Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Keputusan Mendadak


Para tokoh dunia persilatan yang ada di sisi arena pertarungan, tidak ada yang mampu menyaksikannya dengan jelas. Hal itu karena Zhang Fei dan yang lain bergerak dengan sangat cepat sekali.


Belum lagi ada gulungan cahaya putih keperakan dan cahaya hijau terang yang berasal dari setiap pedang berkelebat.


Semua orang di sana merasakan ketegangan yang sama. Di samping itu, para tokoh angkatan tua juga merasa kagum, ternyata angkatan muda yang sekarang telah mengalami kemajuan pesat.


Benturan keras masih berlangsung. Suara nyaring juga terus terdengar tanpa pernah berhenti.


Dua batang pedang pusaka terus mengincar setiap titik penting di tubuh Zhang Fei. Namun dia sendiri masih terlihat tenang.


Kedua tangannya terus bergerak mengikuti ke mana pedang lawan berkelebat.


Sekarang, setelah menyadari kemampuan barunya, Zhang Fei jadi tidak takut lagi untuk berbenturan dengan senjata lawan.


Toh walaupun kedua tangannya membentur batang pedang, dia tidak pernah menderita luka apapun juga.


Kedua tangannya masih utuh. Sedikit pun tidak ada luka yang tercipta. Bukan itu saja, bahkan seluruh tubuh Zhang Fei seolah-olah telah kebal.


Seakan-akan tubuh itu pun bukan terbuat dari kulit dan daging. Melainkan dari besi baja murni yang tidak bisa ditembus oleh apapun juga.


Sehingga setiap kali pedang lawan membentur tubuhnya, maka akan tercipta sebuah bunyi nyaring yang menggetarkan telinga.


Dalam pada itu, Pendekar Pedang Hijau dan Pendekar Empat Pedang mulai merasa lelah. Sejak awal pertarungannya dimulai, mereka berdua sudah mengeluarkan jurus-jurus kelas atas yang selama ini diandalkan.


Tapi sayang sekali, semua jurus kelas atas itu seolah-olah sudah tidak berarti sama sekali. Meskipun mereka sudah sering mengganti jurus, namun hasilnya tetap sama.


Keduanya tidak pernah berhasil mengalahkan Zhang Fei. Sampai sejauh ini, kecuali pakaian yang robek di sana sini, rasanya belum ada satu pun luka yang tercipta di tubuh Dewa Pedang Dari Selatan!


Trangg!!!


Benturan paling keras terdengar. Dua tubuh langsung terdorong mundur sejauh lima langkah.


Tidak berhenti sampai di situ saja, setelah berhasil mementalkan kedua lawannya, Zhang Fei langsung memburu ke depan sana.


Kedua tangannya diayunkan secara bergantian. Gerakannya mirip ketika ia sedang mengayunkan pedang. Bersamaan dengan itu, teriakan menahan rasa sakit langsung terdengar.


Di beberapa bagian anggota tubuh Pendekar Pedang Hijau dan Pendekar Empat Pedang, saat ini sudah tercipta luka tebasan yang cukup dalam.


Darah segar kembali mengucur deras. Kejadian ini benar-benar mengejutkan. Bukan hanya mengejutkan mereka berdua, tapi juga mengejutkan semua tokoh yang ada di sisinya.


Sekarang, mereka baru percaya kalau Zhang Fei seperti mempunyai ilmu sihir, sehingga dia bisa menebas tubuh lawannya meskipun tidak memegang pedang sekali pun.


"Zhang Fei! Rupanya kau benar-benar mempunyai semacam ilmu sihir," kata Kaisar Zhou sambil membentak keras. "Aku tidak menyangka, ternyata seorang Ketua Dunia Persilatan sepertimu telah mempelajari ilmu sesat," ia melanjutkan ucapannya sambil memberikan senyum dingin.


"Kaisar Zhou, mengapa kau masih menuduhku seperti itu? Bukankah semuanya sudah aku jelaskan? Seharusnya kau sadar diri, bahwa dengan adanya kejadian ini, itu berarti bahwa kemampuanku jauh lebih tinggi dari mereka berdua," jawabnya sambil menunjuk ke arah depan.


Zhang Fei sengaja berkata sombong. Dia sudah muak melayani manusia seperti Kaisar Zhou itu.


Dalam hidup ini, terkadang kita memang harus sombong di depan orang yang sombong.


