
Jangankan hanya berdiri di atas beberapa senjata, berdiri di atas air atau berlari di atasnya pun, dia sanggup melakukannya.
Lima orang pendekar kelas satu itu tersentak. Mereka termenung untuk sekejap karena tidak percaya bahwa orang bertopeng itu ternyata mempunyai kemampuan yang sangat tinggi.
Di satu sisi, hal itu merupakan kesempatan emas bagi Zhang Fei. Karenanya dia tidak mau menyia-nyiakan waktu. Secepat kilat dia kembali melanjutkan jurus Pedang Penakluk Jagad miliknya.
Bayangan pedang berkelebat bagaikan kilat. Tebasan dan tusukan datang tepat di depan wajah semua lawannya.
Wushh!!! Wungg!!! Wungg!!!
Suara mendengung ikut mewarnai setiap serangannya. Barua beberapa jurus saja, Zhang Fei berhasil memojokkan dua dari lima orang musuhnya.
Ia terus mencecar mereka sampai posisinya benar-benar terpojok. Setelah itu, barulah Zhang Fei memberikan langkah berikutnya. Tangan kiri tidak tinggal diam, tangan itu pun sesekali ikut melayangkan serangan telapak tangan yang diarahkan ke titik penting.
Dua orang pendekar kelas satu itu semakin kewalahan menerima serangan dari Zhang Fei. Mereka tidak mampu berbuat apa-apa lagi, kecuali hanya berusaha bertahan dari jurusnya.
Tiga orang rekannya juga tidak bisa memberikan bantuan lebih. Hal itu terjadi karena Zhang Fei bergerak dengan sangat cepat. Jangankan menangkap tubuh, melihat bayangannya saja mereka tidak mampu secara jelas.
Srett!!!
Lima belas jurus kemudian, suara robekan kain mendadak terdengar. Disusul kemudian dengan ambruknya dua orang pendekar kelas satu.
Mereka tewas seketika setelah dadanya berhasil dirobek oleh ujung Pedang Raja Dewa.
"Kalian berikutnya!" Zhang Fei berkata dengan suara dalam. Sepasang matanya menatap mereka secara lekat.
Tiga orang pendekar sesat itu terkejut. Apalagi ketika menyaksikan tatapan mata yang sangat buas layaknya seekor harimau tersebut.
Wushh!!!
Ujung pedang langsung datang memberikan ancaman. Pedang Raja Dewa bergetar hebat, begitu pertarungan dilanjutkan, Zhang Fei langsung mengincar ketiganya.
Sekuat tenaga mereka memberikan perlawanan. Tapi sayangnya tidak ada satu pun usaha itu yang membuahkan hasil sesuai dengan harapan.
Pertarungan mereka berlangsung cukup sengit. Namun hal itu hanya berlaku sebentar, karena pada detik berikutnya, satu persatu dari mereka mulai terpental ke belakang akibat serangan telapak tangan.
Sebelum ketiganya sadar dan mendapatkan posisi, tiba-tiba Zhang Fei sudah berada di hadapannya. Ia kembali menggerakkan Pedang Raja Dewa ke beberapa titik penting. Satu detik kemudian, tiga pendekar sesat itu segera menyusul dua orang rekannya.
###
Tanpa disadari oleh semua orang yang terlibat dalam pertempuran, rupanya matahari sudah condong ke sebelah barat. Hembusan angin gunung terasa dingin menerpa kulit.
Sayangnya, tidak mereka tidak demikian. Angin dingin itu seolah-olah telah berubah menjadi angin panas. Cahaya matahari sore yang indah juga seakan berubah menjadi cahaya kematian dari neraka.
Pertempuran yang berlangsung di Kuil Seribu Dewa hampir mencapai puncaknya. Sekarang pasukan dari kedua belah pihak tinggal tersisa separuh.
Walaupun banyak murid-murid senior Kuil Seribu Dewa yang menjadi korban, tapi setidaknya jumlah mereka masih sedikit lebih banyak. Sehingga bisa dipastikan, di antara pasukan, maka pihak Kuil Seribu Dewa lah yang menjadi pemenangnya.
Berbeda dengan para petinggi, yang terjadi justru sebaliknya. Para biksu angkatan tua Kuil Seribu Dewa lebih banyak yang menjadi korban daripada pihak lawan.
