
Sayangnya, walaupun cukup lama dia berusaha, tapi tidak ada satu pun petunjuk baru yang berhasil dia temukan.
Kalau sudah begini, ke mana dia harus mencari Yin Yin?
Ia benar-benar bingung. Walaupun dia belum tahu kenapa gadis itu sampai mempunyai masalah dengan Pendekar Pedang Perpisahan, tapi Zhang Fei tetap bertekad untuk mencari dan membawanya pulang.
Kalau dia tidak membantu menyelamatkan Yin Yin dari kata bahaya, rasanya ia tidak punya muka lagi apalagi nanti sampai bertemu dengan Chen Mu Bai, sang Ketua Partai Pengemis tersebut.
Di satu sisi, alasan kenapa Zhang Fei ingin menyelamatkan Yin Yin bukan lain adalah karena rasa kemanusiaannya. Semua itu datang begitu saja. Jangankan Yin Yin yang mempunyai wajah cantik, meskipun korbannya adalah seorang yang buruk rupa sekali pun, agaknya ia akan tetap melakukan hal serupa.
Ketika sedang berada dalam kebingungan yang tidak ada akhir, tiba-tiba saja dirinya mendengar ada segulung angin tajam yang melesat dengan cepat ke arahnya.
Hembusan angin itu datang dari arah belakang. Setelah jaraknya sudah sangat dekat, tiba-tiba Zhang Fei menjejakkan kaki ke tanah. Dia kemudian berjumpalikan di tengah udara sebanyak tiga kali.
Crapp!!!
Sebatang anak panah tahu-tahu sudah menancap tepat di sebuah batang pohon yang berdiri tidak jauh dari tempatnya sekarang.
Seluruh batang anak panah masih bergetar. Hal itu menandakan bahwa tenaga yang terkandung di dalamnya tidak rendah.
Karena merasa curiga, akhirnya Zhang Fei berjalan mendekat. Setelah itu, ia menemukan sesuatu dari anak panah tersebut.
Di tengah-tengah batangnya ada sebuah gulungan. Begitu diambil dan dilihat lebih teliti, sepertinya itu adalah sepucuk surat yang sengaja ditulis di atas kain warna merah.
Zhang Fei mulai membuka sampul tali. Ia kemudian membaca isi surat tersebut.
"Rawa Iblis!"
Isinya hanya itu saja. Tidak jelas siapa pengirimnya. Tidak jelas pula ditujukan kepada siapa.
Hanya saja meksipun begitu, Zhang Fei mempunyai satu kepercayaan kuat dalam benaknya.
Walaupun pengirimnya tidak jelas siapa, namun ia sangat yakin bahwa surat itu memang ditujukan kepadanya.
Tetapi, apa maksud dari dua kata tersebut?
"Rawa Iblis? Apa maksudnua?" ia bergumam sendiri sambil mencoba mencari jawaban.
"Ah, apakah Rawa Iblis itu adalah tempat di mana Nona Yin berada?" Zhang Fei sedikit girang. Kalau hal tersebut benar, artinya ia tidak perlu susah payah lagi mencari petunjuk.
"Tapi ... bagaimana kalau dugaanku salah? Bagaimana jika ini adalah jebakan yang sengaja dibuat oleh musuh?"
Wajah yang sebelumnya gembira tiba-tiba menjadi murung kembali. Dua kemungkinan yang ia ungkapkan barusan memang kemungkinan besar akan terbukti.
Masih mending kalau kemungkinan itu terbukti yang pertama, lantas bagaimana jika yang kedua? Bukankah ini artinya, ia akan berada dalam bahaya maut?
Dalam keadaan yang sedang kacau seperti sekarang, dia tidak boleh bertindak gegabah. Musuh-musuh yang masih bersembunyi dalam kegelapan bisa saja menggunakan seribu cara untuk membunuhnya.
Meksipun kemampuan dia belum setinggi para Datuk Dunia Persilatan, tapi Zhang Fei percaya bahwa ia sudah termasuk ke dalam target mereka. Setiap saat, nyawanya bisa melayang tanpa diduga.
Maka dari itu, dia tidak boleh sembrono.
Waktu terus berjalan dengan cepat. Tanpa terasa sore hari sudah tiba kembali. Zhang Fei masih berdiri di hutan itu. Ia masih berada dalam kebimbangan.
