Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kecepatan Melawan Kecepatan


Kecepatan harus dilawan dengan kecepatan pula! Zhang Fei sudah memutuskan untuk mengambil langkah tersebut.


Begitu tiga macam serangan mulai mencecarnya, dengan segera dia menambah kecepatan dalam setiap gerakan. Pedang Raja Dewa tiba-tiba terlihat menjadi beberapa bayangan.


Jurus pedang yang lebih tinggi segera dikeluarkan.


"Pedang Penakluk Jagad!"


Wutt!!! Wungg!!!


Hawa pedang yang dikeluarkan oleh Pedang Raja Dewa semakin menekan ruangan. Bayangan pedang itu seolah-olah terlihat seperti seekor naga yang sangat besar dan sedang mengamuk di tengah angkasa.


Tiga orang yang menjadi musuhnya tercekat. Jurus gabungan mereka menjadi berkurang kedahsyatannya setelah bertemu dengan jurus milik Zhang Fei.


Pertarungan di dalam ruangan mulai berjalan seru. Masing-masing pihak saling serang satu sama lain.


Zhang Fei terus memainkan Pedang Raja Dewa dengan cepat. Saking cepatnya gerakan yang dia lakukan, sampai-sampai ketiga orang itu tidak mampu melihatnya dengan jelas.


Wushh!!!


Ia mendorong telapak tangannya. Segulung angin keluar dan menghempaskan dua orang musuh. Satu orang sisanya mengalami kejadian berbeda.


Orang itu tidak terdorong mundur. Sebab dia telah ditahan oleh Zhang Fei. Pedang pusaka miliknya bergerak sangat cepat. Tanpa sadar, dia telah mengeluarkan sembilan bagian tenaga dalam.


Angin tebasan yang tercipta terasa semakin hebat. Robekan sudah tercipta di beberapa bagian tubuh lawannya. Sekitar sepuluh jurus kemudian, orang itu berteriak ngeri dan langsung roboh di atas lantai.


Pada bagian dadanya terlihat ada luka robekan yang cukup dalam. Ia tewas tanpa sempat memejamkan kedua matanya.


Pedang Raja Dewa kembali memakan korban. Darah segar masih mengucur di bagian ujungnya.


Peristiwa itu berlangsung singkat. Dua orang musuhnya saja hampir tidak percaya dengan kejadian barusan.


"Ia benar-benar cepat," kata salah seorang dari mereka.


"Benar," sahut rekannya sambil mengangguk. "Aku rasa ilmu meringankan tubuhnya sudah sangat tinggi,"


"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah memaksakan diri untuk melawannya? Ataukah bagaimana?"


Orang itu kebingungan. Kalau memaksakan diri, tentu saja dia akan mengalami nasib seperti lima orang rekannya yang lain. Akan tetapi kalau kabur pun, rasanya hal itu sangat mustahil. Karena dia tahu, Zhang Fei pasti tidak akan melepaskannya begitu saja.


Suasana di dalam ruangan hening untuk beberapa saat. Keduanya belum menyerang. Begitu juga dengan Zhang Fei. Anak muda itu masih berdiri di tempat semula sambil terus menatap mereka secara bergantian.


"Aku punya cara," kata rekannya.


"Apa itu?"


Ia langsung mendekatkan mulut dan berbisik di telinganya.


Zhang Fei menyaksikan kedua orang itu berbicara. Dia tidak mengganggunya sama sekali.


Sesaat kemudian, tiba-tiba mereka menjatuhkan diri dan berlutut tepat di hadapannya.


"Tuan Muda ... maafkan kami, Tuan Muda,"


"Benar, Tuan Muda. Kami ... kami hanya menjalankan perintah saja. Apa yang telah Tuan Muda dengar, itu semua hanya berita dari pemimpin kami,"


Kedua orang itu bicara dengan penuh nada sedih. Mereka tidak berani mengangkat wajah, selama berbicara, keduanya tetap menunduk serendah mungkin.


Zhang Fei berjalan menghampiri. Sehingga sekarang jaraknya hanya terpaut satu langkah saja.


"Siapa pemimpin kalian?" tanyanya dengan dingin.


"Dia ... dia adalah ..."


Ucapan tersebut langsung terhenti. Karena tepat pada saat itu, orang yang berada di sisi sebelah kanan, tiba-tiba mengambil pedang yang ada di sisinya dan langsung menyerang Zhang Fei.


