ya, aku juga merasakannya,"
"Mari kita cari,"
Zhang Fei mulai melangkah kembali. Dia mencari-cari keberadaan manusia lain tersebut dari hawa kehadirannya. Setelah beberapa waktu mencari, tiba-tiba langkah kakinya berhenti tepat di sebuah pintu besar yang berumur cukup tua.
"Aku merasa hawa kehadirannya berasal dari ruangan ini, Paman," kata Zhang Fei sambil memandang pintu tersebut.
"Bagaimana kalau kita langsung membukanya saja?" usul Yang Shen.
"Setuju,"
Ou Yang Shen kemudian mengumpulkan tenaga dalamnya di tangan kanan. Setelah terkumpul, dia langsung memukul pintu tersebut.
Brakk!!!
Hanya dengan satu kali pukulan, pintu yang terbuat dari kayu keras itu, seketika langsung hancur berkeping-keping.
Dibalik pintu, ternyata ada lagi sebuah ruangan yang terang benderang. Keadaan di sana sangat terawat. Malah lantainya dilapisi oleh permadani warna hijau tua.
Di sudut ruangan ada dua buah kursi dan satu meja cukup besar. Di atas meja itu ada satu guci arak dan sebatang lilin yang masih menyala.
Sebelumnya Zhang Fei sangat yakin bahwa manusia yang dia maksud berada di ruangan tersebut. Tapi begitu dilihat, ternyata di dalam sana tidak ada siapa-siapa.
Ruangan itu kosong!
Ke mana manusianya?
Zhang Fei dan Ou Yang Shen saling pandang untuk beberapa kejap. Wajah mereka menggambarkan kebingungan.
Untuk beberapa saat, keduanya terpaku di tempat masing-masing. Mereka seolah-olah bingung harus melakukan apa.
Dalam pada itu, tiba-tiba Zhang Fei beranjak dari tempatnya berdiri. Dia mulai mencari benda yang mencurigakan.
Di atas meja yang pertama dia lihat tadi, ada sebotol guci arak. Sekilas pandang memang tidak ada yang aneh. Tapi kalau diselidiki lebih lanjut, keanehannya baru akan terlihat.
Guci arak tersebut sudah sangat dekil. Warnanya pun sedikit pudar. Malah sudah dipenuhi oleh debu-debu pula.
Zhang Fei mengerutkan kening. Ia menjulurkan tangan kanannya dan tanpa sengaja memutarkan guci arak tersebut.
Tepat setelah itu, seisi ruangan lamgsung bergetar cukup keras. Permadani hijau mendadak tergulung. Sesaat kemudian, tiba-tiba muncul sebuah lubang yang lumayan besar.
"Ah, ruangan bawah tanah," kata Yang Shen berseru kaget.
Zhang Fei sendiri merasakan hal yang sama. Sebab dia tidak menyangka bahwa ketidaksengajaan itu ternyata mendatangkan sesuatu yang mengejutkan.
"Mari kita masuk ke dalam sana, Paman,"
Kedua pendekar itu kemudian masuk ke ruangan bawah tanah. Mereka menuruni anak tangga yang berjumlah sekitar lima belasan.
Ruangan bawah tanah yang terdapat di rumah megah tersebut benar-benar besar. Keadaan di sana gelap gulita. Untungnya kegelapan itu sedikit terusir dengan kehadiran belasan lilin yang dipasang di setiap titik tertentu.
Mereka terus berjalan semakin dalam. Tiba-tiba telinga Zhang Fei dan Ou Yang Shen mendengar ada suara bising. Semakin berjalan masuk ke dalam, maka suara-suara itu semakin terdengar sangat jelas.
Suara rintihan tangis mulai menusuk telinga. Hawa kehadiran manusia juga terasa semakin tebal.
Setelah beberapa langkah kemudian, mereka langsung dikejutkan dengan pemandangan yang terpampang nyata di depan mata.