Apakah dirinya harus pergi ke Rawa Iblis? Ataukah ia mengabaikan isi surat tersebut begitu saja?
Ya, Zhang Fei sudah memutuskan untuk pergi mencari tempat yang bernama Rawa Iblis itu. Masalah apakah di sana benar tempat Yin Yin disekap atau bukan, ia sudah tidak ambil pusing lagi.
Wushh!!!
Ia menjejakkan kakinya ke tanah. Zhang Fei segera meluncur cepat mengerahkan ilmu meringankan tubuh miliknya. Karena ia mengeluarkan ilmu itu sampai ke titik tertinggi, maka sekitar tiga puluh menit kemudian Zhang Fei sudah tiba di penghujung hutan.
Kebetulan, di sana terdapat perkampungan kecil. Walaupun rumah penduduknya tidak terlalu banyak, tapi beruntung sekali dia bisa menemukan salah satu warga.
Di jalan yang sepi itu terlihat ada orang tua yang berjualan gulali. Zhang Fei segera menuju ke sana, dia berhenti setelah tepat di depannya.
"Paman, numpang tanya, apakah kau tahu dengan tempat yang disebut Rawa Iblis?" tanyanya penuh sopan santun.
"Rawa Iblis?" pedang gulali itu mengerutkan kening. Seperti terkejut bercampur takut. "Untuk apa Tuan Muda mencari keberadaan Rawa Iblis?"
"Ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Kalau Paman tahu di mana tempatnya, apakah kau bisa memberitahukan kepadaku?"
"Boleh saja. Tapi, tempat itu terlalu berbahaya, Tuan Muda,"
"Benarkah?"
Pedagang gulali yang sudah tua tersebut menghela nafas berat. Dia kemudian bercerita. "Asal kau tahu saja, setiap ada orang yang masuk ke daerah Rawa Iblis, konon katanya dia tidak pernah kembali lagi,"
"Mengapa bisa begitu? Apakah setiap orang yang masuk ke sana, akan mati?"
"Aku sendiri tidak tahu. Hanya saja, semua orang di sekitar sini sudah mengetahui hal tersebut. Masalah mereka mati atau hidup, tidak ada yang dapat memastikannya. Yang pasti, orang-orang itu tidak pernah keluar lagi,"
"Hemm ..." Zhang Fei mendehem pelan. Ia semakin curiga dengan apa yang disampaikan olehnya.
"Baiklah. Aku akan mengingat ucapanmu ini, Paman. Tapi, bisakah kau beritahukan di mana Rawa Iblis itu?" tanya Zhang Fei mengulangi ucapannya kembali.
Orang tua tersebut kemudian mengangguk. "Rawa Iblis yang sedang kau cari itu berada di sebelah Utara perkampungan ini. Di sana ada hutan kecil. Nah, di balik hutan kecil itulah Rawa Iblis berada," katanya memberitahu.
"Apakah jaraknya dari sini jauh?"
"Tidak terlalu jauh. Paling hanya membutuhkan waktu lima belas menit, maka Tuan Muda akan sampai di sana,"
"Oh, terimakasih," Zhang Fei menganggukkan sambil tersenyum. Sebagai tanda terimakasihnya, tidak lupa dia memberikan sedikit uang untuk pedagang gulali tersebut.
Tanpa menunggu lebih lama, dia langsung berlari menuju ke tempat yang sudah diberitahu itu.
"Aneh. Mengapa anak muda tersebut mencari Rawa Iblis? Tapi kalau dilihat dari gerakan barusan, sepertinya dia bukan pemuda biasa," dia terlihat keheranan sambil menggelengkan kepala beberapa kali.
"Ah, semoga saja Tuan Muda itu diberikan keselamatan," lanjutnya sambil memandang ke tempat Zhang Fei lenyap.
Sementara itu, lima belas menit kemudian, tepat seperti yang dikatakan oleh pedagang gulali tadi, saat ini Zhang Fei sudah berhasil menemukan hutan kecil.
"Sepertinya ini hutan yang dimaksud," gumamnya sambil berdiri di pinggir hutan.
Walaupun tempatnya kecil, tapi entah kenapa, dia bisa merasakan keangkeran yang tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata. Rasanya Zhang Fei baru merasakan hal seperti ini.
Hatinya yakin, hutan di depannya itu tidak sesederhana seperti yang ia lihat sekarang.