Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Surat Perintah


Suasana di sana langsung dicekam oleh keheningan. Tidak ada suara apapun yang terdengar, kecuali hanya suara binatang malam di kejauhan sana.


Cukup lama Zhang Fei memandangi si Tubuh Besi. Dia yakin, tokoh sesat ini adalah salah satu orang yang ditugaskan dalang dibalik layar untuk mengacaukan dunia persilatan Tionggoan.


Tapi yang menjadi masalahnya, siapa dalang dibalik layar itu? Apakah ia masih berasal dari negeri yang sama? Atau negeri yang berbeda?


"Masalah ini benar-benar rumit," pikirnya.


beberapa saat kemudian, Zhang Fei tiba-tiba melesat pergi dari sana. Dia tidak menghiraukan mayat itu.


Dalam waktu sekejap mata, ia sudah menghilang dari pandangan mata.


Ketika kentongan ketiga terdengar, pada saat itu Zhang Fei telah tiba kembali di kamar yang ia sewa.


Ia langsung berjalan menghampiri meja yang di atasnya terdapat satu buah guci arak. Namun baru saja akan mengambilnya, tiba-tiba sepasang mata yang tajam itu melihat ada sepucuk surat.


Surat itu persis berada di bawah guci arak yang akan ia ambil.


"Surat apa ini?" tanyanya penasaran.


Dia langsung membuka dan membaca isinya.


"Anak Fei, besok pergilah ke Gunung Lima Jari. Di tempat itu, tujuh hari lagi akan terjadi perebutan benda pusaka. Kau harus mengawasi siapa saja orang-orang yang datang dan mencari informasi lebih lanjut tentang peristiwa tersebut,"


Setelah selesai membacanya, Zhang Fei langsung melipat kembali surat itu. Di sana tidak dituliskan siapa pengirimnya.


Namun walaupun begitu, ia sudah tahu secara pasti.


Kalau pengirimnya bukan Dewa Arak Tanpa Bayangan, siapa lagi? Bukankah sebelum perpisahan, orang tua itu sudah mengatakan bahwa dirinya akan memberikan informasi tentang perebutan benda pusaka?


"Baiklah, Tuan. Aku akan menuruti perintahmu," gumamnya seorang diri.


Zhang Fei kembali melanjutkan gerakannya yang tertunda. Ia mengambil guci arak dan langsung menenggaknya sampai habis.


Setelah itu, dia langsung tidur dengan lelap.


Pagi harinya, begitu selesai sarapan dan melakukan persiapan lainnya, Zhang Fei segera pergi dari penginapan tersebut.


Tujuannya sekarang adalah menuju ke Gunung Lima Jari, seperti yang diperintahkan dalam surat semalam.


Anak muda itu langsung berjalan dan mencari tempat penjualan kuda. Kebetulan, tidak jauh dari penginapan kemarin, ada tempat yang sedang dicari olehnya saat ini.


"Paman, apakah di sini menjual kuda jempolan dengan harga murah?" tanyanya kepada salah satu pegawai di sana.


"Sebentar, Tuan Muda,"


Pegawai itu langsung masuk ke dalam. Tidak lama kemudian, dia sudah keluar lagi dengan membawa satu orang lainnya.


Orang yang ia bawa mempunyai tubuh gemuk pendek. Pakaiannya mewah, mulutnya selalu mengulum senyum.


"Tuan Muda sedang mencari kuda jempolan?" tanyanya dengan ramah.


"Benar, Tuan. Apakah kau menjual kuda perkasa dengan harga murah?"


"Tentu saja. Tuan Muda sudah mendatangi tempat yang tepat. Mari, aku antarkan ke dalam supaya bisa memilih kuda sesuai dengan selera,"


Pria pendek gemuk yang bukan lain adalah pemiliknya itu segera mempersilahkan Zhang Fei untuk masuk ke dalam sana.


Ia lalu memilih kuda jempolan dengan warna putih bersih. Kuda itu mempunyai tubuh tinggi kekar. Bola matanya hitam kecokelatan.


"Berapa harga kuda ini?" tanyanya setelah merasa cocok.


"Seratus tahil perak, Tuan Muda,"


"Apakah tidak bisa kurang?"


"Hemm, baiklah. Aku ingin membeli kuda ini,"


Zhang Fei kemudian mengeluarkan uang yang ia bawa. Setelah itu dirinya langsung membayar.