Tetapi dengan catatan, kesombongan kita bukanlah untuk benar-benar menyombongkan diri. Melainkan untuk menyadarkan orang tersebut.


"Sombong sekali!" kata Tang San sambil menarik muka. "Kau pikir, kami akan percaya dengan ucapanmu?"


Tanpa berlama-lama lagi, dia kemudian berjalan dan kembali ke tempatnya semula. Bersamaan dengan itu, Dewa Arak Tanpa Bayangan dan Pendekar Pedang Perpisahan juga segera menyusul dari belakang.


Zhang Fei sengaja meninggalkan orang-orang itu. Sebab dia yakin, kalau terus dilayani, maka sampai kapan pun masalah ini tidak akan pernah selesai.


Sementara di sisi lain, Tang San dan Kaisar Zhou segera membantu dua pendekar pedang yang mengalami luka itu.


Mereka segera membawanya ke pinggir arena.


Saat ini, di sana hanya ada Penasihat Mu dan satu orang petugas yang telah siap untuk melanjutkan Pertarungan Empat Kekaisaran lagi.


Tetapi sebelum itu, tiba-tiba saja Kaisar Song bangkit berdiri dan segera berjalan ke tengah arena.


Ia baru berhenti setelah tiba di sisi Penasihat Mu.


"Biar aku yang berbicara," katanya penuh wibawa.


"Baik, Kaisar," jawab orang tua itu penuh hormat.


Kaisar Song Kwi Bun memandang ke depan dengan gagah berani. Setelah menarik nafas beberapa kali, dia mulai berbicara.


"Semuanya, tolong dengarkan baik-baik," katanya dengan suara keras. "Pertama aku ingin meminta maaf kepada kalian semua atas kegaduhan dan kejadian tidak disangka yang baru saja terjadi. Dan kedua, karena menurutku kondisi saat ini sudah tidak bisa dikendalikan lagi, maka selaku pihak penyelenggara, aku memutuskan untuk menghentikan dulu Pertarungan Empat Kekaisaran ini,"


"Keputusan ini aku ambil untuk meminimalisir hal-hal buruk yang kemungkinan besar masih bisa terjadi. Jadi aku harap, semoga kalian semua bisa mengerti dan memahami situasinya," ucap Kaisar mengakhiri ucapannya.


Ia masih tetap berdiri di sana. Sepasang matanya juga tetap menatap ke setiap penjuru.


Barangkali ada sekelompok orang yang tidak setuju dengan keputusannya. Namun siapa sangka, setelah menunggu beberapa lama pun, di antara kerumunan orang itu tidak ada yang berani bicara.


Sepertinya mereka semua sudah setuju dengan keputusan yang diambil tersebut.


"Baiklah, karena tidak mendengar adanya penolakan, maka aku memerintahkan kepada semuanya untuk membubarkan diri. Khusus untuk orang-orang penting dari masing-masing kubu, silahkan masuk ke Istana Kekaisaran. Aku sudah menyiapkan tempat untuk kalian beristirahat barang beberapa hari ke depan," ujar Kaisar Song kepada semua orang.


Tidak lama setelah ucapannya selesai, semua orang yang ada di sana pun langsung membubarkan dirinya masing-masing.


Keputusan yang diambil oleh Kaisar Song itu sebenarnya cukup kontroversial. Apalagi ia mengambil keputusan secara mendadak.


Dia sendiri memahami akan hal ini. Di samping itu, dia pun tahu bahwa setelah kejadian tersebut, pasti akan ada banyak orang yang membicarakannya.


Namun terhadap semua hal itu, ia tidak memperdulikannya sama sekali.


Apa yang dia putuskan itu bukan untuk kepentingan dirinya pribadi. Melainkan demi kepentingan banyak orang.


Demi keselamatan semua rakyat dari masing-masing Kekaisaran!


Sebab bagaimanapun juga, dengan kondisi seperti tadi, niscaya hal itu akan memicu timbulnya peperangan secara mendadak. Kalau sampai hal itu benar-benar terjadi, maka halaman Istana Kekaisaran Song tentunya akan berubah menjadi medan peperangan!


Sebagai pemimpin sebuah negara, tentu saja dia tidak akan mengambil resiko sebesar itu.


Karenanya, Kaisar Song Kwi Bun lebih memilih mengorbankan harga diri dan kewibawaannya daripada harus mengorbankan nyawa banyak orang!