Dari yang tadinya berjumlah sekitar lima belas orang, sekarang biksu tua yang diturunkan itu hanya tersisa tujuh orang. Biksu Bian Ji Hung, Biksu Lo Jit dan Biksu Lo Han sudah termasuk di dalamnya.
Saat ini, ketujuh biksu itu sudah menggabungkan diri. Di hadapan mereka setidaknya ada lima belas orang tokoh sesat kelas atas yang sudah berdiri tegak.
Masing-masing dari mereka sedang menatap para biksu dengan tatapan dendam.
"Biksu bau tanah, apakah kau tega melihat murid-muridmu tewas dalam pertempuran ini?" tanya seorang tokoh sesat yang berdiri di paling tengah.
"Hemm ... kau tahu bahwa ini semua adalah salahm? Bukankah pertempuran ini, gara-gara dirimu?"
"Aku?" Biksu Hung menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk.
"Ya, kau," kata tokoh sesat itu membenarkan. "Coba kalau dulu kau menerima tawaran kami, mungkin pertempuran ini tidak akan pernah terjadi. Justru, mungkin sekarang kuilmu sudah jauh lebih besar daripada ini,"
Biksu Hung seketika tersenyum ketika mendengar ucapan tersebut. Setelah merasa puas, dia baru berhenti dan segera menjawab.
"Tapi sayangnya ... murid-muridku justru lebih memilih pertempuran daripada harus menggabungkan diri dengan partai sesat kalian," ujarnya dengan nada lembut namun penuh ancaman. "Asal kau tahu saja, manusia-manusia seperti kalian itu sangat dibenci oleh para Dewa di atas sana,"
"Jangan banyak bicara, tua bangka!" katanya membentak saat itu juga. "Sekarang bukan waktu yang tepat untuk berkhotbah,"
Tokoh sesat tersebut sangat marah. Matanya melotot besar ke arah para biksu.
"Sekarang aku akan memberikan kesempatan terakhir kepadamu. Masih ingin bertarung, atau bergabung bersama kami?"
"Hemm ... dengan senang hati, kami akan menolak tawaranmu ini,"
"Hahaha ... bagus, bagus sekali. Aku senang mendengarnya," ia tertawa lantang sehingga menciptakan hawa sesat di sekitar sana. "Kesempatan terakhir sudah diberikan. Begitu pula dengan jawabannya. Aku harap, kau tidak akan pernah menyesali keputusan ini,"
"Aku sangat-sangat tidak menyesal,"
"Baik. Aku si Raja Telapak Hitam ingin tahu, sampai di mana sebenarnya kehebatanmu, biksu tua,"
Wushh!!!
Orang yang mengaku berjuluk si Raja Telapak Hitam itu langsung bergerak. Dia menyerang ke arah Biksu Bian Ji Hung.
Telapak tangan kanannya tiba lebih dulu. Biksu Bian Ji Hung tidak menyangka akan hal tersebut, buru-buru dirinya mundur sebelum jurus lawan tiba.
Sayang sekali, dia telah terlambat sedikit!
Hanya sedikit saja. Mungkin perbedaannya pun hanya beberapa detik. Tetapi, itu saja sudah cukup untuk membuktikan bagaimana kehebatan lawan dan keampuhan jurusnya tersebut.
Biksu Hung menoleh ke arah dada sebelah kanan, di mana di bagian atas lainnya ada titik hitam sebesar ibu jari.
Kain yang dikenakan sedikit robek. Walaupun tidak mengenai tubuh, tapi hawa yang dikeluarkan sudah bisa dirasakan.
Ia merasa panas seperti dibakar.
'Selain berhawa panas, ternyata jurus barusan itu juga mengandung racun mematikan. Aku harus hati-hati,' batinnya sambil menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh.
Suasana di sana berubah menjadi tegang. Si Raja Telapak Hitam belum melanjutkan jurusnya. Setelah percobaan pertama gagal, dengan cepat dia menarik langkah mundur dan kembali ke tempat semula.
"Bagaimana jurusku itu? Apakah hebat?" tanyanya sambil tersenyum mengejek.
"Ya, jurusmu memang sangat hebat. Aku akui itu," jawab Biksu Hung dengan jujur.
"Hahaha ... lantas, apakah sudah cukup kalau ingin membunuhmu?"
"Itu tergantung,"
"Tergantung? Tergantung apa?"
"Tergantung apakah para Dewa ingin aku mati atau tidak,"