Serangan itu sangat mendadak. Dengan jarak yang sangat dekat, siapa pun tentu tidak akan bisa menghindarkan diri lagi.


Apalagi gerakannya sangat cepat. Tusukan pedang barusan datang dari bawah ke atas dan mengarah tepat ke tenggorokan.


Wutt!!! Slebb!!!


"Kau belum cukup cerdas untuk membunuhku dengan cara seperti ini," Zhang Fei berkata dengan nada sedingin mungkin.


Orang itu melotot tidak percaya ke arahnya. Dia kemudian menundukkan kepala dan memandang pedang yang sudah amblas masuk ke jantung.


Sebelum mengucapkan perkataan, dia sudah tewas!


Kejadian barusan hanya berlangsung selama beberapa detik saja. Tiada orang yang mampu membayangkannya.


Ternyata sejak awal, Zhang Fei sudah mengetahui rencana mereka. Sehingga dia memutuskan untuk mendekatkan jaraknya.


Ketika orang itu ingin menusuk tenggorokan, tanpa sepengetahuan dia sendiri, Zhang Fei malah sudah lebih dulu menusukkan Pedang Raja Dewa.


Walaupun tusukan orang itu cepat, tapi Zhang Fei mampu bergerak lebih cepat lagi!


Setelah ia tewas, Zhang Fei segera mencabut pedangnya.


Satu orang musuhnya tahu-tahu sudah tidak ada di dalam ruangan. Ia sudah melarikan diri ketika Zhang Fei berfokus kepada rekannya.


"Dia terlalu meremehkan aku," gumamnya sambil tersenyum mengejek.


Wushh!!!


Zhang Fei melesat keluar dari ruangan. Sekilas saja dia sudah berada diluar dan berniat untuk mengejarnya.


Tidak memerlukan waktu yang lama, Zhang Fei malah sudah berhasil mengejar orang tadi. Dia berhenti tepat di depannya.


"Kau ... bagaimana bisa ..."


"Sekali lagi kau melangkah, aku jamin pedang ini akan menembus tubuhmu," ucapnya memberikan ancaman.


Tentu saja orang tersebut langsung ketakutan setelah mendengar ancaman itu. Keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhnya. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.


"Katakan, siapa pemimpinmu?" tanya Zhang Fei sambil memandang tajam.


"Dia ... dia ..."


Slebb!!!


Orang itu mengejang. Satu detik kemudian seluruh tubuhnya terasa kaku dan langsung terkapar di atas tanah.


"Siapa di sana?" Zhang Fei menengok ke tempat yang agak gelap. Dia tahu, ada orang lain yang telah membunuh targetnya.


Akan tetapi, siapa orang itu?


Wushh!!!


Dia melesat menuju ke tempat yang dicurigai. Sayangnya di sana sudah tidak ada apa-apa. Orang yang menyerang dalam kegelapan sudah hilang lenyap entah ke mana.


Karena tahu pencariannya akan percuma, maka Zhang Fei memilih kembali ke tempat tadi. Dia memeriksa mayat orang itu dan berharap menemukan petunjuk.


Sayangnya usaha itu tidak membuahkan hasil. Zhang Fei tidak berhasil menemukan petunjuk apapun.


"Lebih baik aku segera pulang," gumamnya.


Wushh!!!


Dia kembali melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh dan meninggalkan mayat itu begitu saja.


Beberapa waktu kemudian, Zhang Fei sudah tiba kembali di Gedung Ketua Dunia Persilatan. Dia malah sudah berhasil masuk ke dalam. Saat ini, pendekar muda tersebut sudah kembali berada di dalam ruang pertemuan.


Rupanya Empat Datuk Dunia Persilatan masih ada di sana. Saat ini mereka sedang berbincang-bincang sambil berpesta arak.


Selain mereka, ternyata di ruangan itu ada pula Tian Li. Orang tua tersebut datang dengan didampingi oleh dua orang pengawalnya.


"Tuan Muda, malam-malam begini, kau habis dari mana? Mengapa pula tubuhmu dibanjiri keringat?" orang yang pertama kali bertanya adalah Tian Lu. Dia pun menatap Zhang Fei penuh curiga.


"Ah, aku habis berkunjung ke rumah sahabat lama, Tuan Lu. Hanya saja di perjalanan, aku sempat bertemu dengan kawanan perampok. Jadi, mau tak mau aku harus bertarung dulu melawan mereka," jawab Zhang Fei berbohong.