"Terimakasih, Tuan Muda,"


"Sama-sama, Tuan,"


Pegawai yang tadi ada di depan segera mengeluarkan kuda warna putih itu. Begitu selesai melakukan transaksi, Zhang Fei langsung melanjutkan perjalan.


Awalnya ia merasa cukup kesulitan. Apalagi kuda yang dia beli ternyata masih liar dan sulit dikendalikan.


Namun karena dirinya sudah terbiasa, pada akhirnya kuda itu pun berhasil luluh juga.


"Sekarang aku adalah Tuanmu. Jadi kau harus menuruti semua perkataanku," katanya sambil menepuk-nepuk kepala kuda tersebut.


Kuda jempolan itu meringkik sambil mengangkat kedua kaki depannya. Ia langsung berlari sekencang mungkin.


"Bagus. Larimu ternyata cepat juga. Tidak menyesal aku memilihmu," ucap Zhang Fei sambil tertawa.


Kepulan debu mengepul tinggi ke atas. Kuda itu terus berlari kencang meninggalkan jejak yang cukup dalam.


Di dalam perjalanan tersebut, tidak lupa juga Zhang Fei bertanya kepada warga yang ia temui. Sebab pada dasarnya dia tidak tahu di manakah letak Gunung Lima Jari.


Malah seingatnya, dia baru mendengar ada gunung dengan nama seperti itu.


"Gunung Lima Jari itu berada di Kota Yunnan, dari sini jaraknya lumayan jauh, Tuan Muda. Mungkin sekitar tiga hari kemudian kau bisa sampai ke sana. Itu pun kalau memang tidak ada gangguan di perjalanan," kata salah satu pedagang tua ketika ia bertanya di mana letaknya gunung tersebut.


Setelah mendapatkan informasi, seketika Zhang Fei menambah kecepatan lari kuda miliknya. Ia harus bisa mengejar waktu, malah kalau mampu, dirinya harus sampai di sana kurang dari tiga hari.


Selama di perjalanan, dia tidak pernah berhenti kecuali hanya untuk melakukan hal-hal pokok saja. Hal tersebut dilakukan supaya dirinya bisa cepat sampai di tempat tujuannya.


Alhasil, dalam waktu dua hari saja, Zhang Fei sudah sampai di perbatasan Kota Yunnan. Ia tiba di sana saat hari sudah masuk sore.


Ternyata Kota Yunnan juga merupakan kota besar. Di sana-sini ada banyak bangunan, rumah-rumah warga berderet dengan rapi. Sayangnya, keadaan di sana sangat Memprihatinkan. Apalagi keadaan di pelosoknya.


Ada banyak warga yang kelaparan sehingga membuat tubuhnya kurus kering. Anak-anak kecil yang harusnya terlihat lucu menggemaskan, justru malah mengenaskan.


Melihat semua ini, Zhang Fei merasa tidak tega. Ia menyempatkan diri untuk berbagi kepada mereka.


Anak muda itu memberikan bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya kepada para warga yang ditemui. Tidak lupa juga Zhang Fei memberikan sedikit uang untuk biaya hidup mereka.


Setelah bertanya ke beberapa penduduk, ternyata semua itu diakibatkan karena pejabat setempat yang berlaku kejam.


Dia sering memeras warganya dengan cara memungut pajak dengan jumlah yang tidak sedikit. Belum lagi para warga itu diharuskan kerja rodi tanpa dibayar sepeserpun.


Mendengar semua penjelasan tersebut, Zhang Fei langsung marah. Ia sudah tidak sabar ingin memberikan pelajaran kepadanya.


"Bibi, apakah kau tahu di mana rumah pejabat yang kau maksudkan?" tanyanya kepada salah satu wanita tua.


"Itu di sana, Tuan Muda," katanya sambil menunjuk ke sebuah gedung yang mewah. "Selain menjadi pejabat, dia pun merupakan hartawan kaya raya," wanita tua itu menjelaskan lebih lanjut.


"Oh, baiklah. Terimakasih. Aku pergi dulu, aku berjanji akan membantu kalian dengan kemampuanku,"


Setelah selesai berpamitan, Zhang Fei langsung menaiki kembali kudanya. Ia kemudian melanjutkan perjalanan. Tapi sebelum menuju ke Gunung Lima Jari, dirinya ingin lebih dulu berkunjung ke kediaman si pejabat.


Ia akan memberikan sedikit "hadiah" kepadanya.


###


Wah maaf ya telat upload. Aku kira semalam udah di up, gataunya cuma baru ditulis doang, wkwk.


Oh iya, Selamat Berpuasa bagi yang menjalankan 🙏