Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kejamnya Dunia Persilatan


Zhang Fei terkejut setengah mati. Sungguh, dia tidak pernah menyangka bahwa si Pengelana Tua akan melakukan tindakan ini. Dia berpikir orang tua itu akan benar-benar meminta maaf dan menyesali perbuatannya.


Siapa sangka, ternyata dia malah menyerang seperti pengecut.


Anak muda itu menggertak gigi. Dia tidak mementingkan persoalan lain lagi, kecuali hanya memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan diri.


Sementara dia berpikir, puluhan jarum hitam tersebut sudah hampir menyentuh tubuhnya. Sehebat dan secepat apapun gerakan Zhang Fei, setinggi apapun ilmu meringankan tubuhnya, kalau dia berada di posisi sekarang, niscaya nyawanya akan melayang.


Wushh!!!


Pada detik-detik terkahir itu, tiba-tiba ada segulung angin yang mendadak muncul dari sisi sebelah kanan. Angin itu bergerak sangat cepat, melebihi cepatnya puluhan jarum hitam si Pengelana Tua.


Angin tadi berhembus lewat di tengah-tengah keduanya. Puluhan jarum hitam yang hampir merenggut nyawa Zhang Fei, tiba-tiba terbawa bersamanya.


Crapp!!! Crapp!!! Crapp!!!


Suara seperti itu terus terdengar. Puluhan jarum hitam seketika menancap di batang pohon yang terdapat di tempat sekitar.


Tepat setelah segulung angin itu lenyap, anak muda tersebut langsung memanfaatkan kesempatan yang ada.


Ia memburu ke depan dan langsung melancarkan serangan telapak tangan kirinya.


Bukk!!!


Si Pengaman Tau terlempar sejauh sepuluh langkah ke belakang. Tubuhnya baru berhenti meluncur setelah menubruk dinding yang hampir bobrok.


Wushh!!!


Zhang Fei melesat ke arahnya. Dia tahu, si Pengelana Tua tidak akan tewas dengan serangan barusan. Karenanya ia ingin menanyakan beberapa hal.


Sayangnya, ketika Zhang Fei sudah tiba di sana, ternyata tokoh sesat itu telah tewas.


Ia tewas karena bunuh diri!


Mulutnya berbusa. Seluruh tubuhnya menghitam seperti daging panggang gosong. Sesaat kemudian, segera tercium bau busuk yang menyengat hidung.


Rangkaian peristiwa barusan terjadi begitu saja. Zhang Fei sendiri tidak menyangka dirinya akan selamat.


"Ia telah menggunakan kesempatan terakhir untuk menghabisi nyawa sendiri dengan menggunakan racun," sebuah suara tiba-tiba terdengar jelas.


Begitu menoleh ke belakang, ternyata si Orang Tua Aneh Tionggoan sudah berdiri tepat di tengah-tengah halaman. Saat ini dirinya sedang memandang ke arah Zhang Fei.


"Tuan, benar. Padahal tadinya aku ingin mencari informasi dari tua bangka itu. Siapa sangka, dia malah mengakhiri hidupnya," jawab anak muda itu sambil berjalan mendekat.


"Percuma saja, mereka yang bekerja untuk orang lain sudah melakukan perjanjian di awal. Apabila gagal dalam menjalankan tugas, maka dia akan bunuh diri,"


"Oh, jadi mereka ini bekerja kepada orang lain? Tapi, kenapa harus bunuh diri?" tanya Zhang Fei tertarik dengan ucapan si Orang Tua Aneh Tionggoan.


Sebelum menjawab, keduanya berjalan lebih dulu ke tempat semula. Mereka membuat api, lalu segera memanggang dua ekor ayam hutan yang sudah dibersihkan.


Ayam hutan itu hasil buruan si Orang Tua Aneh Tionggoan.


Ketika semua pekerjaan sudah selesai, barulah tokoh dunia persilatan tersebut menjawab pertanyaan Zhang Fei tadi.


"Kalau menurut dugaanku, mereka memang bekerja kepada orang lain. Karena tidak mungkin orang-orang itu akan menyerangmu, sedangkan di antara kalian tidak pernah terjadi masalah," katanya berbicara serius.


Beberapa saat kemudian, orang tua itu melanjutkan kembali.


