Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Ouw Yang Pek


Zhang Fei terus mempercepat langkahnya. Dia tidak mau sampai kemalaman di tengah perjalanan. Jika hal itu benar-benar terjadi, bisa jadi yang ada, dirinya dan Yan Zi pasti akan tersesat. Mengingat betapa rimbunnya keadaan di sekitar.


"Ketua Fei, apakah masih jauh?" tanya Yan Zi di tengah-tengah perjalanan itu.


"Aku kurang tahu, Tuan Zi," jawab Zhang Fei dengan cepat. "Tapi aku rasa, sebentar lagi kita akan tiba,"


Di belakangnya, Yan Zi hanya mengangguk. Dia tidak berbicara lagi. Terlalu banyak bicara di tengah perjalanan, memang akan membuat dada terasa sedikit sesak dan juga nafas lebih pendek.


Mereka berdua terus menembus jalanan hutan itu tanpa sepatah kata pun. Setelah matahari sore hanya tersisa sedikit, barulah Zhang Fei melihat bahwa di depannya ada sebuah bangunan tua.


Bangunan tersebut berada dalam jarak sekitar dua puluh tombak. Dari kejauhan saja, ia bisa melihat keangkeran bangunan itu.


"Tuan Zi, kau sudah melihat bangunan di depan sana?"


"Ya, Ketua Fei. Aku sudah melihatnya,"


"Nah, itulah tempat di mana semua jawaban berada,"


Mendengar ucapan tersebut, tanpa sadar Yan Zi mengepalkan kedua lengannya. Mungkin itu terjadi karena mengingat betapa marahnya dia kepada murid murtad tersebut.


Sekitar sepuluh menit kemudian, keduanya sudah berada di dekat bangunan tua tadi. Zhang Fei tiba-tiba menghentikan langkah dan bersembunyi dibalik pohon-pohon rimbun di sana.


"Kita harus memastikan dulu apakah di dalam bangunan itu benar ada orangnya atau tidak," kata Zhang Fei sebelum Yan Zi bicara.


Orang tua itu mengangguk. Dia tidak banyak bicar lagi. Diam-diam, Yan Zi juga mengumpulkan kembali tenaga dalamnya yang sudah hilang.


Sementara itu, saat ini Zhang Fei sedang memperhatikan bangunan tua itu dengan lekat. Lamat-lamat dirinya mulai melihat ada setitik cahaya kuning yang berasal dari dalam bangunan.


Tanpa diberitahu pun, dia sudah mengerti bahwa cahaya kuning itu pasti berasal dari sebuah lentera.


Kalau ada lentera, pastinya juga ada manusia di dalamnya.


"Tuan Zi, ikut aku," ucap Zhang Fei sambil melompat ke depan.


Mereka lalu melesat ke depan sana secara diam-diam. Begitu jaraknya semakin dekat, keduanya langsung melompat ke atas atap bangunan.


Zhang Fei memberikan isyarat supaya Yan Zi tetap diam dan tidak banyak bergerak. Sedangkan dia segera mempertajam indera pendengarannya.


Tidak sampai di situ saja, malah Zhang Fei juga membuka satu buah genteng supaya bisa melihat ke bawah sana. Tepatnya ke dalam bangunan tua.


Persis di bawahnya saat ini, terlihat di sana ada sepuluh orang pria berusia sekitar empat puluhan tahun ke atas. Di sisinya, ada juga tiga orang perempuan yang berusia kisaran tiga puluh tahun dengan wajah cukup cantik.


Ketiga belas orang tersebut seperti sedang berpesta arak. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya bekas-bekas guci arak yang tersedia di atas meja.


Suara gelak tawa terdengar memenuhi seisi ruangan. Dilihat dari celah yang diciptakan Zhang Fei, ketiga wanita itu sesekali mengisi cawan arak dan juga menggoda para pria yang terdapat di sana.


Keduanya kaget setelah menyadari bahwa di antara kedua belas orang tersebut, ternyata ada satu pemuda yang usianya mungkin baru mencapai dua puluh lima tahunan.


Tidak salah lagi! Pemuda itu pasti adalah Ouw Yang Pek. Orang yang sedang mereka cari pada saat ini!


"Ketua Fei, itu adalah Ouw Yang Pek," bisik Yan Zi tepat di sisi telinga Zhang Fei.


