
Pria tua itu tersenyum lembut ke arah Zhang Fei. Ia berkata, "Tuan Muda, silahkan kau duduk dulu di kursi itu," katanya sambil menunjuk ke sebuah kursi cukup mewah yang terdapat di depan sana.
Kursi itu letaknya persis di ujung dan tengah-tengah kursi lain yang terdapat di sana.
Awalnya Zhang Fei tidak mau. Tetapi karena ingin mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi, terpaksa dia harus menuruti ucapannya.
Dia lalu berjalan dan duduk di kursi yang dimaksud. "Aku sudah duduk. Silahkan kau bercerita,"
"Maaf, Tuan Muda. Silahkan beri perintah dulu kepada kami supaya ikut duduk,"
"Haishh ... merepotkan sekali," Zhang Fei mengeluh perlahan. "Baiklah. Aku perintahkan kepada kalian supaya duduk di kursi masing-masing,"
Tiga belas itu kemudian langsung duduk setelah mendengar perintah tersebut.
"Nah, sekarang kalian sudah duduk. Aku harap kau mau menceritakan semuanya dengan jelas sekarang juga,"
"Tentu saja, Tuan Muda," jawab pria dia tadi sambil tetap tersenyum.
Ia mengambil nafas beberapa kali. Kemudian mulai berbicara. "Sebelumnya perkenalkan, namaku adalah Tio Goan. Aku merupakan orang yang paling tua di Organisasi Pedang Cahaya ini," kata orang tua itu memperkenalkan diri.
"Lanjutkan," seru Zhang Fei.
"Organisasi Pedang Cahaya ini baru dibentuk beberapa minggu yang lalu. Kami sengaja menunggu kedatangan Tuan Muda di sini dan menceritakan apa yang telah terjadi sebenarnya," pria tua bernama Tio Goan itu berhenti sebentar untuk berganti nafas. Setelah selesai, dia kembali melanjutkan ceritanya. "Organisasi Pedang Cahaya ... itu adalah sebuah organisasi rahasia yang dibentuk secara langsung oleh Empat Datuk Dunia Persilatan,"
"Organisasi ini dibentuk untuk membantu sekaligus melindungi Ketua Dunia Persilatan dalam menjalankan tugas-tugasnya. Bisa dikatakan, Organisasi Pedang Cahaya ini juga merupakan cabang dari mata-mata yang selalu melindungi Ketua Dunia Persilatan dari jarak jauh,"
"Jumlah anggota dari Organisasi Pedang Cahaya sendiri hanya tiga belas orang saja. Walaupun tidak begitu banyak, tapi orang-orang yang tergabung di dalamnya adalah para pendekar kelas atas yang sudah ahli dalam memainkan pedang. Kami bertiga belas ini berasal dari berbagai daerah. Kami disatukan langsung oleh Empat Datuk Dunia Persilatan,"
"Aku rasa, untuk saat ini hanya itu saja yang bisa diceritakan, Ketua," kata Tup Goan mengganti sebutannya kepada Zhang Fei setelah memberikan penjelasan.
Sementara itu, Zhang Fei terlihat begitu kaget sepanjang mendengar penjelasan darinya. Dia benar-benar tidak menyangka akan hal ini. Di sisi lain, Zhang Fei juga belum sepenuhnya percaya.
Dalam keadaan seperti saat ini, apapun bisa terjadi. Zhang Fei takut bahwa tiga belas orang di depannya itu adalah musuh dalam selimut.
"Apakah ucapanmu ini bisa dipercaya?" tanyanya setelah berhasil menguasai diri.
"Tentu saja bisa, Ketua. Kami mempunyai bukti untuk membuat Ketua percaya,"
"Bukti apa?"
Tio Goan tiba-tiba bangkit berdiri. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah Zhang Fei. Setelah tiba di depannya, orang tua itu langsung merogoh saku baju dan memberikan sepucuk surat.
"Silahkan Ketua lihat sendiri," katanya penuh hormat.
Zhang Fei mengangguk. Dia lebih dulu menyuruh Tio Goan duduk sebelum membacanya. Setelah orang tua itu kembali ke tempat, barulah Zhang Fei membuka surat tersebut.
"Anak Fei, jaga baik-baik organisasi yang sengaja kami bentuk itu. Semoga saja apa yang telah kami lakukan, bisa memberikan manfaat untukmu saat menjalankan tugas-tugas berat nantinya,"
Tertanda: Empat Datuk Dunia Persilatan.
