Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Dua Malaikat Tanpa Kehidupan


Di sebelah sana, Walikota Loo Ji Kun terlihat diam seperti patung. Dia tidak bergerak sedikit pun. Sepasang matanya terus menatap ke arah Zhang Fei dan dua gadis cantik itu.


Saat ini, di wajahnya tidak terlihat lagi ada kesombongan. Justru wajah itu mulai pucat pasi. Seluruh tubuhnya bergetar. Keringat dingin dan peluh sebesar biji kacang kedelai, sudah keluar cukup banyak.


Bagi Walikota itu, malam ini adalah malam terburuk dalam sejarah hidupnya. Tiga puluh orang pendekar yang selama ini menjadi "senjata" andalannya, telah berhasil dikalahkan oleh tiga pendekar muda.


Sungguh, jangankan bermimpi, bahkan membayangkannya pun dia rasa belum pernah.


Lama, lama sekali ia tidak memberikan reaksi. Seolah-olah di halaman depan itu tidak ada kejadian. Seakan-akan di sana dirinya hanya sedang memandangi malam yang kelam.


Di satu sisi, Zhang Fei juga belum berbicara lagi. Melihat Walikota Loo Ji Kun tetap diam, dia memanfaatkan kesempatan ini untuk menghimpun semua bekalnya yang telah hilang.


"Hahaha ..." tiba-tiba pria tua itu tertawa. Suara tawanya memang lantang. Tapi, suara tawa yang sekarang terdengar tidak menyeramkan dan penuh wibawa seperti sebelumnya.


Suara tawa yang saat ini mirip seperti jeritan. Jeritan dari seseorang yang sudah putus asa akan kehidupannya.


Mungkin hanya orang-orang yang pernah mengalami hal itu saja, yang mampu membayangkan bagaimana suara tertawanya.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Zhang Fei sambil mengangkat kedua alis.


"Karena ingin. Selagi bisa tertawa, kenapa pula tidak boleh tertawa?"


Lagi-lagi dia mengeluarkan suara tawanya. Kali ini cukup lama. Dedaunan pohon yang terdapat di sekitar halaman, tiba-tiba jatuh berguguran seperti telah diterjang oleh angin badai.


"Anak muda, kau tahu? Seumur hidupku, rasanya baru sekarang saja aku merasa benar-benar kagum kepada manusia lain. Aku sungguh kagum kepadamu. Usiamu masih muda, tapi kemampuannya patut diacungi jempol," Walikota Loo Ji Kun berkata lebih jauh lagi.


Dia memberikan isyarat dengan tangan, seorang pelayan kembali sayang menghampiri dengan membawa nampan berisi arak.


"Malam ini, biarlah aku minum lima cawan arak untuk menyatakan kekagumanku,"


Ia kemudian benar-benar meminum lima cawan arak. Setelah itu, dirinya berkata lebih jauh lagi.


"Tapi di satu sisi, aku juga merasa sedikit menyesal,"


"Apa yang kau sesalkan?" tanya Zhang Fei dengan cepat.


"Aku menyesal karena pendekar muda sepertimu, harus tewas di usia dini," nada bicaranya sedikit sedih. Seolah-olah ia memang sedang berada dalam keadaan seperti itu.


"Aku masih hidup. Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?" tanya Zhang Fei tidak terima.


"Ya, sekarang kau memang masih hidup. Tapi sebentar lagi, kau akan segera berubah menjadi mayat,"


"Oh?"


"Kau harus percaya dengan perkataanku ini. Sebab aku tidak sedang berbohong,"


"Bagaimana kalau aku tidak percaya?" ia tersenyum sinis ke arah Walikota Loo Ji Kun.


"Aku akan membuktikannya sekarang juga,"


Walikota itu melirik kembali ke arah dua orang pengawal pribadinya. Kemudian memandang ke arah Zang Fei. Lewat beberapa saat kemudian, dirinya kembali bicara.


"Sudah berapa lama kalian tidak turun tangan?" tanyanya kepada dua orang tersebut.


"Kurang lebih lima tahun," jawab pengawal yang berada di sebelah kanan.


"Cukup lama juga,"


"Ya, memang lama,"


"Bagaimana kalau sekarang, kalian aku suruh untuk turun tangan lagi?"


"Kami akan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh,"


"Bagus. Waktu bersantai untuk Dua Malaikat Tanpa Kehidupan sudah selesai. Sekarang, adalah waktu yang tepat untuk kalian turun tangan lagi,"


Dua orang pengawal pribadi itu mengangguk. Mereka yang disebut berjuluk Dua Malaikat Tanpa Kehidupan segera berjalan tiga langkah ke depan.


