
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah menemukan rumah makan yang cocok dengan selera.
"Kita pilih rumah makan itu saja," kata Pendekar Pedang Perpisahan sambil menunjuk ke depan.
"Baik, Tuan Wu. Aku rasa, rumah makan itu cocok," sahut Zhang Fei sambil mengangguk.
Keduanya kemudian berjalan ke sana. Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka. Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan lalu menuju ke meja yang masih kosong.
Suasana di rumah makan pada saat itu sedang ramai. Apalagi saat ini jam makan malam sudah tiba.
"Pesan nasi dan bebek goreng. Pesan juga dua guci arak keras dengan ukuran besar," kata Pendekar Pedang Perpisahan kepada seorang pelayan yang menghampirinya.
"Baik, Tuan. Silahkan tunggu sebentar," pelayan itu kemudian pergi lagi ke belakang untuk menyiapkan pesanan pelanggan.
Sembari menunggu pesanan tiba, mereka juga memperhatikan keadaan di rumah makan. Beberapa saat menyelidik, Zhang Fei mulai menyadari bahwa di sana ternyata juga cukup banyak orang-orang dari dunia persilatan.
"Orang-orang persilatan di rumah makan ini setidaknya ada puluhan orang. Tapi, aku merasa ada hawa sesat yang keluar dari tubuh mereka," kata Zhang Fei sambil berbisik kepadanya.
"Kau benar, Ketua Fei. Mereka ini adalah orang-orang yang nantinya akan menuju ke Kuil Seribu Dewa," sahut Pendekar Pedang Perpisahan.
"Oh, benarkah? Sebenarnya, di sana akan ada kejadian apa, Tuan Wu?"
"Nanti saja ceritanya. Aku khawatir ada orang lain yang akan mendengar,"
"Oh, baiklah. Aku mengerti,"
Dua orang itu lalu bercerita tentang hal lain. Seperti pengalaman pribadi, atau juga sejenisnya.
Tidak lupa, sesekali mereka tetap menyelidiki orang-orang yang ada di dalam rumah makan.
Sekitar lima belas menit kemudian, pesanan pun datang. Seorang pelayan lain berjalan menghampiri sambil membawa nampan cukup besar.
"Silahkan dinikmati, Tuan-tuan," katanya sembari menyimpan piring di atas meja.
"Terimakasih," jawab Zhang Fei sambil tersenyum.
Setelah kepergian pelayan tersebut, mereka langsung menyantap makanan itu dengan lahap. Begitu rampung, botol arak yang masih tersegel itu segera dibuka.
Bau harum arak keras langsung tercium masuk ke dalam hidung. Mereka bersulang arak beberapa kali.
"Arak ini walaupun keras, ternyata juga nyaman di perut," ujar Zhang Fei sambil mengangkat cawan.
"Ya, arak di Kota Shandong, hampir semuanya seperti ini,"
"Pantas saja,"
Zhang Fei dan datuk sesat itu melanjutkan lagi minum arak. Di tengah-tengah kegiatan, mendadak telinga Zhang Fei mendengar pembicaraan dari meja yang terletak di dekat jendela sebelah kanan.
Zhang Fei melirik sekilas ke sana. Ia melihat di meja itu ada enam orang pria bertubuh tinggi dengan wajah yang sedikit hitam. Di pinggang masing-masing terdapat sebatang golok panjang.
"Kapan kita akan menuju ke Kuil Seribu Dewa?" tanya salah seorang.
"Selepas dari sini, kita akan langsung ke sana,"
"Apakah yang lain sudah tiba?"
"Ya, mereka sudah tiba kemarin. Dan hari ini adalah saat yang telah ditentukan oleh Ketua,"
"Baiklah. Kalau begitu, mari kita selesaikan acara makan ini,"
"Benar,"
"Setuju,"
Enam orang pria itu kembali melanjutkan kegiatan makan yang belum selesai. Tidak lupa juga, mereka menghabiskan arak yang tersedia di atas meja.
Pembicaraan mereka didengar dengan jelas oleh Zhang Fei. Walaupun orang-orang itu berkata setengah berbisik, tapi Zhng Fei tetap mampu mendengarnya.
Apalagi, selama ini dia telah melatih indera pendengarannya.