Surat tersebut hanya berisi tulisan itu saja. Cukup singkat dan tidak terlalu panjang.
Zhang Fei membaca dengan penuh perhatian. Sekarang, dia tidak bisa lagi tidak percaya. Apalagi di bawah tersebut terdapat tanda dari masing-masing Empat Datuk Dunia Persilatan.
Dengan tanda itu, bagaiamana mungkin dia tidak percaya? Apalagi yang harus dia ragukan?
Zhang Fei kemudian melipat suratnya. Ia tidak langsung bicara. Dirinya malah termenung dengan berbagai macam perasaan.
Saat ini, hatinya merasa terharu sekaligus bangga.
Lama, lama sekali dia termenung. Keadaan di dalam ruangan menjadi hening. Tiga belas orang anggota Organisasi Pedang Cahaya juga tidak adanya yang berani berbicara. Mereka pun tetap menutup mulutnya masing-masing.
"Baiklah. Sekarang aku sudah percaya," kata Zhang Fei setelah lama terdiam.
Ketika mendengar ucapannya, orang-orang itu langsung mengangkat wajah dan memandang ke arahnya. Mereka sedang menanti Zhang Fei melanjutkan ucapannya.
"Karena semuanya sudah jelas, maka aku bersedia menjadi Ketua kalian. Dan aku harap, kalian pun mau patuh dan menjalankan setiap perintah yang aku berikan. Semoga dengan terbentuk Organisasi Pedang Cahaya ini, keadaan di dunia kita bisa menjadi lebih baik lagi," ucapnya dengan lantang.
"Ketua Fei tenang saja. Jangankan disuruh menjalankan tugas biasa, bahkan kalau kami disuruh untuk menyeberangi lautan golok pun, maka kami siap menempuhnya dengan sukarela," sahut Tio Goan mewakili yang lainnya.
Dua belas orang yang lain mengangguk. Pertanda bahwa mereka setuju dengan ucapannya.
Zhang Fei memandangi mereka secara bergantian sambil memberikan senyuman lembut. Kepalanya juga mengangguk beberapa kali. Hal itu sebagai tanda bahwa dia pun puas dengannya.
"Jadi, selama ini, apa yang kalian lakukan?"
"Kami belum melakukan apa-apa, Ketua. Kami hanya menunggu kedatanganmu ke Kota Shangguan ini saja,"
"Kalian belum bergerak?" Zhang Fei menegaskan.
"Belum,"
"Mengapa?"
"Karena kami harus lebih dulu menerima perintah dari Ketua,"
"Baiklah, tidak masalah. Nanti aku akan memberikan tugas kepada kalian,"
Zhang Fei tidak henti-hentinya tersenyum. Meskipun belum mengenal mereka secara dekat, tetapi dia sudah bisa menilai bagaimana saja kah orang-orang tersebut.
"Ngomong-ngomong, siapa yang menyuruh kalian untuk menungguku di sini?"
"Yang menyuruh kami adalah Dewa Arak Tanpa Bayangan. Beliau memberikan perintah lewat sepucuk surat,"
"Jadi, dia sudah tahu kalau aku akan lewat sini?"
"Sepertinya begitu," sahut Tio Goan yang menjadi juru bicara. "Lagi pula menurutku, Ketua Fei selalu ada dalam pengawasannya,"
Zhang Fei mengangguk setuju. Dia tidak menolaknya.
Lagi pula, di dunia ini, apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang tua itu?
"Lalu, apakah sekarang kalian tahu di mana para tokoh tua itu?"
"Soal ini kami tidak tahu, Ketua,"
"Hemm ... baik,"
Zhang Fei menenggak guci arak yang dia genggam. Dia teringat kepada orang-orang yang tadi memberikan hormat kepadanya. Ia pun lalu bertanya lagi, "Kalau aku boleh tahu, siapa pemilik dan pekerja di rumah makan sederhana itu? Siapa pula dua orang yang menjaga di pintu depan?"
"Mereka adalah sebagian mata-mata yang selama ini menjaga Ketua. Dewa Arak Tanpa Bayangan memberikan tugas ini kepada mereka,"
Lagi-lagi orang tua itu. Zhang Fei hanya bisa menghela nafas panjang sambil tersenyum.
Ternyata apa yang dikatakan para tokoh tua itu sebelum Zhang Fei resmi menjadi Ketua Dunia Persilatan, benar-benar dibuktikannya.
Mereka sangat membantu dalam setiap hal-hal yang berhubungan dengan tugas-tugasnya.