Keduanya lalu meloloskan golok dan tombak yang sangat tajam.


Pada saat itu, Zhang Fei sangat bisa merasakan hawa golok dan tombak yang sangat pekat. Ia terkejut, rupanya dua pengawal itu adalah tokoh yang berilmu tinggi.


"Kau keliru," ujar Zhang Fei menyahuti.


"Aku keliru?" gadis itu mengerutkan keningnya.


"Ya, kau keliru. Justru orang yang tidak mengeluarkan hawa pembunuh, adalah orang yang sangat berbahaya,"


"Kenapa begitu?"


"Karena saking banyaknya dia membunuh manusia, maka dirinya sudah bisa mengendalikan hawa pembunuh itu sendiri,"


Mulut Yin Yin langsung terkancing pada saat itu juga. Dia sangat kaget, sebab dirinya baru mendengar hal ini pertama kali.


Yu Yuan yang berada di sisinya juga saja. Malah dirinya merasa seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga.


Sementara itu, Dua Malaikat Tanpa Kehidupan saat ini sedang menatap dengan tajam ke arah ketiganya. Walaupun mereka tidak memasang kuda-kuda, tapi dua orang itu sudah berada dalam keadaan sangat siap.


Siap untuk menjalankan perintah. Siap untuk membunuh musuh-musuhnya!


"Lakukan sekarang!" tegas Walikota Loo Ji Kun memberikan perintahnya!


Wushh!!! Wushh!!!


Dua Malaikat Tanpa Kehidupan melesat dengan sangat cepat. Baru satu helaan nafas, mereka sudah berada di depan mata.


Chen Liu Yin dan Yu Yuan tercekat. Sebelum keduanya mengambil tindakan, dua orang itu sudah melancarkan serangannya.


Bukk!!! Bukk!!!


Masing-masing dari mereka melancarkan serangan menggunakan telapak tangan. Dua orang gadis cantik itu terdorong mundur ke belakang sejauh sepuluh langkah.


Mereka jatuh bergulingan di atas tanah. Tidak terlihat ada darah yang keluar. Namun anehnya, Yin Yin dan Yu Yuan justru tidak bisa bangkit berdiri lagi.


Mereka hanya bisa terlentang dengan keadaan tidak berdaya.


Apa yang telah terjadi kepada mereka? Kenapa keduanya tidak bisa bangun?


Zhang Fei ingin mendekat ke arahnya. Sayang sekali, ia tidak mempunyai waktu untuk melakukan hal itu.


Bukk!!!


Entah kapan dan bagaimana caranya, tapi tiba-tiba sebuah telapak tangan juga sudah menghantam dadanya dengan telak.


Dia merasakan ada sesuatu besar yang menggempur tubuhnya. Zhang Fei melayang dengan cepat. Di tengah-tengah posisi tersebut, mendadak dirinya merasakan ada hawa dingin yang mulai menjalar ke seluruh tubuh.


Karena merasa hawa dingin itu berbahaya, maka dengan cepat pula ia menyalurkan hawa murni untuk mengusirnya. Dalam kesempatan yang sama, dia pun segera berusaha untuk menguasai dirinya kembali.


Perjuangan itu tidak sia-sia. Zhang Fei berhasil mendarat dengan mulus.


"Gerakan mereka benar-benar cepat. Aku bahkan tidak bisa melihatnya dengan jelas," gumam pendekar muda itu sambil memandang ke arah Dua Malaikat Tanpa Kehidupan.


Belum sempat dirinya mengambil posisi, salah satu dari mereka malah sudah bertindak lagi.


Wutt!!!


Sebatang tombak melesat datang. Tusukan itu lebih cepat dari kilat. Serangannya mengarah ke jantung.


Untunglah Zhang Fei bukan pendekar kelas bawah, sehingga meskipun posisinya tidak menguntungkan, dia masih bisa menyelamatkan diri.


Kakinya menggeser sedikit, mata tombak lewat satu jari dari tubuhnya.


Plakk!!!


Zhang Fei segera menghempaskan batang tombak menggunakan tangan kiri. Tombak berputar kencang, namun segera disusul pula dengan serangan berikutnya.


Tebasan yang datang mengarah ke leher. Andai saja lehernya tergores, sudah pasti nyawanya melayang detik itu juga.


"Uhh ..."


Ia mengeluh sambil menarik kepalanya. Untuk yang kedua kali, mata tombak lewat sedikit di depannya.