
Pria tua yang ada di hadapannya kaget setengah mati. Dia tidak percaya, ternyata orang asing bertopeng yang ditemui sebelumnya, sekarang telah datang 'berkunjung'.
Dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Pria tua itu hanya mampu memandang Zhang Fei dengan tatapan kebingungan.
"Tu-tuan ... sebenarnya ... sebenarnya kau ini siapa? Dan apa maksudmu datang kemari?" setelah cukup lama berusaha, akhirnya dia bisa menguasai diri sehingga dapat mengajukan pertanyaan itu kepada Zhang Fei.
"Bicaranya jangan di sini. Aku ingin berbicara empat mata denganmu,"
"Ba-baik,"
Walaupun masih sedikit ragu, tapi tak urung pria tua itu menyetujuinya juga. Lagi pula, saat ini sudah tidak ada lagi sesuatu yang dapat dia lakukan.
Apalagi setelah melihat pertarungan singkat di ruangan tersebut.
Dia kemudian membalikkan badan dan berjalan ke sebuah ruangan. Zhang Fei disuruh untuk mengikuti di belakangnya.
"Si-silahkan duduk," ucapnya masih gugup.
Zhang Fei tersenyum. Dia kemudian duduk di bangku yang sudah tersedia. Sepasang matanya menatap lekat ke orang tua tersebut.
Sebelum dia mengajukan pertanyaan lagi, Zhang Fei telah lebih dulu mengeluarkan sebuah lencana. Lencana yang terbuat dari batu giok itu ditaruh di atas meja.
Si pria tua awalnya kebingungan, namun setelah melihat lencana tersebut. Seketika dia dibuat lebih kaget dari sebelumnya.
Berbagai macam perasaan tiba-tiba dia rasakan saat itu juga.
"Lencana Ketua Dunia Persilatan!" katanya berseru tertahan. "Jadi ... jadi, Tuan ini adalah ..."
"Cukup aku dan kau saja yang mengetahui hal ini, Tuan. Aku harap, kau tidak memberitahukan siapa aku sebenarnya ke orang lain," kata Zhang Fei dengan serius.
Tadinya dia tidak berniat untuk mengeluarkan Lencana Ketua Dunia Persilatan. Zhang Fei terpaksa melakukan hal tersebut. Tujuannya adalah supaya tidak banyak pertanyaan lagi.
Di satu sisi, Zhang Fei berharap setelah si pria tua mengetahui siapa dirinya, dia akan menceritakan peristiwa yang sebenarnya telah berlangsung di tempat tersebut.
"Tentu, tentu, Ketua Fei. Tapi ... aku benar-benar minta maaf karena sudah bersikap kurang ajar kepadamu,"
Pria tua itu langsung bangkit berdiri. Dia berniat untuk memberikan hormat kepada Zhang Fei. Hanya saja sebelum itu, Ketua Dunia Persilatan lebih dulu menahannya.
"Kau tidak perlu melakukan hal-hal yang berlebihan. Sekarang, aku hanya ingin mengetahui kejadian yang sesungguhnya," ucap Zhang Fei kepadanya. "Aku merasa dibalik peristiwa ini masih ada sesuatu yang mencurigakan,"
"Hahh ..." dia menghela nafas berat. "Sebelumnya aku ingin memperkenalkan diri dulu, Ketua Fei. Namaku adalah Yan Zi. Dan orang tua yang terbunuh tadi siang itu bernama Li Sun," katanya memperkenalkan diri.
Zhang Fei mengangguk. Dia tidak bicara lagi, Zhang Fei sedang menunggu orang tua yang ternyata bernama Yan Zi itu melanjutkan perkataannya.
"Tuan Sun itu adalah Ketua dari Perguruan Kera Sakti. Kebetulan, aku sendiri merupakan Wakil Ketuanya. Dan terkait kecurigaan Ketua Fei, aku sendiri juga menduga hal yang sama,"
"Jadi, Tuan Zi juga mencurigai kematian Tuan Sun?" tanyanya menegaskan.
"Benar, Ketua Fei. Tapi, kecurigaan ini juga sangat berasalan,"
"Apa itu alasannya?"
"Karena yang membunuh Tuan Sun adalah anak murid Perguruan Kera Sakti sendiri,"
"Apa?" Zhang Fei sangat terkejut dengan pernyataan tersebut.
Keheningan segera menyapa ruangan tersebut. Yan Zi terdiam dengan lamunannya. Begitu juga dengan Zhang Fei.