"Terkait tindakan bunuh diri itu, jawabannya adalah lebih baik bunuh diri, daripada informasi rahasia terjatuh ke tangan musuh,"


"Tapi kan, mereka bisa saja melarikan diri. Dengan begitu hidupnya akan aman,"


"Kau keliru, anak Fei. Dalam dunia persilatan itu terdapat banyak sekali orang-orang hebat. Jadi, ke mana pun kau lari, mereka pasti akan dapat menemukanmu. Kalau sudah begitu, mungkin kau baru sadar bahwa bunuh diri itu lebih baik daripada mati di tangan mereka,"


"Tuan Kai, kalau sudah tahu akibatnya, lalu kenapa mereka masih memilih bekerja untuk orang lain? Bukankah dengan kemampuan setinggi itu, mereka bisa mendapatkan apapun yang diinginkan?"


"Sekarang aku ingin bertanya kepadamu. Kalau aku menyuruhmu untuk membunuh seseorang, kira-kira mau tidak?"


"Tentu saja tidak," jawabnya dengan cepat.


"Lalu kalau aku telah mengetahui rahasia terbesar dalam hidupmu, kemudian menyuruhmu untuk membunuh orang lain, kira-kira bagaimana?"


"Kemungkinan mau. Karena aku lebih baik melakukan pembunuhan daripada rahasiaku terbongkar. Apalagi kalau rahasia itu memalukan,"


"Begitu pun orang-orang itu. Mereka sama sepertimu. Selain dengan diiming-imingi harta kekayaan dan kedudukan, cara terbaik untuk menyuruh orang lain agar bekerja untukmu, adalah kau harus lebih dulu mengetahui rahasia terbesarnya,"


"Pantas saja," keluh anak muda itu.


Zhang Fei adalah anak muda yang baru terjun ke dalam rimba hijau. Terhadap segala sesuatu di dalamnya, boleh dikatakan bahwa ia belum mengetahuinya secara menyeluruh.


Karena itulah dia cukup terkejut mendengar penjelasan barusan.


Padahal kalau dia sudah banyak pengalaman, hal-hal yang disebutkan oleh Orang Tua Aneh Tionggoan barusan, belum apa-apa.


Malah diluar sana, ada banyak orang yang rela melakukan apapun demi seseorang yang dicintainya.


Parahnya lagi, semua hal itu tidak hanya berlaku dalam dunia persilatan saja. Terkadang dalam dunia orang awam pun, hal-hal tersebut tetap bisa ditemui.


Tanpa terasa, malam sudah datang menyapa bumi. Kegelapan menyelimuti alam mayapada. Suara binatang malam mulai terdengar bersahutan di dalam hutan sana.


Dua orang itu telah selesai menyantap ayam hutan bakar. Perut mereka sudah kenyang, sekarang keduanya berniat untuk melanjutkan perjalanan lagi.


"Waktu kita tidak banyak. Karenanya kita harus pergi sekarang juga," kata Orang Tua Aneh Tionggoan sambil bangkit berdiri dan berjalan ke arah kudanya.


"Aku mengerti, Tuan Kai,"


Zhang Fei melakukan hal sama. Setelah itu, mereka segera melanjutkan kembali perjalanan yang sempat tertunda.


Derap langkah kaki kuda mengepulkan debu. Suara telapaknya terdengar seperti tambur perang yang ditabuh bertalu-talu.


Mereka melarikan kuda secepat mungkin. Sehingga hanya dalam waktu singkat, keduanya sudah memasuki tempat tujuannya, yaitu Kota Lijiang.


Rembulan telah menggantung di atas langit. Ribuan bintang bertebaran di angkasa raya.


Suasana di Kota Lijiang malam itu sangat ramai. Walaupun malam hari, tapi masih banyak orang-orang yang berlalu-lalang di tengah jalan.


"Tuan Kai, apakah Partai Pengemis masih jauh dari sini?" tanya Zhang Fei setelah kudanya berada di sisi orang tua itu.


"Tidak jauh. Sebentar lagi kita akan tiba,"


"Ah ..." Zhang Fei mengeluh tertahan.


"Memangnya kenapa?" tanya orang tua itu sambil mengerutkan kening. Dia cukup heran setelah mendengar keluhan anak muda itu.


"Aku .. aku lapar dan ingin minum arak," jawabnya malu-malu.


"Hahaha ..." tiba-tiba Kai Luo tertawa terbahak-bahak di atas kudanya. "Anak muda, sejak kapan kau menjadi manusia rakus begini?" tanyanya diikuti dengan suara tawa kembali.


"Rasa lapar dan haus kan sudah menjadi kebutuhan pokok. Setiap manusia pasti mengalami dua hal ini,"


"Hahaha ... baiklah, tahan dulu dirimu. Kalau sudah tiba di sana, kau boleh makan minum sepuasnya,"


Selesai berkata, ia segera melarikan kuda dengan cepat kembali. Zhang Fei mengikuti di belakangnya dengan penuh semangat.