"Tuan Wu, sepertinya mereka adalah orang-orang yang nantinya akan terlibat dengan kejadian di Kuil Seribu Dewa,"
"Benar, Ketua Fei. Mereka sedikit di antaranya,"
"Jika demikian, kita harus melakukan tindakan,"
Tanpa menunggu jawaban darinya, Zhang Fei langsung bangkit berdiri. Dia membayar biaya makan, lalu segera keluar dan mengikuti jejak keenam orang tadi.
Sementara Pendekar Pedang Perpisahan, dia masih duduk di kursinya. Ia menghabiskan arak dalam cawan. Begitu habis, barulah dirinya pergi menyusul Zhang Fei yang telah berlalu.
###
Saat ini Zhang Fei sedang berlari dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh. Ia mengejar keenam orang tadi yang juga melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya masing-masing.
Keenam orang tadi rupanya menuju ke jalanan hutan yang sepi. Sepertinya mereka sengaja mengambil jalan tersebut supaya terhindar dari berbagai macam halangan.
Orang-orang itu pasti tidak menyangka bahwa saat ini, di belakang mereka sudah ada seseorang yang siap menurunkan tangan kerasnya.
Wutt!!!
Zhang Fei tiba-tiba mendorong kedua telapak tangannya ke depan. Segulung angin yang bergulung-gulung melesat cepat ke arah keenam orang tadi.
"Awas di belakangmu!" salah seorang dari mereka berteriak.
Orang yang dimaksud langsung melompat ke pinggir supaya terhindar dari ancaman. Lima orang rekannya juga mengambil langkah serupa.
Serangan jarak jauh yang dilepaskan oleh Zhang Fei barusan mengenai sebatang pohon berukuran cukup besar. Begitu terkena angin itu, suara ledakan langsung terdengar. Pohon tersebut hancur menjadi serpihan kecil.
Keenam orang tadi sudah menghentikan langkah. Mereka berdiri sejajar sambil menghadap ke arah datangnya Zhang Fei.
"Manusia mana yang berani menyerang dari belakang?" salah seorang bertanya dengan bantuan tenaga dalam. Hal itu membuat suaranya menggema ke empat penjuru mata angin.
"Manusia dari Selatan," jawab Zhang Fei sambil mendarat di atas tanah.
"Hemm ... siapa kau?" tanya orang tadi sambil memandang penuh selidik kepada Zhang Fei.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku," jawabnya sambil menarik muka. "Apakah kalian akan pergi ke Kuil Seribu Dewa?" tanya balik Zhang Fei.
"Kalau iya, kenapa? Kalau tidak, juga kenapa?"
"Iya atau tidak, aku akan tetap memberi pelajaran kepada kalian,"
"Hemm ... memangnya apa urusanmu?"
"Urusanku adalah menjaga keamanan dunia persilatan," Zhang Fei tersenyum dingin.
Dia kemudian melepaskan hawa pembunuh yang sangat tebal. Keadaan di sekitar sana menjadi berubah, enam orang tadi juga bisa merasakannya. Mereka sedikit terkejut dengan hawa pembunuh yang dilepaskan oleh Zhang Fei.
'Siapa sebenarnya orang muda ini? Kenapa dia mampu mengeluarkan hawa pembunuh yang begitu tebal?' orang tadi membatin sambil menatap serius ke arah Zhang Fei.
Keadaan di sana hening. Dua belah pihak itu masing-masing saling menutup mulutnya.
"Orang asing, lebih baik kau pergi sekarang juga. Kalau tidak, jangan salahkan kami kalau terjadi sesuatu denganmu,"
"Aku tidak akan pergi dari sini,"
"Baiklah. Kau sendiri yang meminta supaya malapetaka menimpa dirimu,"
Orang tersebut kemudian melirik ke arah rekannya. Tanpa berkata apapun, orang yang dilirik langsung mengerti.
Detik itu juga orang tersebut mencabut goloknya yang panjang dan tajam. Ia lalu menerjang ke depan sambil melancarkan bacokan.
Serangan itu mengarah ke arah leher. Dilihat dari cara dia menyerang, Zhang Fei sudah bisa mengukur bahwa kemampuan orang tersebut setidaknya hanya setara dengan pendekar kelas dua.
Wutt!!! Wushh!!!
Golok sudah datang. Tapi Zhang Fei sudah bergeser dari tempat semula. Serangan barusan gagal begitu saja.