"Ya, Tuan Zi. Aku tahu, tapi, kita tenang saja dulu. Aku ingin mendengar apa yang akan mereka bicarakan selanjutnya," jawab Zhang Fei.


Bersamaan dengan itu, di dalam ruangan, orang-orang tersebut juga terlihat sudah melanjutkan lagi obrolannya.


Salah seorang dari pria tua itu bicara dan memujinya. Orang yang dipuji juga terlihat sangat senang dan bangga.


"Aku yakin, dengan apa yang telah kau lakukan, kalau cita-cita kita sudah terwujud, kau pasti akan diberi kedudukan yang cukup tinggi. Khususnya di sekitar kota ini," kata pria tua itu melanjutkan bicaranya.


"Terimakasih, Tuan. Aku melakukan semua ini dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Bagiku, bisa membantu kalian orang-orang dari Kekaisaran Jin adalah sesuatu yang sangat membanggakan," ucap Ouw Yang Pek sambil tersenyum dan seolah bicara serius.


"Hahaha ... benar-benar anak muda yang langka. Walaupun usiamu belum mencapai tiga puluh, tapi rasa patriotmu justru sudah hampir menyamai kami,"


"Terimakasih, Tuan terlalu memuji,"


Orang-orang tersebut terus membicarakan hal-hal seperti itu. Mereka juga tidak henti-hentinya memuji Ouw Yang Pek. Seolah-olah apa yang telah keluar dari mulutnya itu adalah pujian yang sesungguhnya.


Padahal, semua itu hanya omong kosong belaka. Hal tersebut bisa dilihat dari tatapan mata mereka yang sesekali saling pandang dan mencibir ke arah Ouw Yang Pek.


Sayang sekali, anak muda itu tidak pernah menyadarinya.


Sedangkan di atas wuwungan, Zhang Fei dan Yan Zi juga bisa mendengar semua ucapan mereka dengan jelas. Bahkan terkait tatapan mata orang-orang tersebut, keduanya juga mengetahui.


"Anak muda yang malang," gumam Zhang Fei sambil menghembuskan nafas panjang.


"Kau benar, Ketua Fei. Aku menjadi prihatin kepadanya,"


"Sudahlah, Tuan Zi. Semuanya sudah terlanjur. Sekarang, lebih baik kita bertindak saja,"


"Baik, setuju,"


Brakk!!!


Suara genteng pecah tiba-tiba terdengar sangat jelas. Dari atas wuwungan mendadak turun dua sosok manusia. Kehadiran mereka berdua berhasil mengejutkan orang-orang yang ada di dalam ruangan.


Suasana di sana langsung riuh. Tiga belas pasang mata menatap ke arah Zhang Fei dan Yan Zi secara bergantian. Tatapan mata mereka mengandung kemarahan yang bisa dilihat dengan jelas.


Di tengah-tengah ketegangan tersebut, Zhang Fei justru malah membungkukkan badan. Ia mengambil guci arak yang masih utuh dengan gerakan tenang dan santai.


Terhadap orang-orang di depannya, dia tidak menghiraukan sama sekali.


"Maaf kalau kedatangan kami berdua telah mengejutkan kalian," ucapnya setelah menenggak guci arak satu kali.


Orang-orang itu tidak berbicara. Tapi dilihat dari tatapan mata, jelas bahwa mereka sudah bertambah marah.


Sementara di sisi lain, terlihat Ouw Yang Pek sangat terkejut ketika menyadari satu dari kedua orang tersebut.


"Wakil Ketua Zi ..." katanya dengan suara dalam.


"Kita bertemu lagi, Ouw Yang Pek," jawab orang tua itu dengan tenang.


Nada bicaranya masih tenang. Tapi dari setiap patah kata itu mengandung dendam yang tidak bisa dilukiskan lagi.


"Kau bahkan masih berani memanggilnya dengan sebutan itu, murid murtad?" tanya Zhang Fei sambil tersenyum dingin ke arahnya.


"Siapa kau?" Mau apa kemari?" Ouw Yang Pek mengalihkan pandangan dan mengajukan pertanyaan dengan nada penuh selidik.


"Jangan banyak bertanya. Kau belum pantas untuk mengetahui siapa aku sebenarnya," ucap Zhang Fei sambil tersenyum sinis. "Lebih tepatnya bukan cuma dirimu, tapi mereka juga sama," sambungnya sambil memandang ke arah dua belas orang yang lain.