Lewat beberapa saat kemudian, Yan Zi mendehem cukup keras sehingga memecahkan keheningan. Selanjutnya dia bicara lagi. "Aku tahu, Ketua Fei pasti sangat terkejut dengan kejadian ini. Jujur saja, jangankan orang luar, bahkan aku sendiri sungguh tidak pernah menyangka. Apalagi, murid yang membunuhnya itu merupakan murid terbaik dan juga murid terdekat dengan kami," katanya dengan suara dalam.
Setiap patah kata itu seolah-olah mengandung rasa sakit yang tidak bisa diungkapkan lagi. Nada bicaranya juga menggambarkan bahwa dia benar-benar kecewa.
Memang, kekecewaan yang paling menyakitkan, adalah ketika kita dikecewakan oleh orang terdekat.
Semua orang rasanya akan setuju dengan ungkapan tersebut.
Tidak terkecuali dengan Zhang Fei sendiri. Pada saat ini, dia tidak bisa memberikan komentar apapun.
Zhang Fei sampai habis pikir, mengapa di dunia ini, cukup banyak orang seperti itu? Apakah langit memang sengaja menciptakan untuk mewarnai kehidupan? Ataukah memang untuk memberi pelajaran kepada umat manusia?
"Tuan Zi, kalau aku boleh tahu, bagaiamana sikap dia selama ini?" tanya Zhang Fei setelah bisa menguasai diri.
"Selama ini, murid tersebut terkenal mudah akrab dengan siapapun. Dia pun murah senyum. Pokoknya, tindak-tanduknya mencerminkan bahwa ia adalah orang yang berbudi luhur. Sama sekali tidak menunjukkan kalau dia merupakan pengkhianat dan murid durhaka,"
Zhang Fei mengangguk beberapa kali. Di satu sisi, dia merasa sangat prihatin dengan kejadian ini. Namun di sisi lain, dia juga merasa tertarik.
Karena menurut pendapatnya, dari semua pengalaman yang telah dilalui, pasti ada satu alasan besar yang bisa mengubah jati diri seseorang.
Mustahil kalau tidak ada alasan apapun juga.
"Sekarang dia ada di mana?"
"Dia telah pergi tepat setelah membunuh Tuan Sun,"
"Apakah kepergiannya juga membawa sesuatu?"
"Ya, benar, Ketua Fei. Dia pergi sambil membawa kotak kecil rahasia milik Tuan Sun,"
Raut wajah Yan Zi langsung berubah. Seolah-olah dia telah membayangkan sesuatu hal yang menakutkan.
Zhang Fei bisa melihatnya dengan jelas. Maka dari itu dia langsung bertanya. "Apakah isi kota kecil rahasia itu sangat berarti?"
"Ya, malah sangat berarti, Ketua Fei. Karena kalau sampai murid murtad itu membuka dan bisa menguasai isinya, niscaya dia akan menjadi monster dalam dunia persilatan. Bukannya aku sedang sombong, tapi kalau dia benar-benar bisa melakukan kedua hal itu, maka malapetaka di Kekaisaran Song kita akan bertambah hebat dari sekarang,"
Yan Zi berkata dengan raut wajah yang sangat serius. Sedikit pun tidak ada tanda-tanda bahwa dia sedang berbohong.
Zhang Fei juga bisa melihat dan merasakannya. Maka dari itu, rasa penasaran dalam benaknya semakin bertambah.
"Kalau aku boleh tahu, sebenarnya apa isi dari kotak kecil rahasia itu?" tanyanya sambil menatap penuh selidik.
"Itu ..." Yan Zi seperti ragu. Tapi sesaat kemudian, dia segera melanjutkan ucapannya. "Isi dari kotak kecil tersebut merupakan sebagian catatan yang merupakan warisan dari Keluarga Tong yang pernah terkenal puluhan tahun lalu," katanya sepatah demi sepatah.
"Apa? Maksud Tuan Zi, Keluarga Tong yang terkenal karena ilmu racun dan kepintarannya dalam membuat berbagai senjata aneh yang menakutkan?"
Puluhan tahun lalu, dunia persilatan memang pernah digemparkan oleh kemunculan sebuah keluarga misterius. Usut punya usut, keluarga tersebut sangat ahli dalam membuat racun dan berbagai macam senjata yang mengerikan.
Peristiwa itu kira-kira terjadi saat masa-masa Zhang Yi, leluhur dari Keluarga Zhang saat ini.